Andrea

Andrea
Penuturan Arik



Keesokan harinya Andrea telah bersiap menuju rumah Adis dan Arik, ia segera pergi dengan motornya setelah berpamitan dengan kedua ibunya, beberapa menit kemudian ia sudah sampai di rumah Adis, nampak di pos jaga depan rumah Adis ada seorang security, ia mendatangi Andrea yang menghentikan motor di depan pagar.


"Ada yang bisa saya bantu mbak??" tanya satpam itu.


"Adis ada dirumah kah pak? Saya ingin bertemu dengan dia." Andrea menjawab pertanyaan satpam itu dengan bertanya kembali.


"Kalau boleh tahu anda siapa?" tanya satpam lagi.


"Saya Andrea yang kemarin kesini sama Arik rumah sebelah." Jelas Andrea.


"Oohh iya, mbak yang kemarin. Tadi mbak Adis pesan kalau ada mbak Andrea datang suruh langsung masuk saja, mari mbak silahkan masuk." kata satpam tersebut sambil membukakan pintu pagar, Andrea pun segera mengendarai motornya masuk halaman rumah Adis.


Setelah memarkir motornya di depan garasi rumah Adis Andrea segera menuju pintu yang terbuka.


"Permisi!" seru Andrea, tanpa harus berucap dua kali, dari dalam rumah terdengar ada suara yang menjawab.


"Yaa, sebentar..!" seru suara dari dalam rumah tersebut dan tak lama muncullah sosok Adis.


"Hai mbak Andrea!, mari silahkan masuk." kata Adis saat melihat siapa yang datang, dan saat Andrea masuk ke ruang tamu rumah Adis dengan serta merta tanpa rasa canggung Adis memeluk Andrea dan terdengar dari suara dan getar di tubuhnya kalau gadis itu sedang menangis.


"Maafin aku mbak, aku minta maaf atas perbuatanku, aku sudah jahat sama mbak dan keluarga mbak tapi mbak masih mau memaafkan aku bahkan membebaskan aku dari jerat hukum, terimakasih banget ya mbak, aku tak tahu harus membalas dengan cara bagaimana." kata Adis disela isak tangisnya, Andrea mengelus punggung gadis yang ada di pelukannya tersebut dengan lembut.


"Sudahlah Dis, yang lalu biarlah berlalu, aku dan keluarga sudah tidak mempermasalahkannya lagi, karena sekarang keluargaku di panti sudah bisa hidup tenang kembali." Kata Andrea sambil masih mengelus punggung Adis.


"Dan sekarang kamu cuma harus hidup dengan baik-baik, hidup bahagia, jauhkan sifat iri dengki agar kamu bisa mencapai hidup tenang dan bahagia, tak perlu ngoyo mengejar hal yang susah kamu dapatkan karena jika kamu ikhlas melepaskan mudah-mudahan Tuhan akan memberi gantinya dengan kemudahan." nasehat Andrea, dan nampak Adis mengangguk-anggukkan kepala tanda memahami nasehat yang Andrea berikan. Lalu Adis yang masih dengan isak tangisnya mengajak Andrea untuk duduk.


"Semoga aku bisa menjalankan apa yang mbak nasehatkan ini, sudah terlalu lama aku terjebak dalam perasaan hati seperti itu, harusnya aku tidak memaksakan perasaan orang yang jelas-jelas membenci aku." kata Adis terlihat lebih tegar


"Alarik?" tebak Andrea, dan Adis pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi antara kalian?" tanya Andrea.


"Ada kesalah fahaman antara kami berdua yang tak bisa Al terima mbak, ini tentang orang terdekat kami." kata Adis


"Siapa dia?"


"Sahabat aku dan Al mbak."


"Kalau begitu aku telpon Arik dulu, biar kita bisa segera selesaikan masalah kalian." Adis mengangguki perkataan Andrea, dan Andrea pun segera mengambil ponsel dari dalam tas nya, dan ia pun menelpon Arik.


Nampaknya Arik langsung menerima panggilan Andrea karena saat itu Andrea terlihat bicara sangat serius dengan seseorang di seberang telpon, dan kemudian pembicaraan mereka selesai saat Andrea menurunka ponsel dari telinganya.


"Bagaimana mbak, apakah dia bersedia?" tanya Adis penasaran.


"Tadinya dia enggan tapi kamu dengar paksaanku tadi kan? Akhirnya dia mau, tetapi dia tidak mau di rumahmu, dia ingin kita yang kerumah dia, tidak apa kan?" tanya Andrea diakhir penjelasannya.


"Iya mbak, tidak apa." jawab Adis.


"Ya sudah kalau begitu kita segera kesana." ajak Andrea, dan setelah Adis berpamitan dengan bi Rati, mereka berdua segera menuju rumah Arik.


"Permisi pak!" sapa Andrea pada pak satpam yang menjaga rumah Arik.


"Iya mbak, ada yang bisa kami bantu?" tanya satpam itu


"Bukain pintu pagarnya pak, mereka sudah ada janji ketemu dengan saya!" seru Arik dari tempatnya berdiri dekat gazebo halaman depan rumahnya, dan pak satpam pun segera melaksanakan perintah Arik.


Andrea menarik tangan Adis masuk ke halaman rumah Arik setelah satpam membukakan pintu pagar, karena Adis nampak ragu-ragu untuk masuk, sepertinya ia begitu takut bertemu Arik.


