
Xander kembali ke kantornya setelah acara makan siang selesai, setelah hanya menurunkan pak Aris, Xander memerintahkan sopirnya untuk menjalankan kembali mobilnya.
"Loh pak, mau kemana lagi kita? Ini sudah waktunya masuk, kalau sampai teman-teman yang lain tahu bisa makin parah mereka tidak suka kepada saya." kata Kinanti denga tatapan tanya penuh heran.
"Tidak usah memikirkan mereka, toh kamu perginya bersama saya." Xander membesarkan hati Kinanti dan sekretarisnya itu. Akhirnya Kinanti hanya pasrah saja dengan kemauan Xander saat ini.
**
"Loh pak kita mau kemana kok lewat sini!" tanya Kinanti penasaran saat mobil yang mereka tumpangi mengarah ke jalan tempat tinggalnya.
"Saya ingin mendatangi suatu tempat, nanti kamu akan tahu kalau kita sudah sampai." jawab Xander enteng dan Kinanti hanya diam tak berani bertanya-tanya lagi, karena saat ini terlihat Xander sedang mode sangat serius.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti di pinggir jalan di depan rumah yang sudah tidak asing bagi Kinanti, karena sekarang mereka berhenti di depan tempat tinggalnya.
"Kok berhenti di sini pak?" tanya Kinanti tidak mengerti.
"Karena kita sudah sampai, ayo kita turun!" ajak Xander setelah menjawab pertanyaan Kinanti.
"Memangnya kita mau kemana pak?" Kinanti masih saja bertanya.
"Maka dari itu, segeralah turun agar kamu bisa segera tahu jawaban dari pertanyaan kamu itu." jawab Xander serius sambil membuka pintu dan segera turun dari mobilnya, dan dengan terburu-buru Kinanti mengikuti atasannya itu turun dari mobil.
Kinanti melihat Xander berjalan menuju halaman rumahnya, dan dengan serta merta ia mengikuti langkah Xander.
"Kita mau bertamu ke rumah ini pak?" kembali sebuah pertanyaan meluncur dari mulut Kinanti.
"Iya." jawab Xander singkat.
"Memangnya bapak tahu ini rumah siapa?" tanya Kinanti lagi.
"Ini rumah dari sekretaris saya yang saat ini sangat banyak tanya." jawab Xander sambil menatap Kinanti dengan sangat intens, Kinanti yang mendapat tatapan sedalam itu hanya mampu menundukkan wajahnya.
Lalu dengan terburu-buru ia meninggalkan Xander yang masih diam berdiri.
"Tante, assalamu'alaikum!" sapa Kinanti sambil membuka pintu depan yang tidak di kunci.
"Wa'alaikum salam!" jawab suara dari dalam rumah membalas salam dari Kinanti.
"Loh Nan, kok tumben pulang secepat ini? Ini kan belum jam pulang kantor, kamu tidak apa-apa kan?" tanya tante Diah sambil meraba-raba dahi Kinanti untuk mengecek suhu badannya.
"Aku tidak apa-apa tante, aku sehat. Tidak usah diperiksa seperti itu." Kinanti menjauhkan tangan tantenya agar berhenti mengecek suhu badannya.
"Lalu kenapa sudah pulang saat masih jam segini, ini kan belum waktunya pulang? kalau dapat surat peringatan dari atasanmu bagaimana karena tidak disiplin waktu kamu?".tanya tante Diah tak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Kinanti pulang karena saya yang ajak bu." Tiba-tiba suara Xander terdengar menanggapi kekhawatiran tante Diah.
"Loh kamu ini siapa?" tanya tante Diah terlihat terkejut tiba-tiba ada lelaki asing berada di rumahnya. Kinanti hanya menatap tak enak kepada Xander dan juga tantenya secara bergantian.
"Syukurlah Kinanti, akhirnya kamu mengenalkan pacar kamu kepada kami, sayangnya om dan Hani tidak ada di rumah, kalau ada mereka pasti akan sangat bahagia melihat kamu bawa pulang kekasih kamu untuk di kenalkan kepada kami semua." seru tante Diah dengan kegirangan.
"Tante, ini tidak seperti yang tante pikirkan lho." Kinanti berusaha memberi penjelasan kepada tantenya tapi tampaknya tante Diah sudah tidak memperhatikan Kinanti lagi karena sibuk memperhatikan Xander.
