Andrea

Andrea
Insiden Di Parkiran



Matahari merangkak mulai menampakkan sinarnya, Andrea yang biasanya telah bersiap memulai akfitasnya belum nampak keluar dari kamarnya.


"Sudah jam segini tumben Dre belum keluar ya ma?" tanya papa Arga pada mama Arini saat mereka selesai dengan sarapannya.


"Iya ya pa. Apa dia sudah berangkat dari pagi tadi ya?" mama Arini pun bertanya tanya.


"Coba lihat di kamarnya deh ma." suruh papa, lalu mama segera menuju kamar Andrea.


Tok-tok!!


Mama Arini mengetuk pintu kamar Andrea tapi tak ada jawaban, diketuk dan dipanggilnya lagi anak gadisnya itu berulang kali, karena tak ada jawaban, mama Arini memutar handel pintu, ternyata tidak dikunci, terlihat samar samar karena hanya ada cahaya yang menembus disela tirai jendela Andrea masih tidur dengan nyenyaknya, lalu mama membuka tirai agar cahaya lebih banyak yang masuk, lalu didekati anaknya itu dan menepuk pelan pundak Andrea.


"Dre, bangun nak, Andrea.." panggil mamanya sambil terus menepuk pelan.


"Hmmmmhhh..." hanya itu suara yang keluar dari Andrea.


"Sudah siang ini, kamu tidak ke kantor?" tanya mamanya sambil menyibakkan rambut Andrea yang menutupi wajahnya.


"Enggak ma, Dre hari ini tidak masuk, masih pengen tidur."jawab Andrea dengan suara serak khas bangun tidur.


"Sekarang bangun dulu, tidak ke kantor tak apa, tapi bangun dulu sayang, anak gadis jam segini masih males malesan." mama menarik selimut yang menutupi tubuh anak gadisnya, tapi Andrea menariknya kembali.


"Sebentar lagi maa..." kata Andrea.


"Bener loh, kalau sebentar lagi mama lihat kamu tidak turun, mama siram yaa!" ancam mama Arini.


"Iyaaa..." jawab Andrea malas dan tetap memejamkan matanya.


Dan mama Arini hanya bisa pasrah karena kelihatannya Andrea sangat lelah, ia pun keluar dari kamar anak gadisnya itu.


***


Sekitar jam sepuluh Andrea baru turun dari kamarnya ia langsung menuju dapur untuk mengisi perutnya yang sudah terasa lapar, Andrea membuat susu dan mengambil roti tawar, ada pelayan yang ingin membuatkannya sarapan tapi Andrea tolak karena ia hanya membuat susu. Setelah menghabiskan setangkup sandwich dan segelas susu, Andrea segera menuju ruang kerja, untuk mengecek data laporan yang ia minta sama pak Randy tadi. Ia membuka komputernya dan segera mengecek laporan yang telah dikirim oleh Randy.


Andrea berkutat dengan laporan dan data yang diterimanya sampai hampir waktu makan siang tiba, ia menghentikan aktifitasnya, ia keluar ruang kerja dan mencari mamanya.


"Bi, ada lihat mama papa tidak?" tanya Andrea saat bertemu asisten rumah tangganya di ruang keluarga.


"Bapak sama ibu dibelakang mbak, ada digazebo dekat kolam renang." jawab sang art


"Oh ya, terimakasih ya bi."


"Sama-sama mbak." jawab art tersebut dan Andrea segera ke gazebo belakang menemui kedua orang tuanya.


"Ma, pa!" panggil Andrea saat ditemuinya kedua orang tuanya yang sedang ngobrol menikmati sejuknya udara dicuaca yang lumayan panas digazebo dekat kolam renang yang ada pepohon lumayan rindang. (bayangin tukang bersih bersih kolam renangnya, setiap detik ada saja daun yang gugur😄)


"Makan diluar yuk ma pa, sekalian jalan jalan." ajak Andrea kepada kedua orang tuanya.


"Aduh nak, maaf tidak bisa, sebentar lagi mama mau temani papa ketemu rekan bisnisnya, besok saja ya, atau kamu ikut mama papa sekalian?"


