
Jarum jam telah menunjuk angka delapan tepat, kedua mempelai sudah bersiap di singgasana pengantinnya menanti kehadiran tamu yang akan menghadiri resepsi pernikahan untuk memberi selamat kepada keduanya.
Semua petugas telah menempati tempatnya masing-masing, dari keamanan hingga katering. Belum nampak ada tamu yang datang justru Andrea terlihat menerawang, matanya berkaca-kaca.
"Sayang, kamu kenapa melamun dan sepertinya kamu terlihat bersedih di hari pernikahan kita?" Arshlan menyadari ada yang berbeda dari raut muka Andrea.
"Aku teringat papa, kenapa papa harus pergi secepat ini sebelum menyaksikan aku bahagia dengan pendamping hidupku." Bulir bening mata Andrea akhirnya terdesak keluar bersamaan dengan dijawabnya pertanyaan Arshlan.
"Papa di sana pasti sangat bahagia melihat putri tercintanya hidup bahagia, kita hanya harus selalu mendo'akan papa agar beliau di tempatkan di tempat yang terindah di sana." Arshlan memeluk Andrea dari samping sambil mengucapkan kata untuk membesarkan hatinya, dan usaha Arshlan tak sia-sia karena Andrea terlihat tersenyum sambil menatapnya walaupun senyuman itu nyaris membentuk lengkungan yang patah.
Arshlan mengusap air mata yang mengalir dipipi Andrea.
"Aku berjanji akan selalu membahagiakan kamu Dre, tidak kurang seperti saat kamu mendapat kebahagiaan kamu dari papa mama kamu, walaupun itu tidak akan sesempurna seperti yang kamu dapat dari mereka, karena kasih orangtua tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun termasuk aku suamimu, tapi aku hanya akan selalu berusaha agar kamu tak akan meneteskan air mata kesedihanmu." Kata-kata Arshlan semakin membuat Andrea terharu dan meneteskan air mata semakin deras dari matanya yang indah.
"Terimakasih Arsh, aku tidak akan menuntut apapun darimu, cukup buktikan kata-kata kamu itu sampai kita tua nanti." Arshlan menghadapkan badan Andrea ke arahnya lalu dipeluknya perempuan cantik yang sudah resmi menjadi nyonya Arshlan itu, lalu dikecupnya kening Andrea dan diusapnya air mata Andrea.
"Jangan berterimakasih Dre, karena itu tugasku, sekarang hapus air mata kamu, tamu sudah berdatangan, aku tak mau mereka mengira kamu aku culik untuk duduk di pelaminan ini." Gurau Arshlan membuat Andrea menampakkan senyumnya, lalu dicubitnya lengan kekar Arshlan karena telah menggodanya.
"Aaww sakit Andrea!" Seru Arshlan tertahan sambil mengusap lengannya yang pedih akibat ulah Andrea, sementara Andrea hanya menjulurkan lidahnya.
"Untung disini, coba didalam kamar aku gigit tu lidah." Kata Arslan membuat mata Andrea terbeliak.
"Aarsh... !! dasar mesum!" Seru Andrea.
"Biarin, sama istri sendiri." Sahut Arslan dan langsung disambut tangan Andrea yang sudah siap mencubit, tetapi urung dilakukan karena ada seseorang yang mendekatinya.
"Kalian buatku iri." Kata Xander saat berada di dekatnya yang ingin memberitahukan kalau acara segera akan dimulai, dan kedua mempelai mengangguk mempersilahkan
Sementara di samping pelaminan yang hanya terhalang selambar kain dekorasi tipis nampak perempuan setengah baya tengah mengusap air mata harunya karena mendengar percakapan anak dan menantunya, dia adalah mama Arini.
"Takdir telah membuat papa tidak bisa menyaksikan kamu bahagia dengan suamimu juga anak-anak kalian kelak nak, tapi papa tidak mungkin menyerahkanmu kepada orang yang salah begitupun mama, nak Arslan akan selalu membawamu dalam kebahagiaan." Gumam mama Arini sambil menyeka air matanya kembali, ditariknya nafas dalam agar ia bisa mengontrol emosinya kembali, agar tak ada yang melihatnya tengah berurai air mata.
**
Tamu undangan telah berangsur pulang ke rumah masing-masing setelah merayakan meriahnya pesta pernikahan Andrea dan Arshlan.
