Andrea

Andrea
Saling Bertanya



Andrea sampai di kediaman ibu Rima bertepatan dengan maghrib yang menyapanya, rupanya seluruh penghuni panti sudah bersiap untuk menjalankan ibadah maghrib, Andrea pun segera bergabung setelah membersihkan diri dan mengganti bajunya.


Anak-anak melakukan rutinitas mengaji sampai isya' datang, setelah itu mereka makan malam bersama dan juga belajar bersama, nampak adik-adik asuh Andrea sangat merindukan kakaknya itu, karena ada saja ulah mereka untuk mencari perhatian Andrea, terutama Aish dan Riri.


Jam sudah menunjuk pukul sembilan malam, waktunya penghuni panti untuk istirahat malam, tapi nampaknya mereka masih enggan untuk beranjak karena masih ingin melepas kangen mereka kepada kakak tertua mereka, namun karena kata-kata tegas dari ibu Rima, merekapun beranjak menuju kamar masing-masing.


"Bagaimana pekerjaan kamu nak?" tanya Ibu Rima sepeninggal para penghuni panti ke kamar mereka.


Semua diberi kelancaran bu." jawab Andrea.


"Syukurlah kalau begitu, kamu harus tetap amanah sebagai pemegang tampuk kepemimpinan, harus tegas dan adil." nasehat ibu.


"Semoga saya selalu bisa seperti itu bu, Andrea selalu berupaya yang terbaik." jawab Andrea dan disambut usapan lembut dibahunya dari ibu Rima.


"Ibu yakin dan percaya kamu bisa, sekarang istirahat dulu, kamu pasti lelah dari perjalanan jauh dan belum sempat istirahat."


"Ibu juga lekas istirahat ya, selamat malam ibu, selamat istirahat." Pamit Andrea dijawab anggukan oleh ibu Rima.


**


Ponsel Andrea berdering saat ia bersiap diri hendak pergi untuk menyalurkan hobi memotretnya. Dilayar ponsel tertera nama Danisa.


"Hallo Dan.." sapa Andrea.


"Hai Dre, kamu jadi datang ke panti?" tanya Danisa diseberang telpon.


"Iya, kenapa? mau ketemu?" tanya Andrea.


"Sumpah deh Dre, pertanyaan kamu kaya orang ngajak gelud." Andrea tertawa mendengar perkataan sahabatnya.


"Ada-ada saja kamu Dan.." kata Andrea masih dengan tawanya.


"Ketemu yuk, ditempat biasa ajah lagi pengen cuci mata." ajak Danisa.


"Iya deehh, demi sahabat yang lama tidak bertemu gegara sudah disibukkan dengan suami, aku mau ketemu, tak jadi aku jelajah hutannya."


"Iya, maap yaa, ganggu kesenangan kamu."


"Ketemu sama kamu juga kesenangan kali Dan, ya sudah aku berangkat sekarang saja, nanti kalau kamu sudah ditempat telpon aja ya." usulan Andrea diterima Danisa, lalu pembicaraan pun diakhiri, dan Andrea segera pergi setelah berpamitan dengan ibu Rima dan yang lain.


Ya, Danisa mengajak Andrea bertemu di mall tempat mereka hang out dari masih sekolah dulu, kini Andrea telah berada ditempat tersebut dengan kamera yang tetap dibawanya, sambil menunggu Danisa datang ia membidikkan kameranya ke obyek yang sangat menarik perhatiannya.


Denting notifikasi pesan masuk diaplikasi pengiriman pesan ponsel Andrea berbunyi beberapa kali, ia pun segera mengambil ponsel dari tasnya, karena ia sedang menunggu Danisa, mungkin itu pesan darinya karena sudah sampai.


"Nomor baru" gumam Andrea sambil membuka pesan gambar yang dikirim oleh nomor asing tersebut.


Andrea begitu terkejut karena gambar yang dikir ke ponselnya adalah foto-foto dia saat asyik mengambil obyek gambar dengan kameranya, ia ingin melihat foto profil pengirim tapi yang ada hanya foto animasi yang mungkin itu animasi kegemaran sang pengirim. Andrea pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling ia duduk, tapi sepertinya nihil karena tak berhasil menemukan orang yang mungkin dikenalnya.


Ponsel Andrea berdering karena panggilan dari nomor tak dikenal tadi, tapi baru mau diangkat sudah dimatikan dahulu, dan itu membuat Andrea mulai tersulut emosi melihat raut mukanya yang mulai memerah, saat hendak pergi dari tempat duduknya kembali ponselnya berdering bersamaan dengan seseorang yang duduk disebelahnya, karena bangku tempat ia duduk agak panjang.


"Siapa sih ngajak bercanda seperti ini?" gumam Andrea sambil melirik ke seseorang yang baru duduk disebelahnya itu, ia begitu kaget saat melihat ponsel orang itu menyala dengan gambar profil dirinya yang tertera, berbarengan dengan ponsel Andrea yang tetap berdering, dengan memberanikan diri, Andrea membuka topi yang menutupi kepala orang disebelahnya itu,


"Arik?!" seru Andrea saat mengetahui siapa yang telah mengganggunya, sementara Alarik hanya tersenyum jahil, sedang Andrea masih merasa kesal.


"Puas-puasin deh tertawanya." Andrea menatap Arik dingin dan kesal.


