[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.101 Bagaimana cara ...



Saturnus meneguk ludahnya susah payah dengan mata terfokus pada bagian dada Siti yang terlihat sintal dan aduhai. Belum menyentuh saja, tubuhnya sudah ser-seran panas dingin, apalagi bila ia benar-benar merealisasikan perkataan Siti.


"Ti, please, balikin hp aku! Aku nggak macam-macam kok, sumpah!" bujuk Saturnus seraya mengangkat jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan ke samping kepalanya. Wajahnya yang biasanya datar justru terlihat aneh saat mencoba memelas seperti itu. Susah payah Siti menahan tawanya yang hendak menyembur. Si kaku itu sungguh terlihat begitu menggelikan.


Siti memiringkan tubuhnya ke arah Saturnus yang sedang duduk bersila di atas ranjang sambil menumpukan kepalanya dengan sebelah tangan.


"Ogah. Kalau mau ambil sendiri," ucap Siti santai membuat Saturnus menjambak rambutnya frustasi.


Tangannya pelan-pelan terulur ke depan dada Siti, tapi saat beberapa sentimeter lagi tangannya menyentuh bagian tubuh Siti yang menyembul itu, Saturnus kembali menarik tangannya. Jantungnya seakan berdisko ria karena rasa gugup yang luar biasa.


"Siti, please! Gini aja deh, kamu mau minta apa nanti aku kasi asal balikin hp aku. Aku nggak ada selingkuh atau ngechat perempuan lain kok. Di kontakku saja yang jenis kelamin perempuan cuma nama kamu sama Ibu, nggak ada yang lain. Kalau nggak percaya aku liatin deh kontak hp aku," bujuk Saturnus belum mau menyerah. Dia bukanlah pria mesyum yang mau begitu saja menyentuh aset perempuan. Walaupun kadang ada rasa penasaran, tapi itu tak lantas membuatnya ingin melakukan sesuatu yang dilarang.


"Kata aku nggak mau ya nggak mau. Kecuali Mas Unus kasi tau aku apa yang Mas Unus lakukan tadi sampai terkejut terus panik gitu." Sama seperti Saturnus yang kekeh tidak mau jujur, Siti pun kekeh ingin Saturnus jujur dengan apa yang sebenarnya dilakukannya tadi.


Saturnus menghempaskan tubuhnya di samping Siti dengan mata melihat ke arah langit-langit lalu ia menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Apa boleh buat pikirnya. Bukankah Siti sudah menjadi istrinya tentu tak masalah kan sharing berdua.


Kemudian mengikuti Siti, Saturnus pun memiringkan tubuhnya menghadap Siti dengan menumpu kepalanya dengan satu tangan.


"Baiklah kalau kau memaksa," ujarnya seraya mendesah pasrah. Paling dia akan ditertawakan nanti.


"Jadi mas mau kasi tau?" tanya Siti mencoba meyakinkan. Saturnus mengangguk pasti dengan wajah datar.


Siti pun tersenyum lebar kemudian segera mengeluarkan ponsel Saturnus dari dalam bajunya dan menyerahkannya pada Saturnus. Siti sedikit merapatkan tubuhnya ke tubuh Saturnus agar dapat melihat dengan jelas apa yang sebenarnya Saturnus sembunyikan. Sontak saja, tubuh Saturnus menegang kaku, jantungnya berpacu tak tentu, matanya mengerjap beberapa kali, darahnya pun berdesir hebat.


"Bi-bisa kamu menjauh sedikit?" ucap Saturnus gugup.


"Kenapa?" beo Siti tak mengerti. Keringat Saturnus mengalir deras di pelipis membuat Siti reflek menyekanya dengan jemarinya membuat Saturnus makin salah tingkah.


"Mas Unus kepanasan? Padahal temperatur AC nya udah diturunin kok masih kepanasan sih?" gumam Siti bingung melihat gelagat Saturnus yang terlihat aneh.


