
"Mau apalagi sih Arsh? Nanti ada yang lihat bisa bisa dilaporin ke satpam kamu." kata Andrea setelah duduk kembali.
"Satpamku siapa?" tanya Arsh tidak mengerti.
"Ya Raisa lah siapa lagi? males banget kalau harus berurusan sama dia." kata Andrea malas, tanpa ada senyum sedikitpun tersungging dibibirnya.
"Memang kamu tahu siapa Raisa?" Tanya Arshlan.
"Tahu semua yang bahkan kamu tidak tahu." jawab Andrea lugas.
"Maksud kamu?"
"Malah tanya aku, kamu kan tunangan, bahkan teman dari dulu harusnya lebih tahu banyak daripada aku." kata Andrea ambigu.
"Dre, please lah, jangan main teka teki, kamu tahu Raisa dari mana?"
"Selama kamu bersama Raisa, kamu tau gak sih selama ini kerja dimana?" pertanyaan Arshlan dijawab pertanyaan juga dari Andrea.
"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi Dre!" seru Arshlan.
"Jawab aku dulu baru aku kasih tahu kamu!" seru Andrea tak mau kalah.
"Aku tidak mau tahu tentang dia, aku juga tidak pernah tanya-tanya ke dia tentang kehidupan pribadinya, yang ada aku pun bertunangan sama dia karena terpaksa, entah kenapa saat itu mama ngebet banget jodohin aku sama Raisa padahal jelas-jelas aku tidak mau, tapi melihat mama yang sangat berharap padaku aku terpaksa menerimanya dengan beberapa syarat." Jelas Arshlan dan ditanggapi Andrea dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ehmm kadang pilihan orang tua adalah yang terbaik untuk anaknya, tapi dalam kasus kamu sama Raisa aku tidak yakin." Andrea menyunggingkan smirknya, dan terlihat mata Arshlan membulat penuh tanya.
"Aahh lupakan, mungkin hanya karena aku berkali-kali mendapat pengalaman buruk saat jumpa Raisa." Andrea mengalihkan pembicaraan agar Arshlan tak menginterogasinya lebih detail tentang Raisa.
"Sepertinya kamu tahu banyak tentang Raisa, padahal kalian kan tidak saling kenal?" Selidik Arshlan.
"Aku cuma tahu kalau dia manager di kantorku." jawab Andrea akhirnya.
"Dunia memang sempit." celetuk Arshlan.
"Yaahh begitulah. Tapi dia memang terobsesi banget sama kamu Arsh, dulu pas aku masih gendut pernah kami bertemu di pusat kebugaran setelah kamu ungkapin perasaan kamu dahulu, wow! dia memakiku menghujatku, katanya tak pantas buat kamu, hanya permainan kamu karena gak pernah dikenalin ke keluarga kamu, sedang dia bisa nunjukin kalau sangat dekat dengan keluargamu lewat foto yang diperlihatkan ke aku, yahh! mungkin dia benar soal mempermainkan, kenyataannya waktu itu aku hanyalah taruhan bagimu hanya untuk sebuah jabatan." kenang Andrea begitu miris, saat menceritakan tentang Raisa jiwa umum perempuannya keluar, hilang citra elegannya, ia jadi terlihat seperti biang gosip.
"Tapi mungkin aku harus berterimakasih sama kamu, karena kejadian itu aku bisa menjadi Andrea yang baru dalam segala hal, aku jadi lebih bisa bersikap dewasa, tidak cengeng, lebih tegar dan tegas, dan lebih percaya diri walaupun butun proses yang tidak sebentar, dan hasilnya bahkan Raisa tidak bisa mengenaliku sejak awal bertemu, tapi tetap saja jiwa suka merendahkannya tak pernah hilang, aku menyayangakan saja, andai kalian benar sampai ke pelaminan" Andrea menyinggung lagi tentang Raisa.
"Apalagi Raisa, aku yang sering berinteraksi sama kamu saja tidak mengenalimu sama sekali." kata Arshlan.
