Andrea

Andrea
Perasaan Xander



Xander mendudukkan Kinanti di sofa ruang kerjanya, tetapi Kinanti menolak.


"Duduk dulu, tenangkan diri kamu." kata Xander pelan, tetapi Kinanti tak mau duduk dan malah menggelengkan kepalanya.


"Kenapa tak mau dudu?, badan kamu gemetar begitu Kinan." tanya Xander terheran.


"Celana saya kotor pak, nanti..." belum selesai Kinanti bicara Xander memotong bicaranya.


"Astaga! Sekarang duduk!" Xander bicara agak tegas supaya Kinanti mau duduk. Xander tahu Kinanti tak mau duduk karena celananya basah, dan karena perkataan Xander terdengar tegas akhirnya Kinanti duduk dengan ragu.


Setelah Kinanti duduk, Xander menelpon office boy untuk mengantar secangkir teh hangat ke ruangannya, dan tak berapa lama pesanan Xander datang, setelah office boy tersebut meletakkan cangkir minuman di meja sofa ia segera berlalu dari ruangan atasannya itu.


"Minumlah, biar kamu lebih tenang." Xander mengambil cangkir dan menyodorkannya kepada Kinanti, dan Kinanti ragu mengambilnya, ia merasa serba salah.


Saat Kinanti menikmati minumannya, Xander terlihat sedang menekuni ponselnya seakan sedang mengetik di ponselnya.


Saat Kinanti melihat Xander telah selesai dengan ponselnya, ia berniat meninggalkan ruangan atasannya tersebut.


"Ehm, maaf pak saya permisi mau ke ruangan saya." pamit Kinanti pelan.


"Minuman kamu belum jadi kamu minum, habiskan dulu." kata Xander pelan untuk menghentikan kemauan Kinanti.


"Tapi bagaimana dengan pekerjaan saya bila saya terlalu lama di sini pak?" tanya Kinanti teringat pekerjaannya.


"Kamu bisa melanjutkan besok, lihat dirimu yang berantakan begini. Jangan sampai kamu mendapat perlakuan yang tak mengenakkan lagi dari karyawan yang lain. Tapi seharusnya mereka lebih bisa menahan diri bila tahu kejadian yang baru saja terjadi." terlihat raut kekhawatiran dalam pandangan mata Xander.


Jujur Kinanti merasa ke-GR-an dengan perlakuan Xander padanya saat ini, tetapi Kinanti akhirnya menyadari kalau sikap Xander hanyalah bentuk rasa kemanusiaan, apalagi saat Kinanti ingat kalau atasannya itu telah memiliki seorang istri dan mungkin saat ini sedang hamil karena beberapa saat lalu Kinanti melihat Xander sedang berada di klinik kandungan.


"Hey! Kok melamun? Mikirin apa kamu?" Tanya Xander saat dilihatnya pandangan Kinanti menerawang.


"Eh! Enggak kok pak." sahut Kinanti tersentak dan merasa malu.


Untuk mengurangi kecanggungan di antara mereka yang belum pernah duduk berduaan agak lama seperti saat ini, Xander bertanya tentang kehidupan pribadi Kinanti, dan Kinanti pun bercerita semua tentang kehidupannya tanpa ada yang ditutupinya.


Xander begitu kagum dengan kegigihan seorang Kinanti yang rela bekerja apapun demi tidak terlalu menjadi beban bagi om dan tantenya. Padahal om dan tantenya tidak merasa terbebani, penghasilan mereka lebih dari cukup untuk menghidupi dua orang anak dan mereka sendiri.


Kinanti sangat bersyukur mendapatkan pekerjaan yang sekarang, karena penghasilannya sangat besar menurut Kinanti, ia sedikit banyak bisa menyisihkan uang gajinya dan berencana membangun rumah di tanah peninggalan orang tuanya walaupun kecil tapi tidak lagi menumpang di rumah om nya yang jelas sangat tidak disukai oleh sepupunya, Hani.


Xander begitu terpukau dengan kegigihan dan cita-cita Kinanti, bahkan ia sempat membatin "Menikahlah denganku, maka akan aku ratukan kamu, dan tak perlu lagi bekerja keras, biar aku yang bekerja." Membatin seperti itu justru malah membuat wajah Xander merah, ia seperti malu sendiri, walau kadang ia suka bersikap posesif pada Kinanti tetapi ia tidak bisa memungkiri kalau Kinanti mungkin sudah punya calon pendamping pilihannya, tiba-tiba hati Xander panas karena pikirannya sendiri.


