
"Hai Arsh!" sapa Andrea datar pada orang yang telah menunggunya.
"Hai juga Dre, silahkan duduk." Kata Arshlan dan Andrea segera mendudukkan tubuhnya dikursi berhadapan dengan Arshlan. Setelah itu Arshlan memanggil waiters untuk memesan makanan dan minuman, setelah mereka memilih waiters pun berlalu dari hadapan mereka.
"Ada apa Arsh, kamu bilang tadi di telpon ada yang ingin kamu bicarakan?" tanya Andrea masih pasang ekspresi datar
"Aku sudah tidak ada hubungan lagi sama Raisa." kata Arshlan.
"So?"
"Ya ampun Dre, haruskah aku menjelaskan?" Arshlan bingung dengan sikap Andrea yang tak ada reaksi sama sekali.
"Haruskah aku bersedih atau aku harus gembira?" tanya Andrea yang hanya ditanggapi dengusan nafas kasar Arshlan.
"Tak adakah sedikit celah dihatimu untuk aku masuk kembali Dre?" Saat Andrea akan menjawab, waiters datang mengantar pesanan mereka, lalu keduanyapun makan dalam diam.
"Dre, jawab!" pelan suara Arshlan meminta jawaban Andrea setelah mereka selesai makan.
"Menurutmu aku harus bagaimana Arsh?" Andrea sendiri tak tahu harus bersikap bagaimana.
"Masihkah bisa aku masuk untuk menjaga hatimu Dre?"
"Lalu bagaimana dengan Xander, bagaimana dengan mamaku? mungkin Xander bisa menerima andai aku menerimamu kembali, tapi mamaku? dari kapan hari aku selalu memperingatkanmu tentang mama." Kata Andrea sambil melihat ke arah Randy dan driver duduk. "Sebentar Arsh, aku mau menyuruh mereka kembali dulu" Andrea melangkah menuju asistennya, setelah berbincang sejenak terlihat dua orang bawahan Andrea itu meninggalkan restoran itu dan Andrea kembali ketempat Arshlan duduk.
"Dre, sekarang aku tanya kamu, apa kamu masih bisa menerimaku? jawab jujur!" pinta Arshlan tapi Andrea hanya diam.
"Aku anggap kamu masih menerima aku karena kamu tidak mau jawab." kaya Arshlan.
"Tidak bisa begitu lah!" sahut Andrea.
"So?"
Perkataan Andrea sungguh telak menghujam relung hatinya,
"Ya, aku tahu bagaimana rasanya di posisi kamu saat ini, tapi aku tetap butuh kejelasan tentang perasaan kamu ke aku, terlepas nanti kita bisa bersama atau tidak. Bagaimana kalau untuk sementara kita backstreet?" Arshlan sungguh berharap Andrea mau menerimanya kembali.
"Maaf, aku tidak bisa, sepertinya aku harus tetap dengerin mama aku." jawaban Andrea membuat hati Arshlan kecewa, tapi ia juga sadar ia tak bisa memaksa Andrea.
"Iya dan tidak hanya berjarak sehelai rambut kalau soal masalah hati, aku bukannya sok percaya diri berlebihan, tapi sorot mata kamu beda dengan jawaban dimulut kamu." Arshlan berusaha menutupi kecewanya dengan meningkatkan rasa percaya dirinya dan keyakinannya, sementara Andrea hanya mengulas senyum smirk tipis dibibirnya, dan membuang muka kearah lain menanggapi pembicaraan Arshlan.
Entah kenapa hati Andrea merasa sakit sendiri saat itu, ia seolah mengakui kemunafikan yang sedang dia jalankan. Disisi lain ia ingin diam-diam menjalani hubungan yang diusulkan Arshlan, tapi rasa patuh pada mamanya mengalahkan keegoisannya.
"Sudah selesai kan? aku harus kembali kantor, terimakasih makan siangnya." pamit Andrea sambil berdiri dari duduknya, ia tak betah lagi untuk berlama-lama dengan Arshlan.
"Aku antar!" seru Arshlan.
"Tidak perlu, aku bisa naik taksi." tolak Andrea.
"Jangan membantah! tolong biarkan aku menikmati waktu bersamamu saat ini, karena hari-hari besok mungkin kamu akan dapat banyak ketenangan karena aku tidak lagi sering mengganggumu, karena aku akan kembali fokus dikantorku yang dikota sebelah, jadi berbahagialah karena tak ada lagi yang mengganggu dan berharap padamu." Perkataan Arshlan barusan membuat hari Andrea berdesir, seakan ada gurat ketidak relaan, tapi ia lebih memilih diam seakan tak peduli. Ia menghentikan taksi yang kebetulan melintas dijalan itu, Andrea memilih tak mempedulikan keinginan Arshlan sebelum kembali ke kota asalnya. Sementara Arshlan hanya bisa menghela panjang nafasnya karena meredam kecewa kepada Andrea yang tak mau mengabulkan keinginannya saat ini.
Andrea terisak pelan saat di dalam taksi, ia harus egois dan pura-pura tak peduli agar Arshlan menyerah untuk mendekatinya, Andrea tidak mau Arshlan terus ditolak oleh mamanya, ada rasa tidak terima bila mamanya menghujat kesalahan Arsh dimasa lalu, itulah alasan Andrea tak mau menerima usulan Arshlan. Mungkin, seandainya dahulu Arshlan menjelaskan sebelum ketahuan apa niat sebenarnya mendekati Andrea, yang pada akhirnya ia benar-benar ada rasa sama gadis itu, kesalahan Arshlan akan lebih mudah termaafkan, tetapi keluarga Andrea sudah terlanjur terdoktrin pikirannya bahwa niat Arshlan tidak benar dan hanya mempermainkan hati anak gadis mereka.
Andrea memang sudah memaafkan Arshlan, karena tidak bisa dipungkiri nama Arshlan belum bisa tergantikan nama siapapun dihatinya, hanya saja ia tidak bisa egois mempertahankan perasaannya sebelum Arshlan benar-benar telah mendapatkan maaf dari mamnya, kini Andrea hanya bisa menunggu kesungguhan Arshlan demi mendapatkan maaf dari sang mama.
...****************...
Otakku stuck, lagi susah buat mikir, viewers sama likers perbandingannya aduhai, bikin pingin berhenti sampai disini sajaðŸ˜
Semangan buat diriku sendiri, karena perjalanan sedang dimulai.
Semangaaaaaattttt!!!!!!