"Sa-saya juga nggak tahu kenapa," jawabnya yang juga bingung. Lalu Saturnus menggeser sedikit tubuhnya untuk mencari aman. Saturnus makin bingung sendiri dengan keadaan tubuhnya yang kadang kala jantungnya tiba-tiba berdebar kencang, kadang dadanya tiba-tiba sesak, dan terkadang dirinya berkeringat dingin seperti ini. Padahal suhu kamar itu cukup dingin dengan cuaca yang juga dingin karena sore tadi baru saja diguyur hujan yang cukup deras.


'Apa ini tanda-tanda aku mengidap penyakit berbahaya? Apa aku akan segera mati? Astaga, bagaimana ini? Aku harus segera memeriksakan diri sepertinya. Harus. Jangan ditunda-tunda! Sebelum penyakitku makin parah.'


"Apa mas Unus sakit?" tanya Siti dengan sedikit mencondongkan wajahnya ke dekat wajah Saturnus yang sudah memerah seperti kepiting saos Padang.


"Mas, ngelamun terus dari tadi! Ya udah kalau nggak sakit, sekarang buka hp nya, Siti mau lihat apa yang sebenarnya mas Unus lakukan di belakang Siti. Awas aja kalau macam-macam! Siti sunat lagi torpedonya biar tahu rasa!" Ancam Siti membuat Saturnus menelan ludahnya kasar dengan tangan sudah menutupi aset keperjakaannya.


"Iya, iya, bawel! Kalau nggak percaya buka aja nih!" ketus Saturnus berusaha mengurai gugup.


Saturnus pun menyodorkan kembali ponselnya yang layarnya telah menyala dengan menampilkan riwayat terakhir apa yang dibukanya. Siti pun menerima ponsel itu dengan tidak sabar. Dalam hitungan detik, Siti membulatkan matanya saat melihat riwayat penelusuran dengan hasil tidak ditemukan.


[Bagaimana cara melakukan skidipopo dengan baik dan benar]


Sontak saja, Siti tergelak dengan sangat kencang. Ia bahkan sampai berguling-guling ke kanan dan ke kiri membuat wajah Saturnus memerah karena malu bukan main. Kesal melihat Siti terus menertawakannya, Saturnus pun merebut kembali ponselnya.


"Puas!" Saturnus mendelik tajam ke arah Siti yang masih saja belum puas mentertawakan kepolosan seorang Saturnus.


"Belum mas, belum puas. Hahaha ... Mas ... Mas ... Gimana mau ketemu di pencarian lha skidipopo itu bahasanya mbak Ryza sama si bos doang, masa' nggak tahu sih, mas. Mana kata-katanya lucu banget itu, 'Bagaimana cara melakukan skidipopo yang baik dan benar', ya ampun mas Unus, kamu lucu banget sih! Jadi gemes."


Siti tak henti-henti tertawa. Ekor matanya sampai basah karena terlalu geli dengan apa yang barusan ia baca. Ia tak menyangka, asisten pribadi seorang CEO bisa sepolos ini. Siti benar-benar merasa terhibur. Entah sudah berapa lama ia tidak tertawa lepas seperti ini. Nyatanya, kehadiran Saturnus mampu membuatnya tertawa lepas.


Saturnus melengos saat ditertawakan Siti sedemikian rupa. Siti yang merasa tak enak hati lantas mencoba meredam tawanya lalu mendudukkan bokongnya di sisi Saturnus. Siti sedikit memiringkan wajahnya agar dapat melihat wajah Saturnus yang memerah karena malu.


'Tampan dan imut. Ya, ampun, suamiku kok gemesin banget sih!' gumam Siti dalam hati. Siti tak mau memuji Saturnus terang-terangan, bisa-bisa si map plastik laminating jilid II itu kege'eran pikirnya.


"Emang mas ngapain cari tahu gimana cara melakukan skidipopo yang baik dan benar? Apa mas ekhem ... pingin ... " tanya Siti seraya menyatukan kedua telunjuknya membuat Saturnus kian gelagapan.


"Aku ... "


"Kalau mas emang mau, Siti ... Siti mau kok mas ngajarin."


Gleg ...


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...