![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
"Ada apa ini ribut-ribut?" tiba-tiba sosok paruh baya yang masih tampak cantik dan anggun muncul dari pintu masuk butik. Ia pun segera merangsek mendekati keributan itu yang sungguh terasa mengusik pendengarannya. Apalagi jenis kata-kata yang keluar dari bibir entah siapa itu terkesan tidak beretika. Menghardik seseorang seenaknya tanpa dasar.
"Ah, nyonya Safa. Akhirnya Anda datang. Maafkan saya yang membuat keributan di butik Anda. Begini nyonya, perempuan tak tahu diri ini merupakan seorang sugar baby. Butik Anda merupakan butik ternama, sangat tak pantas perempuan seperti dia menginjakkan kaki di sini. Saya hanya ingin membuatnya sadar diri dan segera keluar sebelum ada pelanggan-pelanggan Anda melihatnya dan merusak reputasi butik Anda," ucap Githa dengan pongah membuat Safa membelalakkan matanya.
"Apa? Apa yang kau bilang tadi?" Kini tatapan mata Safa beralih ke arah Githa. Sorot mata itu begitu tajam dan berkilat, seakan ada api yang menggelora di dalamnya.
"Itu ... itu benar nyonya, dia ... dia ... " Githa tiba-tiba gelagapan melihat sorot mata itu.
Hendrik yang awalnya duduk di sisi lain, merasa penasaran dengan keributan yang terjadi di butik itu. Ia begitu terkejut saat melihat istrinya lah yang tengah membuat keributan.
"Maafkan istri saya, nyonya. Dia ... "
"Tutup mulut busuk kalian!" desis Githa. Ia begitu murka mendengar setiap kata-kata yang terlontar dari bibir Githa. Bagaimana tidak marah, bila seorang ibu mendapati putrinya dihina orang lain dengan kata-kata tak pantas dan berisi fitnah. "Berani sekali kau menghina dan merendahkan putriku, hah! Siapa yang kau sebut sugar baby?" bentak Safa dengan amarah yang berkobar.
Sontak saja Hendrik dan Githa membulatkan matanya saat tahu Tisya adalah putri pemilik Amel's Butik yang sekarang. Mereka kira Tisya hanya perempuan tak jelas, tapi ternyata ...
"Sya, bisa jelaskan siapa mereka? Dan kenapa mereka mengatakan hal tersebut?" tanya Safa dengan mata mendelik.
Dengan santainya Tisya berdiri di samping Safa dengan tatapan mencemooh.
"Ibu ingat temanku Ryza yang Tisya ceritain itu? Yang menantunya Bu Neni itu lho, nah dia itu pelakor yang sudah merusak rumah tangga Ryza dan laki-laki bodoh itu mantan suaminya," ujar Oryza santai membuat Safa terkekeh sinis.
"Oh, ada maling teriak maling toh! Siapa yang murahan, siapa yang diteriakin murahan. Jadi sebenarnya yang jalaang itu siapa, hm? Dasar nggak tahu malu. Menghina orang tanpa bukti? Apa perlu kita laporkan ke polisi?" sinis Safa.
"Hmmm ... sepertinya ... "
"Nyonya, maafkan istri saya. Saya tahu, istri saya salah, saya mohon jangan bawa masalah ini sampai ke kantor polisi, kami mohon maafkan kami sudah merendahkan putri Anda dan membuat keributan di sini!" mohon Hendrik seraya memelas. Ia juga memaksa Githa agar meminta maaf.
"Saya mohon, maafkan saya nyonya. Saya berjanji, tak akan membuat keributan lagi di sini," mohon Githa setengah hati.
"Gimana, nak? Semua ibu serahkan ke kamu. Sebenarnya ibu pingin banget laporin mereka ke polisi, tapi ibu sedang malas," ujar Safa sambil menoleh ke arah Tisya.
"Aku sih, terserah ibu aja baiknya gimana. Kalo cuma dilaporin aja sih, enak mereka. Palingan dihukum cuma sebentar doang," ucap Tisya santai. Sebab dalam hati, ia menginginkan kehancuran lebih lagi dari keduanya.
