
Selepas maghrib Arik sudah datang ke panti untuk menjemput Andrea dan mengantarnya pulang ke kota sebelah.
"Bu, Dre pamit pulang, do'akan semua baik-baik saja ya bu" Andrea berpamitan kepada ibu Rima sambil sesekali menyeka air matanya.
"Ibu akan selalu berdo'a untuk kesembuhan papa kamu nak, kamu hati-hati dijalan, tenangkan pikiranmu selama perjalanan pulang." nasehat ibu Rima dengan Andrea yang masih dalam rengkuhan pelukannya, dan terasa dibahu ibu Rima Andrea sedang menganggukkan kepalanya, dan segera Andrea melepas pelukannya dan berpamitan kepada yang lain saat Arik sampai dirumah itu.
Arik bersalaman ke semua penghuni panti sebelum pergi untuk mengantar Andrea, setelah berpamitan keduanyapun masuk ke mobil Arik, dan Arik segera menjalankan mobilnya keluar halaman panti menuju kota kelahiran Andrea.
Ya, sore saat Andrea mendapatkan telpon dari Randy, asistennya itu memberikan kabar kalau papa Arga masuk rumah sakit karena serangan jantung mendadak yang didapatnya selepas bersepeda ditemani beberapa anak buahnya termasuk Randy, tadinya papa Arga terlihat sehat-sehat saja sampai rute yang mereka tempuh telah sampai di rumah kembali, tapi baru saja turun dari sepedanya, papa Arga tiba-tiba jatuh dan pingsan dan langsung dilarikan kerumah sakit oleh anak buahnya, dan Randy pun segera memberi tahu mama Arini, dan mama Arini yang panik diantar ke rumah sakit oleh driver keluarga mereka, dan Randy pun memberi kabar tersebut kepada Andrea dan juga Andra atas perintah mama Arini.
Kini Andrea sudah setengah perjalanan pulang diantarkan Arik yang ijin dari pekerjaannya karena khawatir akan keselamatan Andrea yang tentu saja tidak bisa tenang setelah mendengar kabar bahwa papanya masuk rumah sakit.
Dan benar saja, Andrea yang biasanya tegar dengan sifat dingin dan tegasnya kini tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, mata dan wajahnya memerah karena ia terus saja mengeluarkan air mata, walau sekuat tenaga untuk tidak menangis apalagi saat itu ada Arik disampingnya, orang yang belum lama dia kenal, tetapi dia tidak bisa membendung air mata yang seakan keluar sendiri diluar kendalinya.
"Sabar ya mbak, semoga semua akan baik-baik saja, kita do'akan semoga papa mbak segera disehatkan kembali." Arik memberikan kekuatan untuk Andrea.
"Aamiin..." jawab Andrea pelan dengan jemari sesekali mengusap air matanya.
Dua jam perjalanan kurang lebih, Andrea dan Arik sampai dikota tujuan, mereka langsung menuju rumah sakit tempat ayah Arga dirawat, tanpa banyak tanya Andrea langsung menuju ruang dimana ayahnya dirawat, saat ini papa Arga dirawat diruang ICU, nampak beberapa anak buah papanya menunggu kedatangan Andrea, saat ini mamanya yang sedang menunggui papanya, Andrea mengirim pesan untuk mamanya untuk berganti menemui papanya, karena peraturannya hanya satu orang yang boleh berada di samping pasien.
Tak berapa lama datang mama menuju ruang tunggu pasien, Andrea langsung memeluk mamanya dan terisak dalam pelukannya, mama Arini yang sudah lebih tenang mengusap punggung Andrea untuk memberinya kekuatan, diciumnya pucuk kepala anak gadisnya itu berkali-kali.
"Sekarang temui papa dulu, kata dokter kondisi sudah mulai stabil, tapi papa masih tertidur, mungkin ada efek obat penenang, semoga tidak lama lagi papa tersadar." kata mama Arini dijawab anggukan anak gadisnya.
"Aku masuk ruangan dulu ma." pamit Andrea dan dijawab anggukan mamanya, dan Andrea segera berlalu menuju ruang rawat papanya, saat melewati Arik yang sedang ngobrol dengan anak buah papanya, Andrea menghentikan sejenak langkahnya.
"Terimakasih ya Rik atas bantuannya, aku mau ke ruang papa dulu, itu mama diruang tunggu kalau mau menemuinya." ucap Andrea, tanpa menunggu jawaban dari Arik, ia segera masuk keruang papanya dirawat.
Andrea menggenggam tangan papanya, diciuminya punggung tangan dan telapak tangan papanya.
