Andrea

Andrea
Pernikahan Danisa



Sebulan berlalu.


Siang itu Andrea tengah bersiap istirahat makan siang saat telepon kantornya berdering, diangkatnya gagang telpon dan menyapa si penelpon, ternyata resepsionis kantornya memberitahukan kalau ada yang mencarinya yaitu Danisa sahabatnya, Andrea pun mengiyakan dan segera turun ke lobby. Ia tidak menyuruh Danisa menuju ruangannya karena Andrea telah merasa sangat lapar.


"Hai Dan!" sapa Andrea saat baru keluar lift dan langsung melihat sang sahabat yang sedang menunggunya.


"Hai juga Dre, kangeeenn..!" seru Danisa juga langsung cipika cipiki ke Andrea.


"Kantin yuk ngobrolnya, udah lapar sangat ini perut" Andrea menyeret sahabatnya menuju kantin, sedang Danisa hanya pasrah dan menyeret langkahnya mengikuti Andrea. Sesampai di kantin keduanya langsung memesan makanan dan minuman lalu duduk ditempat yang masih kosong. Andrea pun langsung menyantap makan siangnya.


"Buru-buru amat neng, sudah berapa hari tidak makan sih?" Danisa terheran dengan tingkah sahabatnya.


"Dah cepet makan juga kamu, daripada nanti aku embat sekalian." Andrea menyuruh Danisa cepat makan dengan mulut sambil mengunyah


"Hati-hati, makan jangan sambil ngomong!" nasehat Danisa lalu menyantap makanannya, dan Andrea yang dinasehati hanya mengangkat bahunya dan melanjutkan makannya.


Tak berapa lama Andrea sudah selesai makan, sementara Danisa masih berkutat dengan sendok garpunya tak juga selesai.


"Lama banget sih makannya Dan!" protes Andrea.


"Bukan aku yang lama, kamu yang cepat banget, kaya habis manggul beras satu truk sendiri." kata Danisa sambil memutar bola matanya malas, dan ditanggapi Andrea dengan senyum tertahan.


"Laper banget tauu.." kata Andrea cuek, dan tak lama Danisa pun selesai makan. "Oh iya tumben kamu istirahat nyamperin kesini? Surprise banget tau gak?" tanya Andrea merasa gembira.


Danisa tidak menjawab ia malah membuka tasnya dan mengambil sesuatu dari tasnya,


"Aku mau ngasih ini." Danisa menyodorkan barang yang diambilnya tadi.


"Undangan? dari siapa?" tanya Andrea sedikit bingung.


"Baca dong!" seru Danisa ditanggapi putaran bola mata malas dari Andre.


"What!! Demi apa?!" Seru Andrea setelah membaca nama mempelai yang tertulis dan melihat foto yang tertera di cover undangan tesebut, sementara Danisa hanya menaik turunkan alis matanya jenaka menanggapi keterkejutan Andrea.


"Waaahh...! sudah tidak setia kawan lagi kamu Dan, masa tau-tau kirim undangan, lah pas lamaran aku gak kamu aja nerima tamu." Andrea berlagak ngambek sambil mengrucutkan bibirnya.


"Jaga tu bibir, ntar kalau ada cowok yang lihat bisa disosor." Canda Danisa dan Andrea sontak menormalkan bibirnya.


"Apaan sih! yuk keruanganku dulu, kamu harus menjelaskan semuanya! Andrea menarik tangan Danisa keluar kantin menuju ruangannya.


"Ck! emang dasar gatal apa yaa?" celetuk Andrea saat melewati lorong kantor, dan didengar oleh Danisa.


"Kamu nuduh aku gatal?!" seru Danisa melotot karena ucapan sahabatnya.


"Tuh.." Andrea memajukan dagunya kesisi lorong yang lain, Danisa mengikuti arah yang ditunjuk Andrea.


"Bukannya itu Raisa." Danisa menatap tak percaya.


"Siapa lagi?" kata Andrea malas sambil menyeret tangan Danisa.


"Yaahh, gak tau mau ngomong apa Dan, bukan ranahku kalau mau ikut campur dengan melaporkan hal itu, padahal aku sering banget lihat, nanti dikira aku masih berharap." Andrea tak bersemangat membicarakan Arshlan.


"Kamu masih ada rasa gitu sama Arshlan Dre?" tanya Danisa penasaran.


"Ngomong apa sih, udah jangan gosip banyak orang tuh!" Andrea menggantung rasa penasaran Danisa saat tiba dilift, karena banyak yang menunggu didepan pintu lift untuk menuju ruangan masing-masing, sedang Andrea masuk lift khusus direksi jadi tidak perlu antri lama.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai lantai teratas, dan keduanya langsung masuk ruangan Andrea.


"Sekarang jelasin kenapa gak ngomong langsung pas habis dilamar, tahu-tahu bawa undangan begini." todong Andrea sambil menjatuhkan badannya disofa kantor.


"Biar surprise aja." Jawab Danisa buat Andrea setengah dongkol.


"Mentang-mentang apa saja berdua sama calon suami sekarang lupa sama aku." kesal Andrea.


