![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
"Tubuh tuan putri makin dingin, membuat sang nenek sangat khawatir. Kemudian sang nenek berdoa, 'Ya Tuhan, kirimkanlah pangeran yang bisa menyelamatkan cucu hamba'. Tiba-tiba terdengar suara petir begitu besar disertai suara ketukan di pintu membuat sang nenek terkejut. Suara ketukan itu makin kencang, sang nenek pun bergegas membuka pintu. Nenek itu pikir apa itu perampok yang suka menjarah hasil sawah penduduk, tapi ternyata yang berdiri di depan nenek itu seorang pria tampan dengan pakaian serba putih ... "
"Itu pasti dokter kan, Bun?" terka Raja sebelum Oryza selesai membacakan dongeng untuk Raja dan Ratu.
"Wah, anak bunda ternyata makin pinter nih!"
"Pasti pak doktel itu mau syembuhin tuan puteli ya, Bun?"
" ... "
Terdengar suara canda tawa dari kamar Raja dan Ratu. Malam ini, Raja dan Ratu meminta sang ibu membacakan dongeng untuk mereka. Sebenarnya bukan dongeng, tapi cerita karangan Oryza saja untuk menghibur putra dan putrinya.
"Bun, om Damal baik ya!" ujar Ratu dengan nada riang.
"Emang Ratu lihat dari mana kalau om Damar baik?"
"Tuh, om Damal beliin kita makanan banyak. Ayah aja ndak pelnah kayak gitu," imbuh Ratu.
"Iya, ayah juga nggak telepon kita. Ayah kayaknya udah nggak sayang kita lagi," ujar Raja sendu mengungkapkan isi hatinya.
"Kalian kangen ayah?" tanya Oryza yang dijawab kedua bocah itu dengan gelengan kepala dengan kompak membuat Oryza melongo.
Mungkin karena hampir 2 tahun ini, anak-anak itu kerap ditinggalkan ayahnya serta minimnya komunikasi membuat keduanya terbiasa tanpa sang ayah. Oryza pun tak menampik ini kesalahan Hendrik sendiri. Padahal Oryza dulu sering meminta agar Hendrik meluangkan waktu untuk anak-anaknya, tapi bukannya direspon, Hendrik justru menunjukkan ekspresi tak sukanya. Ia seakan dikekang dan tak didukung untuk meraih kesuksesannya. Dan kini, Oryza sudah tak mampu berbuat apa-apa lagi. Ia hanya bisa membuat anak-anaknya agar tidak membenci ayahnya.
"Sekarang waktunya bobok. Jangan lupa baca doa ya! Love you, sayang," ucap Oryza seraya merapikan selimut dan mematikan lampu dan menggantikannya dengan lampu tidur.
...***...
Ceklek ...
"Astagfirullahal adzim," pekik Oryza yang langsung membalikkan badannya menghadap ke pintu.
Melihat ekspresi terkejut di wajah Oryza, sontak saja Damar terkekeh geli membuat Damar kian berkacak pinggang. Oryza kini dapat keluar masuk apartemen Damar karena pria itu sudah memberikannya kartu akses agar Oryza tak perlu memencet bel lagi saat hendak masuk ke dalam.
Ya, Oryza baru saja masuk ke apartemen Damar untuk memasakkannya sarapan. Tapi baru saja ia masuk, ia sudah dihadapkan dengan tubuh shirtless Damar. Karena jarum jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, Damar belum bersiap. Ia justru sedang asik memeriksa bursa saham dari layar tabletnya.
"Tuan, pake baju dulu sana," seru Oryza yang masih membalikkan badannya.
"Nanti aja, sekalian mandi supaya nggak ngotorin pakaian. Sekarang nanggung, banyakin cucian aja," jawab Damar enteng sambil menyunggingkan senyum.
"Tapi tuan, saya kan mau masak," ujar Oryza .
"Mau masak ya masak aja, apa hubungannya dengan saya yang nggak pake baju," masih dengan wajah sok cool ya, Damar menjawab acuh tak acuh.
"Tapi kan saya ... saya ... "
"Saya kenapa?" bisik Damar di telinga Oryza.
"Tuan," pekik Oryza jengkel yang kini justru membalikkan badannya menghadap Damar yang sudah berdiri di belakangnya.
Oryza membulatkan matanya lalu menutup matanya dengan kedua telapak tangannya membuat Damar kian tergelak.
"Astaga, telingaku! Doyan banget teriak-teriak, udah kayak tarzanwati aja," seloroh Damar.
