Andrea

Andrea
Perdebatan Dua Bersaudara



Andrea bersepeda menyusuri jalan menuju stadion, tempat yang begitu menyimpan banyak kenangan, ia masuk ke salah satu warung tenda kuliner malam yang banyak berjajar diseberang area stadion, dipesannya satu porsi nasi goreng seafood dan segelas jeruk panas. Tak nampak lelah diwajahnya setelah seharian berada di acara pernikahan sahabatnya, setiap berkunjung ke kota tempat tinggalnya dimasa lalu, Andrea pasti menyempatkan diri mendatangi stadion, karena besok pagi harus balik ke kota tempat tinggalnya saat ini maka malam hari ia bela-belain main.


Nasi goreng seafood pesanannya datang segera disantapnya makanan yang telah tersaji didepannya tanpa rasa jengah, walaupun ada beberapa mata genit lelaki yang memperhatikannya tetapi ia cuek saja. Beberapa menit kemudian Andrea telah menghabiskan makan dan minumnya, lalu dia berlalu untuk jalan ke dalam stadion setelah membayar makanannya.


Dari samping tempat parkir samar samar Andrea mendengar ada dua orang yang sedang berbicara, dia berjalan lewat tempat yang minim penerangan karena tak ingin terlihat mencolok kalau ia hanya sendiri.


"Bang, kenapa sih masih saja kukuh mengejar Andrea? bukankah dia sudah maafin abang? trus mau apalagi bang?!" Andrea dengan jelas mendengar bahwa kedua orang yang duduk dekat tempat parkir itu sedang membicarakannya, mereka tak lain tak bukan adalah kakak beradik Daniswara, Arshlan dan Xander.


Andrea yang sedianya ingin jalan keliling luar stadion jadi mengurungkan niatnya, di pasangnya kupingnya lekat-lekat agar bisa mendengar apa yang kedua cowok itu bicarakan, apalagi namanya disebut dalam pembicaraan mereka.


"Tapi bukan hubungan dingin seperti ini yang abang mau dek, dan juga melupakannya bukanlah segampang yang kamu fikirkan, entah kenapa dari dulu abang ingin membuang pikiran abang tentang dia tapi susah, justru malah semakin membayang terus dihati dan pikiran abang." Arshlan mengungkapkan apa yang hatinya rasakan selama ini.


"Mungkin hanya karena rasa bersalah abang sama dia saja bang." sanggah Xander.


"Lebih dari itu kalau kamu mau tahu dek!" seru Arshlan frustasi.


"Sudahlah bang, tadi siang kan dia sudah bilang kalau dia sudah memaafkan kesalahan abang dimasa lalu, lagian abang kan sudah bertunangan sama Raisa, mau apalagi?!" penjelasan Xander nampak tak berpengaruh pada kakaknya.


"Kamu kenapa sih dek, seolah malah menghalangi aku untuk baikan lagi sama Andrea?!" tanya Arshlan


"Bukan menghalangi bang, aku hanya kasihan saja sama abang, mau sampai kapan abang akan terjebak dengan rasa bersalah padahal jelas-jelas Andrea sudah maafin abang dan tidak ingin mengganggu hubungan abang sama Raisa." Xander berusaha mengingatkan Arshlan


"Aaahh...!! masa bodoh dengan perjodohan yang tidak aku harapkan tersebut, demi apa coba dulu aku mau saja menerima bujukan mama untuk bertunangan sama Icha!" terlihat aura marah dari suara lantang Arshlan.


"Jangan begitulah bang, hanya karena Andrea sudah abang temukan lalu abang baru berontak tentang pertunangan." ucapan Xander malah menicu emosi Arshlan.


"Hanya?! Hanya Andrea kamu bilang?! Kamu jangan munafik dengan menyepelekan Andrea 'hanya', jangan kamu mengecilkan arti seseorang yang begitu berharga buatku hanya karena kamu ingin memiliki sendiri hal berharga itu!!" Arshlan begitu marah atas pernyataan Xander yang mengecilkan arti Andrea dalam hatinya.


"Jangan karena abang sedang emosi lantas menuduhku seperti itu bang!" terdengar suara Xander agak meninggi.


