Andrea

Andrea
Keputusan



Andrea baru saja sampai rumah sore hari itu saat salah satu asisten rumah tangganya memanggilnya di depan pintu kamar.


"Ada apa bi?" tanya Andrea.


"Ada yang mencari nona Andrea"


"Ooh ya bi, terimakasih" jawab Andrea langsung kebawah untuk menemui seseorang itu.


"Xander?!" seru Andrea saat tahu siapa tamu yang mencarinya yang kini sedang duduk diruang tamu.


"Selamat sore Dre" Xander bangun dari duduknya saat tuan rumah datang.


"Sore juga, silihkan duduk" Xander langsung duduk berseberangan meja dengan Andrea.


"Ada perlu apa Xen, bukannya tadi siang kita sudah ada pertemuan? ada yang terlupa ya?" tanya Andrea.


"Tidak kok, aku mau ajak kamu makan malam" kata Xander langsung.


"Kapan?" tanya Andrea


"Nanti, tapi kita berangkat sekarang saja, kita jalan-jalan dulu"


"Maaf Xen, tapi aku tidak bisa kalau sekarang, aku lelah banget ini" Andrea bermaksud menolak ajakan Xander.


"Ayolah Dre, tadi siang kamu sudah menolak ajakan makan siangku karena ada janji sama orang lain, sekarang kamu menolak lagi, kenapa Dre? kamu malu jalan sama aku?" tanya Xander dengan nada kecewanya saat menerima penolakan lagi dari Andrea.


"Bukan begitu Xen, cuma aku lelah buat jalan keluar untuk saat ini, lain waktu saja ya?" Andrea berharap pengertian dari Xander


"Orang lain yang ajak langsung kamu iyain, giliran aku kamu tunda-tunda" Xander merajuk dengan penolakan Andrea


"Jangan kaya anak kecil gitu lah Xen, besok aja ya, aku sekarang mau istirahat dulu capek banget, sumpah" kata Andrea berharap pengertian dari Xander


"Tapi Dre..."


"Besok atau tidak usah sama sekali!" tegas Andrea memotonginterupsi dari Xander, akhirnya mau tak mau Xander berhenti memaksa Andrea.


"Iya, tapi tidak usah pasang muka jutek gitu lah Dre, nanti hilang cantiknya." Xander menggombal untuk mencairkan suasana lagi karena Andrea mulai pasang wajah dinginnya.


"Gombal!" Decih Andrea sambil berpaling.


"Kenyataannya begitu, bukan gombal" sahut Xander.


"Ya sudah sekarang pulang dulu, besok aku tunggu kamu, sekarang aku benar-benar tidak bisa dan kalau sekarang sampai mama tahu, aku pasti dipaksa buat keluar sekarang sama kamu, dan kalau sampai mama berhasil maksa aku saat ini, aku jamin ini pertemuan terakhir kita." Andrea mengancam Xander.


"Bagiku itu bisa menjadi mungkin, kamu bisa membuktikan kata-kataku mau sekarang?" tegas Andrea


"Iya-iya, besok saja. Ehmm.. Dre, kenapa sekarang kalau aku yang ajak kamu keluar selalu ada saja alasan buat menolak ataupun menunda, sedang sama yang lain saja langsung kamu iyain." Nada protes keluar dari kata-kata Xander.


"Kenapa kamu bisa berkesimpulan begitu?" tanya Andrea walaupun dia tahu maksud Xander.


"Ya, contohnya saja sekarang, tadi siang juga." jawab Xander


"Aku menolak kan karena ada alasannya Xen, tadi siang aku sudah terlanjur menerima ajakan yang lain, sedang sekarang aku benar-benar capek, gimana dong?" Andrea memberikan jawaban yang masuk diakal, tapi sepertinya Xander belum bisa menerima hal itu.


"Kamu masih ada hati buat bang Arshlan ya Dre?" tanya Xander.


"Maksud kamu?" Andrea balik bertanya.


"Tidak perlu kamu tutupi aku juga tau kok Dre, buktinya kamu selalu ada waktu buat abangku sedang kalau sama aku selalu ada saja alasannya" Ada raut kurang suka diwajah Xander.


