![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
Abiyaksa dan Maida dijodohkan kedua orang tua mereka yang memang telah lama bersahabat. Kedua orang tersebut tentu saja menerima sebab diam-diam mereka memang saling menaruh rasa. Hingga pernikahan pun dilangsungkan. Walaupun mereka tak pernah saling mengucap cinta, tapi mereka menjalani kehidupan rumah tangga mereka dengan baik.
Hingga suatu hari, Maida merasa heran dengan perubahan sikap kakak perempuannya yang semakin menjauhinya. Bahkan ia dengan terang-terangan menatap benci padanya.
Di saat Maida tengah hamil 7 bulan, lebih tepatnya mengandung Oryza, akhirnya rahasia itu terkuak. Ternyata penyebab kakak perempuannya itu tampak begitu membencinya karena ia pun mencintai suaminya, Abiyaksa. Maida tampak mengabaikan kebencian itu dan mencoba terus berbuat baik berharap kakaknya tidak lagi membencinya. Tapi sikap Mala malah makin menjadi. Ia terus memprovokasi agar Maida meninggalkan Abiyaksa. Bahkan Mala mengancam akan menyakiti Abiyaksa dan Oryza bila ia tidak meninggalkan Abiyaksa.
Bingung harus melakukan apa, tak mungkin juga jujur kalau Mala memintanya meninggalkan Abiyaksa, maka Maida pun meminta bantuan sahabatnya, Heru untuk menjadi kekasih pura-puranya. Rumah tangga mereka yang awalnya tenang, berubah layaknya neraka karena pertengkaran yang tiada habisnya dan semua karena Maida yang dianggap berselingkuh dengan Heru.
Tahun berganti, semua tampak berjalan lancar walaupun rumah tangga mereka kerap dihiasi pertengkaran, tapi Mala yang tak sabar menunggu memintanya segera pergi, tapi Maida menolak. Hingga akhirnya, Mala mengancam akan bunuh diri. Awalnya Maida tidak percaya kalau Mala akan senekat itu. Namun apa daya, saat akal sehat sudah dibutakan cinta dan juga obsesi, hal yang dikira Maida mustahil pun benar-benar direalisasikan Mala. Di depan mata kepalanya sendiri, Mala terjun bebas dari balkon kamarnya hingga meregang nyawa membuat Maida terpaku di tempat.
Karena terus didera perasaan bersalah, tepat setelah 7 hari kepergian Mala, Maida pun pergi meninggalkan anak dan suaminya. Saat itu Oryza masih remaja. Melihat kepergian ibunya dengan lelaki lain di depan mata kepalanya sendiri, membuatnya sakit hati dan kecewa.
Setelah meninggalkan anak dan suaminya, sama seperti Abiyaksa, Maida pun sakit-sakitan. Ia mengidap kanker hati. Ia hidup seorang diri di tempat terpencil. Sesekali Heru dan istrinya menyambanginya untuk memberi semangat dan menasihati agar menjalani pengobatan, tapi Maida menolak. Ia menganggap penyakit itu adalah hukuman baginya karena telah mengecewakan anak dan suaminya. Hingga suatu hari, para tetangga Maida merasa curiga saat mencium bau busuk yang menyengat dari kediaman Maida. Setelah diperiksa, ternyata Maida telah meninggal sejak beberapa hari yang lalu.
Heru mencoba mencari keberadaan Abiyaksa dan Oryza untuk mengungkapkan kebenaran dan memberitahu tentang Maida yang telah meninggal, tapi ternyata Abiyaksa telah meninggal terlebih dahulu dan Oryza entah pindah kemana tak ada yang tahu. Tahun berganti, dan akhirnya Heru diberikan kesempatan untuk bertemu Oryza. Beruntung wajah Oryza tidak berubah banyak sehingga ia masih bisa mengenali saat melihatnya keluar dari ruangan obgyn.
...***...
Mendengarkan cerita dokter Heru, Oryza tergugu. Dadanya terasa sesak. Bertahun-tahun memendam rasa kecewa dan kebencian yang keliru, nyatanya ibunya tidak sejahat itu meninggalkan mereka demi laki-laki lain. Ia justru pergi dalam kesendirian dan menahan sakit seorang diri.
Oryza ingin merutuki kebodohan ibunya mengapa tetap saja pergi, bukankah kakak perempuannya telah tiada. Tapi tak dapat dipungkiri, rasa bersalah itu sukar untuk dilenyapkan begitu saja. Rasa itu akan terus bercokol di hati. Bahkan mungkin, penyakit yang diderita ibunya tersebut merupakan buah dari rasa bersalah yang kian membesar. Entah rasa bersalah pada saudara sendiri. Bisa juga rasa bersalah karena telah meninggalkan anak dan suami.
Melihat Oryza yang tergugu sambil meremas dadanya yang sesak, Damar pun menariknya ke pelukannya. Ditepuknya punggung Oryza yang bergetar, berharap apa yang ia lakukan bisa sedikit memberikan ketenangan pada sang istri. Saat tangis itu sudah mulai mereda dan hanya tersisa isakan, barulah Damar sedikit merenggangkan pelukannya dan menyeka air mata yang membanjiri pipi mulus Oryza.
