
Taman pinggir kota lebih sepi, karena hari masih begitu panas. Tempat tersebut akan sangat ramai saat sore hari karena banyak masyarakat sekitar yang datang untuk olahraga sore atau sekedar bermain bersama anak-anak mereka.
Andrea duduk disalah satu kursi dibawah pohon yang sangat rindang ditepi kolam taman, ia menenangkan diri dan juga ingin merefresh otaknya agar tak selalu memikirkan tentang Arshlan.
Andrea terlihat tersenyum sendiri melihat angsa yang sedang berenang dan juga terlihat seakan.sedang bercanda dengan pasangannya.
"Hmmmmhhh...!! Kalian meledekku yaa??" Andrea berbicara sendiri sambil melihat pada sepasang angsa itu.
Samar terdengar ditelinga Andrea ada orang sedang berdebat di balik pohon perdu tak jauh dari tempat ia duduk, tapi ia tak peduli, Andrea seolah menutup telinganya dengan membuka ponselnya agar tidak semakin ingin tahu pembicaraan mereka, tetapi tetap saja itu tidak membantu karena Andrea dengan pembicaraan mereka semakin kencang.
Andrea hendak mengambil headset agar tak mendengar suara dari luar selain di ponselnya, tetapi belum sempat ia temukan barang yang dia cari, Andrea mendengar teriakan suara perempuan dan juga seperti suara tamparan, Andrea segera berdiri untuk mencari sumber suara itu, ia tidak peduli bila harus dikatakan ikut mencampuri urusana orang lain.
Akhirnya dia menemukan sepasang kekasih yang berdebat tersebut, nampak si wanita menangis sambil menarik-narik tangan si lelaki, tetapi si lelaki seolah tak peduli ia berusaha melepaskan diri dari wanitanya.
"Kamu tidak bisa pergi begitu saja, kamu harus tanggung jawab karena perbuatanmu ini!!" suara tangis dan permohonan yang bercampur terdengar pilu bagi suara yang mendengarnya.
"Raisa!" seru Andrea melihat siapa wanita yang sedang menangis tersebut, nampak ia masih menarik lelaki yang hendak meninggalkannya tersebut.
"Ada apa ini?!" seru Andrea bertanya membuat keduanya spontan menoleh.
"Ada apa bu Raisa?" tanya Andrea lagi.
"Dia tidak mau bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya sama saya." jawab Andrea.
"Kamu tidak usah ikut campur urusan kami!" seru lelaki yang handak meninggalkan Raisa.
"Apa tidak bisa dibicarakan baik-baik ditempat yang pribadi? Ini tempat umum, apa kalian tidak malu mengumbar permasalahan kalian dan bisa dilihat banyak orang? untung tempat ini masih sepi." Andrea seakan tak mengerti dengan jalan pikiran kedua orang didepannya, tapi seolah si lelaki tak peduli dengan omongan Andrea.
"Memangnya apa yang terjadi bu Raisa?" tanya Andrea
"Saya... saya hamil anak dia bu Andrea, tapi dia tidak mau bertanggung jawab, dan malah menuduh saya yang tidak-tidak" jawab Raisa
"Halah! bisa jadi itu bukan anakku karena kamu tidak hanya bermain sama aku!" lelaki itu berseru tidak terima.
"Bagaimana bisa kamu bicara begitu sedang beberapa bulan terakhir aku sama kamu terus" jawab Raisa.
"Bisa jadi itu anak kamu sama mantan tunangan kamu"
"Dari awal aku sudah bilang kalau dia tidak pernah menyentuh aku!"
"Siapa tahu kamu bohong atau tidak..!"
"Stop!" seru Andrea. "Kalian biacara hal privasi seperti ini ditempat seperti ini, pada punya otak tidak sih kalian? ini ruang umum terbuka, seharusnya kalian bisa menjaga suara kalian, jangan malah saling teriak! kalian tidak malu kalau sampai banyak orang mendengar?!" Andrea gemas sendiri dengan dua orang dewasa dihadapannya tapi cara menyelesaikan masalah seperti anak kemarin sore. Mendengar kata-kata Andrea lelaki itu tidak peduli dan Raisa hanya menunduk.
"Hey kamu! cowok macam apa kamu mau lepas tanggung jawab begitu saja setelah apa yang kamu perbuat, apa alasan kamu? padahal kemarin-kemarin aku lihat kamu begitu mesra begitu romantis, pamer ditempat umum sampai memeras orang bersama dengan tidak tahu malunya, sekarang giliran ada masalah serius seperti ini mau pergi begitu saja, tunjukkan kalau kamu lelaki sejati seperti saat kemarin mengumbar kemesraan ditempat umum!" kata Andrea cuma ditanggapi palingan muka dari lelaki itu.
"Anda bu Raisa, haahh...! mana kegarangan kamu saat ini? menghadapi cecunguk seperti dia saja nyali kamu seolah hilang begitu saja, kamu itu tukang bully tapi menghapadi dia seperti kerupuk tersiram air, tunjukka dong, ini Raisa yang tidak peduli apapun seperti kamu biasanya." rasa gemas Andrea membuat ai tidak meu berkata-kata formal lagi kepada Raisa, ia membakar semangat perempuan yang sering bermasalah dengannya itu, tetapi dalam hal ini sepertinya Raisa benar-benar terpuruk buktinya dia diam saja dengan perkataan Andrea.
