Andrea

Andrea
Duka keluarga Abimana.



Beberapa menit perjalanan akhirnya Xander sampai dirumah Andrea, Xander hendak keluar dahulu untuk membukakan pintu buat Andrea, tetapi gadis itu mencegahnya.


"Tidak usah Xen, biar aku buka sendiri." pinta Andrea.


"Ooh, oke." jawab Xander, tapi saat Andrea hendak membuka pintu untuk keluar, Xander mencegah.


"Tunggu sebentar Dre! aku lupa mau membicarakan ini sama kamu, sebentar saja tidak sampai sepuluh menit." Xander bicara dengan tatapan penuh harap, dan Andrea tak kuasa untuk menolaknya.


"Bicaralah!" Ijin Andrea.


"Sebelumnya aku minta maaf apabila nanti ada perkataanku yang menyinggung, ini tentang abang Arsh.." Andrea langsung menghela nafasnya panjang dan kasar saat mendengar apa yang di bicarakan Xander.


"Please! don't angry Dre. Aku lihat ada cinta yang kuat dimata kalian, aku sadar kamu tak akan bisa menerimaku dihatimu, untuk itu aku akan lupakan perasaanku yang pernah tumbuh untukmu, mungkin saat ini kamu belum bisa menerima bang Arshlan kembali karena berbagai sebab, tapi aku yakin cinta kalian suatu saat akan berakhir bahagia." Penjelasan Xander membuat sikap Andrea sedikit melunak, tatapan matanya tidak sedingin tadi.


"Akankah keyakinanmu itu menjadi nyata Xen? sedangkan aku sendiri sudah merasa putus asa, karena benteng pembatas antara aku dan Arsh juga tidak adanya perjuangan dari Arsh untuk meruntuhkan benteng itu, saat ini aku hanya bisa pasrah apapun takdir hidup aku, toh kalaupun aku kukuh berjuang sendiri itu tak akan pernah berhasil." terdengar kata putus asa dari ucapan Andrea.


"Yakinkan diri kamu, kamu berhak bahagia sesuai harapan kamu Dre, walaupun tidak dalam waktu dekat ini. Yang terpenting saat ini kesehatan papa kamu lebih utama." Xander menepuk-nepuk pelan bahu Andrea untuk memberikan kekuatan dan dukungannya, dengan senyum tulus dibibirnya.


"Terimakasih dukungannya Xen, dan terimakasih atas pengertiannya." ucap Andrea sambil menatap Xander dengan senyum tipis terulas dibibirnya, tanpa mengucap apapun Xander hanya membalas senyum Andrea dan anggukan kepalanya, kemudian Andrea keluar dari mobil, dan Xander segera melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Andrea diiringi lambaian tangan dari gadis itu, Andrea pun segera masuk ke rumah untuk sejenak mengistirahatkan hati dan pikirannya sebelum ia kembali ke rumah sakit.


Belum lama Andrea mengistirahatkan badannya, poselnya bedering, rupanya Eira kakak iparnya yang menelponnya, Andrea diminta balik ke rumah sakit karena papanya terus mencari dan menyebut nama Andrea, segera Andrea beranjak dari tempat tidurnya dan menuju garasi untuk mengambil motornya untuk dibawa ke rumah sakit agar cepat sampai.


Beberapa menit berlalu Andrea sudah sampai dirumah sakit kembali, dan ia setengah berlari menuju ruang dimana papanya dirawat, setelah menaiki lift melewati empat lantai sampailah Andrea, ia begitu khawatir perasaannya tidak menentu.


"Papa!" seru Andrea sambil membuka pintu, tapi dilihatnya keluarganya terlihat duduk tenang disofa ruang tunggu, kekhawatirannya seketika sirna, dengan air mata yang siap menetes Andrea mendekati ranjang tempat papa Arga berbaring.


"Maafin Dre tlah berpikir terlalu jauh pa." batin hati Andrea. Diraihnya tangan papanya lalu dicium bertubi-tubi, sampai Andrea tidak menyadari siapa yang duduk dikursi samping ranjang, sampai akhirnya dia sadar ketika pintu terbuka dibarengi seruan sebuah suara seperti saat ia datang tadi. Andrea spontan melihat kearah sumber suara, yang dilihatnya telah mendekat kearahnya.


"Kak Andra?!" serunya dengan gumam tidak jelas, lalu Andrea melihat ke sosok lelaki yang telah duduk sejak sebelum ia datang, betapa terkejutnya Andrea saat tahu siapa lelaki itu


"Arshlan?!" gumamnya dengan tatapan tidak percaya, sementara Arshlan yang juga menatap Andrea memasang senyum manisnya dan membuat Andrea terpana untuk beberapa saat dan tersadar saat tangan papa yang ada dalam genggaman anak gadisnya itu bergerak minta dilepaskan.


