Andrea

Andrea
Tumbang.



"Bu Andrea, kalau masih sakit kenapa dipaksakan jalan, lebih baik anda istirahat dulu." Xander berusaha menekan kata katanya agar tidak terlihat kalau sedang kesal.


"Tidak pak Xander saya masih kuat kalau hanya duduk, mari segera kita selesaikan rapat yang tertunda agar segera selesai" dan rapatpun selesai dipercepat karena kondisi Andrea yang terlihat sangat pucat dan lemah.


Randy memapah Andrea yang terlihat kesulitan berjalan menuju mobilnya, tiba tiba Andrea dibuat terkejut saat Xander menggendongnya ala bridal style, ingin Andrea berontak tapi apalah daya badannya sangat lemah, akhirnya ia hanya pasrah dengan perlakuan Xander.


"Pak Randy, tolong bu Andrea langsung diantar pulang saja, beliau sangat butuh istirahat, badannya terlalu lemah jika diteruskan untuk aktifitas." pesan Xander pada Randy setelah Andrea masuk ke mobilnya.


" Baik pak, saya juga berencana begitu, terimakasih atas bantuan bapak merawat ibu Andrea." ucapan terimakasih Randy hanya dijawab anggukan dan Xander menengok Andrea lagi.


"Istirahat sampai benar benar sehat, besok kalau sudah sehat jangan abaikan kesehatan." Xander mengacak rambut depan Andrea setelah selesai dengan nasehatnya, lalu menyuruh driver untuk segera menjalankan mobilnya.


***


Malam hari Andrea harus dibawa ke rumah sakit karena kondisi badannya semakin drop, ia mengeluh sakit perut dan ternyata ia menderita asam lambung, ia sering mengabaikan makan bila sudah sibuk kerja padahal Randy sudah sering mengingatkannya.


Andrea terbaring lemah dengan infus terpasang ditangannya, ia dirawat diruang VIP rumah sakit dikota itu.


Ponsel Andrea berdering saat ia sedang sarapan disuapi mamanya,


"Hallo!!" sapa Andrea setelah menerima ponsel yang diambilkan sang mama dari atas nakas.


"Hallo Dre, bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya suara di seberang.


"Akhirnya aku harus opname Xen." jawab Andrea kepada penelpon yang ternyata Xander.


"Ya ampun Dre, dirumah sakit mana kamu dirawat" Xander terdengar panik


"Gak usah panik gitu kali Xen aku gapapa kok, aku dirumah sakit pusat kota."


"Gapapa tapi suara kamu saja lemah banget seperti itu, ya sudah kamu istirahat lagi, lekas sembuh yaa." spontan Andrea mengangguk yang tentu saja Xander tidak tahu, lalu panggilan ditutup oleh Xander


"Siapa yang telfon nak?" tanya mama Arini


"Rekan kerja ma." jawab Andrea.


"Sepertinya dekat banget sama kamu ya Dre, didengar dari percakapan kalian, atau malah lebih dari sekedar rekan, mungkin calon menantu mama?!" tersungging senyum dan lirikan mata menggoda mama kepada Andrea hingga membuat sang putri merona.


"Mama, bisa banget menggoda anaknya, enggak kok ma ini murni rekan kerja." sanggah Andrea


"Tapi perubahan air muka kamu tidak bisa bohongi mama lho." mama tak mau mengalah.


"Aahh mama bisa aja deh ngegodain anak gadisnya yang lagi lemah ini, tau aja kalau Dre sedang tidak bisa menyerang mama dengan jurus maut Dre." perkataan Andrea langsung disambut tawa mamanya.


Ya, setiap mamanya menggoda Andrea sampai gadis itu terpojok karena tak bisa menjawab lagi pasti akan langsung memeluk mamanya dengan erat dan menciumi wajah mamanya bertubi tubi, agar sang mama tidak menggodanya lagi.


***


Xander berjalan dengan tergesa melewati lorong rumah sakit untuk menjenguk Andrea, ia merasa khawatir ketika Andrea mengatakan masuk rumah sakit, sebenarnya Xander ingin langsung menemui Andrea tapi karena harus rapat saat itu, maka kainginannya jadi tertunda hingga hari menjelang sore Xander baru bisa pergi ke rumah sakit.