Waktu menunjuk angka duabelas lebih saat tamu benar-benar telah habis dan kini tinggal keluarga inti kedua mempelai yang masih bercengkrama sambil melepas lelah setelah menyambut tamu yang begitu banyak.
Para pekerja katering dan kebersihan tengah disibukkan dengan pekerjaan berberes mereka. Xander baru saja keluar dari toilet dan menuju keluarganya untuk ikut bergabung, tetapi tiba-tiba ia seperti terdorong dan tubuh bagian depan yang basah karena tersiram air dari wadah yang dibawa salah satu pegawai katering.
"Ooh... d*mn! harusnya jalan mata perhatiin jalan!" Seru Xander tanpa melihat ke arah si penabrak karena dia sibuk mengibas pakaiannya yang basah.
"Astaga tuan, maaf saya tidak sengaja, tadi saya sedang melihat kearah lain apakah masih ada barang yang tertinggal." Seru pegawai katering yang juga tak kalah terkejut, dia terlihat sangat ketakutan dan merasa bersalah.
"Sudahlah tidak apa, kalau lelah istirahat dulu, kasihan tubuh kamu." Kata Xander tidak marah dan justru memaklumi kelelahan para pegawai katering.
"Tapi baju anda basah tuan." Kata gadis pegawai katering begitu khawatir.
"Tidak apa, aku ada baju ganti, lain kali konsentrasi dalam bekerja, karena ada orang yang tidak akan toleransi bila mengalami hal seperti ini, permisi." Kata Xander datar lalu berlalu meninggalkan gadis itu dengan rasa bersalahnya.
"Terimakasih tuan, anda tidak marah!" Seru gadis itu agak berteriak agar Xander yang semakin menjauh bisa mendengar, dan terlihat Xander mengangkat tangan lalu mengacungkan ibu jarinya tanpa menoleh.
"Masih ada ya orang sebaik dia, padahal aku sudah membuatnya basah kuyup, sudah ganteng, kaya, baik lagi. Beruntung banget yang jadi pendampingnya." Gumam gadis itu seraya menerawang.
"Kinanti! kenapa malah melamun? cepat selesaikan pekerjaanmu, kita harus segera pulang!" Tegur seseorang yang sepertinya atasan dari gadis bernama Kinanti itu.
"Ehh!! I-iya bu." Jawab Kinan segera menyelesaikan pekerjaannya.
Sementara Xander yang pakaiannya setengah kuyup segera gabung dengan keluarganya.
"Loh nak, kamu habis mainan air di toilet sampai pakaian kamu setengah basah begitu?" Tanya mama Mira dengan serius melihat penampilan anak bungsunya memicu tawa kakak sekaligus para sepupunya.
"Mamaaa.. dikira aku bocah? Tadi aku ditabrak pegawai katering yang bawa wadah berisi air, untung saja air bersih jadi tidak menjatuhkan derajat ketampanan seorang Xander Daniswara." Jawaban setengah kesal dari Xander justru membuat orang di sekitarnya tambah tergelak dengan kepercayaan diri Xander yang begitu menggunung.
"Astagaa.. anak mama yang paling tampan dalam kondisi begini pun masih sangat percaya diri." Mama Mira mengusap kepala Xander sambil menggeleng-gelengkan kepalanya juga menyungging senyum lebar di bibirnya.
"Jangan salah bro, Tuhan sedang mempersiapakan jodoh terindah buatku, jadi tidak perlu pusing mikirin jodoh, yang penting usahanya ya kan?" Tanggap Xander cuek.
"Iya-iya Xander Daniswara memang tak ada duanya kalau membela diri." Dahut sebuah suara.
"Ya haruslah, kalau tidak dibela sendiri mau nunggu kalian belain? keburu kalah." Seru Xander yang makin tidak jelas dengan candaannya, lalu diambilnya ponsel dari saku celananya untuk meminta tolong driver memgambil baju ganti yang ia simpan di mobilnya.
Andrea juga Arshlan yang nampak lelah juga ikut tersenyum geli dengan tingkah adik mereka.
***
Andrea masih belum aktif di kantornya, ia masih menyerahkan tanggung jawab kantor kepada asisten kepercayaannya Randy. Andrea ingin berbulan madu dahulu sebelum ia aktif kembali di perusahaan, ia ingin mengunjungi tempat impiannya saat sudah memiliki pasangan, begitu juga Arshlan, mereka merealisasikan harapannya dengan perjalanan bulan madu mereka.
