[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.87 Dendam



Semburat jingga kini telah berganti menjadi awan kelabu. Jiwa-jiwa yang lelah pun mulai kembali satu persatu untuk beristirahat pun berkumpul dengan orang-orang tercinta. Begitu pula dengan Damar, ia merasa begitu lelah tapi juga merasa puas karena telah berhasil menangani semua permasalahan dalam satu hari itu.


Setibanya Damar di rumah besar orang tuanya, yang dicarinya pertama kali adalah calon istri dan anak-anaknya membuat Diwangga dan Anggi terkekeh.


"Hmmm ... mentang-mentang udah ketemu calon tulang rusuknya, mama papa jadi dikacangin deh!" gumam Anggi setelah Damar menyalami Anggi dan Diwangga. Sebab setelah mengucapkan salam sambil menyalami orang tuanya, Damar langsung menanyakan keberadaan Oryza.


Damar menggaruk tengkuknya, salah tingkah. Lalu ia terkekeh.


"Ah, mama papa kayak nggak pernah muda aja," sahutnya sekenanya.


"Iya, iya, tahu, tahu banget malah," sahut Diwangga.


"Ya udah, ke atas gih! Ryza sedang di kamarnya. Tadi badan Ratu agak panas. Tadi Mama udah bilang kalau panasnya makin tinggi lebih baik dibawa ke dokter," ujar Anggi memberitahu membuat Damar mendadak cemas.


Tanpa banyak kata damarkin segera berlari ke tangga untuk melihat Oryza dan Ratu di kamar mereka.


Tok tok tok ...


Damar mengetuk pintu Tak lama kemudian Oryza pun membukanya.


"Abang," cicit Oryza sendu. Raut gusar begitu kentara di wajah cantiknya.


"Kamu nggak papa? Kata mama, Ratu demam, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Damar seraya sedikit memanjangkan lehernya agar bisa melihat Ratu dari tempat berdirinya.


"Hmmm ... panasnya makin tinggi, bang," cicitnya lesu.


"Boleh aku masuk?" tanya Damar meminta izin. Bagaimana pun, Oryza belum resmi menjadi istrinya jadi ia tidak boleh sembarangan masuk ke kamar Oryza.


Oryza pun mengangguk dan melangkah masuk ke kamarnya diikuti Damar. Damar dapat melihat wajah pucat Ratu. Di dahinya tertempel handuk kecil yang digunakan Oryza untuk mengompres Ratu. Disentuhnya kepala Ratu yang panasnya terasa menyengat di kulit.


"Aku telepon Karin dulu ya, siapa tahu dia bisa pulang," tukas Damar yang diangguki Oryza. Tadi Oryza sudah memberikan parasetamol pada Ratu, tapi panasnya belum juga turun membuat Oryza khawatir.


Tak berselang lama setelah Damar menelpon, Karin pun muncul dengan menenteng tas berisi peralatan medis miliknya. Dan ia pun segera memeriksa keadaan Ratu. Tampak di sana, Raja ikut menunggu kabar sang adik yang memang tubuhnya lebih rentan sakit dibandingkan dirinya. Sedangkan Dodi memang sudah diantarkan ke apartemen atas permintaan Siti.


"Ratu nggak papa kok bang, cuma demam biasa. Sepertinya dia kayak aku dulu masih kecil, bang. Faktor gangguan kecemasan. Tapi untuk kasus Ratu, dia kayaknya shock karena mendapat perlakuan kasar dari orang-orang yang tidak dikenalnya beberapa waktu ini," ujar Karin menjelaskan.


Ya, saat masih kecil ia sempat mengalami gangguan kecemasan karena melihat ayah kandungnya marah-marah dan mengamuk di rumah mereka. Sedangkan Ratu, terlalu shock akibat orang-orang yang mengerumuninya dan mencaci-makinya. Bahkan ada yang hendak melakukan kekerasan dengan melempari apa saja pada mereka.


Raut wajah Oryza makin gusar, ia takut hal buruk terjadi pada putrinya.


"Ja-jadi bagaimana keadaannya sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Apa itu bisa berdampak buruk padanya?" cecar Oryza cemas.


Karin tersenyum lembut, "Mbak nggak usah panik. Yang Ratu butuhkan saat ini adalah pendampingan, perhatian, dan kasih sayang. Karin dulu pernah kok mbak alami itu, tapi karena mama dan papa selalu sayang dan perhatian dengan Karin, Karin pun bisa sembuh dengan cepat," tukas Karin berusaha menenangkan Oryza.


"Za, bagaimana kalau kita nikah aja dulu biar kita bisa memberikan perhatian dan kasih sayang secara totalitas pada Ratu, kamu setuju?" celetuk Damar tiba-tiba membuat semua yang mendengarnya mendongak dengan mulut menganga tak percaya dengan apa yang baru saja terlontar dari mulut Damar.


Sementara itu, di rumah sakit tampak Githa yang baru sadarkan diri dan menyadari kalau ia telah mengalami keguguran pun mengamuk. Ia marah dan menyalahkan Hendrik dan Oryza sehingga ia mengalami keguguran.


"Semua ini gara-gara kau breng-sek! Kau yang menyebabkan aku keguguran. Gara-gara kau dan wanita jalaaang itu, aku harus kehilangan anakku!" Pekik Githa seraya memberontak di atas tempat tidurnya.


"Berhenti menyalahkan orang lain! Itu salahmu sendiri yang tidak becus menjaga kandunganmu!" bentak Hendrik tak kalah kasar.


"Kau menyalahkan ku, hah?" dengus Githa sinis. "Kalau kau tidak membuat ulah dan membanding-bandingkan aku dengan jalaang itu, aku takkan mungkin merasa kesal dan aku juga pasti takkan kehilangan calon anakku."


"Berhenti menyalahkan orang lain kataku! Dan Oryza bukanlah jalaang. Tidak ada gunanya aku di sini. Kau memang sangat memuakkan. Memang pantas aku membandingkan mu dengan Oryza karena dia memang jauh lebih baik darimu," sinis Hendrik lalu ia pun segera keluar dari ruang rawat Githa sambil membanting kasar daun pintu. Meninggalkan perempuan itu dengan bara dendam yang membuncah.


"Dasar sialan! Tunggu pembalasanku wanita sialan!" desis Githa dengan sorot mata penuh kebencian.


...***...


Dua hari ini update nya kelamaan review padahal nggak ada yang aneh-aneh. Update jam 8 malam, eh besoknya baru terbit. Pusing pala othor. 😁


Buat yang nungguin, maafin ya! Othor tuh usahain update tiap hari, tapi suka lama di review. Othor pun suka uring-uringan nungguin kapan terbit. Semoga yang ini nggak lama. Update jam setengah 6 sore, kira-kira terbitnya kapan ya?


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...