"Halo Rik, apa kabar kamu hari ini?" sapa Andrea.


"Tadinya baik tapi melihat cewek yang ada di samping mbak jadi buruk." jawab Arik sambil membuang muka seolah enggan bertemu tatap dengan Adis.


"Rik, kamu gak boleh ngomong begitu, bersikaplah dewasa." bisik Andrea setelah menasehatinya agar tidak bersikap buruk terhadap Adis.


Mendengar perkataan Andrea itu Arik hanya menghela nafas bercampur kesal.


"Ya sudah, sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanya Arik


"Sekarang waktunya menghilangkan kesalah pahaman kamu sama Adis selama ini." kata Andrea menjawab tanya Arik.


"Salah paham apa? Aku merasa selama ini bukan kesalah pahaman, tapi memang kenyataan yang sebenarnya." Suara Arik agak meninggi menanggapi perkataan Andrea.


"Rik, sekarang aku mau tanya, kenyataan seperti apa yang membuatmu sangat membenci Adis seperti ini?" tanya Andrea pelan, sementara Adis sedari tadi hanya menundukkan kepala, seolah takut dengan amarah Arik.


"Mbak tanya sendiri sama tuh cewek." jawab Arik ketus.


"Tidak Rik, aku mau dengar cerita kamu dulu, lalu aku akan dengar cerita versi Adis, agar semua bisa jelas apakah pemikiran kamu selama ini memang kesalah pahaman saja atau memang benar adanya." kata Andrea


"Haaahhhh...!" Arik menghela nafasnya.


"Waktu itu aku menyukai seorang gadis, dia sahabatku juga Adis, karena kami tinggal di satu kompleks perumahan ini dan juga bersekolah di sekolah yang sama. Diam-diam perasaanku berubah dari yang semula hanya sebatas persahabatan menjadi sebuah rasa cinta, aku sangat menyukai pribadi Dinda, nama sahabat kami itu.


Satu hari setelah kelulusan sekolah aku hendak mengutarakan perasaanku kepadanya, aku sebelumnya sudah membicarakan semua perasaanku terhadap Dinda kepada Adis, aku ingin dia mengajak Dinda menuju suatu tempat yang sudah aku persiapkan sebelumnya, Adis pun menyetujui keinginanku. Dan tibalah waktu dimana Adis akan membawa Dinda ketempat yang sudah aku siapkan, tetapi sampai waktu yang aku dan Adis sepakati mereka belum juga sampai, satu jam belum juga datang, dua jam kemudian di saat aku mulai putus asa menunggu kedatangan mereka aku mendapat sebuah pesan yang mengirimkan video sebuah kecelakaan dari salah satu teman dekat aku, dan yang tahu tentang rencana aku itu.


Video itu menayangkan kecelakaan yang merenggut nyawa Dinda, dan sialnya, Dinda jatuh dan tertabrak mobil yang sedang melintas karena didorong oleh Adis, aku pikir itu hanya karena Adis iri karena aku tahu Adis juga punya perasaan suka sama aku. Dan yang aku sesali, kenapa dia bisa bebas dari jerat hukum, katanya itu murni kecelakaan padahal jelas-jelas Adis mendorong Dinda." Arik mengakhiri ceritanya dengan pandangan nanar ke arah Adis sementara Adis terlihat mengusap matanya, ia menangis dalam diam dan kepalanya yang tertunduk.


"Haaahhhh... " Andrea menghela nafasnya panjang, karena saat mendengar cerita Arik ia seperti menahan nafas.


"Oke, aku tahu bagaimana perasaanmu waktu itu Rik, tapi kalau memang saat itu Adis dinyatakan tidak bersalah bukankah itu sudah dilihat dari berbagai bukti yang menguatkan kalau Adis tidak bersalah kan Rik?" tanya Andrea agar Arik bisa lebih berpikir terbuka.


"Hahh!! Mbak tahu sendiri kan hukum di negara ini? Yang punya duit banyak pasti bisa membeli kasus mbak!" seru Arik berang.


"Al!" seru Adis


"Kenapa? bukankah itu kenyataannya ortu kamu pasti sudah menyuap pengadilan agar kamu dibebaskan." tuduh Arik membuat Adis menangis tak terima akan tuduhan Arik.


Ya, Adis adalah gadis yang sangat lembut dan cenderung lemah, untuk itu dia hanya bisa menangis dengan ketidak berdayaannya saat ia dibully oleh teman-temannya. Beruntung saat itu ada Dinda yang selalu jadi pelindungnya jadi tak ada lagi teman yang berani mengganggunya.


Ditambah lagi ia kekurangan perhatian dari orang tuanya yang sangat sibuk mengurusi bisnisnya hingga mereka seolah melupakan anak semata wayang mereka yang diasuh oleh para asisten rumah tangga.


"Rik, kamu harus bisa menahan diri, sebaiknya kita dengar cerita Adis dulu, karena aku yakin, pengadilan tak mungkin memutuskan hal yang keliru." Andrea menatap tajam Arik agar mau mendengarkan penjelasan Adis dan agar pikirannya bisa terbuka kalau hidup mati seseorang sudah ada garis tangan sendiri dari yang maha pemberi hidup.


...****************...