
Keempatnya melanjutkan jalannya menyusuri setiap sisi mall yang menarik minat mata mereka, hampir dua jam berada ditempat itu membuat Andrea yang hari itu hendak menyalurkan hobi fotografinya mulai terlihat jenuh, karena ia ingin jelajah alam, bukan dikeramaian seperti ini, demi Danisa ia rela membatalkan keinginan yang sudah ia rancang dari sebelum datang ke kota ini.
"Dan, masih ada yang ingin kamu cari?" tanya Andrea
"Sudah tidak lagi sih Dre, kenapa?
"Pulang yuk! bosen nih." Usul Andrea
"Ditemani brondong ganteng begitu kok bosen." bisik Danisa menggoda Andrea, sementara yang digoda hanya menatapnya kesal membuat Danisa tersenyum dikulum.
"Aku cabut dari sini ya, mata dan tangan sudah gatal pengen cari obyek yang tenang." ungkap Andrea, dan Danisa yang tahu kegemaran baru sahabatnya itu hanya menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih sudah mau menemaniku ditempat menjenuhkan ini ya bu direktur" kembali Danisa menggoda sahabatnya sambil cipika cipiki. Daniel yang sedari tadi bicara dengan Arik terlihat heran melihat kedua bersahabat didepannya.
"Loh Dre, mau pulang ya?" tanya Daniel.
"Iya Dan, sudah terlalu lama aku stag ditempat ini, membuat pikiranku tambah kusut." Andrea menjawab dengan disertai candaan.
"Mau masuk hutan ya?" canda Daniel
"Begitulah Dan"
"Terimakasih buat waktu luangnya untuk istriku ya Dre, maaf mengganggu waktu luangmu yang tentunya sangat berharga itu." ungkap Daniel.
"Apaan sih Dan, santai saja kali, mana mungkin aku mengabaikan keinginan sahabatku ini, mumpung aku disini juga kan, karena sekarang akan jadi kesempatan yang langka bisa jalan seperti ini. Justru aku yang minta maaf sudah tidak sanggup lagi melanjutkan jalan-jalan kita ditempat ini." kata Andrea sambil merengkuh tubuh sahabatnya yang berdiri disampingnya.
"Sudah, tidak apa. Kita saling pengertian saja kuncinya, karena sekarang memang sudah waktunya punya kehidupan sendiri-sendiri, semoga kamu segera menyusul ya Dre, berumah tangga itu asyik loh." Danisa kembali melontarka candaannya.
"Bantu do'a semoga segera didekatkan jodohku." timpal Andrea.
"Aamiin.." jawab ketiga orang didekat Andrea kompak.
Setelah itu Andrea pergi dari tempat itu diikuti Arik yang masih ingin berlama-lama menghabiskan waktu dengan Andrea.
"Kenapa mengikutiku?" tanya Andrea.
"Lebih menarik ikut mbak jelajah hutan daripada ditempat ini."
"Bukannya tadi kalau tidak ketemu aku juga lebih suka menjelajah tempat ini."
"Ya, itu kan tadi mbak, sekarang lain cerita."
"Terserahlah." kata Andrea akhirnya. Mereka sudah sampai ditempat parkir sepeda motor, dan segera mengambil motor masing-masing, Andrea melaju dahulu diikuti Arik yang semakin penasaran saja dengan Andrea. Tanpa mereka sadari rupanya ada mata yang nengawasi mereka dengan tatapan tidak suka, terlihat tangannyq mengepal begitu erat dan wajah yang menahan amarah.
***
Andrea memarkir motornya diarea taman kota yang bersebelahan dengan alun-alun kota itu. Karena hari sudah memasuki waktu sore Andrea memilih tempat itu untuk menyalurkan hobinya yang tertunda.
Area itu pun nampak ramai dengan kedatangan orang yang ingin mengisi waktu sore mereka dengan banyak hal. Ada yang olahraga sore, ada yang sekedar jalan-jalan, cuci mata dan mengajak bermain anak-anaknya bagi orang tua yang datang dengan anaknya.
Dipersiapkannya Kamera Andrea untuk memulai membidik obyek yang menarik matanya, sementara Arik tetap berada didekatnya mengamati kesibukan Andrea.
"Tidak jenuh dari tadi didekatku terus?" tanya Andrea tanpa menatap ke orang yang ditanyai karena ia lebih sibuk dengan kameranya.
"Didekatmu aku tidak pernah merasa jenuh mbak." jawab Arik.
"Gombal" sahut Andrea.
"Kamu tidak ada jadwal masuk kerja hari ini? perasaan seharian ini ngintilin aku melulu." Andrea mulai membidikkan kameranya ke obyek yang menarik hatinya.
"Nanti aku piket malam mbak, jadi seharian ini aku bebas ngikutin mbak Andrea, besok kan mbak masih libur, boleh dong aku menemani mbak cari obyek foto yang bagus." Arik menawarkan diri
"Besok kamu juga habis piket malam, buat istirahat saja lah, sayangi badan mumpung masih sehat, kalau sudah tua baru ngerasain nanti efek waktu muda gak sayang badan." nasehat Andrea.