"Tahukah kamu Dre? Aku mencarimu selepas kamu tahu tentang motivasiku deketin kamu dengan segenap penyesalanku, aku sangat menyesal, aku terus mencarimu tapi seolah kamu raib ditelan bumi, bahkan ibu Rima sekalipun tidak mau memberi tahuku tentang keberadaanmu, dan pada akhirnya aku berada dititik lelahku, aku menyerah untuk mencarimu lagi, dan pada saat aku di posisi itu mama terus membujukku untuk melupakanmu dan menyuruhku untuk menerima Raisa agar aku bisa bangkit kembali, dan pada akhirnya aku mau menerima bujukan mama siapa tahu aku bisa melupakan tentangmu, walaupun perjuangan mama tidak sebentar agar aku mau menerima Raisa, tapi tetap saja Raisa tidak bisa membantuku melupakan kamu, makanya aku pun mengajukan penangguhan pernikahan kami, aku merasa belum siap menikah walaupun Raisa dan keluarganya terus mendesak, kalau mereka tidak mau menunggu aku siap aku mempersilahkan dia membatalkan pertunangan, tapi nampaknya Raisa dan keluarganya memilih tetap menungguku walaupun aku tidak meminta kompensasi perjanjian pertunangan kami kalau mereka memilih mundur, karena aku juga setuju." Arshlan masih terus bercerita tentang masa lalunya, dan Andrea pun setia mendengarkannya.
Andrea merasa terharu juga saat mendengar semua penuturan Arshlan, tapi kini ia harus tahu diri, karena Arshlan sudah punya tunangan walaupun dalam hatinya tidak rela karena Raisa yang menjadi tunangannya, tapi untuk menceritakan sisi buruk Raisa yang diketahuinya selama ini, Andrea merasa itu bukan wewenang dia, ia tidak mau menjadi provokator dengan menceritakan keburukan Raisa, biarlah kelak Arshlan memgetahui sendiri kenyataannya bagaimana sifat asli tunangannya tersebut, dan kalaupun mereka tetap lanjut ke pelaminan, berarti memang jalan Tuhan kalau mereka telah berjodoh.
"Sudahlah Arsh, itu hanya bagian masa lalu kita, sekarang kamu punya masa depan sendiri yaitu Raisa." Andrea membesarkan hati Arshlan walau dalam hatinya merasakan denyutan yang tak bisa tergambarkan, karena jujur saja nama Arshlan masih memenuhi hatinya sampai saat ini, terlepas dulu Arshlan mendekatinya hanya karena sebuah motif, tapi Andrea juga merasakan sebuah ketulusan, tapi sekarang ia harus mulai menepis itu.
"Dre, masih bisakah aku menebus kesalahanku dimasa lalu dengan niat tulusku tanpa terbalut dengan sebuah motif seperti dulu? Aku masih tetap berharap kamu adalah masa depanku yang aku cari selama ini, aku tak peduli bila harus membayar kompensasi kepada Raisa atas pemutusan sebelah pihak dariku, yang penting aku bisa bersama kamu lagi." Besar harapan Arshlan untuk kembali bersama Andrea, dan ada getar tersendiri yang Andrea rasakan saat Arshlan berkata seperti itu.
"Maaf Arsh, kita harus melanjutkan hidup kita masing-masing, karena kita sudah punya kehidupan sendiri-sendiri, dan bila memang kelak kita ada jodoh, biarlah tangan Tuhan yang menyatukan kita tanpa harus melukai dan mengecewakan seseorang." Andrea menepuk punggung tangan Arshlan agar lelaki tersebut tak terlalu berharap banyak pada Andrea, setelah itu Andrea berdiri dari duduknya.
"Mau kemana Dre?" tanya Arshlan saat Andrea berdiri.
"Aku mau pulang, cukuplah pertemuan kita ini, dimasa depan kita cukup sebagai orang yang saling kenal, dan sebatas hubungan kerja tidak untuk hubungan hati." Andrea membangun batas diantara mereka.
"Apa Xander sudah bisa menggantikan kedudukan namaku dihatimu Dre?!" tanya Arshlan sendu.
"Biarlah itu menjadi rahasia hatiku Arsh, permisi aku duluan." Andrea menyunggingkan senyum manisnya sambil melangkah pergi, senyum yang sedari tadi tidak nampak diwajahnya, dan itu seolah semakin menyihir Arshlan untuk tetap mengejar Andrea untuk kembali membuka hatinya.
Dan Arshlan hanya mampu melihat punggung Andrea yang berjalan semakin menjauh tanpa berani untuk mengejar wanita yang masih bertahta dihatinya tersebut. Tetapi dalam hatinya pun menyimpan tanda tanya besar tentang pernyataan Andrea yang mengatan bahwa ia sangat menyayangkan kalau ia jadi menikah dengan Raisa maka Andrea sangat menyayangkan hal itu.
"Ada apa dengan Raisa? atau ada apa dengan Andrea?!" Gumam Arshlan, dan ia hanya bisa mengusap wajahnya dan menhela nafasnya dengan kasar, lalu ia pun berlalu dari tempat tersebut.?
...****************...
Pliiisss like and koment dong readers...
Kritik dan sarannya ditunggu agar aku bisa berusaha mengembangkan ceritaku, biar readers tidak bosan dengan ceritaku ini 😇