"Oke, baiklah saya maafkan kalian. Tapi sebagai hukuman, mulai saat ini, kalian berdua akan diblacklist dari semua butik saya," tegas Safa membuat Githa mengerang kesal dalam hati sebab ia sudah tidak bisa membeli pakaian di sana padahal Amel's Butik merupakan butik ternama di kota itu.
Tapi apa daya, mereka hanya bisa menerima daripada masalah itu berlarut hingga ke kepolisian, mending mereka pasrah saja.
...***...
"Makanya, mulut itu dijaga. Bilangnya orang kaya, tapi nggak ada etika," tukas Hendrik kesal.
Ia pun sebenarnya merasa amat sangat malu. Ia pun pernah menilai buruk gadis itu. Ia tak menyangka, Oryza bisa berteman dengan orang kalangan atas seperti itu. Ia sudah tahu, kalau pemilik butik itu merupakan istri dari asisten pribadi CEO Angkasa Grup. Bagaimana tak tahu, sebab asisten Robi kerap datang ke perusahaannya untuk inspeksi dadakan. Dari sesama rekannya lah ia tahu kalau pemilik Amel's Butik merupakan istri dari si asisten kaku yang sangat pelit tersenyum itu.
"Kamu nyalahin aku?" delik Githa tak suka.
"Jadi mau nyalahin siapa lagi? Kucing?" geram Hendrik seraya mencengkram kemudi erat-erat. "Awas, aja kalau akibat perbuatan bodoh mu itu berdampak ke pekerjaan aku!" ancam Hendrik dengan raut wajah kesal.
"Emangnya kamu mau ngapain?" balas Githa acuh.
"Kamu mau kita batal resepsi pernikahan ini?"
"Hah, enak aja kamu bilang! Aku nggak mau tahu ya, resepsi ini harus tetap terjadi. Aku nggak mau sampai perutku membesar duluan sebelum orang-orang tahu kalo aku udah punya suami," tegas Githa tak mau dibantah.
"Makanya, lain kali jaga mulutmu itu. Kamu tahu, pemilik Amel's Butik itu istri pak Robi, asisten pribadi CEO Angkasa Grup. Papamu terikat kontrak kerja sama dengan perusahaan yang aku pegang dan perusahaan ini merupakan anak perusahaan Angkasa Grup. Pake otak kamu, gimana kalau tiba-tiba pak Robi memutuskan kerja sama papamu dan perusahaan tempatku bekerja? Hancur, Tha," tukas Hendrik menjelaskan.
"Itu baru istri asisten pribadinya, bukan istri CEO nya jadi so what gitu lho! Nggak usah terlalu banyak pikiran deh! Fokus aja ke resepsi kita seminggu lagi, jangan sampai ada yang nggak sempurna," pungkas Githa membuat Hendrik memutar bola matanya jengah.
...***...
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 tepat, waktunya atasannya itu untuk makan siang. Jadi Oryza pun segera mengeluarkan bekal yang telah ia siapkan sejak pagi, menghangatkannya di microwave, lalu menyajikannya dengan apik agar dapat menaikkan selera makan atasannya itu. Oryza tersenyum puas, saat semuanya telah tersaji berikut air putih mineral.
Damar sejak tadi diam-diam mengawasi setiap gerak-gerik Oryza seraya tersenyum simpul. Ia merasa bahagia sekali melihat Oryza tampak begitu tulus dan gesit menyajikan makan siangnya.
"Kamu nggak makan siang bareng di sini?" tanya Damar bingung saat melihat Oryza justru bersiap-siap setelah menyiapkan makan siangnya.
Oryza yang baru saja mencangklong tas selempannya, lantas menoleh dan seraya tersenyum sopan kemudian menjawab lugas pertanyaan Damar. Sontak saja mata Damar membulat disusul dengusan kesal setelah mendengar penuturan Oryza.
Kira-kira Oryza bilang apa sih sampai Damar tampak kesal gitu? Hayo, ada yang bisa nebak nggak?
...Happy reading 🥰🥰🥰...