
Xander melihat Kinanti telah kembali ke ruang kerjanya, lalu ia pun segera menelpon Kinanti untuk datang ke ruangannya. Tak lama Kinanti pun datang ke ruang kerja Xander dengan pasang wajah datar tak seperti biasanya, ramah.
"Kinanti sebentar lagi kamu ikut saya untuk datang ke sebuah acara makan siang." kata Xander saat Kinanti sudah ada di depannya.
"Maaf pak, bukannya ada pak Aris yang biasa menemani anda ya?" tanya Kinanti konyol dengan wajah datarnya. Jelas-jelas dia yang lebih sering di ajak untuk kegiatan luar kantor karena dia adalah sekretaris Xander.
"Saya akan ajak pak Aris juga, seperti biasa kalau saya ada acara di luar pasti ajak kalian berdua kan?" kata Xander membuat wajah Kinanti memerah menahan malu, karena tidak ingat kalau ia yang lebih sering diajak oleh Xander.
"Ehm, baik pak, saya akan bersiap. Permisi." dengan segera Kinanti beranjak dari tempat ia berdiri untuk segera meninggalkan ruangan itu karena khawatir Xander memergokinya yang sedang memerah wajahnya karena malu.
"Kenapa aku jadi terlalu ke GR an begini sih? Bukannya pak Xander kalau ada agenda keluar pasti ajak pak Aris dan aku, karena aku kan sekretarisnya, oohh...! Bodohnya aku bicara seperti tadi. Ini semua juga gara-gara pak Xander, coba dia tidak menjadikanku ajang pelampiasannya, pasti pikiranku jernih, enggak yang aneh-aneh." gumam pelan Kinanti sambil berjalan menuju ruang kerjanya.
Kemudian ia segera bersiap sesuai perintah atasannya, di tinggalnya semua makanan yang di bawanya dari kantin, tetapi sayang kalau sampai makanan itu basi, Kinanti memanggil Gilang melalui telpon untuk ke ruang kerjanya.
"Ada apa mbak memanggil saya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Gilang saat sudah berada di dalam ruang kerja Kinanti.
"Ini mas, saya ada banyak makanan, tapi ternyata pak Xander ada agenda keluar sekalian makan siang di luar kantor, jadi makanan ini buat mas Gilang saja sama teman-temannya." Kinanti menjelaskan maksudnya sambil menyerahkan beberapa kantong makanan kepada Gilang.
"Terima kasih mbak, tapi ini banyak sekali." Gilang menerima kantong makanan itu dengan wajah berbinar.
"Iya makanya daripada basi karena saya tinggal, makanya saya panggil mas Gilang buat bantu saya makan makanan yang sudah saya bawa ini." kata Kinanti.
"Sekali lagi terima kasih banyak ya mbak Kinan, semoga rezeki mbak Kinan semakin lancar jadi sering-sering bawakan kita makanan seperti ini." harap Gilang
"Aamiin, terima kasih do'anya mas." Kinanti menanggapi do'a harapan dari Gilang dengan binar bahagia. Lalu Gilang pun berpamitan untuk kembali ke tempat kerjanya.
Xander melihat Gilang keluar dari ruang kerja Kinanti dengan binar bahagia berarti Kinanti memperlakukan Gilang dengan baik pula, apalagi di tangan Gilang menenteng beberapa kantong makanan.
"Dengan petugas kebersihan bisa baik begitu, sedang sama aku malah kurang sopan. Tapi.. Aahh! Gara-gara aku sendiri sih.!" gumam Xander sambil mengacak rambutnya.
Bersamaan denga itu pak Aris tampak keluar dari ruang kerjanya, dan langsung menghampiri Xander yang sudah duduk di depan ruangannya menunggu kedua bawahannya itu siap. Kini tinggal menunggu Kinanti keluar dari ruang kerjanya saja lalu segera berangkat.
Tak lama, Kinanti pun sudah keluar dari ruang kerjanya dan segera menghampiri kedua lelaki itu.
"Saya sudah siap pak!" kata Kinanti denga suara dan wajah datarnya, Xander pun segera berdiri dan berjalan menuju lift tanpa mempedikan sikap aneh sekretarisnya itu.
Sementara pak Aris merasa aneh dengan perubahan Kinanti, karena selama ini Kinanti yang dia kenal adalah gadis yang sangat ramah dan selalu menebar semyum, tapi kali ini Kinanti terlihat angkuh walaupun sempat melontarkan senyum sekilas kepada asisten Xander tersebut.
Mereka berdiri di depan lobi untuk menunggu driver membawakan mobil yang akan mereka naiki, dan tak berapa lama datanglah mobil yang akan membawa mereka pergi.
Pak Aris membuka pintu untuk Xander begitu mobil yang akan membawa mereka pergi telah berhenti di depan mereka. Alex pun segera masuk lewat pintu yang di buka oleh pak Aris.
Dan Kinanti yang biasanya di minta duduk dibelakang menemani Xander, langsung membuka pintu depan dan langsung duduk di samping driver.
Pak Aris tampak mengetuk kaca depan disamping tempat duduk Sari, tapi justru Xander yang menurunkan kaca jendelanya.
