
Setelah mandi, Kinanti langsung membaringkan badan lelahnya di tempat tidurnya yang nyaman. Panggilan tantenya untuk mengajaknya makan malam hanya di jawab kalau ia belum merasa lapar dan mempersilahkan semuanya makan malam tanpa dirinya.
Kinanti masih teringat dengan hal yang dialaminya saat di mobil atasannya tadi, ia tak menyangka Xander bakal senekat itu, saat Kinanti memejamkan matanya untuk meredakan gejolak hatinya, sampai ia tak menyadari kalau mobil yang membawanya telah berhenti di tepi jalan depan rumahnya.
Tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu yang kenyal menempel di bibirnya dengan lembut, sekilas saja ia merasakan hal itu dan spontan ia membuka matanya dan tepat di depan mukanya, muka Xander begitu dekat hampir tak ada jarak.
Kinanti hanya mampu menatap mata Xander dengan perasaan yang susah di jabarkan dengan kata-kata. Kinanti akhirnya menyadari apa yang baru saja atasannya itu lakukan terhadapnya, muka Kinanti memerah karena merasa malu, dengan segera ia turun dari mobil Xander tanpa sempat mengucapkan terina kasih.
Kini ada kecamuk dalam hati Kinanti, antara bahagia atau mungkin harus sadar diri. Ia merasa seakan Xander mempunyai perasaan lebih terhadapnya, tapi di sisi lain Kinanti harus sadar diri kalau ia tak boleh berharap lebih akan perasaannya, karena Xander bukanlah lelaki yang pantas untuk di damba menjadi pendamping hidupnya.
Terlepas dari status strata sosial mereka yang sangat jauh, juga Kinanti harus sadar diri kalau Xander sudah menjadi milik orang lain.
"Tuhan, kenapa Engkau harus menguji perasaannku seperti ini. Aku belum pernah merasakan debaran yang amat sangat seperti ini, tetapi kenapa kau berikan debaran ini saat berada di dekat orang yang sangat sulit untuk ku gapai ya Tuhan? Terlepas dia dari kelas sosial yang sangat jauh di atasku, dia juga sudah jadi suami dari perempuan lain. Sadarkan aku, lepaskan bayangan tentang dia dari fikiranku ya Tuhan. Karena hamba sadar tak bisa meneruskan perasaan ini, dia sudah jadi milik orang lain, dan aku tak mungkin menyakiti hati perempuan lain hanya demi memuluskan perasaanku sendiri." Kecamuk hati Kinanti sambil memejamkan matanya, hingga tanpa ia sadari matanya telah terpejam karena lelahnya badan dan juga hati yang baru saja di hadapinya.
***
Tengah malam Kinanti terbangun dari tidurnya karena rasa lapar yang ia rasakan. Kinanti berjalan menuju dapur dengan langkah lunglainya. Diambilnya sedikit nasi dari tempat penghangat nasi dan lauk yang sengaja disisihkan untuknya di balik tudung saji, dan Kinanti segera mengisi perutnya yang sangat kelaparan.
"Sahur kamu, jam segini makan?" sebuah suara tiba-tiba mengagetkan Kinanti yang sedang menikmati makanannya membuatnya hampir tersedak.
"Astaga Hani, ngagetin saja." kata Kinanti setelah meneguk minumannya.
"Maaf." kata Hani dengan terkekeh geli, entah kenapa sikap Hani yang ramah begitu aneh terdengar di telinga Kinanti, karena selama ini Hani tak pernah bisa bersikap ramah terhadapnya.
"Mau makan juga? Sini sekalian." kata Kinanti.
"Enggak, aku cuma mau ambil minum." Sahut Hani sambil mendudukkan dirinya di kursi seberang meja yang di duduki Kinanti, dan sekarang mereka duduk berhadapan.
"Nan.." panggil Hani tampak ragu.
"Yaa..." sahut Kinanti segera memalingkan wajahnya dari piring yang sedang ia nikmati isinya dan beralih menatap wajah sepupunya itu, penuh heran dan tanya tentu saja.
