
"Thanks makan siangnya Xen, mau masuk dulu atau langsung?"
Ucap Andrea saat mereka sampai di halaman lobby kantor Andrea.
"Aku langsung saja Dre lain waktu saja mampir, syukur mampir ke rumah kamu." kata Xander
"OK, bener nih mau ke rumah? Ayo kapan main ke rumah." ajak Andrea
"Kapan hari kalau sudah siap Dre, ya sudah aku cabut bye.." Xander melambaikan tangan dan segera berlalu dari kantor Andrea dan Andrea pun langsung masuk ke kantornya.
"Waahh.. sama-sama calon ipar rupanya bu Andrea sama saya." tiba-tiba Raisa menghentikan langkah Andrea dan bersikap sok akrab.
"Apa maksud ibu Raisa?" tanya Andrea kurang paham
"Kan ibu Andrea habis jalan sama Xander, bahkan saya sering lihat Xander datang untuk sekedar berkunjung atau mengajak makan bu Andrea berarti kalian berdua terlibat suatu hubungan lebih dari hubungan kerja dong." Raisa beropini
"Jangan terlalu berpikir terlalu jauh bu Raisa, apa yang nampak dimata belum tentu dihati sama, seperti Anda mungkin?" Andrea berkata sambil angkat bahunya.
"Apa maksud bu Andrea?" tanya Raisa
"Yaahh, coba anda cari jawabannya sendiri bu Raisa, permisi." Andrea berlalu dari hadapan Raisa yang masih terlihat kebingungan dengan kata-kata Andrea.
***
Hari yang sangat sibuk saat akhir pekan tiba, mereka harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum libur bekerja, begitupun Andrea, ia ditemani Randy lembur untuk menyelesaikan tugas memeriksa beberapa dokumen penting. Sampai sekitar jam sembilan malam mereka baru selesai.
Saat Andrea dan Randy menuju tempat parkir ponsel.Andrea berdering, diangkatnya panggilan tersebut dan ternyata dari tante Mira.
"Selamat malam tante." sapa Andrea.
"Selamat malam juga na Andrea." jawab tante Mira.
"Besok nak Andrea ada acara tidak?"
"Kebetulan belum ada tabte, ada yang bisa saya bantu tan?" tanya Andrea.
"Boleh tante minta tolong ditemani ke acara bareng teman-teman tante besok?" tanya tante Mira penuh harap.
"Ooh, boleh tante, kira-kira saya harus datang jam berapa ya tante?" tanya Andrea setelah menyatakan kesanggupannya.
"Pagi saja nak, sekitar jam delapan tante tunggu dirumah." kata tante Mira ia menjelaskan rencana kepergiannya, ia ingin ditemani Andrea besok karena ada acara bakti sosial bersama teman-teman sosialitanya.
"Baiklah tante, besok saya usahakan tepat waktu." kata Andrea.
"Terimakasih sebelumnya ya nak." terdengar sirat bahagia dari suara tante Mira.
"Sama-sama tante." jawab Andrea.
Lalu sambungan telepon terputus setelah keduanya mengucapkan salam, dan Andrea pun segera berlalu untuk pulang.
***
Pagi hari Andrea telah bersiap untuk berangkat menuju rumah tante Mira, ia kendarainya motor besarnya menuju rumah tante Mira yang hanya sekitar duapuluh menit perjalanan yang lumayan cepat. Di pagar depan Andrea dihadang security dan ditanya ada keperluan apa, dan akhirnya security memperbolehkan Andrea masuk karena ia mengenali wajah Andrea yang datang beberapa hari yang lalu.
Diparkirkannya motor Andrea di area parkir rumah tante Mira yang sangat luas, dari dalam rumah, tante Mira nampak tergopoh mendekati Andrea di tempat parkir motor.
"Nak Andrea? tante kira anak tante yang datang, motornya hampir sama." kata tante Mira.
"Memang anak tante sedang pergi kemana?" Andrea bertanya sambil mencium tangan tante Mira, membuat tante Mira menganga takjub akan adab yang diperlihatkan Andrea, lalu dijawabnya tanya Andrea.
"Mereka lebih memilih tinggal di apartemen yang dekat dengan kantor cabang, karena saat ini sedang menferjakan proyek besar jadi kalau berangkat tidak terlalu jauh daripada kalau harus berangkat dari rumah ini." jelas tante Mira sambil menggandeng tangan Andrea untuk masuk kerumah.
"Ooh begitu, anak tante cowok atau cewek tante?" tanya Andrea pura-pura, padahal dia sudah tahu bahwa tante Mira ibu dari Arshlan dan Xander.
"Anak tante dua cowok semua, yang sulung sudah tunangan, yang kecil tante belum pernah lihat dia gandeng cewek, ehmm kayanya dia cocok deh sama nak Andrea." kata tante Mira sambil mengamati Andre dari atas sampai bawah.
"Aahh tante, mana mungkin anak tante mau sama saya, kelasnya pasti tinggi juga lah tante." kata Andrea merendah.
"Tante, biarlah nanti Tuhan yang menunjukkan, kalau memang keputusan tante salah atau benar pasti kedepan akan ditunjukkan kenyataannya." Andrea mengusap tangan tante Mira untuk membesarkan hatinya, terlihat tante Mira tersenyum.
