[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.60 Sebuah Rasa



Hari berganti begitu cepat, semenjak makan malam itu, Hendrik tak kunjung menunjukkan batang hidungnya sama sekali. Tapi Oryza tak masalah. Toh ia justru merasa aman, tenang, dan tentram. Akhirnya ia bisa benar-benar terbebas dari belenggu mantan suaminya itu.


Anak-anaknya juga tak pernah menanyakan keberadaan ayah mereka. Mungkin karena telah terlalu terbiasa tanpa sang ayah, jadi mereka merasa biasa-biasa saja. Tak ada yang berbeda. Tapi sebaliknya, bila kedua bocah cilik itu tidak melihat keberadaan Damar hingga berhari-hari, mereka justru uring-uringan. Tak jauh berbeda dengan sang ibu, apalagi saat ini ia sedang mendapat tamu bulanannya membuat wanita dua anak tersebut jadi moody.


Seperti saat ini, karena ada pembukaan cabang Angkasa Mall di kota P, membuat Damar harus terbang ke sana didampingi Saturnus. Sebenarnya Damar sudah mengajak Oryza untuk ikut dengannya, tapi Oryza menolak sebab tak mungkin ia meninggalkan anak-anaknya hanya berempat dengan Siti dan Dodi. Mau diajak, anak-anaknya masih harus bersekolah karena seminggu lagi mereka akan bagi raport. Oryza juga tengah mempersiapkan segala kebutuhan Raja dan Dodi untuk mendaftar masuk SD. Sedangkan Ratu, tetap akan bersekolah di PAUD itu karena usianya belum genap 4 tahun.


"Bunda, om ganteng mana sih kok ndak pulang-pulang?" tanya Ratu yang sudah duduk di pangkuan Oryza. Mereka kini tengah berkumpul sembari menonton bersama di ruang tengah.


"Iya Bun, padahal kata Om mau ajak main basket di lapangan bawah, tapi Om malah pergi," celoteh Raja dengan wajah cemberut.


"Om lagi ada kerjaan di luar kota, sayang," sahut Oryza seraya mengusap kepala Ratu. Sedangkan Raja menyandarkan kepalanya di bahu Oryza.


"Kapan pulangnya? Lama nggak?" tanya Ratu lagi.


"Bunda nggak tahu sayang. Kata Om sih bisa sampai 1 Minggu."


"Yah," seru Raja dengan wajah yang muram.


"Abang kenapa? 1 Minggu itu emangnya lama ya bang?" tanya Ratu yang memang belum paham mengenai waktu. Ia sekedar tahu nama-nama hari dan bulan. Begitu juga tentang jam, walaupun Ratu sudah mengenal angka 1 sampai 20, tapi untuk melihat jam, ia masih sering terbalik antara jam dan menit.


Raja mengangguk lalu mengangkat tangan dan menunjukkan tujuh jarinya di depan Ratu.


"Nih, selama ini," tunjuk Raja.


Ratu pun menghitung jumlah jari yang Raja angkat, tapi ia belum paham maksudnya.


"Ada 7, maksud Abang apa sih? Latu ndak ngelti," ujar Ratu polos.


"Om baru pergi selama ini," Raja melipat dua jarinya. "Jadi sisanya masih selama ini, 5 hari. Jadi masih 5 hari lagi baru Om pulang. Masih lama kan!" jelas Raja membuat Ratu mencebikkan bibirnya.


"Bunda, minta Om ganteng pulang dong! Latu kangen," melas Ratu membuat Oryza menghela nafas panjang.


"Nggak bisa, sayang. Om kan mesti kerja. Om nggak bisa pulang seenaknya."


"Bun, telepon Om dong! Please ... !" ujar Raja seraya memelas.


"Iya Bun, telepon Om ganteng, Latu mau ngomong syama Om ganteng," seru Ratu ikut bersemangat.


"Duh," Oryza bingung. Diliriknya jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, bagaimana kalau atasannya itu masih sibuk, pikirnya. Atau gimana kalau atasannya sudah tidur? Oryza bingung sendiri sebab belum pernah satu kali pun ia berinisiatif menelpon Damar terlebih dahulu. Alasannya apalagi selain malu.


"Emmm ... sebentar ya, sayang. Bunda coba telepon dulu," ujar Oryza setelah menurunkan Ratu kemudian beranjak ke kamar karena ponselnya tengah diisi dayanya di kamar.


"Telepon? Nggak? Telepon? Nggak?" gumamnya seraya menimang ponselnya di tangan.


Bak pucuk dicinta, ulam pun tiba, ponsel Oryza tiba-tiba berdering, membuat Oryza terlonjak hingga ponselnya nyaris mendarat di lantai.


"Astagfirullah, hampir saja," gumamnya seraya mengelus dada. Kemudian ia pun segera menggeser ikon gagang telepon berwarna hijau hingga terdengarlah suara salam dari seberangnya.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikum salam, bang. Panjang umur kamu, bang," ujar Oryza sambil mengulum senyum.


Damar yang berada di seberang sana mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan kalimat yang baru saja terlontar dari bibir wanita pujaan hatinya itu.


"Maksudnya?"


"Itu bang, emm ... Raja dan Ratu bilang kangen kamu. Barusan mereka maksa telepon kamu, eh taunya kamu duluan yang telepon, panjang umur banget," ujar Oryza yang kini makin santai saat berbincang dengan Damar.


"Oh ya! Wah, sama dong! Aku juga kangen sama mereka. Sama kamu apalagi, kangen banget. Boleh aku ngomong sama mereka?"


"Sebentar ya!" Lalu Oryza pun segera menghampiri kedua anaknya dan memberitahukan kalau Om Damar mereka sudah menelpon.


Dengan hati riang gembira, mereka menyambut ponsel Oryza membuat Oryza justru tersenyum pilu. Di saat anak-anaknya seharusnya mendapatkan kasih sayang berlimpah dari ayah mereka, ayah mereka justru sibuk dengan istri barunya. Bahkan mungkin mereka sedang menanti-nantikan kelahiran buah hati mereka itu. Dan sebaliknya, anak-anaknya justru mendapatkan kasih sayang dan figur seorang ayah dari pria lain. Yang membuatnya salut adalah pria itu merupakan atasannya sendiri dan belum menikah. Tapi aura kebapakannya begitu kental saat menghadapi anak-anak. Oryza sampai membatin, betapa beruntung calon istrinya kelak mendapatkan suami seperti Damar. Ia jadi teringat saat ia memergoki Damar tengah menghitung hari untuk melamar sang pujaan hatinya. Entah mengapa, mengingat hal itu tiba-tiba hatinya terasa ngilu.


...***...