Andrea

Andrea
Hari H



Detik berganti menit, menit bergulir menuju jam dan dari sekian jam berganti menuju hari dan minggu, akhirnya hari yang ditunggu Andrea dan Arshlan tiba.


Kini Andrea tengah berdebar menunggu momen sakral dalam hidupnya, janji suci pernikahan dengan lelaki yang tak terganti dalam hidupnya walaupun ada riak gelombang yang mendera.


Sempat menutup akses dan menutup cerita tentang Arshlan dan tak hanya satu dua lelaki yang mencoba mendekatinya, tetapi semua tak mampu menggeser nama Arshlan di hatinya.


Andrea telah selesai dirias, dan kini ia di dalam kamarnya ditemani sahabat tercintanya yang tengah menunggu hari kelahiran anak pertamanya, Danisa.


"Dre, kamu cantik banget sayang, Arshlan pasti akan terkagum saat nanti lihat kamu dengan balutan kebaya ini." puji Danisa kepada sahabatnya dengan tak hentinya menatap takjub kepada Andrea.


"Bisa saja kamu Dan, buat aku supaya gak tegang. Arshlan sudah sering lihat aku, apanya yang istimewa?" Andrea mencibir atas pujian yang Danisa lontarkan.


"Dibilangin juga, coba nanti kamu buktikan sendiri omongan aku, pasti tidak hanya Arshlan yang terpana, lihat saja nanti." Danisa membesarkan hati Andrea agar tak terlalu tegang menghadapi hari pernikahannya.


"Danisa sahabat terbaikku memang paling mengerti aku butuh penghibur dalam kondisiku yang tegang dag dig dug." kata Andrea disambut tawa Danisa.


Andrea belum diperkenankan keluar karena menunggu prosesi ijab kabul yang sedang Arshlan lakukan di hadapan kakak Andrea satu-satunya, yaitu Andra, disaksikan keluarga kedua mempelai dan pegawai kantor urusan agama setempat, Arshlan megucapkan ijab kabulnya dengan lancar dengan satu tarikan nafasnya.


Semua hadirin menjawab sah, dan Andrea diminta dihadirkan untuk menandatangani berkas pernikahan dan juga untuk bertemu Arshlan pertama kali dengan status baru sebagai suaminya.


Mama Arini dan Ibu Rima mengapit anak gadis kesayangan mereka di kiri kanannya, mengantarkannya menuju lelaki yang akan bertanggung jawab dalam kehidupannya mulai hari ini sampai dengan seterusnya.


Arshlan yang sedang berkutat dengan dokumen pernikahannya, memalingkan wajahnya menuju arah pandang orang-orang di sekitarnya, ternyata pengantin perempuanlah pengalih pandangan orang-orang di ruangan ini.


Mata Arshlan tak dapat berbohong kalau saat ini ia tengah terpukau dengan keanggunan dan kecantikan Andrea, dan kini perempuan yang sudah berstatus sebagai istrinya itu duduk di sebelah Arshlan dan mengambil tangan Arshlan untuk dicium.


Air mata terlihat mengalir saat Andrea menegakkan kepalanya, ia terharu akan acara sakral ini juga bersedih karena teringat almarhum papanya.


Dengan lembut Arshlan mengusap air mata Andrea yang mengalir dengan tisu yang tersedia di meja tersebut, lalu diciumnya kening Andrea, spontan Andrea memejamkan matanya, ada getaran khusus di dadanya saat Arshlan mencium keningnya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Penandatanganan dokumen telah selesai, kini keduanya telah memegang buku nikah sebagai bukti otentik pernikahan mereka, setelah penghulu pernikahan meninggalkan tempat itu, sanak keluarga juga handai taulan berbaris rapi guna memberikan selamat juga do'anya kepada kedua mempelai.


Resepsi pernikahan yang akan dilaksanakan hari ini juga di hotel milik keluarga Arshlan.


Kedua mempelai mendapat ucapan selamat dari keluarga besar keduanya, setelah beberapa saat mereka pulang kerumah masing-masing untuk persiapan resepsi yang akan dilaksanakan malam nanti, sementara saudara dari luar kota beristirahat di ruang masing2 yang dipersiapkan oleh keluarga Andrea.


