
Pemakaman yang tadinya sangat ramai dihadiri oleh para pelayat kini berangsur mulai sepi, tinggal Andrea dan Andra juga Eira yang masih bersimpuh disamping gundukan tanah makam papa Arga, Eira dengan mata sembab mengelus punggung suaminya untuk memberinya ketenangan dan kekuatan agar tak terlalu tenggelam dengan keterpurukan, Andrea yang sangat rapuh dengan isak tangis yang belum juga bisa berhenti, kini tengah terpekur memanjatkan doa untuk papanya juga beberapa keluh kesahnya, Arshlan yang berdiri ditemani Xander tak tega menyaksikan keadaan gadis yang sangat dicintainya terlarut dalam kesedihan, Arshlan mendekati Andrea lalu ikut bersimpuh disamping Andrea, tak ia pedulikan lagi lengketnya tanah liat pemakaman yang mengotori pakaiannya, Dielusnya punggung gadis yang bertahta dihatinya itu.
"Ikhlasin ya Dre, janganlah kamu terus meratapinya, kasihan papa kamu dialam sana, sebaiknya kita perbanyak do'a untuknya, aku tahu ini pasti berat, tapi bagaimanapun kita tetap harus rela." Arshlan memberikan nasehatnya dengan suara pelan, Andrea yang mendengar itu justru semakin runtuh air matanya, ia lalu memeluk Arshlan, ia seolah meminta perlindungan pengganti papanya, Arshlan hanya mampu mengelus punggung Andrea.
"Kamu harus ikhlas ya Dre." Arshlan memgucapkan kembali perkataan yang sama, dan Andrea hanya mampu menganggukka kepalanya dalam pelukan Arshlan.
Setelah beberapa saat tepekur dalam do'a untuk almarhum papa Arga, kakak beradik Abimana dan lainnya yang masih tinggal dengan berat hati meninggalkan pemakaman, mama Arini yang masih sangat syok dan berlinang air mata menunggu anak-anaknya pulang dari pemakaman, ia ditemani oleh ibu Rima juga beberapa kerabat dekat.
"Mbak tahu ini sangat berat dek Arini, mbak juga pernah mengalami hal yang sama, tapi harus tetap ikhala dek, kasihan suami kamu kalau terus menerus diratapi." nasehat ibu Rima kepada mama Arini, mendengar itu mama Arini semakin menenggelamkan wajahnya dipangkuan ibu Rima.
"Bukannya aku meratap mbak, aku serasa masih belum percaya, biarkan aku begini dulu mbak, sampai anak-anak pulang. Aku tak mau nanti mereka melihat keterpurukanku." pinta mama Arini dan dijawabi anggukan oleh ibu Rima dengan masih terus mengusap punggung mama Arini.
Selang beberapa saat, terdengar beberapa deru mobil masuk halaman luas keluarga Abimana, mama Arini yang masih terisak dipangkuan ibu Rima segera menegakkan badannya.
"Mereka sudah pulang mbak?" tanya mama Arini kepada ibu Rima.
"Sepertinya begitu." jawab ibu Rima, tak berapa lama muncul Andrea dari pintu depan dengan pakaian penuh noda kotor tanah makam, diikui Eira dibelakangnya kemudian Andra, Arshlan dan Xander juga Arik, lalu Daniel Danisa, mereka langsung menuju dimana mama Arini berada dalam pelukan ibu Rima tengah duduk dialas lantai ruang tengah.
"Mama, ibu.." seru Andrea sambil berhambur kepelukan kedua ibunya. Keduanyapun menyambut kedatangan Andrea dan segera dipeluknya anak gadis mereka yang sangat terlihat rapuh, mereka mengusap punggung anak gadisnya.
Andra ikut bergabung, ia memeluk mama Arini, Anak lelaki Abimana yang sejak kemarin berusaha untuk tegar akhirnya runtuh juga, tangisnya pecah saat memeluk mamanya, mama Arini sontak memeluk putranya dengan erat, kondisi mama yang sebenarnya juga sangat rapuh ia usahakan untuk tidak terbawa suasana hati kedua anaknya, ia tak ingin kedua anaknya melihat kerapuhan hatinya akibat ditinggal oleh belahan jiwanya, ia ingin anak-anaknya segera bangkit, semua sudah takdir yang kuasa, karena semua yang hidup pasti akan meninggalkan dunia ini, nasehatnya kepada kedua anaknya.
"Sekarang kita harus bangkit yah anak-anak, jangan meratap lagi, agar arwah papa tenang disana." kata mama Arini yang lagi-lagi meneteskan air mata tanpa bisa dikendalikan, dan kedua anaknyapun hanya mampu mengangguk dalam pangkuan dan pelukan wanita yang telah melahirkan mereka.
Selang beberapa waktu, kondisi penghuni rumah duka telah berangsur membaik, mereka terlihat lebih fresh setelah mandi. Kini mereka menemui para tamu yang masih bertahan hingga sore dirumah duka keluarga Abimana, hingga satu persatu mereka berpamitan.
***
Satu minggu telah berlalu dari hari meninggalnya CEO utama AAb Corp yaitu bapak Arga Abimana, keluarganya kini sudah lebih bisa legowo dengan kepergian Lelaki yang sangat berarti dihidup mereka.
Selama seminggu ini, Arshlan selalu menyempatkan diri untuk beekunjung ke rumah keluarga Abimana, untuk selalu memberikan dukungan bagi mereka terutama Andrea.
