
Waktu pulang kantor, Kinanti masih duduk di lobi kantor untuk menunggu Gilang menyelesaikan pekerjaannya.
Gilang akan mengantarkannya menuju bengkel tempat Kinanti tadi pagi menitipkan motornya karena kempes ban.
Semula Kinanti menolak karena tidak mau merepotkan Gilang, ia akan memakai ojek online menuju bengkel, tetapi Gilang memaksanya untuk mengantar, apalagi mereka hanya satu arah perjalanan pulang.
“Menunggu siapa kamu kok masih duduk di sini?” Sebuah pertanyaan membuat Kinanti yang sedang menekuni ponselnya menjadi terkejut, spontan ia menatap kepada si penyapa.
“Selamat sore pak Xander.” Kinanti beranjak dari duduknya kemudian menyapa atasannya dengan membungkukkan badannya sopan.
“Kantor sudah sepi begini tapi kenapa belum pulang? Ada yang ditunggu?” Xander mengulang kembali pertanyaannya.
“Saya sedang menunggu Gilang menyelesaikan pekerjaannya pak, mungkin sebentar lagi selesai, kami mau pulang bareng soalnya motor saya tadi pagi kempes ban.” Kinanti menjawab pertanyaan Xander dengan sangat jelas dan bersamaan dengan itu Gilang telah berada di hadapan Kinanti juga.
“Selamat sore pak Xander.” Sapa Gilang dengan membungkukkan badan sopan kepada atasannya. “Maaf ya mbak kalau kelamaan menunggu, ayo kita pulang sekarang.” Ajak gilang setelah meminta maaf kepada Kinanti karena telah membuatnya menunggu lama.
“Tidak apa kok, mari pak Xander kami pulang dulu.” Pamit Kinanti kembali membungkukkan badan sebelum berlalu diikuti oleh Gilang.
“Biar Kinanti pulang bareng saya!” seru Xander menghentikan langkah keduanya.
“Tidak usah pak, terima kasih, saya mesti mengambil motor saya dulu ke bengkel.” Kinanti menolak ajakan Xander dengan sopan.
“Ada pekerjaan yang mesti saya bicarakan sama kamu Kinanti.” Kata Xander dengan nada datarnya, membuat Kinanti dan Gilang saling pandang.
“Ya sudah mbak, kalau begitu saya pulang dulu ya mbak, maaf kalau sudah buat mbak menunggu lama tadi.” Kata Gilang.
“Tapi motor aku...”
“Nanti saya antar kamu mengambil motor kamu, kalaupun bengkel sudah tutup saya antar kamu sampai ke rumah kamu.” Perkataan Xander membuat Kinanti mau tak mau mengikuti kemauan Xander, apalagi atasannya itu mau membicarakan tentang pekerjaan besok.
“Maaf ya lang, aku tidak jadi bareng kamu.” Sesal Kinanti.
“Tidak apa mbak, ya sudah kalau begitu saya duluan ya mbak, mari pak Xander.” Pamit Gilang, setelah membungkukkan badannya Gilang segera berlalu untuk mengambil motor di tempat parkir.
“Maaf pak, kenapa membicarakan pekerjaan tidak saat jam kerja tadi ya? Atau besok mungkin?” tanya Kinanti begitu berani menginterupsi Xander.
“Karena saya baru ingat saat akan pulang ini tadi.” Jawab Xander berdalih.
Sebenarnya Xander merasa tidak terima kalau Kinanti harus bersama lelaki lain apalagi naik motor. Sebenarnya ada motif tersendiri bagi Xander saat memilih sendiri Kinanti untuk menjadi sekretarisnya, walaupun Xander tahu itu bukan pekerjaan yang Kinanti mau.
“Tapi, bukankah bisa dibicarakan besok lagi ya pak? Toh kalaupun dibicarakan sekarang saya tidak bisa langsung mengerjakannya.”
“Kenapa kamu jadi banyak bicara sih?” Tanya Xander menahan kesal.
“Ya karena saya pikir aneh saja membicarakan pekerjaan tapi sudah di luar jam kerja.” Jawab Kinanti tanpa rasa segan.
“Saya rasa tidak masalah karena ini masih di kantor.” Xander masih mempertahankan alasannya.
“Tapi maaf pak, saya keberatan. Bukannya saya hendak membangkang perintah atasan, tetapi saya sudah terlanjur bilang kepada tante saya kalau saya sudah dalam perjalanan pulang, tetapi gara-gara bapak menahan saya, tante saya akan khawatir dengan saya karena saya tidak kunjung sampai di rumah.
Jadi bapak Xander yang terhormat, mohon pengertiannya untuk kali ini, saya tidak ingin membuat tante saya khawatir.” Kinanti sampai harus menangkupkan kedua telapak tangan di depan dadanya untuk mengharap pengertian dari Xander.
Xander yang melihat kesungguhan di mata Kinanti akhirnya mengizinkannya untuk pulang.
“Ya sudah, biar saya antar kamu pulang supaya tante kamu tidak merasa khawatir lagi.”
“Oh! Terima kasih pak, tapi anda tidak perlu repot untuk mengantarkan saya pulang, saya bisa pulang sendiri, permisi pak selamat sore.” Tolak Kinanti lalu berlalu dari hadapan Xander setelah berpamitan.
“Kamu tidak usah membantah saya, kamu tidak bawa motor, apa kamu mau jalan kaki? Yang ada tante kamu akan semakin .” Perkataan Xander baru saja membuat Kinanti akhirnya mengalah, dan menuruti perkataan atasannya itu.
