Andrea

Andrea
Profesionalitas Dan Perasaan



Pekan aktif dimulai, Andrea sudah bersiap untuk berangkat ke kantor setelah kemarin dua hari melepas kangen dengan ibu angkatnya serasa mendapat tambahan energi bagi Andrea, walaupun sempat ada insiden kecil yang hampir membuyarkan mood baiknya, tapi berkat nasehat dari ibu Rima, Andrea bisa mengembalikan cerianya lagi.


"Ma, pa. Dre berangkat dulu" pamit Andrea sambil mencium tangan dan pipi kedua orang tuanya.


" Loh, kamu tidak sarapan dulu nak?" tanya Mamanya


"Enggak ma, Dre sarapan dikantor saja, ya sudah Dre berangkat sekarang, daah..." Andrea terlihat begitu tergesa gesa.


"Anak itu, kalau berhubungan sama kerja semangat empat lima, tapi untuk urusan percintaan tidak pernah terdengar sama sekali ya pa?" mama Andrea merasa kagum sekaligus heran dengan anak gadisnya.


"Mungkin trauma masa lalu ma, patah hati sebelum memulai, yang membuat dia gila kerja untuk melupakan masalah hati." kata pak Arga terasa masuk diakal


"Bagaimana kalau kita jodohkan saja pa?" ide mama Arini


"Jangan dipaksa lah ma, itu urusan hati Andrea toh anak gadis kita masih usia dua puluhan, kalau memang jodohnya sudah dekat pasti mama akan segera punya mantu dari Andrea, sekarang fokus ke Andra dulu saja ma." pak Arga mengharap pengertian dari sang istri, terlihat mama Arini mengerti dengan arah pembicaraan papa Arga.


"Iya deh, mama ngikut apa kata papa, tapi semoga saja tidak terlalu lama" kata mama Arini di amini suaminya.


**


Andrea menggeber motornya dijalanan yang masih terbilang sepi agar segera sampai ke kantornya. Sudah jpadi kebiasaan Andrea sampai dikantor lebih dahulu daripada karyawannya, ia ingin memberikan contoh disiplin bagi karyawannya.


Kini seluruh karyawan dan staf mulai mengetahui pimpinan baru mereka, jadi Andrea sudah tidak mendapat tatapan sinis lagi, yang ada kini yang pernah sinis jadi merasa segan dan malu, Andrea memang tidak ingin ada acara perkenalan khusus, karena ia ingin mengenal karakter para staf dan karyawannya, dan ternyata Andrea berhasil mengetahui bagaimana watak mereka, dan kini banyak yang segan pada Andrea karena gerak gerik mereka dikantor tak pernah luput dari pengawasan Andrea.


"Selamat pagi bu Andrea" sapa pak Randy yang sudah sampai dulu di kantor.


(panggilan Andrea dikantor dari nona aku ganti ibu ya..)


"Selamat pagi juga pak Randy, apa jadwal hari ini?" tanya Andrea setelah membalas sapaan Randy.


"Kita ada jadwal cek lapangan ke tempat yang kita kerjakan bersama Dans Company bu." kata pak Randy.


"Baik pak, persiapkan segalanya, saya akan mengecek laporan pagi dahulu" perintah Andrea yang segera dilaksanakan oleh Randy.


Setelah hampir setengah jam persiapan Randy melaporkannya pada Andrea.


"Persiapan sudah selesai bu Andrea kita bisa berangkat sekarang." kata Randy


"Baik pak, mari kita berangkat" Andrea yang sudah selesai mengecek laporan segera beranjak dari kursi kerjanya.


Andrea berjalan bergegas diikuti Randy dibelakangnya, didepan lobby telah menunggu mobil yang siap mengantar Andrea ke lapangan.


Sekitar tiga puluh menit perjalanan mereka sampai tempat tujuan.


Andrea segera turun dari mobil tanpa menunggu dibukakan pintunya, bagi Andrea terlalu lama dan terkesan manja.


Nampak rekan bisnisnya yaitu petinggi Dans Company sudah menunggu kehadiran mereka.


" Apa kabar ibu Andrea?" sapa Xander selaku perwakilan Dans Company


" Kabar baik pak Xander, semoga anda juga begitu pak" harap Andrea setelah menjawab sapaan dari Xander


"Yah, saya pun baik bu, mari kita mulai cek lokasi" ajak Xander pada semuanya.


Andrea dan Xander berjalan beriringan, mereka dipandu site engineer dan pengawas lapangan, menjelaskan tentang detail bangunan yang akan dikerjakan, mereka mengelilingi hamparan luas lokasi yang akan didirikan bangunan selama kurang lebih satu jam.


Mereka sampai di kantor pengelola untuk berteduh dari panas yang menyengat disiang hari itu, Dimeja telah disediakan minuman dan camilannya untuk dinikmati mereka yang baru saja keliling lokasi.


Tapi belum Andrea sampai dikursi yang akan dituju, badannya goyah, ia jatuh pingsan untung ada yang menangkap dia sebelum jatuh, dan segera dibawa ke poliklinik yang ada di kantor pengelola tersebut.