Sore itu Arshlan kembali berkunjung ke rumah Andrea, terlihat Andra dan istrinya Eira tengah sibuk mempersiapkan segala keperluan mereka yang akan kembali lagi ke luar negeri dimana Andra diberi tanggung jawab penuh untuk mengurusnya. Tadinya Andra masih ingin lebih lama lagi bertahan dirumah utama untuk menemani sang mama, tetapi mama Arini bersikeras agar Andra segera kembali aktif langsung diperusahaan yang sudah sekitar dua minggu ia tinggalkan, bukannya mama Arini tidak percaya dengan asisten Andra, tetapi ia ingin anaknya segera bangkit dari keterpurukan, dan Andra hanya ingin jadi anak yang berbakti.
"Selamat sore!" sapa Arshlan didepan pintu utama yang terbuka lebar.
"Selamat sore." jawab beberapa penghuni rumah bersamaan menjawab sapaan Arshlan.
"Iya tante, terimakasih." jawab Arshlan segera masuk dan duduk disofa ruang tamu setelah dipersilahkan duduk oleh mama Arini, lalu mama Arini masuk ke dalam diikuti Eira. Sebenarnya beberapa terakhir ini Andrea dibuat penuh tanya dalam benaknya atas sikap mama yang sudah berbanding 180 derajat kepada Arshlan, tetapi ia masih sungkan untuk bertanya kepada mamanya yang masih dalam suasana berkabung.
"Kak Andra sudah mau balik kok sudah bersiap?" tanya Arshlan
"Iya Arsh, mama sudah memaksaku untuk segera kembali masuk kantor, katanya biar aku segera semangat lagi melanjutkan hidup setelah kepergian papa." jawab Andra sambil memberitahukan penyebab dia harus segera balik masuk kantor yang berada di luar negeri.
"Kak Andra bisa pulang kapanpun kalau kangen mama dan bila ingin berkunjung ke makam papa kakak, mungkin harapan tante agar kalian tidak terlalu lama terpuruk. Kita harus tetap tegak kak, agar orang yang tidak suka akan kesuksesan keluarga kalian tidak menganggap remeh kalian sebagai penerus bisnis Abimana, disini aku juga akan terus mensuport Andrea walaupun aku tahu kehebatan dia, tapi dengan adanya musibah ini pasti ada sisi down juga dalam dirinya." Arshlan memberikan dukungan penuh untuk keluarga gadis yang sangat dicintainya itu.
"Kamu benar Arsh, terimakasih dukungannya, tolong laksanakan amanat papa demi kebahagiaan adikku." Andra menepuk pelan pundak Arshlan dan juga penuh harap akan kebahagiaan Andrea adalah Arshlan.
"Aku akan selalu berusaha melaksanakan amanat om Arga, walaupun aku belum yakin karena saat itu kita langsung dihadapkan dengan duka." Arshlan terlihat pesimis.
"Semangat dan yakinlah Arsh, aku mendukungmu penuh, karena papa saja percaya kamu kebahagiaan Andrea, beliau pasti punya alasan yang sangat kuat hingga beliau menyerahkan kebahagiaan anak gadis yang sangat disayanginya kepadamu di detik-detik terakhir akhir hayatnya, tapi andai kelak sampai ada air mata kesedihan yang mengalir diwajah adikku, aku yang pertama akan membuat pelajaran terhadapmu." begitu seriusnya pembicaraan kak Andra dalam membela adiknya, hingga keluar seringai ancaman tak main-main diwajahnya kepada Arshlan, bergidik juga Arshlan melihat keseriusan diwajah calon kaka iparnya.
"Aku tak akan akan seberani itu untuk melakukan kesalahan kedua kali kak, karena aku tahu siapa yang aku hadapi, menghadapi Andrea saja aku sulit apalagi keluarganya, untuk itu aku akan selalu menjaga dengan baik amanat yang dipercayakan kepadaku." Andra melihat kilat keyakinan pada mata Arshlan, tidak ada sorot main-main disana, dan ia pun sangat yakin papanya tidak salah pilih orang untuk menjaga adik kesayangannya.
"Ya sudah sekarang ke ruang tengah dulu yuk, waktu minum teh, waktu kumpul keluarga." ajak Andra kepada Arshlan menuju ruang keluarga, disana terlihat mama Arini dan kak Eira sedang menyiapkan kue dan juga minuman dibantu asisten rumah tangganya.
"Dre dimana ma, kok belum kelihatan?" tanya Andra saat tak dilihatnya Andrea.
"Sebentar lagi mungkin, tadi sudah dipanggil sama mbaknya." jawab mama, dan benar terlihat Andrea turun dari tangga dengan penampilan segar karena habis selesai mandi, dan terlihat ibu Rima juga keluar dari dapur membawa kue yang baru dibuatnya.
"Waahh, banyak makanan kesukaan aku." seru Andrea yang baru sampai diruang itu melihat suguhan yang disiapkan kedua ibu kesayangannya.
"Ya karena ibu sama mama sengaja buat ini untuk kalian anak-anak mama" jawab mama Arini. Lalu Andrea duduk beesebelah dengan Arshlan.
"Sudah lama Arsh?" tanya Andrea
"Belum sih, baru beberapa menit ini kok."
"Ayo dicicipi nih, kue buatan mama sama ibu Rima, pasti kalian nagih." mama mengedarkan piring berisi kue dan mereka bergantian mengambil.
Mereka semua terlihat mulai bercanda, memulai hidup baru dengan semangat selepas kepergian tonggak keluarga yang sangat mereka sayangi dan cintai, cukuplah mereka berkutat dengan kesedihan, karena itu hanya akan memperpuruk jalan mereka kedepan, dan bisa jadi orang yang tidak suka pada mereka akan berusaha menjatuhkan mereka dengan mudah kalau mereka tidak segera bangkit dari kesedihan, untuk itulah mama Arini terus memberikan support pada anak-anaknya agar jangan sampai ada orang yang memanfaatkan celah itu, untuk itulah kini mereka sudah terlihat tegar dan bangkit dari kesedihannya.
...****************...