Arshlan dan Andrea juga beristirahat untuk mengumpulkan tenaga mereka guna menyambut para tamu yang kebanyakan relasi bisnis mereka malam nanti.


Andrea merasa kikuk di dalam kamarnya sendiri karena keberadaan Arshlan di dekatnya, tapi mulai saat ini ia harus membiasakan diri karena status mereka kini sudah sah menjadi suami istri.


"Sayang, kelihatannya kamu tegang banget sih?" Arshlan merasakan ketegangan di wajah Andrea.


"Jangan berfikir aneh-aneh, sekarang istirahat yang cukup agar nanti malam fit menyalami tamu yang pastinya akan banyak yang datang dari rekan bisnis kita." kata Arshlan merasa khawatir akan kondisi Andrea karena kurang istirahat dari beberapa hari menjelang pernikahan mereka.


Andrea menatap ragu-ragu kepada Arshlan.


"Aku tidak akan mengganggu istirahat kamu, jangan berfikir mesum kamu." Kata Arshlan seolah mengerti apa yang dipikirkan Andrea, sedang Andrea hanya tertawa menahan malu karena merasa ketahuan oleh suaminya apa yang ada dalam benak fikirannya.


"Kamu juga istirahat, silahkan kamu mau istirahat di manapun aku tidak masalah, bahkan berbagi ranjang juga aku tak keberatan, karena aku harus mulai membiasakan diriku." Kata Andrea dengan malu-malu.


"Hari ini aku melihat sisi lain Andrea yang lain, ternyata kamu bisa malu-malu juga sayang." Ucap Arshlan sambil berjalan menuju Andrea yang duduk di tepian ranjang, Arshlan naik dari tepi yang lain dan membaringkan tubuhnya, lalu ditariknya satu tangan Andrea untuk segera istirahat, dan dengan ragu Andrea membaringkan tubuhnya di samping Arshlan.


Andrea yang gugup tak berani menatap Arshlan di sampingnya, sedangkan Arshlan justru memiringkan badannya agar leluasa menatap istrinya yang tengah bergelut mengalahkan gugup yang menderanya.


"Aku masih belum percaya aku di posisi saat ini, aku yang pernah menyakitimu, pernah kehilangan rasa percaya darimu, bahkan hampir menikahi perempuan yang tidak aku cintai, pada akhirnya pelabuhan terakhirku adalah kamu, perempuan yang sangat aku dambakan untuk menjadi ibu dari anak-anakku." Ucapan Arshlan membuat Andrea memiringkan badannya kearah Arshlan dan menepis rasa gugupnya.


"Aku pun sama, aku tak pernah membayangkan kita akan dalam tahap seperti ini mengingat sikap mama dulu kepada kamu, dan sebelum itu rasanya aku tak rela kalau kamu harus jatuh kedalam pelukan Raisa selamanya, tetapi takdir Tuhan tak pernah salah, sejauh apapun kita berkelana bila memang takdir kita bersama maka semua akan dipermudah jalannya." Kata Andrea disambut senyum manis dari Arshlan.


"Terimakasih sudah menerimaku kembali untuk jadi pelabuhan terakhirku walau sebenarnya aku sangat tidak pantas mendapatkan dermaga seistimewa dirimu." kata Arshlan sambil mengecup sebelah jemari Andrea.


"Jangan berkata seperti itu Arsh, karena semua sudah ketentuan Tuhan, berarti kita sangat pantas untuk saling bersama dan saling memiliki." Andrea membesarkan hati Arshlan.


"Terimakasih sayang."


"Sama-sama sayang." balas Andrea tak canggung lagi


"Tolong katakan sekali lagi." pinta Arshlan.


"Sama-sama sayangku..." kata Andrea membuat Arshlan begitu berbunga hingga tanpa sadar ia telah memajukan kepalanya mendekati Andrea, dan Andreapun tidak berusaha menghindarinya, hingga Andrea merasakan bibirnya disentuh oleh benda kenyal nan hangat, lalu dipejamkannya matanya saat Arshlan ******* lembut bibirnya, hingga akhirnya......??


Akhirnya mereka istirahat yaaa... 😂


...****************...


Mun maap readers tercintah baru bisa up, karena sedang disibukkan dengan realita hidup.


Jahitanku banyaaaaakkk... tapi bersyukur saja atas rezki yang Alloh berikan


Happy reading 🤗🥰