Bersamaan dengan itu, mobil Xander yang dikendarai driver pribadinya berhenti di depan lobi kantor.
“Ayo naik!” ajak Xander sambil membukakan pintu belakang mobilnya, dengan ragu Kinanti menuruti apa yang atasannya perintahkan.
Setelah Xander duduk di samping Kinanti, ia memerintahkan drivernya untuk segera berangkat. Kecanggungan melanda diri Kinanti, karena duduk bersebelahan dengan orang nomor satu di kantor tempat ia bekerja.
Walaupun ia telah beberapa kali mendampingi Xander dalam pertemuannya, tetapi kondisi saat ini benar-benar membuatnya canggung.
Saat melewati bengkel tempat Kinanti menitipkan motornya, ia meminta driver menghentikan mobilnya.
“Maaf pak sopir, di depan situ tolong berhenti ya, saya mau ambil motor saya, itu kebetulan bengkelnya masih buka.” Pinta Kinanti.
“Baik bu.” Jawab sang driver sambil menurunkan laju kendaraannya.
“Kita terus saja pak, biar nanti anak buah saya yang antar motor kamu ke rumah kamu.” Kata Xander dengan nada datarnya memerintahkan sopirnya untuk terus berjalan.
“Terima kasih sebelumnya pak, tapi saya tidak mau menjadi bahan gosip tetangga saya, jadi tolong turunkan saya di sini untuk mengambil motor saya.” Pinta Kinanti dengan sangat, dan Xander yang tidak mau mendapatkan curiga tak memaksa Kinanti lagi untuk tetap di mobilnya untuk diantarkannya pulang.
“Terima kasih tumpangannya pak Xander, maaf bila saya menghambat perjalanan bapak.” Kata Kinanti dengan sopan sebelum ia turun.
“Ya sama-sama. Kamu hati-hati naik motornya, ini sudah hampir gelap.” Pesan Xander.
“Iya pak, terima kasih sudah diingatkan, mari pak. Pak sopir terima kasih.” Setelah itu Kinanti segera turun dan dengan hati-hati menyeberang jalan menuju bengkel tempat ia memperbaiki motornya tadi pagi.
Tak berapa lama Kinanti telah mengendarai motornya untuk pulang ke rumah, dan tanpa sepengetahuannya rupanya Xander menyuruh sopirnya untuk mengikuti Kinanti.
Sebenarnya ada rasa heran dan penuh tanya di benak sopir Xander, karena tidak biasanya majikannya tersebut berlaku seperti ini.
“Maaf mas, apa mbak cantik tadi pacar mas Xander ya? Kok anda seperti khawatir begitu hingga harus memastikan keselamatannya sampai rumah dengan cara seperti ini.” Sang sopir tak mampu lagi memendam rasa penasarannya.
“Calon pak.” Tanpa sadar Xander menjawab apa yang sopirnya tanyakan sambil fokus melihat Kinanti yang mengendarai motor di depannya.
Mendengar jawaban Xander, sopir Xander pun tersenyum sendiri penuh arti.
“Pasti akan jadi pasangan yang sangat serasi kalau anda berdua memang ada jodoh.” Kata sopir Xander, dan di waktu yang sama Kinanti masuk di sebuah halaman rumah yang terbilang cukup luas.
Rumah om dan tante Kinanti memang tak sulit untuk di temukan, karena rumahnya berada di pinggir jalan raya. Setelah melihat Kinanti masuk ke dalam rumah, Xander menyuruh sopirnya untuk pulang.
“Tadi pak Andi bicara apa?” tanya Xander saat arah perjalanan menuju rumahnya. Mendengar pertanyaan Xander membuat sopir yang bernama pak Andi itu senyum-senyum sendiri.
“Kok malah senyum sendiri sih pak? Bukannya dijawab?” tanya Xander heran.
“Rupanya pesona calon pacar mas Xander tadi telah menghipnotis seorang tuan Xander Daniswara yang tidak tersentuh untuk melakukan hal seperti ini.” Jawaban pak Andi membuat Xander mengernyitkan dahi.
“Calon pacar? Maksud pak Andi apa sih, saya tidak mengerti deh?” Kata Xander heran dengan perkataan sopirnya membuat pak Andi semakin geli.
Lalu pak Andi menceritakan tentang perkataan Xander yang tidak disadarinya tadi karena terlalu fokus memperhatikan Kinanti. Penuturan pak Andi rupanya membuat Xander merasa malu, karena baru kali ini ia berbuat sekonyol ini untuk ukuran seorang Xander Daniswara.
Dan pak Andi yang telah lama bekerja dengan keluarga Daniswara sangat hafal dengan karakter majikan dan anak-anaknya.
“Jangan cerita kepada siapa pun pak, bisa heboh satu rumah kalau tahu apa yang kita lakukan barusan, terutama mama, pasti jiwa ingin tahunya besar banget.” Pinta Xander dengan sangat kepada pak Andi.
“Iya mas, jangan khawatir, selamat berjuang mendapatkan pendamping hidup ya mas, semoga sukses dimiliki untuk kali ini.” Kata pak Andi memberikan dukungannya, karena ia tahu kalau Xander gagal mendapatkan hati Andrea.
“Semoga pak.” Jawab Xander yang mendengar perkataan pak Andi sambil tersenyum sendiri.
...****************...