Andrea

Andrea
Kecemburuan Arshlan



Arshlan dan Andrea telah tiba di rumah kembali setelah hampir setengah jam perjalanan dari kantor Xander, saat Andrea turun dari mobil tiba-tiba ia merasa pusing, perut mual-mual. Padahal tadi di kantor Xander dia tidak makan begitu banyak.


Andrea terlihat menutup mulut dan memegangi perutnya dengan masing-masing tangannya, ia terlihat menahan mual dan hendak memuntahkan isi perutnya.


"Kamu kenapa Dre? Kamu sakit?" tanya Arshlan khawatir melihat Andrea. Andrea hanya menggelengkan kepalanya dan langsung berlari ke dalam rumah langsung menuju kamar mandi tamu yang terletak di dekat tangga.


Andrea sudah tak kuat lagi menahan mual, dan sesampai di kamar mandi ia segera memuntahkan isi perutnya, Arshlan mengikuti Andrea dan memijit tengkuknya agar Andrea bisa segera menuntaskan desakan dari dalam tubuhnya itu.


Setelah Andrea merasa lega, ia segera membasuh muka dan berkumur, dengan jalan yang sedikit gontai Andrea keluar dari kamar mandi dengan dipapah oleh Arshlan.


Salah satu pelayan dirumah itu memberikan minyak untuk dioleskan ke perut Andrea agar lebih merasa nyaman, lalu diambilkannya minuman hangat untuk Andrea


"Kamu sakit ya sayang? Apa yang kamu rasakan?" tanya Arshlan khawatir setelah Andrea menyelesaikan minumnya.


"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja perutku mual saat mau turun dari mobil." jelas Andrea.


"Aku panggil dokter keluarga sini saja biar kita tahu apa yang menyebabkan kamu seperti ini." Kata Arshlan sambil mengambil ponsel dari saku celananya, kemudian diusapnya benda pipih kotak itu untuk mencari kontak dokter keluarga Daniswara.


Setelah ditemukannya nomor kontak dokter pribadi keluarganya Arshlan segera menelponnya, setelah terjadi pembicaraan beberapa saat Arshlan pun mematikan panggilan telponnya.


"Sebentar lagi dia akan datang sayang, tahan sebentar ya!." kata Arshlan sambil mengelus punggung istrinya.


"Tapi aku sudah merasa lebih baik sekarang, mungkin tidak perlu lagi memanggil dokter kemari." Andrea mengungkapkan kondisinya saat ini yang sudah lebih baik.


"Aku masih merasa khawatir, biar kamu di periksa dahulu, agar kita tahu kalau memang kondisi kamu benar baik-baik saja." Arshlan tetap bersikeras agar Andrea diperiksa dahulu kondisinya kesehatannya.


"Ya sudahlah terserah kamu saja." pasrah Andrea akhirnya.


Duapuluh menit berlalu, dokter yang dipanggil oleh Arshlanpun telah datang.


"Selamat siang semuanya!" sapa sang dokter saat sudah masuk ke dalam rumah.


"Sore, bukan siang lagi!" seru Arshlan sedikit ketus.


"Biasa saja kali Lan." ucap sang dokter yang berusia sebaya dengan Arshlan saat mendengar ucapan Arshlan yang sedikit ketus.


"Lama banget keburu istriku semakin kesakitan." kata Arshlan mendramatisir keadaan sontak membuat sang dokter melihat ke arah Andrea dan Andrea melotot ke arah Arshlan.


Lalu sang dokter menunjuk Andrea dengan telapak tangan yang terbuka sambil mengangkat bahunya seolah mengatakan kalau Andrea terlihat baik-baik saja.


"Dia pasti sedang berusaha menahan kesakitan." ucap Arshlan yang seolah mengerti maksud sang dokter. Dan Andrea hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seakan enggan diajak untuk bersandiwara, dan sang dokter hanya menatapnya penuh tanya.


"Sudahlah Ed, cepat periksa saja!" seru Arshlan memerintah dokternya yang juga sahabatnya yang bernama Edwin itu.


"Baiklah akan aku..." belum sampai dokter Edwin mengakhiri ucapannya, tiba-tiba Andrea berlari meninggalkan kedua lelaki itu menuju kamar mandi tamu, dan Arshlan pun segera mengejarnya.


Tak berapa lama kedua orang suami istri itu keluar dari kamar mandi dan menuju ruang keluarga kembali.


"Sepertinya injeksi kamu ampuh Lan." Kata Edwin dengan senyum lebarnya.


"Maksud kamu apa? Cepat periksa!" dengan tidak sabaran Arshlan memerintah sahabatnya itu.


Baru saja dokter Edwin hendak memegang pergelangan tangan Andrea untuk dicek denyut nadinya tiba-tiba...


"Tunggu!" seru Arshlan.


"Ada apalagi Lan? Tadi suruh cepat-cepat periksa, sekarang di cegah, mau kamu apa sih Lan?!" nampak Edwin agak kesal juga.


"Buat apa pegang-pengan tangan istriku?!" tanya Arshlan ketus.