"Yaaahh... gak tepat nih Dre bolos kerjanya, ya sudah pa ma, Andrea keluar sendiri saja, soalnya ada yang mau Dre cari harus hari ini." Andrea sedikit kecewa


"Memangnya mau cari apa Dre?" tanya papa yang sedari tadi diam


" Biasalah pa, keperluan cewek." Jawab Andrea sambil cipika cipiki kedua orang tuanya lalu segera berlalu dari hadapan mereka.


"Tidak menyangka ya ma, Andrea bisa keluar dari rasa kurang percaya dirinya hanya karena sering diejek temannya dulu padahal dia punya banyak kelebihan, sekarang dia berkembang melebihi ekspektasiku." papa Arga begitu mengagumi kemajuan Andrea.


"Yah, aku juga sangat bersyukur pa, dulu waktu anak itu memutuskan untuk ikut mbak Rima, berat banget melepasnya, tapi itu keputusan yang baik juga menurutku, aku jadi merasa bersalah karena aku terlalu sibuk memdampingimu keliling dunia daripada memperhatikan tumbuh kembang anak, untung saja Andrea ikut dengan orang yang tepat." sesal mama mengingat masa lalu Andrea.


"Sudah ma, mau bagaimanapun disesali itu tak akan merubah takdir yang harus keluarga kita jalani. Yang penting sekarang kita masih bisa menjalani hidup layaknya umumnya keluarga, yah walaupun anak kita Andra harus menggantikan kesibukan papa dulu, tapi untungnya Andra mendapat pendamping yang sangat pengertian akan kesibukan suami seperti Eira mirip kaya mamanya." papa Arga membesarkan hati mama Arini agar tak terlalu larut dalam penyesalan masa lalu.


Yah, kak Andra sudah menikah dengan Eira tunangannya dan kini mereka hidup dinegara tetangga karena harus mengurus perusahaan papa disana yang diberikan pertanggung jawabannya kepada Andra.


***


Andrea tiba di parkir basement mall yang ia datangi, setelah ia memarkirkan mobilnya, ia bergegas masuk tapi saat ia melihat gelagat mencurigakan dari sebuah mobil yang ia lewati, disitu ada seorang ibu dengan raut wajah ketakutan dan seorang pemuda dengan tatapan mengintimidasi.


Andrea mengendap endap mengawasi interaksi keduanya, ternyata sang pemuda tengah mengancam ibu tersebut untuk memberikan barang barang berharga yang dipunyainya, kebetulan parkiran sangat sepi, jadi si pemuda bisa melancarkan aksinya dengan mudah.


"Kemana securitynya sih? masa ada kejadian begini bisa lolos dari pengawasan, gak ada yang memperhatikan cctv apa ya." gumam Andrea sedikit kesal dengan sistem keamanan parkir mall tersebut.


Saat si pemuda akan pergi karena sudah mendapatkan apa yang dia mau, Andrea menghadang pemuda tadi.


"Kembalikan barang barang yang kamu ambil dari ibu tadi!" kata Andrea pelan tapi penuh penekanan.


"Jangan sok tau kamu!" bentak pemuda itu.


"Aku memang tahu semua perbuatanmu pada ibu tadi, kembalikan atau aku teriaki maling biar security ngeroyok kamu disini!" gertak Andrea.


Tapi rupanya pemuda itu tidak takut akan gertakan Andrea.


"Kamu pikir aku anak kecil, ditakuti kata kata begitu saja mundur, cih!!" ejek pemuda itu dan karena merasa diremehkan tanpa disadari dengan secepat kilat Andrea melepaskan tendangannya ke tangan pemuda yang membawa belati, belati terlepas Andrea lanjut menendang bagian perut, terlihat si pemuda membungkuk kesakitan dan segera Andrea mengunci tangan lawan ke belakang, tak lama muncul security karena dipanggil oleh ibu yang dipalak tadi.


Pemuda itu kini telah berpindah ke tangan para security untuk diserahkan ke kator polisi, dan ibu yang telah ditolong Andrea mengajaknya masuk ke mall, diajaknya Andrea ke sebuah kafe, ia ingin menenangkan diri dengan ditemani Andrea, karena sampai saat ini ibu itu masih merasakan gemetar walau sudah tidak begitu terlihat.


...**************...