Sekitar lima belas menit tak sadarkan diri, Andrea samar samar mencium aroma menyengat dari minyak kayu putih yang digunakan untuk menyadarkannya. Pelan Andrea membuka matanya, Xander yang pertama kali ia lihat kala membuka mata, saat Andrea mengelilingka pandangan matanya ada Randy dan juga perawat wanita yang ada diruang rawat tersebut.


"Ini diminum dulu" Xander menyodorkan segelas minuman hangat kepada Andrea setelah dilihatnya Andrea benar benar sadar walau masih terlihat lemah. Xander membantu Andrea minum, dengan menekan gengsi Andrea menerima bantuan Xander karena ia merasakan haus yang begitu sangat. Setelah Andrea selesai minum, diletakkannya gelas dari tangannya kemudian Xander mengambil mangkuk berisi bubur agar perut Andrea terisi.


"Sekarang makan, perut kamu kosong jadi kamu pingsan akibat kelelahan dan kepanasan." Xander bicara sambil menyendok bubur untuk disuapkan kepada Andrea, tapi Andrea tidak langsung membuka mulutnya, ia justru terlihat sungkan sambil memandangi asistennya, sepertinya sang asisten mengerti akan privasi boss nya. Tapi ternyata Andrea menghela panjang nafasnya karena semula ia ingin Randy yang menolongnya, tapi justru ia keluar ruangan dengan mengajak sang perawat.


"Ayo lekas makan" Xander menyodorkan sendok berisi bubur kedepan mulut andrea


"Tapi aku gak suka bubur" tolak Andrea lemah


"Jangan keras kepala, perutmu kosong jadi sebaiknya makan bubur agar perut tidak sakit" tangan Xander tetap stay menyodorkan satu suap bubur kedepan mulut Andrea, akhirnya dengan terpaksa ia membuka mulutnya dan makan disuapi Xander sampai habis beberapa suap saja.


"Sudah cukup, aku sudah kenyang" kata Andrea.


"Kenyang darimana? ini belum habis setengah loh" sanggah Xander tapi Andrea menggeleng.


"Sudah cukup Xen, aku gak bisa maksain makan lagi, daripada apa yang sudah ku telan balik lagi" Xander akhirnya mengalah mendengar ucapan Andrea.


Raut muka Xander tidak seperti tadi yang sangat ramah dan murah senyum, kali ini raut mukanya terlihat lurus lurus saja.


"Lain kali kalau mau turun lapangan pagi sarapan dulu, perut kamu kosong, matahari terik mungkin semalam kamu kurang tidur juga, jadinya kamu pingsan"


"Iya, tadi pagi disuruh sarapan dulu tapi aku gak mau, buru berangkat, dikantor juga lupa" Andrea membenarkan ucapan Xander.


"Lain kali jangan begitu lagi, jangan bantah sekiranya itu baik untuk kamu" nasehat Xander.


"Iya, bapak Xander yang baik hati dan tidak sombong." Andrea mencoba sambil berkelakar menanggapi nasehat Xander, siapa tahu senyumnya bisa menghias wajah tampannya yang sedari tadi tidak nampak.


"Kamu sudah tidak kesal sama aku?" Xander kembali mengingatkan kejadian kemarin.


"Tidak baik kesal lama lama" bohong Andrea, kenyataannya bila ia tidak mendapat nasehat dari ibunya pasti saat ini masih kesal dengan Xander.


Terlihat air muka Xander seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi ditahannya.


"Syukurlah, aku minta maaf atas kejadian kemarin, aku terlalu... sudahlah, lupakan." Xander tak meneruskan ucapannya, sebenarnya Andrea penasaran kenapa kenapa Xander tak meneruskan ucapannya tapi dktahannya rasa ingin tahunya karena ia tahu itu privacy Xander.


"Gapapa, mungkin aku yang mudah tersinggung, aku juga minta maaf." Andrea menanggapi permintaan maaf Xander.


"Aku kemarin cuma ingin memastikan apakah cewek itu calon kakak ipar kamu? kalau memang iya, tolong pertimbangkan lagi, selidiki lagi, aku rasa ia tidak cocok masuk keluarga kamu." Air muka Xander berubah lagi. Andrea tahu perubahan itu, akhirnya dia memutuskan untuk tak menyinggung nama Arshlan lagi saat bertemu Xander.


"Kalau sudah enakan segera kembali, kita masih ada pembicaraan lagi, aku kesana dulu." Pesan Xander sambil mengacak rambut depan Andrea, lalu berjalan keluar ruanga rawat poliklinik. Andrea hanya tersenyum dengan ulah Xander.


Andrea pun segera menyusul Xander walau energinya belum pulih sepenuhnya, ia terhuyung saat hendak melangkah, untung bertepatan dengan Randy masuk untuk memastikan kondisi Andrea jadi ia tidak jadi limbung karena Randy segera menahannya.


"Ibu sudah baikan? istirahat saja bu, bila belum sepenuhnya pulih." Randy menyarankan untuk memulihkan tenaga dulu.


"Tidak enak sama yang lain pak, saya sudah mendingan kok." Andrea menolak istirahat lebih lama.


"Tapi bu..."


" Tidak apa pak, biar urusan cepat selesai dan kita bisa segera pulang." Andrea tak mau dibantah, lalu Randy memapah Andrea yang masih lemah, Xander yang melihat itu mengepalkan tangannya dibawah meja.


...****************...