"Arsh...." panggil Andrea seakan tak habis pikir


"Astaga Lan, posesif banget sih kamu? Kalau tangan istri kamu tidak aku pegang lalu bagaimana cara aku memeriksanya?!" seru Edwin dengan kesal


"Kenapa tadi kamu tidak mengajak salah satu suster?!" sahut Arshlan tak kalah kesal.


"Kalau begitu kenapa tadi tidak sekalian saja ke rumah sakit?!" sahut Edwin sengit.


"Ya mana aku tahu kalau kamu melarang dokter menyentuh pasiennya untuk diperiksa!" Edwin tak mau kalah dengan Arshlan


"Kamu...!


"Stooop!!!" Teriak Andrea, dan spontan kedua lelaki itu terdiam sambil menatap Andrea yang begitu kesal.


"Ada apa ini sampai suara kalian terdengar sampai luar rumah?!" tanya Xander yang baru saja pulang dari kantor.


"Jangan hiraukan mereka dan antar aku ke rumah sakit sekarang!" Andrea beranjak mendekati Xander.


"Sayang...?!" seru Arshlan seakan tak terima Andrea malah mengajak Xander.


"Tapi aku baru saja pulang mbak, kenapa tidak sama bang Arshlan? Lagian sudah ada bang Edwin, kenapa musti ke rumah sakit?" perkataan Xander semakin membuat Andrea kesal.


"Kalian cowok-cowok tidak peka memang!" seru Andrea sambil meneteskan air mata dengan tiba-tiba. Ia merebut kunci mobil yang dipegang oleh Xander dan bergegas keluar rumah.


"Mbak! Mau kemana?!" seru Xander yang menyusul Andrea paling depan, dan dibelakangnya menyusul Asrhlan juga Edwin.


"Apa peduli kamu?!" seru Andrea dengan linangan air matanya.


"Maaf mbak, aku tidak tahu!" seru Xander meminta maaf.


"Ayo aku antar mbak mau kemana..." kata Xander sambil menahan tubuh Andrea yang sudah bersiap masuk ke dalam mobil, lalu di arahkannya tubuh Andrea ke samping mobil untuk menumpang, setelah Andrea masuk, kunci mobil yang masih dipegang oleh Andrea segera diambil oleh Xander.


Xander berjalan menuju pintu kemudi mobil, tetapi Arshlan mendahului Xander masuk ke kursi kemudi lalu menjulurkan tangannya keluar untuk meminta kunci dari Xander.


Saat Xander memberikan kunci mobilnya kepada Arshlan Andrea menginterupsinya.


"Aku mau diantar Xander, bukan kamu Arsh...!" Seru Andrea tanpa melihat ke arah suaminya duduk.


"Tapi sayang, suami kamu itu aku bukan Xander." protes Arshlan seakan tak mengerti jalan pikiran Andrea, tetapi Andrea tak mau tahu. Edwin menyentuh bahu Arshlan dan mengangguk untuk meyakinkan Arshlan bahwa Andrea serius dengan ucapannya.


Dan Arshlanpun keluar dari mobil lalu menatap Xander dengan sangat tajam, tak bisa ditutupi ada raut cemburu di mata Arshlan, apalagi Xander pernah menyimpan rasa untuk Andrea.


Xander yang tidak tahu apa-apa masih berdiri di samping mobilnya tak tahu harus berbuat apa, karena mendapat tatapan tajam dari kakaknya.


"Xen!" seru Andrea memanggil Xander dari dalam mobil.


"Ya mbak!" jawab Xander


"Kamu mau tunggu aku mati lemas baru mau kamu bawa aku ke rumah sakit?!" tanya Andrea karena Xander tidak juga masuk ke mobil, walaupun ia tahu penyebabnya.


Xander menatap Arshlan, seolah meminta persetujuan kakaknya. Tetapi tampaknya Arshlan tetap tidak rela Andrea pergi dengan Xander.


"Segera antar kakak iparmu ke rumah sakit Xen, dia sudah sangat lemah!" perintah Edwin yang mengerti kegusaran Xander.


"Aku akan menyusul kalian bareng abang kamu, biar aku beri penjelasan abang kamu di mobil!" perkataan Edwin membuat Xander tanpa pikir panjang lagi segera masuk ke mobilnya untuk segera mengantar Andrea ke rumah sakit.


"Sampai rumah rumah sakit cari dokter Angela, biar aku telpon Angel agar saat kalian sampai segera diperiksa olehnya." seru Edwin lagi saat Xander mulai bergerak meninggalkan halaman rumahnya, Xander yang mengerti pun hanya menganggukkan kepalanya dan segera membawa Andrea menuju rumah sakit.


"Kenapa kamu mengijinkan Xander yang membawa Andrea? Suaminya dia itu aku!" seru Arshlan marah kepada Edwin.


"Sekarang bukan waktunya berdebat, ayo segera kita susul mereka! Nanti aku jelaskan di mobil." Edwin menyeret Arshlan menuju mobilnya untuk segera menyusul Xander dan Andrea menuju rumah sakit.


...****************...


Happy reading semua readers setiaku 🥰


Maaf jarang update, sekali up pun cuma satu bab, soalnya aku lagi fokus ngejar target kata di Dokter&Petani.


Tinggalin Like, Komen, dan Gift serta votenya yuuukk!!!


Gunain votenya biar gak hangus percuma 😄


Lope you setaman 😘