
Arshlan kini serasa menjadi orang baru, tak ada lagi beban yang menghimpit punggungnya, tak ada lagi jalinan pertunangan dengan Raisa membuat ia lebih ringan dan bebas.
Sebenarnya selama ini Arshlan tahu tentang perbuatan Raisa saat tak bersamanya, tapi ia menahan diri demi mamanya. Dan saat mama nya mengetahui semua lewat bukti-bukti yang ditunjukkan Arshlan, kini ia sangat menyesal pernah memaksanya untuk menerima Raisa sebagai tunangannya.
Dulu saat masih berstatus tunangan Raisa setiap ada orang yang menatapnya yang dirasa Arshlan seolah mereka sedang mencemoohnya, dalam hati Arshlan mereka mengatakan kalau ia sebagai lelaki yang tidak bisa menjaga calon istrinya, yah itu yang selalu ada dalam pikiran Arshlan.
"Senyum-senyum sendiri kenapa bang?" tanya Xander yang baru saja masuk ke ruang kerja Arshlan membuat Arshlan yang sedang menyandarkan badan dan kepalanya di sandaran sofa terkejut
"Masuk tu ketuk pintu dulu jangan asal nyelonong." protes Arshlan
"Sampai panas ini tangan karena ketuk pintu, tapi gak dijawab, ya udah masuk saja, ternyata yang punya ruangan sedang melamun, senyum sendiri, ngebayangin apa?" tanya Xander sambil geleng-geleng kepala, sedang Arshlan hanya membuang nafasnya kasar.
"Sekarang aku hanya merasa bebas saja, walaupun kemarin juga tidak begitu terkekang dengan hubungan pertunangan, kemarin aku hanya merasa malu saja saat ada yang memandangku seakan mereka mengejekku tak bisa jaga calon istri." Arshlan menceritakan apa yang dirasakannya selama ini.
"Kenapa abang bisa sampai merasakan hal seperti itu?" tanya Xander heran.
"Aku sebenarnya sudah tahu bagaimana kelakuan Raisa saat diluar, makanya dia selalu banyak alasan saat aku mengajaknya jalan, aku hanya ingin membangun chemistry sama dia siapa tahu dengan seringnya kami berinteraksi aku bisa menerima dia dihatiku tapi nyatanya, dia selalu lebih memilih pergi bersama teman-temannya daripada sama aku, karena saat bersama temannya dia mendapatkan kesenangan yang dia inginkan, sedang saat sama aku cuma sekedar ngobrol dan bercanda, tak
berani lebih, mungkin itu yang membuatnya selalu menolakku dan lebih memilih temannya.
untuk itulah aku mulai menyelidiki tentang dia, ternyata diluar dugaanku, pergaulan dia begitu bebas, bahkan tak sungkan meminta duit sama orang hanya karema tersenggol sedikit, aku diam karena aku ingin menungu waktu yang pas saja, saat kita sekeluarga tahu terutama mama, alasan aku putus itu apa, biar mama tak memaksaku lagi, dan ternyata aku tak menyangka akan secepat ini." Panjang lebar Arshlan membeberkan yang sebenarnya tentang ia dan Raisa.
"Itu berarti Tuhan masih sayang kamu bang, Dia menunjukkan siapa sebenarnya Raisa sebelum hubungan kalian resmi." Kata Xander ditanggapi anggukan oleh Arshlan.
"Sekarang aku bebas mendekati Andrea." Gumam Arshlan sambil menerawang yang sangat jelas didengar Xander.
"Ck!" Xander berdecak dan membanting map yang ia pegang yang akan diserahkannya kepada kakaknya, setelah itu dia pergi begitu saja dengan memvanting pintu juga membuat Arshlan terkejut dan bertanya-tanya.
"Kenapa itu anak?" celetuk Arshlan dan melanjutkan berangan-angan, hingga akhirnya dia menyadari sesuatu.
"D*mn!" serunya sambil berlalu keluar, ia menuju ruangan adiknya, tanpa mengetuk pintu Arshlan langsung masuk.
Dan saat ini ia tahu kalau kakaknya yang masuk maka dia memasang wajah dinginnya.
"Xen, kamu marah sama abang dek?!"
"Menurut abang?!"Xander balik bertanya.
"Andrea? kamu menyukainya?" Xander tak menjawab, dingin wajahnya tetap menekuni laptopnya tanpa mempedulikan kakaknya.
"Sejak kapan?" diamnya Xander meyakinkan Arshlan bahwa adiknya juga menyukai Andrea.
"Apakah sejak jumpa pertama? sejak pertemuan kerja sama? atau sejak kapan? jawab abang dek!" Suara Arshlan agak meninggi karena sikap adiknya yang seolah tak mempedulikan keberadaannya.
"Pentingkah buat abang?" tanya Xander.
"Jelas lah, dia perempuan yang aku cari selama ini."
"Tapi mamanya lebih memilihku untuk jadi menantunya, mama kita juga."
"Kenapa kamu jadi egois begini sih dek?!" seru Arshlan tidak percaya.
"Bukan aku yang egois bang, aku dekat sama dia saat abang sudah bertunangan, dan dia nampak lebih nyaman komunikasi sama aku ketimbang abang saat kita bertiga diruangan yang sama, walaupun dia belum membuka jalan buatku dihatinya tapi setidaknya saat dia bersamaku, dia tidak sedingin saat bersama dengan abang." pernyataan Xander dibenarkan Arshlan dalam hatinya, tapi ia tak mau menyerah begitu saja walaupun harus bersaing dengan adiknya, tapi tentu saja tak semudah itu buat Arshlan mendapatkan Andrea walaupun masih terlihat chemistry masa lalu dari keduanya, tapi ia harus menakhlukkan hati mama Andrea yang terlanjur tidak menyukainya.
"Selama Andrea belum punya kekasih, ia masih bebas untuk didekati, maaf dek, kali ini abang harus bersaing sama kamu untuk menakhlukkan hati Andrea juga mamanya, bersainglah secara sehat." kata Arshlan sambil berlalu pergi dari ruangan adiknya, tentu saja Xander dengan senang hati menerima tantangan Arshlan.
...****************...
Pleeease readers...
Bagi komen dan likenya dong saat kalian baca cerita ini, biar othor remahan peyek nih tambah semangat buat nulis dan up nya. Tapi aku tetap berterimakasih karena kalian mau mampir disini, semoga kalian tetap selalu menunggu kelanjutannya 🤗