[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.99 Skidipopo



Mendengar penuturan Siti dan Saturnus, sontak saja membuat Oryza dan Damar tergelak kencang. Bahkan Damar sampai terduduk di lantai sembari memegangi perutnya karena merasa geli dengan apa yang dialami asisten pribadinya itu.


"Gila juga kamu, Sat. Nggak nyangka, sekarang udah nikah aja. Udah jadi suami plus bapak sekaligus, satu sama kita. Nggak mau kalah sama atasan, tau-tau udah nikah aja, dasar asisten gila," ujar Damar seraya terkekeh. "Tapi ... " Damar berdeham sebelum melanjutkan kata-katanya. "Kalian udah skidipopo belum?" Tanya Damar selanjutnya membuat Siti dan Saturnus saling berpandangan seolah saling bertanya apa itu skidipopo?


Mendengar pernyataan absurd itu, Oryza diam-diam mencubit pinggang Damar.


"Apa sih, Hum? Kenapa?" tanya Damar lembut seraya menatap wajah cantik Oryza.


"Mas aneh-aneh aja kok nanyain ituan sih!" bisik Oryza dengan mata mendelik tajam kearah Damar.


"Nggak papa kali, Hum kan mereka juga udah nikah," balas Damar ikut berbisik.


"Tapi nggak gitu juga bang nanyainnya masa' di depan aku sama Siti sih!" Protes Oryza sebab menurutnya hal tersebut tak layak untuk ditanyakan seperti ini.


"Skidipopo?" tanya Saturnus bingung membuat kedua insan yang baru resmi menjadi suami istri kemarin itu menoleh. Bahasa apa itu skidipopo? Aneh-aneh saja atasannya ini pikir Saturnus.


"Ck ... gitu aja nggak tahu, Sat. Itu lho ekhem-ekhem ... "


"Ekhem-ekhem?" Saturnus makin kebingungan dengan pertanyaan sang atasan. Berbeda dengan Siti yang mulai paham dengan maksud pertanyaan suami majikannya tersebut. Memikirkan hal tersebut, sontak saja pipi Siti memerah hingga ke telinga. Biarpun ia belum menikah, tapi ia pernah merasakan kenikmatan surgawi itu walaupun dengan cara yang salah dan mengukirkan dosa yang begitu besar. Dosa yang terus diratapinya dalam doa agar diampuni.


"Kamu itu polos, bego', atau emang ... haduh ... Saturnus, masa' nggak paham sih! Itu tuh, yang dilakukan suami istri setelah menikah, gimana? Paham?" bisik Damar seraya mencondongkan sedikit kepalanya ke arah telinga Saturnus tak ingin Siti dan Oryza mendengar kata-katanya yang terlalu frontal.


Saturnus membulatkan matanya saat mendengar bisikan itu. Lalu ia menggeleng cepat, sebab memang mereka belum sampai ke tahap itu. Saat ia keluar kamar Siti hanya untuk menumpang mandi saja. Ia tidak enak menggunakan kamar mandi di area dapur sebab saat itu Siti sedang berkutat di dapur. Ia bahkan tidur di sofa luar, bukan di kamar Siti.


Melihat Saturnus menggelengkan kepalanya sontak saja membuat Damar tergelak lagi. Ia merasa lebih unggul dari Saturnus. Nikah boleh sama hari, tapi kalau soal kalah menang, tetap dia yang lebih unggul alias menang.


"Hahaha, kasihan banget sih kamu, Sat. Kita nggak jadi satu sama, tapi kita 1 : 0. Kamu kalah telak malah," cibir Damar membuat Saturnus mendengus masam.


"Selamat ya Siti, kak Saturnus. Semoga bisa menjadi keluarga sakinah, mawadah, dan warahmah. Ryza senang mendengarnya. Semoga pernikahan kalian awet till Jannah," ucap Oryza tulus.


"Makasih, mbak. Doa yang sama buat mbak Ryza dan tuan Damar, semoga pernikahan kalian langgeng till Jannah," balas Siti tak kalah tulus.


Damar dan Saturnus mengulas senyum. Mereka benar-benar tak menyangka, hari bahagia mereka datang di saat bersamaan.


Berbeda dengan pasangan pengantin baru yang tengah hangat-hangatnya, justru pasangan pengantin lama kini tengah uring-uringan. Siapa lagi kalau bukan Hendrik dan Githa.