"Kenapa mesti malu sih Han? Kita ini saudara." Kinanti menghentikan makannya dan menatap Hani dengan intens, memperhatikan apa yang hendak sepupunya itu katakan.
"Sebulan lalu aku mendaftarkan kerja ke luar negeri, tepatnya ke Jepang, seminggu lagi keberangkatannya, aku titip kedua orang tuaku, maafkan aku atas sikapku selama ini kepada kamu Nan, itu semua karena aku takut kamu merebut perhatian kedua orang tua aku, padahal kenyataannya, ayah ibu menyayangi kita tak ada bedanya." Terlihat sesal di mata Hani setelah mengungkapkan apa yang ingin ia katakan kepada Kinanti.
"Benarkah yang kamu katakan? Kenapa aku tak pernah mendengar kamu membicarakannya?" tanya Kinanti.
"Aku hanya bercerita sama ayah ibu, dan aku meminta kepada mereka untuk merahasiakan semua dari kamu, aku malu bila sudah banyak bercerita muluk-muluk sama kamu tapi akhirnya aku tidak lulus seleksi akhir. Selama ini aku selalu iri sama kamu, kamu selalu berhasil dengan apa yang kamu lakukan, sedang aku hanya selalu jadi pecundang.
Selain ketakutanku akan berkurangnya perhatian ayah ibu, hal itu pula yang membuatku iri sama kamu, maafkan sikapku selama ini Nan, sekarang aku merasa sangat malu karena aku baik sama kamu hanya karena aku ingin menitipkan ayah ibu sama kamu, tapi jujur aku sangat menyesal akan sikapku selama ini walaupun sangat terlambat." Suara Hani terdengar semakin melemah, ia tak sanggup menatap Kinanti lebih lama lagi.
Kinanti beranjak dari duduknya dan berjalan menuju tempat duduk Hani, dirangkulnya pundak Hani.
"Han, apapun yang pernah terjadi antara kita aku tak pernah sedikitpun membenci kamu, kamu jangan merasa terbebani. Kamu tak perlu khawatir untuk pergi mengejar cita-cita kamu di negara orang, om dan tante sudah seperti orang tuaku sendiri, tak mungkin aku akan mengabaikan mereka saat kamu jauh dari kami." Kinanti dengan tulus membesarkan hati Hani agar ia bisa tenang meninggalkan kedua orang tuanya untuk di tinggal bekerja ke negara lain.
"Terima kasih Nan, kamu sangat baik, padahal selama ini aku selalu jahat sama kamu." Hani bangkit dari duduknya dan memeluk Kinanti yang berdiri di sampingnya dengan erat. Hani menangis penuh sesak atas perlakuannya selama ini kepada Kinanti, dan Kinanti pun membalas pelukan Hani tak kalah erat.
"Raihlah suksesmu di sana Han, tenangkan hati dan fikiran kamu saat berjauhan dengan kami keluargamu ini." kata Kinanti.
"Terima kasih Nan, aku sangat malu sama kamu." kata Hani disertai isak yang tertahan, dan Kinanti segera melepas pelukannya, ditatapnya mata sepupunya itu, lalu diusapnya air mata yang meleleh di pipinya.
"Hey! Kamu jangan begitu Han, kenapa mesti malu sama aku, tegarlah, aku sangat bahagia, akhirnya kamu mengakui keberadaanku, aku yang harusnya berterima kasih sama kamu." kata Kinanti sambil dengan senyum manisnya, dan Hani semakin tersedu mendengar kebaikan Kinanti yang selalu di perlakukan tak baik olehnya selama ini, dan kembali Hani memeluk Kinanti dengan erat karena merasa sangat berterima kasih Kinanti mau memaafkan sikapnya selama ini.
Dinihari ini menjadi saksi perdamaian antara dua sepupu yang sulit akur selama ini, ternyata diam-diam kedua orang tua mereka menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Kedua orang tua itu saling berpelukan erat demi menyaksikan kedua gadis mereka telah berdamai, terutama anak mereka Hani, yang selama ini tidak menyukai keberadaan Kinanti dalam keluarga mereka.
...****************...
Happy reading semua 🥰