Andrea

Andrea
Pertanyaan Sulit



Tujuh hari dirawat diruang Intensive Care Unit, papa Arga sudah dipindah ke ruang perawatan karena kondisinya sudah jauh lebih baik, Andra pun sudah datang dari lima hari yang lalu dengan membawa serta istrinya, apalagi saat mendengar kalau Eira tengah hamil, seolah menjadi penyemangat tersendiri bagi papa Arga. Ya, saat ini kehamilan istri Andra memasuki minggu ke delapan, dan kondisinya pun sangat sehat sehingga ia bebas melakukan perjalanan dengan pesawat terbang.


Selama papanya masih dirumah sakit, Andrea tidak mau uu* ke kantor ia menyuruh Randy mengirimkan file-file pekerjaannya melalui email dan memeriksanya dirumah, jikalaupun ada dokumen yang harus ditanda tangani ia meminta asistennya itu mengantarkan ke rumah ataupun ke rumah sakit dimana saat itu Andrea berada, tetapi kadang Andra meninjau kantor adiknya, seperti saat ini Andra datang ke kantor adiknya.


Randy sedang menjelaskan tentang jalinan kerjasama yang sedang perusahaan mereka lakukan dengan perusahaan-perusahaan yang lain.


Kring! Kring! Telepon ruang kerja Andrea berdering.


"Hallo..!" sapa Andra.


"Selamat siang pak, ini ada tamu yang ingin bertemu ibu Andrea" resepsionis memberitahukan kalau ada tamu diruang tunggu lobbi kantor.


"Darimana?" tanya Andra.


"Bapak Xander Daniswara dari Dan's Company pak." terang resepsionis.


"Ijinkan beliau masuk." Andra memberikan ijinnya.


"Baik pak, akan saya sampaikan." kata resepsionis, kemudian Andra meletakkan gagang telpon menutup pembicaraan.


"Apakah hari ini ada jadwal pertemuan dengan Dan's Company pak Randy?" tanya Andra pada asisten pribadi adiknya.


"Tidak ada pak Andra, karena jika sudah ada janji, resepsionis diberi pesan untuk langsung menyuruh mereka menuju ruang meeting diantar security." jelas Randy dan Andra hanya mengangguk anggukkan kepalanya tanda mengerti dengan penjelasan Randy.


"Ada misi pribadi rupanya." gumam Andra, sedang Randy yang mendengar gumaman dari salah satu atasannya itu hanya pura-pura tidak mendengar, karena sejatinya Randy sangatlah tahu asmara segitiga antara Andrea dan dua kakak beradik petinggi Dan's Company.


Tok! tok!


Terdengar pintu diketuk dari luar, Randy dengan sigap segera membuka pintu dari dalam, nampak security yang mengantar Xander, setelah membungkuk hormat dan menyerahkan tamu kepada Randy, security undur diri dari hadapan Randy.


"Silahkan masuk bapak Xander!" Randy mempersilahkan tamunya masuk.


"Terimakasih pak Randy." jawab Xander dan segera masuk ruangan, pintu segera ditutup oleh Randy setelah Xander masuk ruangan.


"Selamat siang bapak Xander Daniswara." sapa Andra dari kursi kebesarannya,


"Selamat siang juga bapak Andra Abimana." Xander membalas sapaan Andra, sejujurnya tadi ia sempat terkejut saat dilihatnya bukan Andrea yang duduk di kursi itu, keningnya sempat beekerut penuh tanya siapakah lelaki yang sedang duduk di kursi kebesaran Andrea, akhirnya otak cerdasnya menemukan jawabannya, karena ia dulu ikut menghadiri resepsi pernikahan tuan muda Abimana tersebut.


"Oohh, anda mengenal saya ternyata." Andra sempat terbeliak heran juga saat orang yang belum pernah ditemuinya secara khusus itu mengetahui namanya, ia pun beranjak dari duduknya dan memghampiri dimana Xander berdiri, ditatapnya Randy yang juga sedang menatapnya, Randy pun mengerti arti tatapan Andra dan asisten pribadi Andrea itu berpamitan.


"Saya ke ruangan saya dulu bapak Andra, jika ada sesuatu yang anda butuhkan lagi panggil saya, mari bapak Xander." setelah mendapat anggukan sebagai tanda jawaban dari kedua lelaki tampan itu, Randy segera keluar ruangan milik Andrea itu.


"Apa kabar bapak Andra." sapa Xander sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Andra.


"Kabar baik dan juga kurang baik bapak Xander, mari silahkan duduk." Andra mengajak Xander untuk duduk disofa ruangan itu.


"Tentu anda terkejut kenapa bukan Andrea yang ada diruangan ini." kata Andra yang tadi sempat melihat keterkejutan dimata Xander saat pertama kali melihatnya tadi.


"Ya, memang begitu bapak Andra." jujur Xander menjawab tanya Andra, "Lalu kalau boleh saya tahu bapak Andra, kenapa anda tadi berkata kalau ada kabar kurang baik?" Xander balik bertanya. "Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan ibu Andrea, sehingga beliau tidak bisa berangkat ke kantor, bahkan sampai anda yang menggantikan jauh-jauh dari luar negeri?" lanjut Xander dengan rasa keingin tahuannya.