"Pa, bangun! jangan buat Andrea sedih pa, segera sembuh ya pa, lalu kita akan menghabiskan waktu sama-sama, maafin Dre yang lebih sering mengabaikan kebersamaan kita, maafin Dre yang selalu sibuk sendiri pa, papa mama pasti kesepian karena lebih sering ditinggal anak-anaknya terutama Andrea, dulu kakak sudah banyak melewati hari-harinya bareng papa mama, sekarang giliran Dre, tapi Dre justu lebih sering asyik dengan dunianya, maafin Dre pa." Andrea mengungkapkan dan mengutarakan kesalahan dan harapannya, digenggamnya dengan erat tangan papanya dengan segenap rasa sesal yang membuncah dalam hati Andrea, air mata sesekali menitik di pipinya, air mata mengalir dengan sendirinya tanpa mampu ia tahan, isak yang ditahannya terkadang lolos juga, ia ingin terlihat tegar, tapi nyatanya ia begitu rapuh menghadapi kondisi papanya saat ini.
Sementara mama Arini kini sedang duduk dan berbincang dengan Alarik, mama bercerita tentang kronologi yang dialami suaminya, terlihat perbincangan mereka begitu akrab walau baru saja bertemu.
"Nak Arik, terimakasih telah meluangkan waktunya untuk mengantar Andrea pulang, maaf sudah merepotkan nak Arik." kata mama Arini.
"Tidak apa tante, tadinya mbak Andrea juga tidak mau saya antar, katanya biar diantar pak Wardi, tapi kasihan pak Wardi kalau harus perjalanan jauh, makanya saya memaksa untuk mengantar mbak Andrea pulang dan akhirnya mau saya antarkan." jelas Arik.
"Tapi nak Arik jadi meninggalkan pekerjaannya." kata mama Arini tak enak hati.
"Tidak apa tante, saya sudah izin komandan, besok bisa saya ganti dilain hari kok."
"Syukurlah karena nak Arik diberi kemudahan ijin dari atasan, jadi Andrea bisa pulang dengan cepat. Ini sudah larut, nak Arik silahkan istirahat dulu, pasti lelah habis perjalanan jauh bawa mobil sendiri." mama Arini menyuruh Arik untuk segera istirahat.
"Baik tante, tante juga harus istirahat nanti bisa gantian sama mbak Andrea jagain omnya." saran Arik.
"Loh mau kemana nak?" tanya mama.
"Mau keluar buat istirahat tante." jawab Arik
"Kenapa tidak disini saja?"
"Jangan tante, kasihan keluarga pasien yang lain nanti berdesakan."
"Ooh ya sudah, silahkan senyamannya nak Arik saja." pasrah mama Arini, dan akhirnya Arik menuju area luar rumah sakit untuk sejenak mengistirahatkan badannya.
Dini hari sekitar pukul tiga pagi, ponsel Arik bergetar karena ada pesan masuk, ternyata pesan dari Andrea menanyakan keberadaannya, setelah menjawab pesan Arik segera kembali ke ruang tunggu keluarga pasien, dia hendak berpamitan karena harus masuk kerja pagi.
Sesampai di tempat yang dituju nampak Andrea sedang bersandar dibahu mamanya, penampilannya nampak kacau.
"Selamat pagi tante, mbak Andrea." sapa Alarik
"Selamat pagi." jawab keduanya bersamaan.
"Saya mau pamit pulang dulu tante, mbak." pamit Alarik
"Lohh, ini masih terlalu pagi lho nak" seru mama Arini.
"Kenapa tidak menunggu habis subuh saja Rik?" tanya Andrea.
"Tidak apa biar nanti tidak terburu-buru ke kantor, karena saya harus masuk pagi." jawab Alarik beralasan.
"Ooh begitu, ya sudah hati-hati ya nak, waspada dijalan, apalagi jalan masih sepi jangan lantas ngebut." pesan mama Arini.
"Denger pesan mamaku tu." timpal Andre.
"Iyaa.." jawab Alarik dengan senyum tersemat dibibirnya.
"Terimakasih sudah ngerepotin kamu ya Rik" kata Andrea.
"Jangan bicara begitu lah mbak, kita sama-sama membutuhkan bantuan orang lain disaat kesusahan, aku mana mungkin tega membiarkan mbak berkendara sendiri dengan suasana hati yang sedang kacau." ungkapa Alarik dijawab anggukan oleh ibu dan anak itu.
"Ya sudah saya pamit, semoga om segera membaik kondisinya, kabari saya kalau sudah siuman ya mbak."
"Iya, ya sudah hati-hati." Arik mengangguk, setelah bersalaman dengan Andrea dan mamanya ia pun berlalu dari ruangan itu untuk segera kembali ke kotanya.
...****************...
Jangan lupa like dan komennya ya readers 🥰