"Mana ada tarzanwati."
"Ada,"
"Ada, mau bukti?"
"Mana?"
"Tuh, yang berdiri di depan pintu!"
Oryza bingung lalu membuka matanya dan melihat ke belakang, tidak ada siapa-siapa pikirnya. Lalu ia berpikir sejenak dan matanya seketika membulat saat sadar dirinya lah yang disebut tarzanwati oleh atasan sok coolnya itu.
"Tuan nyebelin," cibir Oryza seraya mencebikkan bibirnya.
"Tapi ngangenin kan!"
"Ih, siapa? Pacar aja nggak punya, siapa coba yang kangen."
"Kamu," jawab Damar sambil mengulum senyum.
"Hah? Saya? Gila," desis Oryza sambil memutar bola matanya malas.
"Kamu ngatain saya gila?" tanya Damar dengan mata menyipit. Namun, lirikan itu terlihat dalam dan tajam membuat Oryza menelan ludahnya sendiri.
"Ng-nggak kok, tuan kan atasan yang tampan, baik hati , dan tidak sombong, mana mungkin gila," ralat Oryza dengan terpaksa.
"Oh, jadi menurut kamu saya tampan, hm?"
"Eh,"
"Hahahaha ... Udah masak sana! Jangan lupa masak untuk makan siang kita di kantor. Saya mau meditasi dulu," ucap Damar seraya berjalan menuju kamarnya meninggalkan Oryza yang menggaruk tengkuknya karena salah tingkah.
"Dasar bos somplak."
"Oryza, dilarang ngatain bos! Nanti kualat, tahu rasa," pekik Damar dari dalam kamarnya.
"Astaga, itu bos kupingnya peka banget ya! Dari sini aja kedengaran padahal udah ngatain kecil-kecil, masih aja kedengaran," gumam Oryza seraya melangkahkan kakinya menuju dapur. "Tapi si bos triplek itu lumayan mengasikkan juga ya! Lumayan, bisa ngilangin kesal gara-gara laki-laki gila sok perhatian itu," imbuhnya yang kembali teringat pada Hendrik yang beberapa saat lalu sempat menelponnya lagi, tapi ia abaikan.
...***...
"Tuan, klien dari Naratama sudah datang," lapor Saturnus.
"Tuan, ini berkas-berkas untuk meeting hari ini," ujar Alana, sekertaris Damar yang masuk bersamaan dengan Saturnus.
"Baiklah, kita ke ruangan meeting sekarang," ujar Damar seraya berdiri. Lalu ia menoleh ke arah Oryza yang sedang menyalin entah apa atas perintah Damar. "Za, nanti kamu antarkan minum ke ruang meeting. Nanti Saturnus yang akan menunjukkan ruangannya," titah Damar yang diangguki Oryza.
Alana yang berjalan pelan di belakang Damar lantas menoleh ke arah Oryza yang baru saja berdiri. Ia sebenarnya penasaran, siapa Oryza sebenarnya dan mengapa ia berada di ruangan Damar? Pertama kali, Oryza bekerja mengenakan seragam OG, lalu beberapa hari ini, Oryza justru mengenakan seragam kantoran seperti dirinya. Dan ia juga hanya berada di ruangan itu seharian penuh.
'Siapa dia sebenarnya? Apa dia memiliki hubungan khusus dengan tuan Damar? Ah, rasanya tidak mungkin! Masa' selera tuan Damar kayak gitu sih. Perempuan sekelas Syakira yang seorang artis terkenal aja yang udah berusaha mati-matian mendekatinya aja nggak digubris dan hanya dianggap teman, apalagi perempuan itu. Gayanya aja gitu, nggak banget,' cibir Alana dalam hati seraya memindai penampilan Oryza yang cenderung sederhana dan tertutup. Sebab Oryza hanya mengenakan setelan lama yang diberi Tisya.
Sebenarnya Tisya ingin memberinya seragam kerja yang baru, tapi Oryza menolaknya. Pernah Tisya memberikan pakaian yang sudah dilepas labelnya, tapi Oryza sadar kalau itu baju baru, jadi ia menolaknya. Oryza baru mau menerima saat menerima pakaian yang dianggapnya bukan baru. Itupun sebenarnya milik Safa saat masih bekerja di Aussie dulu. (Ingat kan siapa Safa? Yaps, itu istri map plastik laminating, ibunya Tisya. 😁) Biarpun masih terlihat bagus, tapi tetap saja baju itu sudah sedikit ketinggalan zaman karena telah berusia di atas 20 tahun.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
...***...