![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
Bingung, Saturnus dan Siti pun berlarian kembali ke resort tempat mereka menginap. Resort itu merupakan resort pribadi milik Damar. Resort itu memang membelakangi pantai sehingga saat mereka ingin bersantai sambil menikmati semilir angin pantai, mereka tinggal menuju ke taman yang tepat menghadap ke arah pantai. Di taman belakang juga terdapat kolam renang jadi mereka bisa berenang sembari menikmati keindahan pasir putih di tepi pantai pun segala keindahan pemandangan di sana. Letaknya juga cukup tinggi dari dataran pantai membuatnya tidak bisa sembarangan dilihat dari area pantai.
Saturnus dan Siti tampak celingukan mencari keberadaan orang-orang yang tiba-tiba saja menghilang. Hingga tak lama kemudian, Saturnus melihat Dodi, Raja, dan Ratu sedang berjalan dengan Arletta ke arahnya.
"Ayah, ibu," seru Dodi seraya berlarian ke arah Siti dan Saturnus.
Siti pun merentangkan kedua tangannya, tapi Dodi justru memeluk kaki Saturnus membuat Siti cemberut.
"Dasar ini bocah, mentang udah punya ayah, ibunya dilupain," gerutu Siti seraya mencebikkan bibirnya.
Khawatir jatah skidipoponya hilang karena ngambek dicuekin sang anak, Saturnus pun membujuk Dodi agar menghampiri sang ibu.
"Di, ibu kamu ngambek tuh! Sana gih! Bisa puasa ayah kalo ibu kamu ngambek," bisik Saturnus.
"Yah, emang udah masuk bulan puasa ya?" tanya Dodi bingung dengan alis berkerut lucu.
"Eh itu anu ... udah bujuk ibu aja dulu. Ayah mau nanya onty Leta dulu yang lain kemana," ujar Saturnus yang diangguki Dodi
"Ta ... "
"Kak," potong Arletta cepat sebelum sempat Saturnus bertanya.
"Kak, nitip Raja sama Ratu ya! Aku mau balik ke ruang utama. Ada sidang dadakan soalnya," ujar Arletta seraya terkekeh.
"Sidang dadakan?" beo Saturnus tak paham yang diangguki Arletta.
"Iya, kayaknya ada yang bakal nikah dadakan juga hari ini."
"Hah! Beneran? Siapa dan kenapa?" cecar Saturnus penasaran.
"Ckk ... udah mulai kepo nih tuan asisten kalsiboard," ejek Arletta seraya menjulurkan lidahnya. "Udah ah, bye prince and princess. Onty kesana dulu ya!" ucap Arletta sebelum benar-benar berlalu dari hadapan Siti dan Saturnus.
"Mas, menurut mas siapa ya yang bakal nikah dadakan?" tanya Siti yang juga sudah kepo mode on.
Saturnus hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban membuat Siti bersungut-sungut.
"Bu, emang udah masuk bulan puasa ya?" celetuk Dodi tiba-tiba membuat Siti menundukkan wajahnya menatap sang anak dengan dahi berkerut.
"Kan baru beberapa bulan yang lalu kita bulan puasa jadi nggak mungkin dong nak. Kecuali puasa Sunnah nah ada tuh contohnya puasa Sunnah Senin dan Kamis," jelas Siti. "Emang kenapa kamu nanya gitu?" tanya Siti. Bukannya apa, Dodi itu takkan mungkin bertanya tanpa ada sebab. Pasti ada yang membuatnya penasaran. Itu pikir Oryza.
"Tapi tadi kata ayah, ayah bakal puasa kalau ibu ngambek," jawabnya jujur dengan wajah polosnya membuat Siti memicingkan matanya pada Saturnus yang mulai gelagapan.
"Ayah mau puasa ya? Oke kalau begitu," ucap Siti sambil menyeringai membuat bulu kuduk Saturnus seketika meremang lalu segera mengibaskan kedua tangannya. Bisa gawat pikirnya bila ia benar-benar disuruh puasa. Baru saja bisa merasakan keindahan membajak ladang surgawi, sudah disuruh berpuasa, bisa amsyong dah si torpedo.
...***...
"Jadi sekarang jelaskan pada kami,, apa kalian ada hubungan?" tanya Robi saat mereka sudah berada di ruang tamu utama.
"Tidak."
Jawab Tisya dan Kiandra serentak namun berbeda jawaban.
"Jawab yang mana yang benar, ya atau tidak!" tegas Robi dengan suara baritonnya membuat Damar yang sedang keranjingan memakan kacang goreng Thailand jadi tersedak karenanya.
ukhuk ... ukhuk ...
"Kami berpacaran, om."
"Nggak. Kami nggak ada hubungan apa-apa, pak,," ucap Tisya cepat.
"Tisya, kamu nggak pernah bapak ajarin berbohong. Kalau kalian nggak ada hubungan, kalian nggak mungkin kayak tadi. Apalagi sepanjang acara tadi juga kalau. beberapa kali bapak liat lagi gandengan."
"Tapi beneran pak, Tisya nggak bohong. Tisya cuma ... "
"Sulit jawab kan! Sudahlah, dari pada kalian kebablasan, mending kalian nikah aja sekarang. Kamu bersedia, Kiandra?"
"Saya siap, tuan," jawab Kiandra mantap.
"Nggak. Aku nggak mau pak, Bu. Kami beneran nggak ada hubungan ap ... "
"Keputusan bapak udah bulat."
"Tapi, pak ... "
"Udah, Sya. Kamu tahu sendiri gimana bapak kamu. Kalo udah buat keputusan, pantang diganggu gugat," ujar Safa mencoba menenangkan Tisya yang sudah bersungut-sungut.
Setelah semua orang berlalu, Tisya berdiri seraya berkacak pinggang menatap tajam Kiandra yang tampak acuh tak acuh.
"Mau kak Kian itu apa sih? Kenapa kak Kian tiba-tiba mau nikahin aku? Kan kakak tahu sendiri kita itu pacaran aja cuma pacaran bohongan. Kalau kakak nggak ngancam aku, ogah deh jadi pacar bohongan kakak."
"Kalau nggak mau jadi pacar bohongan ya jadi pacar beneran aja, gampang kan!" jawab Kiandra sekenanya sambil mengulum senyum. Ia merasa terhibur melihat ekspresi kesal Tisya.
"Bohongan aja nggak mau, apalagi beneran."
"Nah, karena itu kita langsung nikah aja biar halalan toyiban. Lagipula pacaran itu nggak baik. Lebih banyak mudharatnya daripada kebaikannya," jawab Kiandra enteng membuat Tisya kian geram karenanya.
"Tapi aku kan nggak cinta kakak, begitu juga sebaliknya."
"Cinta bisa tumbuh karena terbiasa, Sya. Yang terpenting kamu harus mau membuka hati dulu untukku. Insya Allah, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya," jawab Kiandra lagi membuat Tisya mencebikkan bibirnya kemudian berlalu sambil menghentakkan kakinya. Percuma bicara dengan orang seperti Kiandra pikirnya. Maunya menang sendiri. Sebenarnya wajar aja sih, dia kan pengacara. Memang merupakan motto utamanya.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...