"Memang mbak pernah tua ya kok kayaknya sudah pengalaman begitu?" Arik bertanya tetapi hanya berniat menggoda Andrea dengan mimik seriusnya,dan terlihat Andrea setengah kesal tetapi tetap membidikkan kamera ke obyek sasaran, lalu dengan cepat mengalihkan kameranya ke arah arik saat mendengar pertanyaan dari lelaki tersebut.
Klik!! Andrea memencet tombol kameranya untuk mengambil gambar Arik, setelah itu ia menurunkan kamera kepangkuannya
"Ya tidak begitu juga adek Alarik yang paling ganteng disini..!!" seru Andrea menanggapi candaan Arik
"Wisshhh... aku serasa terbang ke langit dipuji sama mbak." canda Arik sambil tertawa.
"Padahal cuma dipuji paling ganteng disini, ya iyalah cuma ada aku sama kamu, masa iya aku ganteng, nahh kalau satu lapangan itu belum tentu juga kamu paling ganteng."
"Iya-iya, mbak Andrea yang cantik sedunia." Andrea langsung memukul lengan Arik dengan bersemangat sampai Arik sempat meringis menahan nyeri.
"Gila, tenagamu mbak." heran Arik, sementara sang pelaku hanya angkat bahu acuh sambil kembali sibuk dengan kameranya, bersamaan dengan itu ponsel Andrea berdering, segera diambil ponsel dari dalam tasnya terlihat nama Randy dilayar kemudia segera diangkatnya panggilan itu.
"Hallo selamat sore pak Randy!" sapa Andrea, lalu terjadi pembicaraan yang begitu serius antara Andrea dan Randy, tak berapa lama pembicaraan pun berakhir.
"Dari atasan ya mbak?" tanya Arik.
"Bukan, dari asisten aku." jawab Andrea sambil mengemasi kameranya, karena pikiran yang tidak singkron, Andrea yang semula hendak menjawab iya, malah menjawab seperti tadi.
"Ooh begitu, sudah tua ya orangnya." kepo Arik
"Enggaklah, cuma diatasku lima tahun, sudah ya aku mau pulang dulu, besok aku balik ke kota sebelah ada urusan urgent pekerjaan, tidak bisa lama-lama lagi disini." Andrea beranjak dari duduknya setelah berpamitan dengan Arik, tanpa menunggu jawaban Arik ia langsung melangkahkan kakinya menuju tempat parkir, Arik pun cepat-cepat mengikutinya.
"Pulangnya kapan mbak?" tanya Arik saat berhasil mengejar Andrea.
"Mungkin nanti habis maghrib kalau tidak besok pagi habis subuh" jawab Andrea sambil mengenakan helmnya.
"Besok pagi saja aku antar mbak, jangan berkendara dengan pikiran kemana-mana mbak, aku lihat mbak panik setelah dapat telepon tadi." Arik bicara kenyataan yang dilihatnya.
"Aku tidak apa-apa kok Rik, tenang saja kamu, terimakasih sudah berniat baik, tapi aku tidak mungkinlah ngerepotin kamu, lagian kamu nanti malam juga masuk piket.
"Aku bisa minta ijin pulang cepat kok, aku antar ya mbak, jujur aku khawatir lho dengan perubahan mbak." Arik memaksa untuk mengantar Andrea pulang, sementara Andrea masih diam apakah mau menerima tawaran Arik atau tetap bersikeras pulang sendiri walaupun ia tidak yakin bisa berkendara dengan aman dalam kondisi pikiran kacau seperti ini.
"Bagaimana kalau aku ingin pulang saat ini?" tanya Andrea sendu.
"Boleh, aku akan ijin atau minta aplus dengan rekan yang lain."
"Janganlah Rik, aku tidak mau merusak reputasi dan dedikasi kerja kamu, biar sopir panti yang mengantarku." Andrea halus menolak. Lalu Arik mengambil ponselnya dan menelpon seseorang, setelah selesai ia menelpon seseorang lagi, tak berapa lama ia sudah selesai dengan pembicaraannya.
"Sudah mbak, aku sudah minta ijin langsung ke atasan, juga telpon rekan aku, aku bisa menggantinya saat aku punya jatah libur pekan depan. Dan akhirnya Andrea menerima tawaran Arik untuk mengantarnya pulang.
Lalu keduanya segera pulang kerumah masing-masing untuk mempersiapkan perjalanan pulang Andrea ke kota sebelah selepas maghrib nanti.
...****************...
Baca juga ceritaku yang lain ya readers, judulnya Dokter&Petani baru enam episode, karena aku lebih fokus disini dulu.
Jangan lupa like komennya ya, tidak memaksa juga sih karena aku hanya ingin menyalurkan hobi berkhayalku disini bila banyak yang suka, terimakasih sekaliii 🤗😘