Arshlan dan Xander kini bertukar perusahaan agar Arshlan bisa satu kota dengan Andrea, walaupun mereka harus mempelajari lagi keahlian mereka, karena sebenarnya masing-masing telah handal di bidangnya jadi orangtua mereka yang menentukan perusahaan mana yang tepat di pegang oleh kedua anaknya.
Arshlan dan Andrea berkunjung ke kantor untuk memberikan pengarahan juga program-program perusahaan yang tadinya di pegang Arshlan kepada Xander, sebelum mereka berangkat untuk berbulan madu.
Dan hari ini ada jadwal interview dengan calon-calon pegawai baru di Dan's Company kota ini, Arshlan hanya ingin memberikan pengarahan kepada Xander tentang kriteria calon pegawai yang akan mereka rekrut, setelah Xander mengerti dengan arahan kakaknya, Arshlan beserta Andrea berpamitan untuk mempersiapkan keberangkatan mereka berbulan madu.
"Sudah jelas semuanya kan dek?" Tanya Arshlan meyakinkan Xander.
"Sudah bang, percayakan semua pada adikmu yang pintar ini." Kata Xander jumawa yang tentunya hanyalah sebuah jokes semata.
"Iyaaa...!" Seru Arshlan dengan memutar bola matanya disambut tawa Xander sementara Andrea yang menyaksikan interaksi kakak beradik itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum terulas di bibir indahnya.
"Mbak, pulang bulan madu bawa calon keponakan aku ya, kalau bisa sepasang sekalian kan lucu tuh." Pesan Xander mulai membiasakan diri memanggil mbak kepada Andrea.
"Itu selalu diusahakan Xen, tapi untuk hasilnya terserah sang maha pemberi saja, ya kan sayang." Jawab Andrea sambil menggelayut manja pada suaminya.
"Iyaa-iyaa, gak usah pamer kemesraan di depan jomblo akut ini! Sudah-sudah sana kalian segera pulang bersiap!" Usir Xander pada kakak dan kakak iparnya, dan keduanya pun segera berlalu dari ruangan Xander sambil mengumbar tawa riang seakan mengejek adik mereka.
"Semoga segera bertemu jodoh kamu adik iparku." Kata Andrea sebelum menghilang dibalik pintu, dan hanya direspon dengan isyarat tangan mengusir kakaknya.
Setelah itu terdengar pintu diketuk dari luar.
"Masuk!" Seru Xander dan terbukalah pintu dari luar, nampak seorang staf masuk ke ruangannya.
"Maaf pak Xander, interview akan segera dimulai, anda diperkenankan hadir di ruang rapat." Kata staf tersebut dengan sikap hormatnya.
"Baik, saya akan segera kesana." Kata Xander tegas, dan staf itu segera pamit undur diri dan tak lama Xander segera mengikutinya.
Xander berjalan dengan gagah penuh wibawa menuju ruang rapat tempat interview calon pekerja, saat di depan pintu ruang rapat tiba-tiba tubuhnya tertabrak seseorang, dan berhamburanlah berkas yang dibawa penabrak Xander.
"D*mn!" Umpat Xander
"Maaf tuan, saya terburu-buru buat interview, saya sudah terlambat beberapa menit." Suara seorang gadis meminta maaf dengan sedikit ketakutan sambil mengumpulkan berkas yang berserakan.
"Kamu lagi?!" Seru Xander melihat gadis yang menabraknya, dan sang gadis itu hanya membelalakkan mata tak percaya dengan yang di lihatnya.
"Segera masuk, kamu belum begitu terlambat!" Seru Xander langsung berlalu begitu saja.
"Semoga kamu berhasil Kinan, kamu sudah melakukan kesalahan dua kali pada orang yang sama, dan sepertinya dia orang yang akan menginterviewmu." Gumam Kinanti menjadi sedikit ragu.
Apakah dengan pertemuan yang seperti itu merupakan pertanda kalau Kinan jodoh Xander?.
Dan kini Andrea dan Arshlan telah memulai kebahagiaannya setelah berbagai liku yang mereka lalui.
SELESAI Apa belum?
...****************...
Lanjut tidak readers tercintaa??