"Bukan begitu sayangku, cintaku, aku tahu kamu sesibuk apa sekarang, pingin sih kamu juga ikut terlibat dalam persiapan pernikahan tapi aku sadar diri juga dong Dre sama posisi kamu sekarang." Pembelaan diri Danisa ada benarnya tapi Andrea serasa tidak terima, tapi akhirnya ia mau mengerti juga dengan alasan Danisa.


"Ya sudah, kali ini aku maklum, tapi gak tahu kalau lain kali." kata Andrea, dan Danisa pun hanya bisa memeluk sahabatnya, lalu Danisa berpamitan kembali ke tempat kerjanya karena ia ijin terlambat masuk tidak lama.


***


Dua minggu kemudian, hari yang ditunggu oleh Danisa dan Daniel, dimana mereka akan mengucap janji suci pernikahan. Nampak Daniel begitu gagah dengan tuxedo putihnya yang terlihat tenang menanti detik-detik menegangkan. Penghulu pernikahan telah siap ditempatnya, disampingnya duduk ayah Danisa sebagai wali nikah, sementara Danisa akan keluar saat prosesi ijab kabul selesai.


Tak menunggu lama-lama lagi, penghulu memulai prosesi akad nikah, proses pernikahan berjalan lancar hanya dengan satu tarikan nafas, tampak tersirat wajah lega dari Daniel maupun ayah Danisa.


Setelah itu Danisa diijinkan keluar menemui suaminya, dengan didampingi ibu serta sahabatnya Andrea, Danisa nampak begitu cantik dan anggun manglingi mengenakan kebaya putih dan sanggul modern, Daniel yang didampingi Xander dan Arshlan nampak terpesona dengan kecantikan istrinya yang datang mendekat mencium tangan ayahnya lalu mencium tangan suaminya lalu duduk disamping suaminya. Sedangkan Xander dan Arshlan justru memandang Andrea begitu dalam, tetapi yang jadi obyek pandang tak menyadari itu karena ia larut dalam euforia kebahagiaan yang sahabatnya rasakan.


"Apakah yang aku pikirkan tidak salah? Kalau Andhara adalah Andrea sahabat Danisa memang perubahannya sangat drastis aku bahkan tidak mengenalnya sama sekali, tapi sejak ketemu waktu itu, aku sedikit ada feeling kalau dia memang Andrea." Batin Arshlan sambil memperhatikan Andrea, rupanya Xander menyadari siapa yang sedang ditatap Arshlan, entah kenapa dia tidak suka dengan yang dilakukan abangnya tersebut.


Kedua mempelai duduk dipelaminan didampingi orang tua masing-masing, keluarga besar dan tamu berbaur untuk memberikan selamat, Andrea datang bersama kedua orang tuanya dan juga ibu Rima.


Arshlan datang mendekati Andrea yang sedang mengambil makanan, tapi Andrea tidak menyadarinya karena Arshlan datang dari arah belakang.


"Dre" panggil Arshlan, dan sontak Andrea balik badan karena merasa dipanggil.


"Ya!" seru Andrea menjawab sambil berbalik, tapi betapa terkejutnya dia saat tahu bahwa Arshlan lah yang memanggil namanya, nampak aura gugup terlihat dari wajah Andrea.


"Tak salah lagi kalau kamu Andreaku yang dulu, orang yang aku cari selama ini dengan segenap penyesalanku, tapi entah kenapa tidak mau terus terang kalau kamu mengenalku, yang aku sesalkan kenapa aku tidak mengenalimu sama sekali saat kita bertemu pertama kali dengan penampilan kamu yang sekarang, kamu justru mengenalkan dirimu sebagai Andhara pacar Xander, bahkan saat kita bertemu kapan hari disebuah pertemuan antar perusahaan kamu memanggilku Arsh, hanya kamu yang memanggilku seperti itu, aku langsung berpikir itu kamu setelah aku perhatikan dengan seksama wajah kamu, dan aku yakin itu kamu, tapi tetap saja kamu tidak mau jujur tentang jati diri kamu, terlalu berdosa besarkah aku sama kamu Dre, hingga kamu menutup diri sama aku?" Arshlan bicara panjang lebar menumpahkan isi hatinya, tentang rasa bersalahnya dimasa lalu.


"Aku sudah melupakan dosa kamu padaku dimasa lalu, berterimakasihlah sama adik kamu itu karena berkat penjelasannya aku bisa memaafkanmu, tapi maaf aku harus jaga jarak sama kamu karena status kamu sudah tunangan orang, jadi maaf Arsh kendalikan dirimu!" Andre hendak berlalu dari hadapan Arshlan, tapi lelaki itu menarik tangan Andrea agar mau mendengarkan penjelasannya lagi, tetapi Andrea memaksa pergi hingga terjadi tarik menarik.


"Jangan paksa bila memang tak mau bang, terlalu banyak orang nanti jadi bahan omongan." tiba-tiba Xander sudah berada diantara mereka untuk mengurai ketegangan dari kedua orang dekatnya tersebut. Andrea begitu berterimakasih dengan kedatangan Xander diantara ketegangannya bersama Arshlan, terlihat dari sorot matanya yang begitu berterimakasih kapada Xander.


"Aku hanya ingin memberi penjelasan sama dia dek." kata Arslan tetapi terlihat Xander menggelengkan kepalanya, akhirnya Arshlan mengerti bahwa ini bukan waktu dan tempat yang tepat, dan Arshlan hanya bisa menghela panjang nafasnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


...****************...