"Bu, sebelumnya saya minta maaf kepada ibu bila saya telah lancang datang kemari tanpa memberi tahu ibu sekeluarga terlebih dahulu." tutur kata Xander sangat sopan masuk telinga tante Diah.
"Ya nak Xander tidak apa, tidak perlu sungkan begitu." kata tante Diah sungguh-sungguh tidak berniat mencari muka terhadap Xander.
"Bu, saya datang ke sini karena hendak meminta ijin kepada ibu sekeluarga kalau malam ini saya ingin mengajak Kinanti datang ke acara pengajian empat bulan kehamilan saudara saya bu." Dengan sopan Xander mengutarakan maksud dari kedatangannya.
"Ooh, boleh nak, asal pulangnya jangan sampai larut malam, maksimal jam sepuluh harus sudah pulang, kalau sampai lebih dari waktu yang saya tentukan, besok jangan kembali lagi dan berani mengajak anak gadis kami lagi." ijin keluar dari tante Diah, tapi juga keluar sebuah ultimatum agar Xander bisa menepati persyaratan dari tantenya.
"Tentu bu, saya pun tidak akan mengajaknya pergi lewat jam sepuluh malam, karena begitu selesai acara saya akan langsung mengajak Kinanti pulang." Xander berkata menenangkan hati tante Diah.
"Kalau begitu bersiaplah Nan, agar kalian bisa pulang lebih cepat nanti." perintah tante Diah tanpa bisa di tolak oleh Kinanti, dengan hati sedikit mendongkol Kinanti masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian yang pantas guna menghadiri acara pengajian.
Saat Kinanti masuk ke dalam kamarnya, tante Diah pun masuk ke dalam mengambilkan minuman untuk Xander.
Tak berapa lama, Kinanti telah kembali ke ruang tamu dan sudah berganti pakaian yang lebih sopan dan tertutup, tak lupa Kinanti memakai kerudung selempang yang disematkannya dengan peniti agar kerudung yang ia pakai tetap menutupi kepalanya.
Xander tidak bisa menutupi kekagumannya, karena saat itu Kinanti terlihat sangat anggun. Penampilan Kinanti yang belum pernah ia lihat sebelumnya dan itu membuat seorang Xander begitu tersihir dengan pesona Kinanti.
"Bu, kami berangkat dulu. Sampaikan ijin saya buat bapak saat beliau pulang nanti, sampaikan maaf saya juga karena tanpa ijinnya saya berani membawa pergi Kinanti." Xander berpamitan dan juga meminta permohonan maaf untuk om Kinanti.
"Hati-hati di jalan untuk kalian, nanti saat om pulang akan tante sampaikan semua perkataan kamu untuknya." kata tante Diah sungguh ramah menanggapi kesopanan yang Xander perlihatkan.
"Terima kasih bu, kami berangkat." kata Xander sambil mencium punggung tangan tante Diah dan diikuti oleh Kinanti.
Lalu keduanya segera pergi meninggalkan rumah tinggal Kinanti menuju tempat diadakannya pengajian yang Xander maksud.
**
"Bapak pintar juga ya memainkan sandiwara bapak di depan tante saya." kata Kinanti memecah kesunyian saat mereka dalam perjalanan.
"Sandiwara apa maksud kamu Kinanti?" tanya Xander kurang mengerti perkataan Kinanti.
"Apa yang bapak katakan terhadap tante saya tadi seperti tidak tulus, sepertinya itu hanya trik bapak agar dapat ijin dari tante saya untuk membawa saya pergi." jawaban Kinanti semakin menjelekkan Xander
"Saya tidak butuh penilaian dari seseorang tentang apa yang saya lakukan. Saya hanya menuruti kata hati saya, selama itu baik saya akan lakukan itu dengan sebaik mungkin, tetapi bila itu sebuah kejelekan, mudah-mudahan hati saya masih selalu bisa menuntun saya kembali ke jalan yang benar agar selalu ingat kebaikan." Kata Xander tenang tak tersulut emosi dengan perkataan Kinanti yang jelas-jelas dapat memancing emosinya.
Kinanti tak bisa berkata-kata lagi mendengar apa yang telah Xander ucapkan, ia jadi merasa malu telah menuduh Xander bersandiwara.
...****************...
Selamat membaca semuanya 🥰