"Iya maaf mbak, habis surprise banget bisa ketemu mbak di sini." kata Arik masih dengan senyum lebarnya.


"Aku yang lebih surprise, kaya orang diteror tau gak? Untung kamu, kalau benar peneror, udah habis kuhajar dari tadi." kata Andrea masih pasang muka datarnya.


"Bar-bar banget sih mbak." protes Arik


"Biarin! salah sendiri buat kekacauan."


"Iya-iyaa, aku minta maaf, aku cuma mau seru-seruan, eh ternyata mbak tidak bisa diajak guyonan." Andrea memutar bola matanya malas, kemudian segera menyadari satu hal.


"Sudah mbak, iya lain kali tidak bercanda sama mbak, kayaknya mbak Andrea terlalu serius orangnya, untung wajahnya tetap awet muda walaupun orangnya seserius itu." Arik berkata sambil memandang kearah lain, dan ia tiba-tiba mendapat tepukan dilengannya begitu keras, siapa lagi kalau bukan Andrea pelakunya.


"Ngomong sama kamu susah diajak serius!" seru Andrea.


"Yah elah mbak, masak hidup dibuat tegang terus sih, dikerjaan sudah kelewat serius mbak, jadi saat tidak kerja jangan terlalu serius, ada kalanya dibuat santai mbak biar awet muda." kembali Andrea dibuat bernafas dalam-dalam oleh Arik


"Iyaa bapak prajurit yang terhormat, tapi memang aku sudah terlalu tua sih saat sama kamu." Andrea menutup muka menahan tawa, seolah malu dengan perkataannya sendiri.


"Masih kelihatan sepantaran mbak." Lagi-lagi Arik mendapat pukulan dilengannya.


"Sudah ah, makan dulu yuk mbak! Lama-lama badanku remuk dipukul terus sama mbak." Arik menarik tangan Andrea menuju sebuah resto di mall tersebut, sementara Andrea tertawa kecil mendengar pernyataan Arik.


Yah, Arik dan Andrea memang orang yang mudah bergaul, jadi mereka bisa langsung akrab walau baru bertemu kedua kalinya.


Saat mereka menunggu pesanan datang, Andrea membidikkan kameranya kearah Arik yang sedang berkutat dengan ponselnya.


"Arik!" panggil Andrea, spontan Arik melihat ke suara si pemanggil dan saat itu pula Andrea menekan tombol kameranya, setelah itu ia memeriksa hasilnya.


"Wow! candid aku sukses." Senyum lebar menghias wajah manis Andrea saat melihat hasil fotonya yang memuaskan.


"Orang tampan memang beda auranya mbak." goda Arik melihat senyum puas diwajah Andrea selepas mencuri ekspresi alaminya, sementara gadis itu hanya memutar bola matanya malas.


"Iyaa. Tauuu.!" bersamaan dengan itu ponsel Andrea berdering lalu ia segera mengambil ponselnya.


"Hallo Dan!" sapa Andrea kepada si penelpon, dan kemudian terjadi percakapan keduanya, tak lama ponsel dimasukkan kembali kedalam tas tanda percakapan selesai. Rupanya Danisa sudah sampai dan menanyakan keberadaan Andrea dimana.


"Pacar mbak?" tanya Arik setelah Andrea selesai berbicara dan memasukkan ponsel kedalam tasnya.


"Kepo saja apa kepo banget?" tanya Andrea.


"Banget"


"Nanti juga tahu"


"Pelit banget sih mbak" kata Arik sedikit kecewa, dan bersamaan dengan itu pesanan pun datang.


"Selamat menikmati kak" kata waiters setelah selesai menaruh semua pesanan, dan dijawab anggukan keduanya.


"Sudah, makan dulu yuk. Nanti saja keponya." Andrea segera menyantap makanannya begitu juga Arik.


Mereka hampir selesai menyantap makan siang mereka saat ada seorang lelaki mendekati meja mereka.


"Dre.." sapa lelaki itu, dan spontan keduanya menengok ke sumber suara.


"Daniel!" seru Andrea sambil matanya mencari-cari keberadaan seseorang, tapi belum ia menemukan sosok yang dicarinya, matanya menangkap ekspresi berbeda dari Arik, senyum yang sedari tadi terkembang dibibirnya seketika sirna saat kedatangan Daniel.


Terlihat Arik beranjak dari tempat duduknya dan bersamaan dengan itu datang Danisa tergopoh menghampiri meja mereka.


"Hati-hati jalannya sayang jangan tergesa begitu!" Daniel begitu khawatir melihat Danisa berjalan cepat-cepat, tapi bukannya merespon perkataan suaminya Danisa malah segera berpelukan dengan Andrea.


"Kangen banget tau gak sih say." kata Danisa memeluk Andrea erat-erat, begitupun sebaliknya


"Dikira cuma kamu saja? kamu sih waktunya habis buat Daniel" seloroh Andrea membuat mata Daniel melotot.


"Ya kali istriku mau menghabiskan waktunya sama kamu terus Dree..!" seru Daniel dan hanya ditanggapi tawa kedua wanita yang sedang melepas kangen itu.


"Bisa diceritakan Dre?!"


"Bisa diceritakan Dan?!" kedua sahabat itu berbarengan bertanya saat Danisa melihat Arik dan Andrea merasa ada yang berbeda dengan Danisa.


...****************...


Ditunggu like dan komennya ya readers tercinta