Andrea

Andrea
Daniel Danisa



"Dre, buruan yuuk! gak sabar nih pingin cepat mainan air" Danisa memburu Andrea agar cepat menuju pantai.


Iyaa bentar, gak sabar banget mau jadi dugong, lagian kalau cuma mau main air tuh dikamar mandi juga ada air" seru Andrea yang sedang mengoleskan sunblock keseluruh permukaan kulitnya.


"Jahat banget nih cewek, nyamain aku sama dugong, dasar gembul" gerutu Danisa dengan bibir mengerucut sementara Andrea hanya terbahak memdengar gerutu sahabatnya.


Setelah itu mereka segera menuju pantai dengan sepeda motor yang disediakan oleh cottage tempat menginap tersebut.


Sampai matahari terbenam diujung cakrawala pertemuan laut dan langit Danisa masih saja asyik bermain dengan ombak pasang yang kian naik.


"Daaannn...!!" teriak Andrea memanggil sang sahabat, tapi tak jauh dari tempatnya duduk ada seorang cowok juga meneriakkan nama yang sama dengan Andrea, sontak keduanya pun saling pandang, nampak raut muka terkejut dari kedua insan tersebut.


"Lohh.. nona Andrea!" seru cowok tersebut dan masih jelas terlihat oleh Andrea dalam remangnya senja bahwa cowok tersebut ternyata Xander Daniswara.


"Pak Xander, anda disini juga?" timpal Andrea.


"Biar otak fresh kembali setelah berkutat dengan banyaknya scedul kantor" sahut Xander


"Yaah, begitulah alasan saya ada disini." Bersamaan Andrea menanggapi ucapan Xander Danisa tepat datang dihadapannya.


"Ada apa sih mbul? masih asyik juga" protes Danisa.


"Balik, udah malam" Andrea langsung bangkit tanpa peduli lagi dengan wajah protes Danisa.


"Oh ya pak Xander, anda kenal sahabat saya juga? kok tadi saya dengar anda memanggil nama panggilannya 'Dan'?" tanya Andrea pada Xander.


"Ooh bukan, itu saya memanggil teman saya" jawab Xander sambil menunjuk seorang cowok yang masih asyik bergelut dengan ombak.


"Oohh, saya kira kita memanggil orang yang sama, kalau begitu ini kenalin sahabat saya Danisa, Dan kenalin rekan bisnis aku pak Xander" Andrea mengenalkan keduanya, terlihat raut muka Danisa seolah begitu takjub mengagumi makhluk ciptaan tuhan yang begiti indah didepan matanya.


"Usap air liur kamu" bisik Andrea tepat ditelinga Danisa saat melihat tingkah sahabatnya yang seolah sangat terpesona pada Xander.


"Sialan!" gerutu Danisa sangat pelan dan hanya bisa di dengar Andrea, membuat Andrea hampir tertawa, tapi ia tahan, saat ingat didepannya ada Xander, dia tetap ingin terlihat dingin didepan rekan bisnisnya.


"Maaf pak Xander, kami pulang dulu, hari sudah mulai gelap" pamit Andrea tanpa menunggu jawaban dari Xander sambil menarik tangan sahabatnya.


"Dre, aku kan belum jadi kenalan sama cowok tadi masa udah kamu tarik aja, hilang deh kesempatan aku dapat cowok ganteng, tajir lagi" gerutu Danisa masih dalam seretan Andrea.


"Jangan sok jadi cewek gatel kalau masih mau aku anggap sahabat" sahut Andrea tanpa memandang sahabatnya, dan hanya mendapat tepukan yang sangat keras di bahunya oleh tangan Danisa.


"Awww... sakit kali Nyet!" umpat Andrea malah semakin dapat serangan dari Danisa, hingga mereka saling kejar dengan tawa riang mereka menuju tempat parkir.


......................


Subuh telah berlalu, dipagi yang masih terlihat gelap Andrea mengajak Danisa kembali ke pantai yang berjarak sekitar satu kilo meter dari cottage hanya dengan berjalan kaki.


"Ya gila kali Dre, kita jalan kaki sejauh itu, mana masih gelap lagi" Danisa terlihat malas dengan ajakan Andrea.


"Udah jam lima Dan, bentar lagi juga dunia terlihat terang, lagian cuma jalan satu kilo aja menggerutu, itung itung olahraga lah Dan, mumpung disini kita hirup udara pagi pantai sepuasnya" Andrea menyulut semangat sahabatnya agar segera beranjak dari kasurnya.


"Trus nanti pulangnya jalan lagi plus panas panas, ogah banget Dre" sahut Danisa masih dengan malasnya.


"Kan ada ojek oonn" sahut Andrea gemas.


"Ah sialan, dah keluar tu kata kotornya, ya udah yuk jalan" Danisa segera bangkit mengikuti kemauan sahabatnya.


Walau hari terbilang masih gelap, tapi ditempat itu telah ramai dengan hiruk pikuk penduduk yang memulai aktifitas mereka.


"Iyaa iyaa, udah bawelnya, yang penting aku dah nurutin mau kamu" sahut Danisa sambil mencubit pipi Andrea gemas, sedang Andrea hanya senyum dikulum dengan ulah dan celotehan sahabatnya itu.


Dunia telah menunjukkan terangnya saat kedua sahabat itu sampai dipantai, masih sangat sepi, hanya ada beberapa orang dengan anak anak mereka yang nampaknya sedang melakukan terapi udara pantai pagi hari.