"Benar nak, biarlah nanti bagaimana anak tante kedepannya, tante sudah pasrah, tante tak mau memaksa lagi, kasihan anak tante kalau menjalani sesuatu karena terpaksa ya sudah nak, tante mau persiapan dulu, ini diminum dulu minumnya." kata tante Mira sambil berjalan masuk menuju kamarnya.
"Keputusan tante memang salah tante, Raisa tidaklah sebaik yang tante pikir, tapi aku tidak boleh mencampuri urusan mereka, aku takut dikatakan penghasut." batin hati Andrea yang merasa menyayangkan jika Arshlan akan bersanding dengan Raisa nantinya.
"Ayo nak, kita berangkat sekarang." ajak tante Mira yang baru keluar dari ruang dalam, dan Andrea pun segera beranjak dari duduknya mengikuti tante Mira yang berjalan keluar.
"Kita bawa driver saja, biar kita bisa ngobrol bebas." kata tante Mira sambil menggandeng tangan Andrea menuju mobil yang sudah dipersiapkan oleh drivernya.
Setelah keduanya naik, driver menutup pintu mobil dan diapun segera masuk untuk melakukan perjalanan ke tempat diadakannya bakti sosial di sebuah yayasan yatim piatu di kota tersebut.
Setelah sekitar tiga puluh menit berkutat dengan perjalanan yang cenderung macet, mobil tante Mira memasuki halaman sebuah panti dimana rekan-rekan tante Mira sebagian sudah datang, dan bersamaan dengan (kedatangan mereka, mobil mobil lain juga berdatangan.
Saat akan turun, Andrea memakai masker dan kacamata coklat terang, agar disaat dalam ruangan Andrea tidak perlu melepas kacamatanya.
"Kenapa mesti pakai masker nak? nanti wajah cantiknya tidak kelihatan lohh." kata tante Mira yang sepertinya keberatan dengan yang dipakai Andrea.
"Tidak apa-apa tante, saya nyaman seperti ini untuk masuk dilingkungan baru." jawaban Andrea ternyata bisa diterima tante Mira.
Lalu keduanya turun untuk segera bergabung dengan ibu-ibu yang lain, sementara driver tante Mira sibuk menurunkan beberapa kardus barang yang dibawa tante Mira.
"Selamat pagi menjelang siang ibu-ibu semua." sapa tante Mira.
"Selamat pagi jeng Mira, selamat datang." jawab mereka kemudian mereka saling berjabat tangan.
"Itu siapa yang diajak jeng? calon mantu ya?" tanya salah seorang teman tante Mira.
"Do'anya saja ibu-ibu semua." jawab tante Mira sambil tersenyum penuh harap menatap Andrea. Andrea yang hendak menjawab dipegang pergelangan tangannya oleh tante Mira, supaya tidak mengatakan yang sebenarnya bahwa ia hanyalah bodyguard tante Mira.
"Tapi saya tidak enak tante, nanti dikiranya ibu-ibu saya memanfaatkan keadaan." bisik Andrea pada tante Mira.
"Biarkan saja nak, kalau memang benar juga tante malah seneng banget." tersirat wajah sumringah tante Mira membayangkan hal itu. Bersamaan dengan itu datang lagi sebuah mobil yang begitu Andrea kenal.
"Raisa" batin hati Andrea.
Ya, mobil yang baru saja datang Raisa bersama seorang ibu-ibu, kemungkinan itu ibunya Raisa.
"Selamat siang ibu-ibu semua!!" sapa Raisa dan ibunya secara bersamaan, lalu sang ibu segera menjabat tangan semua yang sudah hadir, sementara Raisa langsung mendekati tante Mira.
"Hallo mama mertua." Raisa menyapa tante Mira kemudian mencium kedua pipinya.
"Hallo juga Raisa." jawab tante Mira dengan senyum yang dipaksakan.
"Selamat siang jeng Mira." sapa mama Raisa.
"Selamat siang juga jeng Susi." balas tante Mira, lalu mereka semua memulai acaranya, dan sepanjang kegiatan, tante Mira selalu didekat Andrea karena tante Mira seakan enggan didekati oleh Raisa, rupanya hal tersebut tak luput dari perhatian Raisa, terlihat tatapan tidak suka ke arah Andrea, tapi Andrea santai terkesan cuek dengan tatapan sinis Raisa.
"Tante, saya mau ke toilet sebentar ya." pamit Andrea.
"Ya, silahkan nak." setelah berpamitan Andrea segera ke kamar kecil dan tanpa disadarinya ternyata Raisa mengikutinya.
"Kamu siapanya calon mertua aku sehingga bisa sangat dekat dengannya?!" Tiba-tiba Andrea ditegur dengan keras saat ia baru saja keluar dari toilet.
"Saya hanya bodyguard tante Mira." jawab Andrea tenang setelah mengatasi keterkejutannya, untung dia tidak lupa memakai maskernya sebelum keluar toilet.
"Tidak mungkin hanya seorang bodyguard bisa sebegitu dekatnya dengan majikannya!" seru Raisa tidak percaya.
"Itu mungkin cuma pemikiran anda nona, permisi." Andrea hendak pergi untuk menghindari keributan dengan Raisa, tapi baru selangkah Andrea melangkah, rambutnya ditarik oleh Raisa.
"Aku belum selesai bicara!" Raisa tidak terima dengan sikap acuh Andrea, dan Andrea yang kesakitan karena rambutnya ditarik dengan kencang segera memegang tangan Raisa yang menjambaknya, kemudian dipelintirnya tangan Raisa.
...****************...