"Kamar atas nama nona Andrea Andhara ruang VIP nomor berapa ya sus?" tanya Xander pada suster jaga saat sampai di ruang rawat VIP


"VIP 5 pak." jawab sang suster.


"Terimakasih sus" ucap Xander dan segera berlalu menuju kamar rawat Andrea.


Tok-tok !!


"Selamat sore tante, saya Xander mau menjenguk Andrea" sapa Xander


"Ooh ya nak Xander mari silahkan masuk" Xander segera masuk dan segera menghampiri Andrea.


"Hai Xen, terimakasih mau menjengukku disela kesibukanmu." sapa Andrea.


"Lain kali jangan bandel kalau disuruh makan itu nurut, biar gak kaya gini." nasehat Xander sambil mengacak rambut depan Andrea


"Iihhh...! Kamu kebiasaan banget ngacak rambut aku." protes Andrea sambil mengerucutkan bibirnya.


"Jangan manyun begitu, nanti aku gigit." Xander bicara pelan agar tak terdengar mama Andrea yang duduk di sofa kamar.


Andrea pun segera mengatupkan rapat bibirnya.


"Tidak usah bisik bisik, mama dengar." seru mama Arini sambil memperhatikan mereka berdua, dan Xander pun hanya tersenyum malu.


"Sukurin" ejek Andrea sambil menjulurkan lidahnya.


" Kaya bocah kamu kalau begitu " gemas Xander sambil melakukan kebiasaan barunya saat bertemu Andrea, mengacak rambut depannya.


"Iihh..! rambut aku berantakan kalau kamu ngacak acak terus!" protes Andrea.


"Habisnya gemes" Xander tertawa pelan telah membuat Andrea kesal.


"Anak mama sudah punya calon mantu buat mama tapi kenapa disembunyikan dari mama ya?" kata mama sambil memdekat ke ranjang Andrea.


"Mama apaan sih, bukan ma. kami rekan bisnis." Andrea merasa malu dengan perkataan mamanya.


"Tapi menurut mama kalian cocok deh." kata mama Arini semakin membuat keduanya tersipu.


"Jika memang jalan Tuhan mesti begitu kami pasti berjodoh tante, kita tunggu saja bagaimana Tuhan menuntun hati kami." Ucapan Xander mampu mencairkan suasana yang sempat canggung antara ia dan Andrea akibat ucapan mama Arini.


"Hmmm... sudah tampan, pinter, apalagi yang kamu cari nak?" ucapan mama membuat Andrea jengah.


"Mama... tadi sudah dengar apa yang Xander katakan kan? Jangan dipaksakan mamaku sayang."


"Andai mama jadi kamu tidak akan menunda nunda lagi " goda mama.


"Mamaaa...!! Lihat tuh Xander besar kepala" seru Andrea saat melihat Xander senyum senyum akibat perkataan mamanya.


"Ya kalau benar Xander suka Dre, kalau enggak kan Andrea malu mama sudah bicara begitu." Andrea berlagak kesal untuk menutupi rasa malunya karena ucapan mama yang to the point.


"Iya, maaf anak mama yang paling cantik, eh tapi kalau beneran nak Xander mau sama kamu secepatnya bagaimana?" mama mengeluarkan kata ledekannya lagi membuat Xander tersenyum seakan mengaminkan apa yang mama Arini katakan.


"Mama fokus dulu buat meresmikan kak Eira menjadi menantu mama, Andrea dipikir besok lagi saja." kesal dan malu menjalari wajah Andrea.


"Benar tante, seperti yang saya katakan tadi, biarlah waktu yang menuntun hati kami, untuk saat ini kami memang murni rekan bisnis dan juga sahabat." ucapan bijak meluncur dari Xander untuk membebaskan Andrea dari rasa malu akibat ucapan mamanya yang seakan memberi lampu hijau bagi Xander.


"Iya nak Xander, mama hanya ingin menggoda anak mama ini, tapi mama sudah terlanjur berharap banyak nih, kecewa deh.." Mama terlihat sedih dengan kenyataan yang ada, tapi sebenarnya ia hanya ingin menggoda Andrea.


"Mamaaa..." pannggilan Andrea dimengerti mamanya, Andrea meminta sang mama berhenti menggodanya.


"Ya sudah mama mau keluar sebentar, nitip anak mama dulu ya nak Xander"


"Iya tante." jawab Xander dan mama Arini keluar kamar rawat Andrea.