[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.100 Keusilan Siti



Malam sudah cukup larut dan rumah adalah tempat berpulang untuk jiwa-jiwa yang lelah setelah berkutat dengan berbagai aktivitas. Karena Saturnus telah menikahi Siti, ia pun pulang ke apartemen yang mulai saat ini dihadiahkan Damar untuk Siti dan juga Saturnus sebagai hadiah pernikahan. Saturnus yang selama ini tinggal bersama orang tuanya pun bersorak dalam hati, atasannya itu memang selalu totalitas dalam melakukan sesuatu. Oleh sebab itu, ia tak pernah menolak segala perintah dan permintaan Damar sebab selama ini Damar sudah begitu baik padanya.


Sedangkan untuk sementara, Oryza dan anak-anaknya akan tinggal di unit milik Damar yang memang ukurannya lebih luas. Namun, sebelum pesta pernikahan, mereka akan tinggal di rumah orang tua Damar terlebih dahulu sebab resepsi pernikahan tinggal menghitung hari saja.


Setelah kepergian Damar dan Oryza, Saturnus tetap pergi ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Karena pekerjaannya cukup menumpuk, ia baru bisa pulang saat hari menjelang malam.


Suara bel terdengar menggema, Dodi yang sedang menonton televisi pun segera berlari melihat dari layar monitor siapa yang datang. Saat wajah yang tampil adalah wajah sang ayah sambung, tanpa buang waktu Dodi segera membuka pintu.


"Assalamu'alaikum," ucap Saturnus yang disambut Dodi dengan mencium punggung tangan Saturnus dan membalas salamnya dengan senyum merekah.


"Wa'alaikum salam, ayah," ucapnya sumringah membuat Saturnus tersenyum lebar lalu mengusap puncak kepala Dodi membuat bocah laki-laki itu makin sumringah.


"Sini ayah, tasnya Dodi bawain," ujar Dodi seraya mengulurkan tangannya, namun Saturnus menggeleng. Ia justru mengulurkan sebuah kantong yang ia sembunyikan di belakangnya.


"Ini apa ayah?" tanya Dodi bingung.


"Buka aja! Itu buat Dodi sana ibu," ujar Saturnus. Lalu Dodi pun bergegas membuka kantong plastik berwarna hitam itu. "Bakso? Ayah beliin Dodi sama ibu bakso? Kok ayah tahu Dodi suka makan bakso?"


"Tahu dong, masa' makanan kesukaan anak sendiri nggak tahu. Ayah juga tahu Dodi suka makan sate ayam, burger, pizza, ayam goreng, kalo ibu ayam bakar, bener nggak?" tukas Saturnus membuat mulut Dodi menganga.


"Wah, ayah hebat! Makasih baksonya, ayah," seru Dodi riang lalu ia pun segera membalikkan badannya ke arah dapur.


Baru saja Saturnus hendak membuka pintu kamar Siti, di saat bersamaan pintu pun dibuka dari dalam. Dari baliknya, Siti keluar dengan wajah dan rambut yang lembab, membuat kadar kecantikannya makin terlihat.


"Kamu baru mandi?" tanya Saturnus yang dijawab Siti dengan gelengan kepala.


"Aku habis sholat isya, tuan sudah makan dan sholat?" tanya Siti yang dijawab Saturnus dengan ekspresi kaku. Jarinya terangkat menggaruk ujung pelipis.


"Be-belum," jawab Saturnus kaku.


"Belum semua?"Saturnus mengangguk. "Mas mandi dulu gih, terus sholat, kita makan setelah mas sholat."


"Mas?"


"Eh, emmm maaf, tuan nggak suka ya saya panggil mas?" tanya Siti canggung. Bahkan cara mereka bicara pun masih campur aduk, kadang santai, kadang formal. Mereka masih terlalu canggung, maklumlah namanya pasangan pengantin dadakan. Seperti tahu bulat yang digoreng dadakan. 😁


"Eh, itu, anu, ng-nggak papa kok. Itu jauh lebih bagus daripada tuan-tuan, memangnya saya majikan kamu," ucap Saturnus yang segera berlalu dari sana.


'Jantungku kok dag dig dug terus ya? Apa aku terkena gejala sakit jantung? Astaga, semoga tidak! Masa' baru nikah udah sakit jantung. Unus belum mau mati ya Allah. Unus pingin punya anak yang banyak kayak orang tua si bos biar anak-anak Unus nggak kesepian kayak Unus,' gumam Saturnus seraya mengusap dadanya.


Selepas mandi dan sholat, Saturnus pun segera menuju meja makan. Di sana hanya ada Siti yang sedang duduk. Sepertinya ia sudah menunggu kedatangannya.


"Kamu belum makan?" tanya Saturnus seraya menatap seporsi bakso yang juga ikut terhidang di meja.


"Belum, mas. Ayo duduk mas! Kita makan sama-sama," ujar Siti seraya mengambilkan nasi. Mendapatkan perlakuan seperti ini, tiba-tiba jantungnya kembali berdebar kencang. Saturnus kian gelisah dengan keadaan jantungnya. Ditatapnya wajah Siti yang bersih tanpa polesan tapi terlihat cantik itu membuat debaran itu kian bertalu-talu.


