![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
"Hai calon istri," goda Damar seraya mengerlingkan sebelah mata dan tersenyum jahil.
Oryza sontak saja membelalakkan matanya dengan mulut menganga saat mendengar Damar memanggilnya dengan panggilan 'calon istri'.
"Anda sakit tuan?" dengus Oryza. Ia bahkan kembali memanggilnya tuan. Entah mengapa tiba-tiba saja hatinya menjadi kesal saat melihat seringai jahil di bibir Damar.
"Iya, aku sakit. Tahu nggak aku sakit apa?" tanya Damar yang kini justru berdiri menyandar di daun pintu.
"Mana aku tahu, emangnya aku dokter pribadi Anda," ketus Oryza. Ia sampai memalingkan wajahnya karena kesal.
"Aku sakit ... sakit karena merindukanmu, bidadari surgaku," bisik Damar tepat di sisi telinga kanan Oryza.
Blussshhh ...
Sontak saja pipi Oryza bersemu merah. Apalagi saat hangat nafas Damar menerpa sebagian pipinya dan ada yang masuk ke rongga telinganya.
"Gila," desis Oryza yang memalingkan wajahnya ke sebelah kiri agar Damar tak melihat semburat merah yang merona di pipinya.
"Iya, aku memang gila. Aku gila karenamu. Aku sudah gila karena tergila-gila padamu calon makmumku," ucap Damar lagi yang berusaha menyentuh jemari Oryza. Jantung Oryza bergemuruh hebat. Seakan ada kembang api yang meletup-letup di dalam sana. Kata-kata Damar mampu mengobrak-abrik hati dan pikirannya. Sudah lama ia tidak merasakan euforia seperti ini. Ia seperti abg labil yang baru saja jatuh cinta.
Deg ...
Tidak.
Ia tidak boleh jatuh cinta pada Damar. Ini tidak benar pikirnya. Ini tidak boleh. Ia tak boleh jatuh pada pesona pria nyaris sempurna seperti Damar. Ia harus sadar diri. Ia tak sebanding dengan atasannya itu. Ia juga tak pantas untuk atasannya itu. Mereka bagaikan langit dan bumi. Bahkan lebih parah, ia tak lebih dari keset kaki welcome. Ia tak sebanding. Ia tak boleh jatuh hati pada Damar. Ia tak boleh kembali terpuruk karena cintanya yang luluh lantak. Cukup satu kali, jangan sampai terjadi lagi. Ia takut, ia tak ingin patah hati dan terpuruk dalam luka nestapa.
Oryza kembali teringat kalau Damar ingin melamar seseorang yang tak lain adalah Ayesha. Seseorang yang pernah berjasa membantunya agar bisa terbebas dari jeratan pernikahan menyakitkan. Ia tak boleh mengkhianati perempuan yang pernah berjasa padanya. Yang pernah membantunya tanpa pamrih padahal mereka baru saling mengenal.
Tapi ... mengapa Damar bersikap seolah-olah dirinyalah perempuan yang diincarnya itu? Atau jangan-jangan ia ditolak jadi ia ingin mencari pelarian dengan menggoda dirinya. Tidak. Ini tidak boleh terjadi, pikirnya karena dirinya bukanlah pelarian.
"Jangan bercanda tuan!" sergah Oryza kesal.
"Siapa yang sedang bercanda, hm?" tanya Damar dengan alis terangkat.
"Tolong ... tolong jangan permainkan aku seperti ini!" melas Oryza dengan wajah sendu.
Damar segera membalikkan badan Oryza dan memegang pundaknya. Oryza memalingkan wajahnya tak mau menatap Damar.
"Siapa yang mempermainkanmu, hm? Dan apa itu? Dari tadi kau memanggilku tuan, tuan, tuan, kenapa kau kembali memanggilku tuan?" keluh Damar dengan dahi yang berkerut dalam.
Terlihat jelas kalau ia tengah bingung melihat keanehan perempuan di depannya itu. Oryza sendiri bingung dengan dirinya sendiri. Ia tampak begitu sensitif. Ah, iya, ia baru ingat, ia sedang datang bulan saat ini. Pantas saja tingkat kesensitifannya meningkat drastis. Moodnya anjlok bebas.
"Itu ... itu tadi, apa sebutannya kalau bukan ingin mempermainkanku. Anda memperlakukanku seperti seseorang yang Anda cintai, padahal ... padahal ... "
"Tapi aku memang mencintaimu," tegas Damar membuat Oryza sampai mendongakkan wajahnya terkejut. Jantungnya lagi-lagi bergemuruh hebat. Ditatapnya mata Damar, terlihat jelas kesungguhan di dalam netranya yang hitam pekat. Tak ada kebohongan yang membias. Tapi ... mana mungkin.
"Ti ... "
Belum sempat Oryza menyelesaikan kata-katanya, Damar terlebih dahulu menarik lengan Oryza masuk ke dalam apartemennya, kemudian mengunci pintunya dari dalam, dan mengantongi kuncinya membuat Oryza membelalakkan matanya. Setelah itu, Damar mengambil ponsel dan mengetikkan sesuatu kemudian mengantongi ponselnya lagi setelah pesannya terkirim.
...***...
Duh, Abang Damar mau ngapain tuh? 🤔🤔🤔
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...