[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.119 Panic attack



Pagi-pagi sekali kediaman Oryza tampak sibuk. Damar hari ini akan terbang ke Palangkaraya untuk pembukaan cabang baru Angkasa Mall di sana. Oryza tampak sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya dibantu asisten rumah tangganya yang baru. Oryza tidak mempekerjakan Siti lagi sebab ia berpikir Saturnus lebih dari mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup Siti dan Dodi. Selain itu, ia berpikir, sudah saatnya Siti merasakan kebahagiaan sebenarnya. Menjadi ibu rumah tangga sesungguhnya dan membaktikan diri hanya pada sang suami.


"Mbak, tolong susun sarapan ini di atas meja ya! Kopi bapak biar saya saja yang buat," ujar Oryza pada asisten rumah tangganya yang baru bernama Nora.


"Baik, Bu," sahut Nora. Usia Nora lebih tua dari Oryza karena itu Oryza memanggilnya mbak.


Kemudian Oryza pun segera melepaskan apron yang menutupi sebagian tubuh bagian depannya dan menggantungkan di capstok yang ada di dapur.


Setelah itu, Oryza pun segera melangkahkan kakinya menuju kamar. Setelah masuk ke dalam kamar, baru saja ia menutup pintu, tiba-tiba ada sepasang lengan kekar yang melingkari pinggangnya. Aroma harum menyeruak memenuhi rongga hidungnya menghantarkan rasa nyaman dan menenangkan. Sensasi hangat dan dingin membuat punggungnya menegang. Dingin sebab itu berasal dari tetes-tetes air di tubuh Damar yang ia yakini baru saja selesai mandi dan. belum sempat mengenakan pakaian.


"Bang, basah ih! Dilap dulu badannya," ujar Oryza yang sudah membalikkan badannya menghadap Damar. Lalu ia merebut handuk di pundak Damar dan menyeka tetesan air itu dengan lembut membuat Damar menyunggingkan senyum. Kehadiran Oryza sungguh membuatnya tak mampu berkata-kata. Bahagia itu terasa sangat luar biasa.


"Makasih Humaira sayang," ujar Damar seraya mengelus pipi Oryza lembut.


"Abang pake baju dulu gih! Ryza mandi lagi sebentar. Nggak enak, bau asap dapur," ujarnya seraya membalikkan badannya menuju kamar mandi setelah lebih dahulu menggantung handuk di tempatnya.


"Mandi lagi? Kenapa nggak cuci muka kayak biasanya aja? Terus ganti baju," ujar Damar heran kenapa mesti mandi lagi kan tadi Oryza hanya memasak sebentar jadi tidak mungkin bau yang berlebihan kan.


"Nggak ah, bang. Nggak tahu kenapa, aku nggak nyaman sama bau badanku sendiri. Apalagi kalo sesudah masak. Tapi anehnya aku suka banget cium bau Abang. Bikin nyaman," ujarnya seraya terkekeh.


"Ya udah, ngintilin Abang aja. Biar bisa peluk Abang terus," pekik Damar dari luar kamar mandi. Tak ada sahutan, hanya ada bunyi gemericik air yang mengalir pertanda Oryza sudah memulai ritual mandinya. Sedangkan di dalam kamar mandi, Oryza berdecak seraya tersenyum simpul, ada-ada saja pikirnya. Masa' ia harus mengikuti suaminya itu ke tempat kerja. Malu-maluin aja pikirnya.


Tak butuh waktu lama, Oryza pun sudah keluar dengan menggunakan bathrobe menutupi tubuh indahnya membuat Damar yang sedang mengancingkan kemejanya tertegun sejenak. Lalu perlahan Damar melangkahkan kakinya mendekati Oryza yang tengah memilih pakaian dan menariknya hingga menabrak dada bidang Damar.


"Bang," pekik Oryza terkejut.


"Kamu mau menggoda Abang, hm?" desis Damar seraya menyeringai.


"Astaga, eling bang, eling, kan Abang mau ke luar kota pagi ini. Masa' liat Ryza kayak gini dibilang menggoda, ada-ada saja." Oryza menggeleng-gelengkan kepalanya merasa heran dengan tingkah suaminya itu.


Damar terkekeh, "tapi jujur, Abang tergoda tahu. Kamu jadi kelihatan seksi banget kayak gini. Abang jadi lapar."


"Lapar ya makan, bang!" Sahut Oryza sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Damar.


"Makan kamu, boleh?" ujarnya seraya menyeringai membuat Oryza melototkan matanya.


"Main cepat, aja! Please! Takutnya Abang malah jadi nggak konsen kerja kalau kayak gini. Lapar keingetan kamu terus," bujuk Damar yang sudah semakin merapatkan tubuhnya dengan Oryza.


Apa boleh buat pikirnya. Oryza hanya bisa pasrah melayani sang suami yang tiba-tiba berhasrat. Lagi pula, bukankah dosa bila menolak ajakan suami. Maka, permainan singkat pun dimulai.


...***...


Setelah 30 menit berlalu, Damar dan Oryza pun telah duduk di kursi makan. Mereka tampak menikmati sarapan itu dengan nikmat.


"Ayah pelginya jangan lama-lama ya! Kalau Latu kangen syama ayah gimana, kan lepot" ujar Ratu setelah meminum susunya.


"Ayah nggak lama kok. Ayah kan juga pasti kangen sama princess cantiknya ayah jadi kalau urusan di sana selesai, ayah pasti cepat-cepat pulang," ujar Damar seraya mengusap puncak kepala Ratu dengan sayang.


Melihat Raja hanya diam saja sejak tadi membuat Damar sedikit heran.