"Kenapa kalian diam saja? sekarang ngomong selesaikan baik-baik biar aku yang jadi penengahnya!" perintah Andrea.
"Apa alasan kamu tidak mau bertanggung jawab?" tanya Andrea pelan didepan muka cowok itu.
"Jawab!" seru Andrea yang tak juga mendapat jawaban.
"Bagaimana aku menghidupi mereka nanti sedang aku hanya berpenghasilan kecil" jawabnya.
"Jawaban yang tidak masuk akal, Raisa-Raisa, kok bisa sih kamu berhubungan sama cowok model begini? maaf bila aku membandingkan, kamu menyia-nyiakan emas hanya demi besi berkarat seperti dia. Sekarang kamu lihat sendiri kan? dia cuma mau senangnya saja, sedang resikonya mau dia lepas begitu saja." Raisa hanya bisa tertunduk malu dengan ucapan Andrea yang memang sesuai dengan kenyataanya, padahal dulu bermacam cara ia lakukan untuk membujuk mama Arshlan agar mau memaksa Arshlan untuk menikahinya, tapi Raisa malah berbuat ulah hanya karena Arshlan dingin padanya ia lantas mencari kehangatan di luar, sekarang justru Raisa terjebak dengan permasalahan rumit hanya dengan seorang lelaki bermental tempe. Andrea tak habis pikir karena itu.
"Kamu duduk sini." suara pelan Andrea menyuruh lelaki itu duduk, dan ia pun menuruti kata Andrea dan duduk didekat Raisa.
"Hey, kamu ada cinta tidak sih sama Raisa?" tanya Andrea baik-baik dan dengan ragu lelaki itu menganggukkan kepalanya.
"Kalau cuma masalah gaji kecil yang kamu dapatkan selama ini, itu bukan alasan kamu untuk lepas tanggung jawab, sebagai lelaki sejati kamu harus menanggung konsekuensi dari apa yang telah kalian perbuat, uang bisa dicari, sekarang kalau cuma masalah penghasilan, Raisa punya penghasilan yang lebih dari cukup untuk kalian hidup, tapi tentu saja lelaki adalah pencari nafkah utama. Kalau kamu benar cinta dan mau bertanggung jawab sama Raisa, aku akan memberikan pekerjaan kepada kamu sesuai pendidikan kamu, bagaimana?" tawar Andrea, dan terlihat kekasih Raisa itu berbinar.
"Ya, aku mau, aku cuma takut tidak bisa memenuhi kebutuhan Raisa yang aku tahu selama ini sangat banyak." lelaki itu berkata melunak tidak seperti tadi.
"Bagaimana Raisa? dia sudah setuju" Raisa tidak menjawab dia malah turun dari duduknya dan memeluk kaki Andrea, melihat itu Andrea langsung menarik Raisa untuk berdiri.
"Hey! jangan seperti itu, ayo berdiri!" perintah Andrea sambil menarik Raisa untuk bangun.
"Aku malu bu Andrea, aku malu atas perbuatanku yang telah lalu, anda sering melihat keburukan saya, bahkan berkali-kali saya melakukan perbuatan tidak baik terhadap anda, tapi anda masih tetap peduli dengan kesulitan saya." tangis Raisa pecah dihadapan Andrea, lalu Andrea memeluk wanita yang sedang kacau hatinya itu untuk menenangkannya.
"Sudahlah, sekarang kamu harus berubah, jangan lagi seperti dulu." nasehat Andrea dan disanggupi oleh Raisa.
"Kamu!" tunjuk Raisa pada si lelaki.
"Doni mbak." potong lelaki itu menyebutkan namanya.
"Sekarang ajak Raisa pulang, bicara baik-baik pada orang tua kalian, besok kamu datang ke kantor saya untuk membahas pekerjaan yang aku janjikan, dan Raisa, mulai sekarang kamu jangan suka bolos kerja seperti ini lagi kalau tidak ingin saya mutasi." sepasang kekasih itu hanya bisa mengangguk dengan kata-kata Andrea.
"Terimakasih atas semuanya ya mbak." kata Doni.
"Sama-sama" jawab Andrea. Sementara Raisa lagi-lagi memeluk Andrea sambil menangis dan berkali-kali mengucapkan terimakasih, dan Andrea mengusap punggung punggung Raisa untuk memberinya dukungan.
"Maafin aku atas ucapan-ucapanku yang tadi Sa" Doni yang berdiri di samping Andrea meminta maaf pada Raisa, dan Raisa hanya menjawabnya dengan anggukan, ia masih tenggelam dengan tangis haru dan juga bahagianya.
"Ya sudah sekarang kalian pulang, lain kali kalau ada masalah selesaikan secara dingin." kata Raisa. Lalu keduanyapun segera pulang setelah mengucapkan banyak terimakasih kepada Andrea. Dan Andrea hanya geleng kepala sambil melihat punggung sepasang kekasih yang semakin menjauh meninggalkannya. Dan akhirnya diapun ikut berlalu dari tempat itu.
...****************...
Readers..
Aku buat cerita baru lagi, judulnya Dokter & Petani, baru dapat tiga episode, dibaca juga ya, semoga bisa jadi penghibur diwaktu senggang kalian.
Jangan lupa like komennya yaa.