[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.43 Calon istri idaman eh ?



Hari sudah beranjak siang, tapi Damar hanya mengizinkan Oryza bekerja di ruang kerjanya. Ada saja perintah dari atasannya itu. Seperti saat ini, ia diperintahkan mengelapi satu persatu buku yang ada di rak ruangan itu. Dia hanya diizinkan sesekali keluar bila ada yang hendak dilakukannya. Oryza sampai bingung sendiri dengan status dan jabatannya. Ia sudah seperti baby sitter sekaligus kacung yang mengurusi segala urusan sang majikan nyaris tanpa terkecuali.


Damar tampak sibuk di depan layar laptopnya, sedangkan Oryza yang masih mengelapi buku-buku yang sebenarnya tidak berdebu. Oryza hanya bisa melakukan pekerjaannya dengan patuh, apalagi bukan karena iming-iming gaji yang dinaikkan 5 kali lipat. Siapa yang tak tergiur, hanya melakukan pekerjaan ringan, bisa mendapatkan gaji yang begitu besar. Saturnus pernah bilang gajinya sebagai OG di lantai khusus itu adalah 3 juta perbulan, bayangkan bila dinaikkan sampai 5 kali lipat. 15 juta akan masuk dalam genggamannya. Bahkan jumlah ini hampir 3 kali lipat dari jatah bulannya dari mantan suaminya dulu.


Saat sedang mengelapi buku-buku itu, tiba-tiba Oryza teringat pada salah satu tugasnya sebagai sekretaris pribadi Damar, yaitu menyiapkan makan sang atasan. Atasannya ternyata lebih menyukai makanan rumahan. Saturnus bahkan sempat bercerita kalau selama ini hampir setiap siang, Damar mendapatkan kiriman makan siang dari ibunya.


"Tuan," panggil Oryza yang telah berdiri di hadapan atasannya itu.


"Ya," sahut Damar tanpa mengangkat wajahnya. Hanya ekor matanya yang melirik sekilas, kemudian kembali fokus dengan layar komputer di depannya.


"Kan Tian tadi bilang tuan sukanya masakan rumahan, terus siang ini tuan mau makan apa? Apa saya harus pulang dan masak dulu, mumpung masih jam 10 pagi," ujar Oryza.


"Untuk siang ini nggak usah. Mama tadi telepon akan kirim makan siang, tapi malam nanti kamu harus masak," ucap Damar santai sambil memainkan jemarinya di atas papan keyboard.


"Oh, baiklah," ujar Oryza. "Tapi kira-kira malam nanti, tuan mau masak apa? Ada request?" tanya Oryza sebab ia ingin memastikan makanan apa yang disukai atasannya itu. Jangan sampai ia melakukan kesalahan yang berakhir pemecatan. Bagaimana pun, ia sangat membutuhkan pekerjaan ini.


"Emmm ... " Damar mendongakkan wajahnya dengan ibu jari dan jari telunjuk mengapit dagunya. "Nanti saya pikirkan lagi. Oh ya, begini saja, kita belanja di supermarket dekat apartemen supaya tahu apa yang saya inginkan soalnya kalau sekarang saya belum kepikiran," imbuh Damar.


"Kita?" tanya Oryza memastikan ia tidak salah pendengaran.


"Ya, kita. Saya dan kamu. Kulkas saya kosong. Cuma ada air mineral jadi saya butuh bantuan kamu untuk mengisinya," ucap Damar acuh membuat Oryza melongo. Orang sekelas Damar mau belanja ke supermarket dengannya? Mantan suaminya saja tidak pernah mau menemaninya belanja kebutuhan dapur. Kalaupun mau, hanya sekedar belanja sekalian jalan-jalan, itupun sudah sangat lama tidak mereka lakukan.


"Tuan serius mau belanja bersama saya? Entar tuan capek dan repot lho. Belanja kebutuhan dapur itu nggak sebentar, bisa sampai berjam-jam. Biar saya sendiri aja deh tuan. Jadi Anda bisa pulang dan beristirahat," sergah Oryza.


"Emang kenapa? Saya juga udah biasa kok temenin mama belanja, nggak ada masalah. Kalau kamu sadar belanja itu repot harusnya kamu senang, kan ada yang bantu bawain belanjaan."


"Ya udah deh, terserah tuan aja. Kacung mah nurut aja," jawab Oryza sekenanya membuat Damar melotot tajam.


"Za, kamu bukan kacung tapi sekretaris pribadi saya, ingat itu! Jangan merendahkan diri kamu! Saya aja nggak pernah merendahkan kamu, kenapa kamu malah mau merendahkan diri kamu sendiri. Dasar aneh!" delik Damar geram mendengar kata-kata Oryza.


Tak tahu saja dia, Damar sengaja melakukan ini demi terus berdekatan dengannya. Andai dia tahu, entah apa yang akan dipikirkan ibu dua anak tersebut tentangnya.


"Ya sudah, kamu saya maafkan. Sekarang buatkan saya kopi, saya pusing. Gara-gara kamu, saya jadi mendadak pusing. Mana pekerjaan menumpuk," omel Damar sambil memijit tengkuk dan pelipisnya.


Melihat itu, Oryza jadi merasa bersalah. Ia pun segera membalik badan dan membuatkan kopi untuk Damar. Setelahnya, Oryza kembali masuk ke ruang kerja Damar dan meletakkan kopi panas itu di tempat biasa ia meletakkannya. Dilihatnya, Damar sedang merebahkan kepalanya di sandaran kursi dengan mata terpejam.


"Tuan," cicit Oryza.


Damar yang mendengar namanya dipanggil pun hanya berdeham singkat sebagai jawaban.


"Hmmm ... "


"Kepala tuan masih sakit?"


"Hmmm ... "


"Butuh bantuan?"


Damar terdiam, tidak menjawab.


"Mau saya pijitin kepalanya?" tawar Oryza membuat Damar bersorak girang dalam hatinya.


'Benar-benar calon istri idaman. Pengertian banget sih! Tahu aja apa yang calon pasangan butuhin. Apalagi kalau udah jadi pasangan beneran. Mantan suamimu itu bodoh banget Za ngelepasin wanita idaman kayak kamu. Dia pasti bakalan nyesel banget. Tapi, berkat kebodohannya lah aku jadi punya kesempatan untuk mendapatkan kamu. Semoga jalan kita dimudahkan ya, Za. Semoga kita berjodoh. Aamiin ... ' lirih Damar dalam hati.


Tanpa sadar, sudut bibir Damar terangkat walau sangat tipis. Perasaaan hangat menyeruak dalam dadanya. Walaupun Oryza melakukannya karena merasa hal itu bagian dari tugasnya, tapi ia tak mengapa. Damar yakin, perlahan tapi pasti, ia akan membuat Oryza nyaman bersamanya hingga mau melayaninya karena cinta, bukan karena tugas semata.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...