Lalu dokter Heru beranjak ke meja kerjanya dan membuka salah satu lacinya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah buku kecil bersampul biru muda yang bisa Damar tebak itu merupakan sebuah diary.
"Ini, terimalah," ujar dokter Heru seraya menyodorkan sebuah buku diary pada Oryza. "Itu peninggalan ibumu. Bacalah! Dia begitu mencintai dan menyayangi mu juga ayahmu. Terserah setelah ini kau masih ingin membencinya atau memaafkannya. Om hanya bisa melakukan ini untuk sahabat Om. Bertahun Om merasa tidak tenang karena didera rasa bersalah. Seandainya Om lebih cepat memberitahukan segalanya pada papa kamu ... " Dokter Heru menghela nafas berat. "Om bersyukur akhirnya bisa bertemu kamu, nak. Semoga dengan ini, Maida bisa tenang di alam sana sebab Om kerap memimpikan dia menangis seorang diri," imbuhnya dengan mata berkaca-kaca.
"Oh ya, ini kartu nama Om! Kalau kamu ingin pergi ke makam mamamu, kabari Om saja. Om akan menemanimu ke sana," ujar dokter Heru lagi.
Oryza yang terlalu shock hanya bisa berdiam diri tanpa mengatakan sepatah kata pun. Paham istrinya masih shock, Damar pun mengucapkan terima kasih dan akan segera mengabari kalau mereka nanti akan pergi ke makam ibu mertuanya tersebut. Setelah sedikit berbasa-basi, Damar pun pamit sambil memapah Oryza yang wajahnya tampak begitu pucat.
Damar tahu, kehidupan Oryza sebelum ini pastilah sangat sulit. Tak perlu banyak tanya apalagi bicara, ia hanya akan terus mendampingi, menjadi sandaran wanitanya agar tidak merasa sendirian lagi.
Setibanya di rumah mereka, tangis Oryza langsung pecah. Tangis yang sejak tadi ditahan-tahannya, kini benar-benar ditumpahkannya di dada bidang Damar. Damar pun menarik pinggang Oryza dan mendudukkannya di pangkuannya yang sudah terlebih dahulu duduk di sofa. Didekapnya tubuh rapuh Oryza.
"Bang, aku anak yang jahat. Aku ... aku selama ini sudah salah menduga. Aku ... aku kira mama yang sudah jahat, tapi ... tapi ternyata akulah anak yang jahat. Seharusnya aku mencari mama dan meminta penjelasan, bukannya membencinya tanpa mencari tahu kebenarannya. Aku sangat berdosa dengan mama, bang. Bahkan mama pergi dalam kesendirian. Mama sakit seorang diri. Menanggung kesedihan dan kesepian seorang diri. Bahkan ... hiks ... bahkan mama ditemukan sudah tidak bernyawa dengan keadaan yang menyedihkan. Aku anak yang jahat, bang. Aku ... hiks ... hiks ... mama ... maafin Ryza, ma. Maafin Ryza ... "
Oryza menumpahkan segala kesedihannya dan jerit tangis isi hatinya di dada Damar. Damar paham, Oryza sedang hancur sekarang. Apalagi setelah membaca sedikit goresan tinta di buku diary milik mendiang ibu Oryza yang mengungkapkan rasa cinta juga kerinduan mendalam pada buah hati dan juga suaminya membuat Oryza kian didera rasa bersalah dan menyesal karena mengetahui fakta itu di saat yang terlalu terlambat. Seandainya ia bisa lebih cepat mengetahui fakta itu, mungkin ibunya masih di sini, di sisinya. Menemaninya. Namun kini, semua sudah terlalu terlambat. Tak ada yang bisa ia lakukan lagi, selain mendoakan agar ibunya tenang di alam sana. Agar kedua orang tuanya bisa berkumpul lagi bersama di sisi Allah SWT.
"Sayang, udah ya nangisnya! Kamu nggak kasihan sama dedeknya? Kamu pasti pernah dengar kan kalau bayi di dalam perut pun bisa merasakan perasaan ibunya? Ibunya bahagia, dedeknya ikut bahagia, dan bila ibunya sedih begini, dedeknya pasti ikutan sedih. Jadi, Abang mohon, sedihnya jangan berlarut-larut. Yang paling penting sekarang, kamu banyakin doa, semoga mama bahagia di sana dan bisa kumpul lagi sama papa," ujar Damar mencoba menenangkan Oryza seraya menghapus bulir-bulir bening yang masih keluar dari ekor mata Oryza.
Oryza mengangguk sambil sesegukan.
"Terima kasih, bang udah menemani dan menjadi sandaran Oryza. Ryza nggak tahu lagi, gimana Ryza bisa menjalani hidup tanpa Abang di sisi Ryza. Ryza sayang Abang."
"Abang yang lebih sayang kamu, my Humaira," sahut Damar seraya mengecup puncak kepala Oryza.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...