"Maaa.." suara pelan papa memanggil sang istri, dan dengan segera mama Arini mendekat juga ke ranjang perawatan.


"Tolong jaga anak-anak dan cucu-cucu kita ya ma, maaf bila papa sudah membebani mama dengan tanggung jawab yang besar." suara pelan papa Arga tertatih saat bicara kepada mama Arini.


Mendengar apa yang dibicarakan suaminya, perasaan dan tubuh mama Arini panas dan menegang, pandangan matanya mulai mengabur dengan tumpukan air mata siap menetea andai mama mengedipkan matanya.


"Papa bicara apa pa? kita akan menjaga anak cucu kita bersama-sama pa." Pertahanan mama Arini runtuh, bersamaan dengan ia bicara isak tangis dan air mata ikut menyertainya.


"Jangan menangis ma, papa juga masih akan selalu menjaga kalian." pelan suara papa Arga melarang istrinya mengeluarkan air mata, gerak pelan tangan papa Arga menghapus air mata mama yang terus mengalir tanpa perintah, terlihat papa menggeleng pelan.


"Aku ingi selalu melihat Arini yang tegar." kata papa, dan mama pun hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa mampu berkata-kata lagi, dengan tetap menatap wajah suaminya yang terlihat lebih beebinar bahagia walau dengan kondisi kesehatan yang menurun.


Terlihat tangan papa meraih tangan Andrea yang berada disisi kanan ranjang, dan meraih tangan Arshlan yang berada di kiri ranjang, disatukannya kedua tangan itu dan dipeluknya dengan erat.


"Papa ingin kalian hidup bahagia." kata papa dan Andrea serta Arshlan tidak mampu bicara apapun hanya saling menatap satu sama lain seolah tak percaya dengan ucapan papa.


"Biarkan anak gadis kita bahagia dengan pilihan hatinya ma." mama pun tanpa bisa bicara hanya menangis dan melingkarkan tangannya memeluk dada dan menempelkan kepalanya ke kepala papa dengan isak tangis yang sulit untuk ditahan.


"Aku akan mendukung apapun keputusan papa demi kebahagiaan keluarga kita pa, papa jangan bicara macam-macan lagi, papa harus segera sembuh, kita akan menyaksikan cucu-cucu kita lahir dan kita akan menghabiskan masa tua kita dengan mendengar tawa ceria dan rengekan manja mereka, papa kuat papa harus cepat sembuh." kata demi kata yang mama ucapkan dibarengi dengan isak tangis yang sudah tidak bisa tertahan, Andrea dan Arshlan hanya mampu tertegun tegang dengan adegan didepan mata mereka, Andrea dengan linangan air matanya, sedang Eira hanya mampu menyembunyikan tangis di dada suaminya, sedang wajah Andra terlihat memerah dengan mata berkaca-kaca dan memeluk istrinya dengan erat.


Mama masih memberikan semangatnya untuk papa, dan papa hanya mengelus kepala mama yang tertunduk dekat dadanya dengan pelan.


"Arshlan yang melihat Andrea begitu rapuh perlahan mendekatinya, dielusnya dengan pelan punggung gadis yang selalu bertahta dihatinya itu. Andrea yang sudah tidak kuat menahan kesedihannya langsung memeluk Arshlan dan menumpahkan tangisannya di dada lelaki tegap itu, dan Arshlan hanya bisa mengusap kepala serta punggung Andrea untuk memberinya dukungan.


"Papaa...!" seru mama membuat semua mata teralih, mama memeluk papa dengan tangis pilunya sambil menekan tombol pemanggil tenaga medis. Andra yang melihat monitor pendeteksi jantung dan denyut nadi memperlihatkan garis datar segera menghampiri papanya yang terbaring diam tak lagi ada gerak apalagi suara.


Pecah suara isak tangis memenuhi ruangan itu, terdengar pintu terbuka dengan tergesa dan masuklah dokter dan perawat, segera diperiksanya kondisi pasien, sementara keluarganya berdiri diseberang agar tak mengganggu dokter yang sedang memeriksa.


"Siapkan alat kejut!" perintah dokter, segera perawat menyiapkan permintaan dokter, dan tidak butuh waktu lama peralatan siap, dokterpun segera melakukan kejut jantung, beberapa kali dicoba tetapi hasilnya nihil, dokter pun pasrah, ia sudah melakukan usaha semaksimal mungkin untuk mengembalikan detak jantung papa Arga, tetapi tidak berhasil.


"Maaf, kami sudah berusaha tetapi rupanya Tuhan berkehendak lain, semoga keluarga bapak Abimana diberikan ketabahan mendapatkan musibah ini, kami turut berduka cita." kata dokter dengan suara pelan, dan pecahlah tangis diruangan itu, terutama mama Arini, Andrea dan Eira, sementara Andra dan Arshlan hanya terisak seolah tak percaya papanya sudah meninggalkan mereka untuk selamanya.


...****************...