"Mungkin karena saya sudah sangat dekat dengan ibu Andrea lebih dari sekedar urusan bisnis semata pak, hubungan kami sudah selayaknya sahabat." Xander bicara dengan senyum dibibirnya untuk menyamarkan kecanggungannya, walaupun Xander harus sedikit berbohong tentang peeasaannya.


"Ya ya baiklah bapak Xander, adakah yang bisa saya bantu? mungkin anda ingin bertemu adik saya karena ingin membahas tentang kerjasama perusahaan kita?" tanya Andra mengalihkan pembicaraan untuk mencairkan suasana.


"Begitulah pak Andra, karena pekerjaan sudah hampir delapan puluh persen menuju selesai, memang saya belum ada janji dengan bu Andrea karena tadi kebetulan lewat dan terbersit keinginan saya untuk bertemu adik anda." jujur Xander


"Mungkin dalam beberapa hari ini anda tidak bisa menemui adik saya dikantor ini, sementara ia ingin bekerja dari rumah karena papa sedang sakit dan Andrea ingin lebih banyak menemani papa." jelas Andra tanpa diminta, mendengar perkataan Andra membuat Xander teekejut.


"Astaga, sakit apakah beliau sampai ibu Andrea seperti itu? Karena seutahu saya selama ini bapak Arga selalu berperilaku hidup sehat." tanya Xander dengan menatap Andra penuh ingin tahu, ada rasa khawatir yang amat sangat terlihat dari tatapan mata Xander.


"Papa tiba-tiba pingsan sehabis bersepeda sore bersama beberapa anak buahnya termasuk Randy, kemarin sempat dirawat satu pekan di ruang ICU maka dari itu Andrea ingin selalu menemani saat papa terbaring sakit seperti ini, untuk itulah mengapa ia memilih bekerja dari rumah." jelas Andra ditanggapi angggukan kepala oleh Xander.


"Bolehkah saya menjenguk beliau bapak Arga pak Andra?" tanya Xander.


"Tentu saja boleh." jawab Andra lalu memberitahukan di rumah sakit mana papanya dirawat, serta diberitahukan juga ruang rawat papanya.


***


Sementara itu dirumah sakit tepatnya diruang VIP tempat papa Arga dirawat, Andrea yang telah selesai memeriksa berkas yang dikirim Randy lewat email, kini mendekati papanya untuk mengajak ngobrol agar tidak terlalu jenuh selama masa perawatan.


"Sudah merasa lebih baik pa?" tanya Andrea lembut.


"Iya, sakit yang papa rasa sudah lebih baik dari yang kemarin papa rasa." jawab papa Arga dengan suara lemahnya.


"Sabar ya pa, pemulihan pasti lebih lama daripada saat sakit itu datang, karena itu cara Tuhan menguji kesabaran kita." Andrea hanya sekedar mengingatkan bukan bermaksud menasehati papanya, sedang papa Arga mengangguk dengan lemah karena apa yang dibicarakan putrinya itu sangatlah benar.


Saat itu mereka hanya berdua diruang perawatan, karena mama Arini sedang pulang ke rumah untuk mengambil pakaian ganti, tadinya mama ingin selalu berada disamping papa, tetapi Andrea bersikeras agar mama keluar dari gedung rumah sakit agar mamanya bisa menghirup segarnya udara luar rumah sakit, dan akhirnya mama pun selalu menuruti peekataan anak gadisnya itu walau agak berat meninggalkan suaminya yang terbaring lemah diranjang rumah sakit.


"Dre, bolehkah papa bertanya?"


"Silahkan papa bertanya apa saja, Andrea tidak melarangnya pa."


"Kapan kamu hendak menikah nak?" pertanyaan itu tiba-tiba membuat tenggorokan Andrea tercekat, tidak biasanya papa beetanya seperti itu, karena papa merupakan pribadi terbuka dan mendukung apapun pilihan hidup anak-anaknya asal itu masih dijalur positif.


Bagaimana ia bisa menjawab pertanyaan papanya, sedang dunianya hanya disibukkan dengan pekerjaan, sehingga saat mendapat pertanyaan dari papanya seperti itu, seolah pikirannya langsung kosong.


"Andrea..." Andrea tidak mampu meneruskan kata-katanya, pertanyaan papanya seperti tidak siap untuk dijawabnya.


Papa Arga yang melihat perubahan air muka Andrea, lalu digengganmnya tangan anak gadisnya yang kebetulan berdekatan dengan tangannya.


"Tidak perlu dijawab sekarang kalau kamu belum siap dengan jawaban yang tepat, papa juga tidak mau memaksamu, tadi papa hanya sekedar bertanya." lemah suara papa Arga sangat jelas didengar Andrea diruangan sesepi itu.


"Hal itu selalu ada dalam pikiran Dre pa, tapi untuk sekarang Dre belum bisa menjawab. Sekarang jangan pikirkan hal berat-berat pa agar papa lekas sehat, dan setelah papa sehat kita bicarakan lagi hal ini." Andrea membalas genggaman tangan papanya dengan senyum terkembang dibibir sebagai penguat dan juga agar papanya tidak berpikir berat saat masih dalam perawatan seperti saat ini.


...****************...