"Apakah kamu yang terlalu over thinking ya Xen? bukannya aku juga selalu nerima ajakan kamu kalau pas aku bisa dan longgar waktu? Kenapa hanya karena aku tunda ajakan kamu lalu kamu menuduh aku seperti tadi?" Andrea yang tadi sudah bisa rileks kini pasang muka datarnya lagi.


"Aku bukan menuduh Dre, tapi itu kan memang kenyataannya, dan terlihat juga kalau bang Arsh masih sangat berharap untuk kembali sama kamu, lalu salahkah aku jika aku juga ada harapan yang sama kepada kamu?" Ucapan Xander membuat Andrea membulatkan matanya tak percaya, karena selama ini Andrea hanya menganggap Xander sebagai teman biasa diluar sebagai rekan bisnisnya.


"Ini tidak benar Xen." Ucap Andrea sambil menggelengkan kepalanya.


"Apanya yang tidak benar Dre? Aku dan kamu sama-sama tidak ada ikatan serius dengan orang lain, aku suka kamu dari abang masih berstatus tunangan Raisa, lalu dimana letak salahnya?" Xander membela perasaannya.


"Tapi bukannya waktu itu kamu yang meyakinkan aku untuk memaafkan Arshlan ya Xen?" Tanya Andrea.


"Tapi aku tidak menyarankanmu untuk kembali berhubungan lebih dari teman kan Dre?" kilah Xander.


"Iya, memang benar. Tapi sejak kapan? Atau jangan-jangan tanggapan kamu yang seolah tak peduli saat melihat Raisa bermesraan dengan cowok lain itu karena kamu tidak ingin abang kamu bubar dengan Raisa dan kamu dengan bebas masuk dalam ranah pribadiku? Maaf kalau aku tekesan besar kepala dan ke ge-eran, aku cuma mengunkapkan opiniku." Pelan suara Andrea sambil memalingkan wajahnya.


"Biar aku jelaskan sama kamu Dre. Jujur dari awal aku memang tidak ada rasa sama sekali sama kamu, menengok raut wajah kamu saat pertama bertemu dan pertemuan-pertemuan selanjutnya hanya tampang dingin dan tegas yang kamu perlihatkan sama sekali tak menggerakkan hatiku untuk mengeluarkan debarannya walau kamu cewek yang punya wajah menarik, tapi saat aku melihat kamu senyum bahkan tertawa lepas, disitu aku melihat dan merasakan sisi hangat dalam diri kamu, dan ternyata feelingku tidak salah karena saat kita makin dekat kamu selalu memperlihatkan sikap hangatmu, tapi entah yang ku pikir salah atau benar, kamu kembali dingin setelah bertemu kembali dengan abang aku." Xander menceritakan semua yang ia rasakan tanpa ditambah ataupun dikurangi. Mendengar curahan hati Xander, Andrea hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam.


"Seharusnya kamu bisa tahu kenapa aku bersikap begitu Xen." Andrea memalingkan mukanya.


"Buat apa kalau diantara kami bisa saling menerima kekalahan." Xander yang mengerti maksud Andrea tetap bertahan dengan pendapatnya.


"Sudahlah Xen, ada baiknya diantara kita semua tidak usah saling bertemu dahulu, tapi apapun kelak keputusan hatiku kamu ataupun Arshlan harus bisa saling menerima." Andrea sudah memberikan keputusannya, dan bagi Xander itu merupakan sebuah ultimatum yang harus ia jalani, jika Andrea masih bisa diajak untuk berhubungan baik.


"Baiklah Dre, aku terima keputusan kamu itu, tapi bukan karena aku setuju menjauh darimu, aku hanya tak mau kamu membenciku, kalau begitu aku pamit pulang, permisi, selamat sore Dre." Xander langsung pergi setelah berpamitan, ada sedikit gurat kecewa di wajah tampannya, tapi Andrea harus mengambil keputusan itu, ia tak mau menyakiti hati salah satu dari kakak beradik itu walau sebenarnya hati Andrea masih tetap memgharapkan Arshlan tapi ia tak mau menyakiti Xander yang juga menyimpan rasa untuk Andrea.


...****************...