Tok-tok!


Saat Xander sibuk dengan perang batinnya, tiba-tiba terdengar pintu ruangannya diketuk dari luar, dan Xander pun mempersilahkan masuk.


Dari luar muncul pak Aris yang membuka pintu ruangan atasannya membawa dua buah paperbag.


"Terima kasih pak Aris." kata Xander sambil menerima paperbag tersebut, lalu ia membuka paperbag yang agak kecil dan tipis lalu menyerahkannya pada Kinanti.


"Ini kamu ganti celana kamu dulu, tentu kamu sangat tidak nyaman memakai pakaian setengah basah begitu." kata Xander saat menyerahkan bawaan yang baru diantar oleh pak Aris, tapi Kinanti malah menatap bengong pada atasannya tersebut dan tidak segera beranjak.


"Hey! Kok malah bengong ini ganti dulu, tetapi maaf bila nanti kurang nyaman karena aku hanya mengira saja saat memesannya." kata Xander dan entah kenapa semakin membuat Kinanti merasa di perhatikan tidak biasa, tetapi lagi-lagi Kinanti segera menapakkan angannya lagi ke bumi sebelum terbang terlalu tinggi.


"Ingat Kinan! Dia suami orang! Dan juga itu semua karena rasa kasihan dia terhadap bawahannya!" Batin Kinanti untuk menyadarkan dirinya sendiri.


Sebelum Xander dan pak Aris memergoki wajahnya yang memerah, Kinanti segera beranjak untuk mengambil paperbag yang disodorkan Xander, lalu ia bergegas hendak keluar ruangan menuju toilet karyawan.


"Kamu bisa pakai toilet di ruangan ini!" kata Xander sambil menunjuk pintu yang paling pinggir di sudut belakang ruangan itu, dan dengan ragu Kinanti menuju ruang kecil yang atasannya tunjukkan.


Xander menghubungi pak Aris lewat chat untuk memesankan makanan dan juga memesankan ganti untuk Kinanti di butik langganan mamanya, dan minta segera diantarkan karena sangat mendesak, dan untunglah kurir butik datang dengan cepat, hingga tak membuat Kinanti semakin kedinginan.


Tak berapa lama Kinanti keluar dari toilet dan sudah berganti pakaian, ternyata pakaian yang di pesan Xander pas di badan Kinanti. Dengan sungkan Kinanti mendekat ke arah atasannya.


"Terima kasih atas pinjaman baju gantinya pak, besok akan saya kembalikan segera." kata Kinanti sambil menunduk.


"Tidak perlu kamu kembalikan, saya memesan itu buat kamu, bukan untuk saya pinjamkan." Sahut Xander menanggapi perkataan Kinanti.


"Tapi pak.."


"Sudah sini kamu duduk, kita makan dulu. Karena tadi kita baru saja mulai makan tapi malah saya ajak kalian kembali ke kantor, kalian pasti sudah sangat lapar." kata Xander memotong perkataan yang hendak Kinanti lontarkan.


Dan tanpa banyak kata lagi, Kinanti bergabung dengan Xander dan pak Aris untuk makan, karena memang ia merasa sangat lapar, bahkan rasa canggungnya ia kesampingkan karena tertutup rasa lapar yang tengah menyergah perutnya.


Diam-diam Xander memperhatikan Kinanti makan, dengan menahan senyumnya ia tahu kalau Kinanti sangatlah lapar, hanya karena perasaan tak suka dengan perlakuan asisten rekan bisnisnya membuat kedua orang yang bekerja langsung kepadanya itu kelaparan


Deg!!


Tiba-tiba saja Xander menyadari ada yang aneh pada dirinya mengenai Kinanti, ada apa sebenarnya batin hati Xander.


Kenapa ia selalu tak suka saat Kinanti sangat akrab dengan lelaki lain, dan kenapa ia selalu ingin berlama-lama bersama Kinanti, kecamuk hati Xander.


Ia masih menelisik dalam hatinya sendiri untuk meyakinkan perasaannya, Xander pun harus mempersiapkan diri tentang kenyataan sebenarnya pada diri Kinanti, harus mempersiapkan resiko terburuk sekalipun saat ia menyatakan gejolak hatinya, saat ia mengungkapkan perasaannya pada Kinanti, karena kenyataan yang terjadi ia telah jatuh hati.


...****************...


Happy reading semua,


othor hadir lagi di cerita ini setelah bersembunyi berhari-hari 😃


Tinggalin like dan komen kalian yaa 🥰