"Raja kenapa? Kok ngelamun terus? Ada yang ganggu kamu?" tanya Damar penasaran.


"Eh, eng, ti-tidak ayah," kilahnya gelagapan.


"Jujur aja sama ayah, ayah nggak papa kok. Kalau ada yang ganggu pikiran kamu, ngomong aja sama ayah," sambung Damar. Oryza hanya menyimak interaksi Damar dan putranya.


"Emmm ... yah, boleh Raja ketemu sama ... ayah Hendrik? Raja ... "


"Raja kangen ayah Hendrik?" terka Damar yang diangguki oleh Raja.


"Ayah pakai baju putih nggak, dek?" tanya Raja tiba-tiba membuat Oryza dan Damar memusatkan perhatian pada keduanya.


"Iya kak, ayah pake baju putih. Kenapa kak? Kok kakak tau?"


"Kakak juga mimpi itu semalam," ucap Raja membuat Oryza dan Damar saling bertatapan dengan pikiran yang berkecamuk.


"Nanti ayah coba telepon ayah Hendrik ya terus bilang Raja dan Ratu kangen, mau ketemu," ucap Damar membuat Raja dan Ratu tersenyum sumringah.


...***...


Kini Raja dan Ratu sudah dalam perjalanan menuju ke sekolah. Setelah mengantarkan Raja, Ratu, dan Dodi, kini Saturnus melajukan mobilnya menuju ke bandara. Oryza tidak ikut mengantar sebab kepalanya mendadak pusing. Dalam perjalanan, tiba-tiba Damar merasa hatinya tak tenang. Ia sampai gelisah sendiri di dalam mobil.


"Astaga, gara-gara ketiduran aku hampir lupa jemput Ratu! Duh, semoga jalanan nggak macet!" gumam Oryza saat melihat jam sudah menunjukkan hampir pukul 10. Ia pun segera berlarian menuju lift.


"Mbak mau jemput Ratu?" tanya Siti yang baru keluar dari apartemennya.


"Iya, Ti. Tadi aku ketiduran. Semoga aja nggak macet di jalan," ujar Oryza.


"Siti ikut ya mbak!" ujar Siti yang mengikuti langkah Oryza. Oryza pun mengangguk dan mereka pun segera pergi ke sekolah Ratu dengan mengendarai mobil Oryza.


Setibanya di sekolah Ratu, Oryza dan Siti terkejut sebab melihat kerumunan orang-orang yang entah sedang apa. Merasa penasaran, Oryza dan Siti segera turun dari mobil dan mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Bu, ada apa ini ya?" tanya Siti pada salah seorang ibu-ibu.


Ibu-ibu itu pun menoleh, "anu Bu, itu ..


ada ... ada orang gila ngamuk-ngamuk terus menangkap anak kecil yang baru keluar dari sekolah," ujar ibu itu menjelaskan.


Oryza dan Siti yang terkejut pun segera membelah kerumunan itu. Wajah Oryza seketika pias saat melihat siapa anak kecil yang diseret wanita yang penampilannya terlihat begitu berantakan itu. Anak kecil itu adalah Ratu. Wanita itu menahan leher Ratu dengan lengannya hingga Ratu tercekik dengan wajah memerah menahan sakit.


"Bunda, ayah, tolong ... Lepasin, lepasin Latu ... Bundaaa ... tolongin Latu, sakit, Bun. Hiks ... hiks ... hiks ... "


"Ratuuu ... " teriak Oryza panik.


Mendengar suara Oryza, wanita itupun mengalihkan pandangannya pada Oryza kemudian ia tertawa membuat wajahnya terlihat mengerikan.


"Gi-Githa? Githa, apa yang kau lakukan? Lepaskan, Ratu! Kau menyakitinya!" pekik Oryza dengan mata yang telah basah berurai air mata.


"Lepas? Hahaha ... gara-gara kau, mas Hendrik menceraikan ku. Gara-gara kau, aku kehilangan calon anakku lalu kau ingin berbahagia dengan suami dan anak-anakmu? Takkan aku biarkan. Aku akan membuatmu juga merasakan penderitaanku. Aku akan mati bersama anakmu. Hahaha ... "


Lalu wanita yang ternyata Githa itu menyeret Ratu yang ada dalam dekapannya menuju ke tengah jalan. Orang-orang berteriak histeris. Mereka mencoba menghentikan kegilaan Githa yang sepertinya makin kehilangan kewarasannya. Oryza berlari mencoba mendekat, tapi Githa justru mengeluarkan pisau kecil yang ia sembunyikan di balik punggungnya. Oryza bingung, apalagi Githa telah mengacungkan pisau di leher Ratu membuatnya kian panik.


"Bu-bunda ukhuk ukhuk ... "


"Githa, aku mohon, lepasin Ratu. Dia masih kecil, Git. Dia nggak ada salah apapun sama kamu. Bukankah aku sudah mengalah dengan mundur dan memilih bercerai tapi kenapa kamu masih membenciku? Apa salahku padamu?" teriak Oryza frustasi.


"Salah, tentu kau salah. Karena mas Hendrik ternyata masih mencintaimu. Aku sudah mengorbankan segalanya tapi dia tetap saja mencintaimu. Bahkan dia memilih menceraikan ku daripada mencoba membuka hatinya untukku dan melupakanmu. Aku membencimu. Sangat membencimu," teriaknya lalu saat mobil lalu lalang makin memadati jalan raya, Githa berlarian ke tengah-tengah jalan dengan Ratu masih dalam dekapannya.


"Bundaaaaa ... "


"Ratuuuu ... "


Brakkkkkkk ...


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...