[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.109 Go to Bali



Matahari mulai meninggi, membuat Oryza yang masih berada di dalam kamar hotel tampak gelisah. Bukan tanpa sebab, Oryza tidak terbiasa berjauhan dengan anak-anaknya sehingga membuatnya jadi uring-uringan. Sudah semalam setengah hari ia tidak melihat buah hatinya secara langsung. Hanya melalui video call tentu saja membuatnya merasakan kerinduan. Beginilah seorang ibu, mereka akan sangat sulit berjauhan dengan anak-anaknya. Ditinggal sebentar saja rasanya ditinggalkan berhari-hari. Apalagi berpisah berjam-jam seperti ini, membuat mood Oryza memburuk.


"Ada apa my Humaira?" tanya Damar sekeluarnya dari dalam kamar mandi. Ia baru saja mandi yang untuk kedua kalinya hari itu. Sudah tahu kan alasannya. Apalagi kalau bukan baru saja menyelesaikan sesi skidipopo yang untuk ronde ke berapa, mereka saja tidak tahu sebab tak ada waktu untuk menghitung. Yang mereka lakukan hanyalah saling mengejar kenikmatan tiada tara dengan segenap cinta dan gelora asmara.


"Bang, kapan kita pulang? Ryza udah rindu Raja dan Ratu," adu Oryza seraya mencebikkan bibirnya membuat Damar gemas lalu dengan cepat ia mencuri kecupan singkat di atas bibir merah muda itu. "Ck ... Abang nggak ada puas-puasnya. Nggak lihat apa, bibir Ryza udah bengkak kayak gini kayak habis dihajar orang aja," protes Oryza yang mana malah membuat Damar tergelak.


"Iya, emang habis dihajar orang tapi orangnya suami sendiri. Pake bibir lagi hajarnya, keren kan!" sahut Damar tergelak seraya mengenakan baju kaos berwarna putih tanpa lengan membuatnya damn so hot. Oryza sampai terpaku di tempatnya.


Melihat Oryza yang tampak terpana dengan penampilannya membuat Damar tersenyum miring. Lalu ia meraih kemeja berwarna putih dan mengenakannya tanpa dikancing dengan gerakan lambat seakan melakukan gerakan slow motion membuat Oryza makin terpana. Setelah selesai mengenakan kemejanya, Damar menyandarkan punggungnya pada jendela kaca sambil melipat asal pergelangan tangan kemejanya kemudian balas menatapnya dengan tatapan yang membuat Oryza makin terpesona.



"Za," panggil Damar tapi Oryza belum menyadarinya.


"Za."


"Oryza Sativa, my Humaira," panggil Damar lagi dengan nama lengkap plus panggilan kesayangannya membuat Oryza tersentak hingga gelagapan.


"Eh, ap, i-iya, bang? Ada .. ada. apa?" sahut Oryza gelagapan.


Damar terkekeh lalu mencondongkan wajahnya ke depan wajah Oryza.


"Ada iler. Lap tuh?"


"Hah!" seru Oryza terkejut lalu ia segera mengangkat tangannya menyekanya berulang kali tapi ia tidak menemukan sesuatu yang basah di bawah bibirnya.


Melihat Damar mengulum senyum, sontak saja wajah Oryza memerah. Ia baru sadar kalau suaminya itu ternyata telah mengerjainya.


"Abang, ih, jahil banget sih!" gerutu Oryza dengan wajah merah padam menahan malu membuat Damar tergelak kemudian ia menangkup kedua pipi Oryza dan menciumi seluruh bagian wajahnya membuat Oryza kegelian sendiri apalagi Damar sangat suka menggesek-gesekkan rahangnya di kulitnya.


"Abang suka banget liat kamu kayak terpesona gitu sama Abang. Yah, wajar sih, Abang ganteng banget kayak gini, Abang maklum kalau kamu sampai nggak sadar mandangin Abang sampai segitunya," ujar Damar dengan penuh percaya diri.


"Ish, narsis! Udah ah, bang. Jawab pertanyaan Ryza tadi, kapan kita pulang? Ryza kangen anak-anak, bang." Rajuk Oryza membuat Damar tersenyum lebar.


"Mau ketemu anak-anak?"


"Ya udah, ayo!" ajaknya membuat Oryza tersenyum begitu lebar bahkan hingga sepanjang perjalanan Oryza tak henti-hentinya tersenyum.


Namun tak lama kemudian, senyum itu mendadak luntur menjadi ekspresi bingung.


"Bang, ini kok lewat sini? Emang kita mau jemput anak-anak dulu ya? Emang mama sama papa ajak Raja dan Ratu kemana?" tanya Oryza bingung tapi Damar tak menjawab. Ia justru tersenyum penuh arti membuat Oryza kian bingung.


Rasa bingung campur penasaran kian menjadi saat mobil yang ditumpanginya justru membawa mereka ke bandara.


"Bang, kenapa kemari? Jawab bang! Kok senyum-senyum aja sih! Ryza kan mau ketemu anak-anak kok malah dibawa ke bandara sih?" cecar Oryza tak henti membuat Damar yang sudah menuntunnya ke area berbeda dari penumpang lainnya menghentikan langkahnya.


"Mau ketemu anak-anak kan?" tanya Damar lalu Oryza mengangguk dengan cepat. "Ya udah, ayo!" imbuhnya membuat Oryza segera menarik tangan Damar yang hendak melanjutkan langkahnya.


"Iya, Ryza emang mau ketemu anak-anak tapi kok ke bandara? Emang anak-anak ada dimana?"


"Bali."


"Hah!"


"Bali, Za. Anak-anak sekarang ada di Bali. Ayo, kita susul mereka!" ucap Damar santai membuat Oryza sempat shock karena baru tahu ternyata kedua mertuanya membawa anak-anaknya ke Bali tanpa sepengetahuannya.


"Tapi bang."


"Ayo, my Humaira! Mereka udah nungguin kedatangan kita! Buruan!" tukas Damar seraya menyongsong Oryza masuk ke dalam pesawat pribadi keluarganya.


Sontak saja mata Oryza membelalak saat memasuki pesawat tapi hanya ada dirinya saja di dalam pesawat itu. Seumur-umur, ini merupakan kali pertamanya naik pesawat. Sekalinya naik, ia langsung naik ke pesawat pribadi milik keluarga besar suaminya. Oryza sampai tidak bisa berkata-kata lagi, ia merasa jadi manusia paling beruntung sebab telah mendapatkan suami paket lengkap seperti Damar Prayoga Putra Angkasa.


Oryza sampai membatin, sekaya apa sih sebenarnya suaminya ini?


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...