
"Sekarang kita dengar cerita Adis!" kata Andrea sambil menatap Adis, begitu juga Arik yang menatap Adis dengan tajam dan raut kebencian. Ditatap seperti itu, Adis lebih menekuk kepalanya untuk menghindari tatapan Arik.
"Ceritalah Dis, jangan takut, ada aku." kata Andrea lembut sambil merangkul pundak Adis, dan terlihat Adis menganggukkan kepalanya.
"Sekarang bicaralah!" kata Andrea.
"Waktu itu Dinda kecelakaan memang karena terdorong olehku, dan disaat Dinda terdorong kejalan ada mobil yang melintas begitu cepat, hingga akhirnya tubuhnya tertabrak mobil itu, tapi itu semua di luar kesengajaanku, karena akupun terdorong oleh tubuh lelaki yang sangat besar yang hendak mendahului jalan kami, dan mungkin kalau Alarik melihat dengan jeli, pria itu terekam di video dan ikut menolong Adis, karena saat aku terdorong, kejadian itu tidak terekam video dengan jelas." jelas Adis
"Mana mungkin bisa tidak jelas, sedang cctv saja menangkap gambar sekitar dengan jangkauan sangat luas!" sanggah Arik
"Tapi saat kejadian aku terdorong pejalan kaki yang lain rekaman tertutup banner yang sangat lebar, sehingga tidak bisa menampilkan gambar dengan jelas dan yang jelas terlihat hanya saat aku terlihat seperti mendorong Dinda, dan kenyataannya pengadilan pun memutuskan kalau aku tidak bersalah itu murni, tanpa ada suap menyuap, karena di keluargaku tidak ada prinsip seperti itu, karena yang salah harus tetap menjalani hukuman tidak pandang bulu." Adis terlihat berani menatap Arik yang mengintimidasinya sambil berkata berapi-api tentang bagaimana keluarganya menyikapi sebuah kesalahn.
"Dan bahkan waktu itu papa mama aku tetap akan menerima apapun keputusan hukum seandainya aku memang dinyatakan bersalah, tetapi aku yakin dengan keyakinanku kalau aku tidak mungkin membunuh sahabat yang sangat aku sayangi dan kamu cintai itu Rik, tapi sayang kamu tidak tahu hati Dinda yang sebenarnya." Adis melemahkan nada bicaranya saat berkata di akhir kalimatnya.
"Apa maksud kamu berkata seperti itu Dis?!" seru Arik tidak suka dengan perkataan Adis tadi.
"Perlu kamu tahu Al, Dinda tak pernah ada rasa sama kamu walaupun saat di depan kamu ia seperti memberi harapan sama kamu." kata Adis mulai berani bertatap mata dengan Arik yang terlihat merah menahan amarah. Keberadaan Andrea di sampingnya seolah memberinya energi positif dan keberanian untuk menyanggah tuduhan Arik yang sampai sekarang tidak terima Adis terbebas dari jerat hukum.
"Hah! omong kosong dari seseorang yang tak terbalaskan perasannya memang begitu, memutar balikkan fakta dengan liciknya." Sahut Arik membuat hati Adis berdesir sakit atas tuduhan Arik tersebut.
"Aku tidak masalah kalau kamu benci aku Al, karena perasaanku tetap tulus walaupun aku seperti tak kamu harapkan, aku pun jadi merasa kasihan kepadamu karena kamu seperti terperangkap masa lalu, kamu tidak mau membuka hatimu untuk lebih peka dengan keadaan di sekitarmu." tutur Adis
"Bullshit dengan omongan kamu, untuk apa aku harus peka dengan orang yang sudah menghancurkan kebahagiaanku." Sahut Arik begitu berapi-api dan tak terima dengan perkataan Adis.
"Bahkan sampai kamu menangis darah dan jidat kamu berdarah memohon kepadaku untuk menerima perasaan kamu itu, aku tidak peduli, karena saat melihatmu hanya amarah yang keluar dari pikiran aku." kata-kata Arik semakin menyakitkan hati Adis.
"Dis, kenapa kamu beranggapan kalau Dinda hanya memberi harapan palsu kepada Arik?" tanya Andrea yang lebih penasaran daripada Arik yang sedang dikuasai kebencian.
"Karena Dinda sudah punya cowok idaman lain, dan sepertinya perasaannya kepada cowok itu berbalas, bahkan aku harus bekerja keras untuk meyakinkan Dinda untuk mau menemui Al di tempat yang sudah Al katakan kepadaku, dan bahkan aku sempat diam-diam membuat rekaman bagaimana Dinda menolak ajakanku waktu itu untuk menemui Al, aku hanya akan memberi bukti nyata kalau Dinda benar-benar tidak mau menemui Al dan bukan hanya rekayasaku semata karena aku merasa patah hati, tetapi kenyataan berkata lain, karena Dinda harus pergi dengan jalan seperti itu, dan aku juga tidak bisa memberikan pembelaanku serta bukti rekaman itu kepada Al, karena kebenciannya padaku, tapi entah kenapa, aku tetap berharap Al mau memaafkanku dan menerima perasaanku." Adis dengan berani mengutarakan isi hatinya dengan menatap Arik penuh harap, tetapi Arik hanya membuang muka seakan enggan bersitatap dengan Adis.