"Hah!! kamu mau berbohong pada abangmu ini tentang perasaan kamu padanya? kamu pikir aku bocah yang mudah kamu kibuli? mulut kamu boleh bilang tidak, tapi mata kamu tak bisa bohong saat menatap dia kalau kamu menyimpan rasa yang dalam pada Andrea!" Arshlan semakin tak dapat menguasai emosinya.


"Kamu tidak bisa menjawab kan dek?! karena itu fakta adanya!" seru Arshlan yang melihat Xander tak bisa mematahkan perkataannya.


"Lalu apa masalahmu bang kalau benar adanya bahwa aku menyimpan rasa buat Andrea?!" Xander membela diri.


"Jangan meneruskan rasa yang hanya akan membuatmu patah hati!" Arshlan memperingatkan Xander.


"Biarlah itu jadi urusanku sendiri bang." Xander tak bergeming dengan pendiriannya.


"Berarti kamu menantangku!" suara Arshlan menggeram tertahan.


"Oohh, jadi begitu, egois banget kamu bang, kamu hendak mendua?" Xander menyungging senyum sebelahnya mendengar amarah Arshlan.


"Aku akan batalkan pertunanganku sama Raisa." kata Arshlan


"Tidak semudah itu bang, kamu ada perjanjian sama dia selama menunggu waktu tiga tahun sebelum pernikahan kalian, kalau ada yang memutuskan sebelah pihak akan kena kompensasi pembatalan kecuali salah satu dari kalian melakukan kesalahan yang kalian pergoki dengan mata kepala sendiri, maka otomatis pertunangan kalian batal." Xander mengingatkan tentang perhanhian kakaknya dengan Raisa.


"Aku tidak peduli!" seru Arshlan.


Andrea tersentak mendengar perjanjian pertunangan antara Arshlan dan Raisa.


"Apa karena yang Arshlan katakan benar tentang perasaan Xandet ke aku? Hingga Xander tidak mau memberitahukan Arshlan tentang siapa Raisa sebenarnya? Kalau memang benar adanya, jahat juga Xander hanya mementingkan perasaannya sendiri, tapi entahlah, mungkin ada alasan juga dibalik sikap Xander yang tak mau memcampuri urusan kakaknya, etahlahh!" Raisa mengusap kasar mukanya mendengar perdebatan kakak beradik itu, tapi yang pasti sekarang Andrea tahu tentang isi hati kedua lelaki tampan itu. Akhirnya Andrea beringsut pelan untuk segera pulang, sudah cukup baginya mendengar perdebatan tadi, ia tidak mau ketahuan andai mereka bertengkar karena dia penyebabnya. Andrea tak mau besar kepala karena merasa diperebutkan kedua saudara itu, ia justru susah memikirkan, bagaimana kalau hubungan keduanya jadi renggang andai ia memilih salah satu dari mereka, padahal ia sangat menyadari bahwa ia masih menyimpan kenangan dan hatinya tentang Arshlan, dan kalau boleh egois, ia juga merasakan perhatian Xander yang sangat besar, sebenarnya ia pun tahu kalau dimata Xander memancarkan aura berbeda saat menatapnya, tapi Andrea harus menepis itu, kini ia hanya berpikir bagaimana agar tak menyakiti salah satu dari dua bersaudara tersebut.


"Salah satu cara agar aku tak terlihat memberikan harapan pada Xander adalah aku harus membuat tembok tinggi untuk urusan pribadi, hanya akan ada hubungan bisnis saja tidak untuk yang lain, dan juga aku harus membuang jauh pikiran masa laluku tentang Arshlan, tapi apakah semudah itu?" Andrea bergumam sendiri senpanjang perjalanan pulang, hingga tak terasa ia telah sampai dirumah ibu Rima. Untung para penghuni rumah sudah berada dikamarnya masing masing sehingga ia tak harus menjawab pertanyaan kenapa ia begitu muram.


Andrea berusaha keras melupakan kata demi kata yang ia dengar tadi, tapi begitu sulit, sehingga usahanya yang ingin segera memejamkan mata tak juga bisa, kata Arshlan dan Xander seakan terus terdengar ditelinganya,


"God, help me please, aku tidak bisa seperti ini terus, bisa gila aku!" gumam Andrea sambil menutup telinganya dengan bantal berharap ia dapat segera pejamkan mata, dan tak lama terdengar dengkuran halus Andrea pertanda ia telah lelap dalam tidurnya.


...****************...