"Pak Aris maaf, kita sudah mepet waktu ini, pak Aris duduk di belakang bareng saya saja pak.!" kata Xander yang tahu kalau Kinanti sedang tidak bersahabat dengannya. Dengan rasa heran yang di pendam, pak Aris pun menuruti perkataan atasannya tersebut dan fikirannya mengembara entah kemana atas keanehan yang ia rasakan.
Setelah hampir tigapuluh menit perjalanan mereka telah sampai di sebuah restoran bernuansa alam, mereka segera turun dari mobil dan driver memarkir mobil terlebih dahulu sebelum akhirnya ikut bergabung.
Kinanti melihat seorang perempuan yang sangat dikenalnya sebagai istri Xander, tetapi Kinanti tidak melihat lelaki pengawal yang selalu ada bersama istri Xander yang tadi ditangkap oleh indera penglihatan Kinanti sedang berjalan begitu mesranya.
Tanpa sadar Kinanti tersenyum miring meremehkan perempuan cantik itu, bagi Kinanti perempuan itu tak lebih hanya seorang pemain sandiwara yang sangat handal.
Xander mendekati Kinanti setelah mendatangi perempuan cantik yang dalam fikiran Kinanti adalah istri Xander, ia jadi begitu sebal dengan Xander apalagi melihat interaksi atasannya itu dengan perempuan cantik itu.
Kinanti begitu sebal karena perempuan itu begitu manja terhadap Xander, baru juga Xander datang langsung di suruh mengambilkan makanan yang diinginkannya, lalu yang semakin membuat mata Kinanti terbeliak, ia menyaksikan Xander menyuapi makanan ke mulut istrinya walau harus dengan paksaan sang istri.
Melihat Xander berjalan ke arahnya, Kinanti berjalan pelan ke tempat lain yang lebih sepi sambil menggumam.
"Aneh banget sih interaksi pak Xander sama istrinya, masa iya istrinya minta di suapin tapi harus sambil memaksa, lagian tuh perempuan sok manja banget sih!" gerutu Kinanti nyaris tak terdengar.
"Kinanti! Kok kamu di sini? Acara makan siang sudah hampir di mulai, ayo kita masuk!" Ajak Xander dengan lembut, tapi lagi-lagi Kinanti malah semakin sebal
"Maaf pak, tiba-tiba kepala saya pusing, biar saya di sini dulu ya pak." bohong Kinanti sambil memegang pelipisnya dan sedikit memincingkan matanya sepeeti orang menahan pusing.
"Ooh, baiklah kalau begitu, sebentar saya carikan minyak angin." kata Xander sambil berlalu.
"Tidak usah pak sa.... Ya sudah bawa." Kinanti ternyata bicara sendiri karena Xander sudah tak ada di tempatnya berdiri.
"Huh! Sok perhatian! padahl jelas-jelas tadi sok pamer kemesraan di depan mataku!" gumam Kinanti kesal.
"Astaga Kinanti! Kuasai dirimu! Kenapa kamu jadi seperti ini. Ya kamu berhak marah karena perlakuan pak Xander semalam yang menggunakanmu sebagai pelampiasannya. Marah? Atau aku cemburu? Aahh! Sadarlah Kinanti! Jangan jadi pungguk merindukan bulan!" Kinanti masih bergumam dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Setelah itu Xander mendekatinya dengan membawa sebuah nampan berisi sepiring makan siang dan segelas teh panas juga ada minyak angin dan obat sakit kepala.
"Kinanti, ini makanlah dulu lalu minum obat sakit kepala atau oleskan minyak angin di leher dan pundak kamu agar pusing kamu agak berkurang." kata Xander terlihat khawatir.
"Terima kasih pak, bapak sebaiknya kembali ke dalam saja, tak enak kalau ada yang melihat." kata Kinanti canggung sekaligus khawatir. Sebenarnya Kinanti sempat merasa ke ge er an lagi karena ia merasa sangat di perhatikan oleh Xander tetapi saat ia kembali menyadarinya, Kinanti kembali kurang bersemangat, tetapi ia hanya menyimpannya dalam hati.
"Saya panggilkan saudara perempuan saya buat temani kamu ya!" Kata Xander sambil beranjak.
"Tidak perlu pak, saya lebih nyaman sendiri kalau sedang pusing begini daripada di temani orang yang belum saya kenal." Kata Kinanti beralasan, padahal ia hanya ingin meluapkan kekesalannya, kalau ada teman tentu ia harus menahan diri.
"Ya sudah kalau begitu, semoga kamu lekas enakan. Nanti kita tidak usah lama-lama di sini. Kasihan kamu." kata Xander sambil mengacak rambut Kinanti sebelum ia pergi.
Kinanti terkesiap dengan perlakuan Xander barusan, ada desir halus yang Kinanti rasakan, tetapi ia kembali menyadarkan diri pada kenyataan.
"Apa maksudnya coba? Jelas-jelas ada istri juga keluarganya masih sempat-sempatnya buat jantung cewek tidak aman. Tahu cuma di acara keluarga begini tadi aku tidak ikut." gumam Kinanti gemas akan debaran yang ia rasakan saat ini.
Ya saat ini Xander mengajak Kinanti juga pak Aris di acara makan siang keluarganya, tetapi mereka menanggapi keberadaan Kinanti biasa-biasa saja atas kemauan Xander, karena ia ingin mencari jawaban dari perkataan Kinanti yang sangat membuatnya penasaran.
...****************...
Selamat membaca semuanya 🥰