Lalu Adis mengeluarkan ponselnya, dicarinya folder penyimpanan suara. Rekaman yang sudah berumur hampir lima tahun masih disimpannya agar kelak bisa dia buktikan kebenaran kepada Arik walaupun entah kapan akan terjadi, tetapi ia beruntung dipertemukan dengan Andrea yang justru orang yang dijahatinya yang membuatnya bisa memberikan bukti itu kepada Arik saat ini, setelah hampir lima tahun ia simpan.
Flashback
Satu hari setelah pengumuman kelulusan Sekolah Menengah Atas, Adis datang kerumah Dinda yang saat itu sudah kelihatan akan bepergian dilihat dari pakaian yang dikenakan.
"Dinda, mau pergi ya? rapi amat?" tanya Adis saat sampai di rumah Dinda
"Iya nih Dis, tapi masih sebentar lagi nungguin Danis jemput." jawab Dinda.
"Ooh mau pergi sama Danis?" tanya Adis.
"Masih nanti kan berangkatnya? Ikut aku dulu yuk! Al ngajak ketemu sebagai perayaan kelulusan kita, karena kemarinkan kita belum sempat ngerayain bertiga saja." bohong Adis agar Dinda mau diajak pergi.
"Tapi lama nggak? takutnya nanti Danis datang aku belum pulang, lagian yang namanya perayaan pasti buang waktu lama." kata Dinda ragu-ragu.
"Kalau begitu kamu telpon Danis dulu deh Din, masih agak lama atau sudah di jalan." saran Adis.
"Oh ya, sebentar coba aku telpon." Dinda mendengar saran Adis lalu ia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Danis, dan ternyata Danis ada keperluan mendadak karena diminta tolong mengantar ibunya, baru dia mau mengabari kalau acara mereka ditunda sekitar dua jam tapi Dinda malah sudah menelpon dahulu.
"Ya sudah yuk, Danis baru antar ibunya pergi kerumah saudara, dua jam baru bisa datang, kalau begitu kita temui Al dulu." kata Dinda akhirnya bersedia menemui Arik, Dinda yang nanti hendak dijemput Danis memilih membonceng Adis daripada bawa motor sendiri.
Belum sampai di tempat yang diberitahukan Arik, Adis memarkir motornya, karena permintaan Dinda, dia beralasan ingin membeli sesuatu ke minimarket, Adis pun menuruti. Setelah mendapat apa yang dicari Dinda keluar menuju Adis yang menunggu di motornya.
"Dis, makan dulu yuk aku tadi belum sempat sarapan, motor ditinggal sini saja kita makan di seberang jalan itu." tunjuk Dinda pada sebuah rumah makan siap saji di seberang jalan.
"Tapi nanti Al kelamaan menunggu Din." protes Adis kurang setuju dengan kemauan Dinda.
"Bodo amatlah, cuma nunggu setengah jam an apa gak sanggup?" jawaban acuh Dinda terucap di bibirnya, Adis dengan setengah kesal menuruti apa maunya Dinda.
"Din, kamu gak kasihan Al kalau kelamaan nunggu?" tanya Adis disela perjalanan mereka.
"Kalau dia memang sahabat harusnya memaklumi keterlambatan kita dong!" sahut Dinda dengan agak ketus.
"Ya kalau kita memang sahabat baik harusnya kita tak membiarkan dia menunggu kita terlalu lama kan Din?" sahut Adis membuat Dinda kesal.
"Kamu itu kenapa sih Dis, belain dia terus? kamu suka Al ya jadi ingin cepat ketemu sama dia?!" seru Dinda.
"Bukan begitu Din, cuma pengertian saja, coba bagaimana kalau kita yang harus menunggu lama, pastinya berharap yang ditunggu cepat datang kan? Dan kalau bicara tentang perasaan, Al sepertinya suka sama kamu Din, jadi mana mungkin aku berani menyukai orang yang menyukai sahabatku sendiri." Jelas Adis dan malah disambut tawa sinis Dinda.
"Halah bicara kamu Dis, jadi orang gak perlu munafik lah, lagian aku mana suka sama cowok modelan Al gitu, selama ini aku manfaatin dia saja lah, mumpung dia baik kan sayang dilewatin begitu saja, keren tuh cowok model kaya Danis tu, idaman." kata Dinda begitu membanggakan Danis setelah mengejek Arik.
"Kok kamu bicara begitu tentang sahabat sendiri sih Din? Siapa tahu kan kelak Al jadi keren seperti idaman kamu seiring berjalannya waktu dia tambah dewasa." bela Adis.
"Halah! mana mungkin Dis..Aaaaahhh..!" bersamaan dengan itu terdengar teriakan dari Adis dan Dinda yang terjatuh, Dinda yang berada di tepi trotoar terdorong Adis yang terdorong juga oleh seorang lelaki berperawakan besar yang hendak mendahului mereka, kebetulan trotoar yang mereka lalui agak sempit karena berbatasan dengan pagar rumah di pinggir jalan.
Naas, karena Dinda jatuh bersamaan dengan mobil melaju kencang dari belakang mereka, Dinda terpental karena terhantam mobil dan membentur tiang, segera Dinda dilarikan kerumah sakit oleh mobil yang menghantamnya tadi, tapi sayang nyawa Dinda tidak tertolong saat dalam perawatan di ruang gawat darurat,
Saksi mata yang melihat mengatakan kalau Dinda didorong Adis, juga dikuatkan ada video saat kejadian, untuk itulah Adis harus berurusan dengan hukum, tetapi karena ada bukti yang meringankan tuduhan, Adis terbebas dari hukuman.
...****************...