"Kamu dimana sih, Mas? Apa jangan-jangan kamu sibuk menemui mantan sialan kamu itu? Awas saja kalau itu sampai terjadi! Aku pasti akan membuat pembalasan," desis Githa menahan gejolak amarah.


Sementara itu, di kediaman Hendrik, semenjak kepergian Oryza, Oma Neni jadi sering sakit-sakitan. Ia yang merasa haus pun keluar dari kamar hendak ke dapur dengan langkah tertatih. Namun, baru saja ia menginjakkan kakinya di ruang keluarga, ia melihat Hendrik sedang tertidur di sofa ruang tamu dengan penampilan yang begitu berantakan. Padahal jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul 07.00, tapi Hendrik bukannya bersiap-siap untuk pergi bekerja, melainkan masih tertidur pulas di sofa.


Oma Neni pun mendekati Hendrik untuk membangunkannya. Tapi baru saja Oma Neni melangkahkan kaki mendekati Hendrik, ia merasa tidak nyaman karena aroma yang begitu pekat menguar dari tubuh Hendrik. Oma Neni tidak tahu aroma apakah itu.


Tapi semakin dekat dirinya semakin tajam aroma itu. Oma Neni mulai menyadari kalau itu adalah aroma minuman beralkohol.


"Apa dia habis mabuk-mabukan? Hah, anak ini selalu saja membuat masalah," gumam Oma Neni.


Lalu Oma Neni menarik-narik ujung celana Hendrik agar ia bangun. Tapi Hendrik justru menggeliat tanpa membuka matanya. Oma Neni pun kembali mencoba membangunkan Hendrik dengan cara menarik kakinya. Karena posisinya yang terlalu di pinggir sofa membuat Hendrik tiba-tiba saja terjatuh saat ia menggeliatkan tubuhnya.


"Aduh, awww ... " Pekik Hendrik saat tubuhnya telah terbaring di lantai. "Mama, apa-apaan sih? Ganggu Hendrik lagi tidur aja," desisnya seraya memijit pelipisnya yang pening. Kepalanya serasa berputar. Mungkin ini efek dari minuman beralkohol yang ditenggaknya semalam.


"Kamu mabuk-mabukan, Hendrik? Apa kamu udah mulai nggak waras, hah?" bentak Oma Neni lemah.


"Ya, aku udah nggak waras, Ma! Ryza ninggalin aku. Raja dan Ratu menjauhiku. Jabatanku diturunkan. Papa Githa ditangkap, perusahaannya pailit, lalu Githa juga keguguran. Gimana aku nggak gila, ma? Gimana? Di saat aku ingin memperbaiki hubungan ku dan Ryza, Ryza malah ... hiks ... hiks ... dia malah memilih orang lain. Dia justru dimiliki orang lain. Aku nggak rela, ma. Aku nggak rela. Ryza hanya milik aku, ma. Aku nggak mau kehilangan dia, ma. Kenapa dia begitu cepat melupakanku, ma? Mengapa? Padahal aku masih menginginkannya, ma. Aku ingin dia kembali padaku, ma. Aku masih menginginkannya," jerit Hendrik nyaris putus asa.


Hendrik bahkan tanpa malu mengeluarkan air matanya. Selama beberapa bulan ini, batinnya begitu tersiksa karena kepergian Oryza. Ia pikir, bisa bersikap biasa saja saat Oryza pergi, namun kenyataannya ia begitu merindukan senyum manis dan hangatnya pelukan mantan istrinya itu. Ia begitu merindukan hari-harinya saat Oryza masih berada di rumah itu.


Melihat anaknya nyaris putus asa, Oma Neni pun terisak pilu. Mengapa anaknya baru menyesali perbuatannya


setelah Oryza dan anak-anaknya pergi? Beginilah penyesalan, datangnya selalu di saat terakhir.


Baru saja Oma Neni beranjak hendak memeluk sang putra guna memberikan kekuatan, tiba-tiba saja kepalanya berdenyut nyeri. Perlahan-lahan penglihatannya mengabur, dan akhirnya tubuhnya pun tumbang seketika membuat Hendrik yang tadinya meraung pilu seketika panik.


"Mama," pekiknya terkejut saat melihat tubuh ibunya sudah ambruk ke lantai.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...