"Dre, aku cari minuman hangat dulu disan itu ya" pamit Danisa sambil menunjuk kedai yang sudah menggelar lapaknya., dan Andrea hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.


Tapi baru berapa langkah meninggalkan Andrea, terdengar teriakan Danisa spontan Andrea melihat kebelakang, dan ia melihat Danisa terjatuh dan sedang berusaha ditolong seorang cowok, tapi Danisa terlihat enggan menanggapi niat baik cowok tersebut dan justru menatap tajam berbalut benci pada sang cowok.


"Dan, kamu gapapa??" tanya Andrea yang sudah sampai ke Danisa sambil memperhatikan air muka Danisa, Andreapun melihat ke arah cowok yang ditatap tajam oleh Danisa.


" Daniel"..desis Andrea lirih


"Danisa, sampai kapan kamu akan bersikap seperti itu sama aku?" tanya Daniel membuka percakapannya.


"Sampai kapanpun setiap ketemu kamu" jawab Danisa dingin


"Ayolah Dan, aku kan selalu bilang ke kamu, bukan aku mau jahat sama cewek yang kebetulan waktu itu sahabat kamu yang terkena imbasnya" Daniel membela diri


"Kebanyakan orang kaya memang begitu, mentang mentang dengan mudah bisa dapetin apapun, jadi melakukan hal yang menyakitkan pun seolah dianggap wajar" sindir Danisa.


"Tapi aku justru bersyukur sih, berkat ulah konyol kalian sahabatku bisa berubah kearah yang sangat positif, tak lagi mudah termakan ucapan manis cowok cowok penjual.tampang seperti kamu dan sepupu kamu." Ucapan demi ucapan Danisa membuat telinga yang mendengarnya memerah.


"Tapi aku gak seperti yang kamu bilang itu, aku berkali kali minta maaf setiap ketemu kamu, bahwa aku sangat menyesal.melakukan itu, karena saat itu kami hanya ingin seru seruan saja" bela Daniel.


Andrea yang sejak tadi hanya jadi pendengar mulai tergelitik untuk ikut bicara.


"Ehmmm maaf tuan Daniel yang terhormat, apakah maksud perkataan anda, dari tadi saya dengar anda sering bicara tentang pembelaan diri anda itu, apakah anda sesering itu menemui Danisa ?" pertanyaan Andrea membuat Daniel berkerut dahi, kenapa seorang cewek yang baru pertama kali ditemuinya sudah tau tentang namanya.


"Maaf, saya baru bertemu anda kali ini, tapi kenapa anda sudah tau nama saya?? Aaahhh...!! jangan jangan...??" mata Daniel kembali menatap Danisa dengan tatapan senang dan penuh terka.


"Jangan ke geer an kamu, aku gak pernah cerita sama siapapun kalau kamu ngejar ngejar aku sejak kejadian Andrea dan Arshlan dulu" Danisa tak sengaja mengatakan suatu hal.yang disembunyikannya sel ama ini dari sahabatnya.


"Whaat?!! oohhh.. rupanya disini ada yang main rahasia.yaa..??" Andrea berseru dengan menahan kata katanya, menandakan ada rasa sedikit kesal kepada sahabatnya.


"Dre, nanti aku jelasin deh, jangan kesal.gitu sama aku!" Danisa memohon pengertian Andrea, dan Andrea hanya bisa menghela nafasnya panjang.


"Dre?? apakah ini Andrea sahabat kamu waktu itu?!" seru Daniel sambil menunjuk Andrea dengan mata tetap menatap ke Danisa tapi tidak ada jawaban apapun dari Danisa.


"Untuk itulah, kenapa saya bisa tau nama anda saat pertemuan pertama seperti yang anda katakan tadi, walaupun anda sudah lupa dengan saya tapi sampai kapanpun saya akan mengingat dengan jelas wajah anda walaupun kita hanya dua kali berjumpa, tapi saya sangat mengunci wajah anda dalam ingatan saya" kata kata tajam dan dingin Andrea sudah mewakili tanya dibenak Daniel


"Oohh, nona Andrea, saya benar benar minta maaf untuk kejadian waktu itu, kami sangat menyesal, bahkan sampai sekarang bang Arsh masih mencari cari anda dengan seluruh penyesalannya." kata kata Daniel membuat mata Andrea menghangat, tapi ia menahan jangan sampai air matanya jatuh hanya karena mengingat hal pahit dimasa lalu, ia harus terlihat tangguh dimata cowok, apalagi cowok yang pernah membuatnya down.


"Jangan sebut nama dia lagi didepan saya!" aura dingin Andrea keluar di cuaca yang mulai menghangat karena matahari mulai merangkak naik.


Andrea menarik tangan Danisa untuk meninggalkan Daniel dengan segala penyesalannya


"Sorot kebencian anda tak bisa menyembunyikan rasa cinta anda kepada bang Arsh nona Andrea!" teriak Daniel sambil mengikuti langkah kedua sahabat itu, tapi Andrea maupun Danisa tidak mempedulikan ucapan Daniel.


"Jangan lawan perasaan anda dengan emosi anda sebelum anda menyesal untuk selamanya nona Andrea" Daniel masih memprovokasi hati Andrea, tapi gadis itu tetap tak bergeming.


"Sampai sekarang dia masih terpuruk dengan penyesalannya, karena rasa putus asanya kehilangan anda, dia sampai rela dijodohkan dengan perempuan yang tak disukainya" Kata kata terakhir Daniel membuat Andrea menghentikan langkahnya.


...****************...