'Bagaimana kalau aku beneran sakit jantung? Kasihan Siti, masa' harus jadi janda. Kasihan Dodi juga, dia kan pingin banget punya ayah. Masa' baru aja punya ayah eh malah meninggal karena sakit jantung," monolognya dalam hati seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Eh, ng-nggak kok. Aku ... aku cuma keinget kerjaan di kantor tadi," jawabnya kaku campur kikuk.


"Oh ya mas, kalau kurang bumbu masakanku ini, tolong kasih tahu, jelaskanlah kepadaku, jangan diam-diam malah ngatain di belakang, oke?" ucap Siti yang diangguki Saturnus. Wajahnya lempeng aja. Ia pun tanpa basa-basi langsung menyantap isi piringnya hingga tandas tanpa sisa sebutir nasi pun. Sedangkan Siti, ia sibuk menikmati bakso pemberian Saturnus.


"Dodi mana?"


"Habis makan tadi, ia langsung pamit tidur," jawab Siti tanpa mengangkat pandangannya dari sate yang terhidang di hadapannya. "Oh ya mas, makasih ya udah bersedia jadi ayah Dodi dan kasih perhatian padanya. Kayaknya dia bahagia banget bisa punya ayah juga sama seperti teman-temannya."


"Nggak masalah. Dia kan udah jadi anakku jadi sudah kewajiban ku memperhatikannya. Em, aku kembali ke kamar ya!" ucap Saturnus setelah menyelesaikan makannya.


...***...


"Mas belum tidur?" tanya Siti. Setelah selesai mencuci piring, Siti pun segera menyusul Saturnus ke kamar.


"Eh, Si-Siti," ucap Saturnus gugup. Ia yang tadi sedang bermain ponsel, segera menyembunyikan ponselnya di balik bantal membuat Siti penasaran dengan apa yang baru saja dilakukan suami dadakannya itu. Apalagi Saturnus terlihat gugup membuatnya menaruh curiga.


"Mas habis ngapain?" tanya Siti dengan mata memicing.


"Aku ... aku nggak ngapa-ngapain kok," kilah Saturnus gugup.


"Kalau nggak ngapa-ngapain kenapa gugup? Jawab, mas nyembunyiin sesuatu dari aku? Ayo, jujur!" tuntut Siti.


"Aku jujur kok. Aku ng-nggak ... Eh, kamu mau ngapain, Siti? Balikin hp aku, cepetan!" tukas Saturnus seraya berusaha merebut ponselnya yang direbut Siti dengan cepat dari balik bantal. Entah Siti seperti memiliki kemampuan ninja yang bisa bergerak begitu gesit.


"Nggak mau, mas pasti nyembunyiin sesuatu kan? Atau jangan-jangan mas selingkuh dan takut ketahuan? Iya?" tuding Siti membuat Saturnus membulatkan matanya.


"Mana ada. Selingkuh nggak pernah ada dalam kamusku. Ayo, Siti, balikin cepetan! Aku nggak selingkuh kok, sumpah!" ucap Saturnus seraya berusaha mengambil ponselnya yang disembunyikan Siti di belakang tubuhnya.


"Nggak mau!" kekeh Siti.


Saturnus dan Siti kini saling berhadapan. Karena ponsel itu Siti sembunyikan di belakang tubuhnya membuat Saturnus mau tak mau menarik pundak Siti sehingga posisi mereka seperti saling berpelukan. Sadar Saturnus hampir merebut ponsel itu, dengan gesit Siti menarik tangannya yang menggenggam ponsel Saturnus lalu di memasukkan ponsel itu ke dalam dasternya dari bagian atas depan.


Sontak saja Saturnus membelalakkan matanya sebab Siti menyelipkan ponselnya tepat di antara kedua bukit kembarnya. Siti pun menyeringai puas karena Saturnus kini tak bisa berkutik lagi. Bahkan wajahnya terlihat pias saat ini.


"Ayo, ambil! Ayo, sini ambil kalau bisa!" tantang Siti sambil mencondongkan dadanya ke arah Saturnus membuat pria kaku itu menegang dengan peluh bercucuran di dahinya. Ia bahkan sampai melangkah mundur karena Siti terus mencondongkan tubuhnya ke arahnya.


"Ke-kenapa kamu masukkin ke sana? Me-memangnya hp ku bayi yang mau menyusu?" tanya Saturnus gelagapan.


"Kalau mas masih mau main rahasia-rahasiaan, ponsel mas nggak akan aku balikin," ujar Siti acuh. Lalu ia membaringkan tubuhnya di ranjang dengan ponsel Saturnus tetap berada di selipan behanya membuat Saturnus kalang kabut sendiri.


...***...


Wkwkwkw ... Si Siti ternyata usil juga. Kira-kira apa ya yang disembunyikan Saturnus di ponselnya? 😁


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...