
"Aku belum selesai bicara!" Raisa tidak terima dengan sikap acuh Andrea, dan Andrea yang kesakitan karena rambutnya ditarik kencang segera memegang tangan Raisa yang menjambaknya, kemudian dipelintirnya tangan Raisa.
"Aaww.. sakiit!!" seru Raisa menahan sakit ditangannya.
"Itu belum seberapa, jadi jangan coba-coba mengganggu saya karena saya tidak ada urusan dengan anda, permisi." Andre melempar tangan Raisa yang dipelintirnya tadi, dia berjalan kembali ke tempat tante Mira berada sambil merapikan rambutnya yang berantakan dengan masih merasakan pedih di tempat yang dijambak Raisa. Tetapi tak dijumpainya tante Mira ditempatnya tadi, terlihat ia baru keluar dari sebuah ruangan dan menghampiri Andrea. Dari arah toilet Raisa nampak kesal karena kejadian tadi, dia hendak menghampiri tante Mira, tapi ponsel tante Mira berdering dan segera diangkatnya panggilan tersebut, setelah berbicara beberapa saat nampak tante Mira memasukkan ponselnya lagi kedalam tas.
"Maaf ibu-ibu semua, suami saya telpon sepertinya saya harus pulang duluan, mohon maaf ya semuanya saya tidak bisa mengikuti acara sampai selesai." tante Mira berpamitan.
"Iya jeng Mira tidak apa, sebentar lagi juga acara selesai kok." kata salah seorang ibu tidak keberatan disusul yang lain mengiyakan.
"Mama Mira Raisa ikut ya." pinta Raisa sambil menggelendot manja.
"Kamu temani mama kamu saja, kasihan nanti pulang sendiri tidak ada yang jagain." tolak tante Mira dengan halus, dan terlihat Raisa menuruti perkataan tante Mira tapi memandang geram kepada Andrea.
Setelah berpamitan keduanya segera berlalu pulang, sebenarnya tante Mira mendapat telpon dari suaminya hanya mengabarkan kalau ia akan terlambat pulang dari bersepadanya, tapi karena tante Mira menghindari biar tidak terjadi keributan karena tante Mira sebenarnya tahu kejadian Andrea dan Raisa, dia mulai tahu bagaimana sifat Raisa yang selama ini selalu baik didepannya.
Tante Mira mengajak Andrea ke mall dikota tersebut untuk sekedar jalan-jalan, mereka masuk ke sebuah toko fashion branded, tante Mira memilih beberapa pakaian perempuan dan juga sepatu.
"Nak tolong coba ini semua baju untuk tante." kata tante Mira.
"Loh, kok saya sih tante?" Andrea terheran.
"Tante beli buat kamu."
"Ta-tapi tante..?!" tante Mira tahu Andrea hendak menolak, tapi ia kukuh ingin membelikannya buat Andrea, dan Andreapun hanya bisa pasrah.
Setelah selesai belanja keduanya masuk ke sebuah resto untuk mengisi perut mereka, dari beberapa jarak meja ke pintu masuk ada mata yang memperhatikan mereka.
"Mama!" kata orang tersebut saat keduanya telah dekat, mereka pun menoleh ke sumber suara.
"Xander, disini juga kamu nak?" tanya mama Mira saat tahu bahwa anaknya yang memanggil.
"Iya ma, sini sekalian gabung saja." ajak Xander dan keduanya pun duduk di meja Xander. Andrea diam belum menyapa Xander.
"Buka tuh masker Dre, bikin senep yang lihat saja!" seru Xander dengan seringai gelinya, dan Andreapun membuka maskernya dengan menahan senyum
"Loh! kalian saling kenal?!" seru tante Mira tidak percaya.
"Kenal lah ma, kita..."
"Xen..!" Andrea memotong perkataan Xander sebelum selesai bicara.
"Kenapa sih Dre, toh lama-lama mama juga akan tahu." protes Xander, dan Andrea pun hanya bisa angkat bahu dan menghela panjang nafasnya, pasrah.
"Ngomongin apa sih kalian?" mama Mira penasaran dengan keduanya.
"Kalian pacaran ya..?" pertanyaan menggoda untuk kedua anak muda didepannya.
"Enggak!" seru keduanya bersamaan.
"Dih, kompak bener." mama Mira masih dalam mode menggoda keduanya.
"Mamaa.. kami tidak pacaran ya, ya walaupun Xander mau tapi dianya yang tidak mau." Xander melirik ke arah Andrea sementara gadis itu hanya membulatkan matanya.
"Iya bercanda ibu Andrea yang cantik." lanjut Xander dengan gombalannya, dan Andrea hanya berdecih, sementara mama Mira semakin bingung.
"Itu mama lihat, kalau ketemu aku mukanya bagaimana." tante Mira pun sontak memperhatikan Andrea mendengar perkataan Xander.
"Dingin kan ma." kata Xander lagi dan mama Mira pun mengangguk tanpa sadar sedang Andrea hanya memutar bola mata malas.
"Apaan sih ma?!" seru Xander.
"Itu tugas kamu buat melelehkan tampang dinginnya.." tante Mira berbicara agak pelan tapi Andrea pun hanya menggelengkan kepalanya dengan candaan anak dan mama tersebut.
"Harus berupaya keras kalau mau melelehkan ibu Andrea ma, siapa tahu dia sudah ada calon suami, secara perempuan sekelas beliau ini gitu loh." kata Xandet sedikit pesimis.
"Kurang keras kamu usahanya." mama Mira membakar semangat anaknya.
"Duuhh lama-lama panas nihh, diomongin terus." sela Andrea ditengah perdebatan ibu anak tersebut.
Sambil makan, mereka terus melanjutkan obrolannya.
"Nak Andrea, apa filing tante memang tidak salah ya? tante berharap nak Andrea mau jadi mantu eh ternyata kalian malah saling kenal."
"Mama..!
"Tante...! seru Andrea dan Xander bersamaan.
"Kenapa? berharap kan tidak ada salahnya, kan seandainya itu nyata mama bisa dengan bangga mengenalkan menantu mama kepada rekan-rekan mama, lah tadi teman-teman mama tanya siapa dia, ya tidak sampai hati lah mama mengenalkan kalau nak Andrea bodyguard mama, mama cuma senyum aja mereka bilang calon mantu mama." penjelasan mama Mira membuat Xander tersedak, dan buru-buru mama memberikan segelas air."
"Bodyguard ma?! Andrea?!" seru Xander tak percaya
"Kenapa? ada yang aneh?!" tanya mama.
"Mama orang yang sangat beruntung punya bodyguard seperti dia." Xander berkata dengan tak melepas pandangannya pada Andrea.
"Ya memang mama sangat beruntung, apalagi kalau benar-benar jadi mantu mama." tante Mira berkata sambil mengelus lengan Andrea, dan Andrea hanya bisa tersipu.
"Mama pasti tidak tahu siapa dia sebenarnya." Xander seolah memberi tebakan kepada mamanya.
"Maksud kamu?" penasaran telah melanda tante Mira.
"Sudahlah Xen, nanti makannya gak kelar-kelar lohh." Andrea bermaksud menghentikan pembicaraan cowok tersebut, tapi Xander tidak menghiraukannya.
"Beliau ini adalah nona Andrea Andhara Abimana, dirut sekaligus second CEO di AAb Company, dimana perusahaan kita sedang memgerjakan tender kerjasama dengan perusahaannya. ternganga Mama Mira mendengar penjelasan dari anaknya, lalu ditatapnya Andrea dengan segudang pertanyaan dibenaknya, Andrea hanya menunduk dengan tatapan tante Mira, sedang tante Mira masih menatapnya tidak percaya.
"Nak A-Andrea?" cuma itu yang bisa keluar dari mulut tante Mira, ia mendadak canggung.
"Kenapa tidak bicara jujur dari awal nak, jadi tante tidak merendahkanmu dengan mengharapkan nak Andrea jadi bodyguard tante." nada penyesalan terlontar dari perkataan tante Mira.
"Jangan begitu dong tante, Andrea tidak merasa direndahkan sama tante, kalau saya merasa direndahkan tentu dari awal tante meminta sudah saya tolak mentah-mentah, makanya saya cuma mengajukan kalau diwaktu penting saja saya bisa menemani tante." kata Andrea merasa tak enak hati juga.
"Nak Andrea bisa menolak kok waktu itu apalagi kalau bicara jujur tentang siapa nak Andrea sebenarnya." masih terdengar nada sesal di suara tante Mira.
"Tante, untuk apa mengumbar identitas, pokoknya selama saya bisa dan mampu saya akan kerjakan apalagi kalau tenaga saya memang benar dibutuhkan, saya tidak bisa menolak keinginan seorang ibu, karena itu mengingatkan saya dengan mama dan juga ibu saya makanya saya mau menerima permintaan tante walaupun saya bingung harus memberi alasan apa waktu itu."
Penjelasan Andrea membuat kedua mama dan anak itu terpana, orang seperti Andrea ternyata punya jiwa sosial dan rasa perikemanusiaan yang tidak main-main.
"Apakah nak Andrea masih mau menemani tante saat tante benar-benar membutuhkan?"
"Jangan sungkan tante, selama waktu saya luang, saya siap menemani tante bepergian." jawaban Andrea membuat tante Mira begitu terharu, dan Xander pun menatap Andrea dengan kagum apalagi saat Andrea tersenyum begitu manis kepada mamanya agar tak merasa sungkan setelah tau siapa Andrea sebenarnya.
"Hatiku meleleh maa...." gumam Xander dan langsung mendapat tatapa dari dua wanita didepannya, seketika Xander mengalihkan pandangannya sambil menahan tawanya.
Setelah itu mereka pun berlalu dari restoran itu karena sudah selesai makannya untuk pulang.
...****************...