![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
Beberapa saat yang lalu,
Setelah Oryza dan Kiandra selesai makan siang, ia pun segera berpamitan dengan Kiandra untuk kembali bekerja. Kiandra yang saat itu sedikit senggang, hanya menatap kepergian Oryza dengan tatapan yang ... entahlah. Rasanya belum rela melepas kepergian Oryza, tapi ia tak punya kuasa untuk melarang. Oryza berada di sana untuk bekerja, bukan bersenang-senang. Selain itu, apalah haknya? Ia bukan siapa-siapa bagi Oryza, selain mantan pengacara yang membantunya agar bisa segera bercerai dengan mantan suaminya. Itupun, tidak begitu banyak yang ia lakukan sebab segalanya telah dilakukan oleh Damar.
Sebenarnya Kiandra cukup sadar diri, tak mungkin bersaing dengan sahabatnya itu. Dari usahanya saja, dapat dilihat kalau Damar memang benar-benar mencintai Oryza. Damar memang memiliki banyak teman dari berbagai kalangan. Tapi ia tak pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis pun. Dan hanya Oryza saja yang pertama kali berhasil meruntuhkan benteng pertahanan hati seorang Damar Prayoga Putra Angkasa. Pemilik saham terbesar kedua Angkasa Mall setelah Anggi Saraswati, sang ibu.
Dengan anggun Oryza melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift yang akan mengantarkannya ke lantai dasar sebab ada yang ingin diambilnya di sana. Di dalam lift itu ternyata ada Alana dan 2 orang lagi yang Oryza pikir mungkin temannya sebab mereka melihat dirinya sambil sikut-sikutan, entah apa maksudnya. Oryza pun tersenyum tipis sebagai sapaan. Ia tak mau dikira orang sombong karena bisa bekerja di ruangan CEO mereka.
Namun, hal tak terduga terjadi. Setibanya di lantai dasar, tiba-tiba Alana dan kedua temannya menyeretnya paksa membuat Oryza hendak memberontak, tapi ia urungkan karena tak mau membuat keributan.
"Kalian mau apa? Kalian mau bawa aku kemana?" tanya Oryza heran. Ia berusaha bersikap tenang. Tak mau terintimidasi dengan sikap ketiga orang itu.
"Sudah, nggak usah banyak cingcong loe! Ikut kami segera kalau loe nggak mau kami permalukan di sini!" desis salah seorang dari mereka seraya berbisik dengan sorot mata mendelik tajam.
Dengan langkah santai dan anggun, Oryza mengikuti ketiga orang itu dengan posisi Oryza di tengah-tengah, diapit kedua rekan Alana. Sedangkan Alana sendiri berjalan paling depan.
Brakkk ...
Tiba-tiba saja kedua orang itu mendorong tubuh Oryza dengan kasar setibanya di sebuah ruangan kecil, sempit, dan penuh sesak karena terdapat banyak barang di dalamnya.
"Aaakh ... " pekik Oryza terkejut saat dua orang perempuan yang berada di samping mendorongnya kasar hingga tubuhnya membentur dinding.
Dengan wajah merah padam, Oryza pun segera membalik badannya menghadap ketiga orang yang sudah memasang senyum smirk.
"Sebenarnya apa mau kalian?" bentak Oryza tak terima dengan perbuatan ketiga orang itu.
"Kau tanya apa mau kami? Iya?" tanya Alana sambil menyeringai. "Segera mengundurkan diri dari Angkasa Mall dan menyingkirlah sejauh-jauhnya dari tuan Damar!" titah Alana dengan sorot mata tajam penuh kebencian.
"Hah? Kenapa?" tanya Oryza pura-pura bodoh.
"Kau tanya kenapa? Dasar jalaang murahan! Seharusnya kau sadar diri, berkaca sana, apa kamu pantas berdiri di samping tuan Damar. Apa sebenarnya tujuanmu mendekati tuan Damar, hah?" bentak salah satunya.
"Apa kau pelayan s e k s, tuan Damar, ayo ngaku kamu?"
"Pasti dia sengaja menggoda tuan Damar karena itu ia bisa berada di posisinya saat ini? Kau tahu, dia ini hanya lulusan SMA, mana mungkin bisa jadi sekretaris pribadi kalau tak ada apa-apanya. Ayo, ngaku, apa sebenarnya tujuanmu mendekati tuan Damar? Kau pasti telah menjebaknya, bukan?"
"Kotor sekali pikiran kalian. Ah, mungkin kalian terbiasa melakukan perbuatan kotor sampai bisa berasumsi tanpa dasar seperti itu," cibir Oryza membuat telinga Alana seketika panas. Ia pun segera merangsek ke depan dan menarik rambut Oryza ke belakang membuat Oryza mengaduh kesakitan.
Oryza berusaha menarik lengan Alana dan menghempasnya dengan kuat hingga terlepas. Tapi rekannya yang lain tidak terima dan langsung merangsek memegangi kedua pergelangan tangan Oryza. Oryza tak mau menyerah, ia dengan sekuat tenaga mencoba melepaskan diri tapi Alana justru menamparnya dengan kuat hingga wajahnya berpaling ke samping.
"Rasakan itu itu jalaang! Makanya jangan sok jadi orang. Janda aja belagu," hardik Alana dengan wajah merah padam.
"Aku tanya pada kalian, yang sok itu sebenarnya siapa? Apa salahku pada kalian, hah? Padahal aku nggak pernah sama sekali mengganggu kehidupan kalian, kenal aja nggak dan kau Alana ... apa aku pernah mengusikmu? Nggak kan, lalu kenapa kau bersikap seolah-olah aku merebut kekasihmu? Dasar, perempuan sinting semua kalian! Kalau kau sesuka itu sama tuan Damar, kenapa nggak bilang? Bukannya malah memperlakukan aku kayak gini, emang kalian pikir dengan begini dia akan melirikmu, hah? Bodoh, bodoh, kalian semua bodoh!" teriak Oryza yang tak terima diperlakukan kasar seperti itu.
"Tutup mulutmu, sialan! " teriak Alana.
Plak ...
Sekali lagi Alana menampar pipi Oryza. Oryza meringis merasakan sobekan kecil di sudut bibirnya. Anyir darah terasa di ujung lidahnya. Tapi hal tersebut tak membuat Oryza menangis. Ia justru tersenyum menyeringai.
"Aku pastikan, kalian bertiga akan membayar pembuatan kalian!" ancam Oryza dengan senyum menyeringai.
Tiba-tiba terdengar suara keributan di luar. Derap langkah kaki berhambur membuat ketiga orang itu panik. Takut Oryza berteriak, salah seorang rekan Alana pun membekap mulut Oryza. Tapi tak putus asa, Oryza justru menggigit telapak tangan orang itu hingga memekik kesakitan.
"Di sana!" teriak seseorang dari luar.
"Dobrak!" titah orang lainnya membuat ketiga gadis itu memucat.
"Tol ... emm ... mmmph ... "
"Aakkkh ... "
"Diam breng-sek!"
Brakkkk ...
Damar mengepalkan tangannya erat saat melihat penampilan Oryza yang terlihat begitu kacau. Matanya berkilat merah penuh amarah. Ia pun segera masuk ke dalam ruangan sempit itu dan menarik Oryza ke pelukannya. Diusapnya punggung Oryza untuk menenangkan.
"Maaf, aku sedikit terlambat. Maafkan aku, Za. Maafkan aku," lirih Damar dengan gemuruh yang masih membuncah di dadanya.
Melihat bagaimana khawatirnya seorang Damar Prayoga Putra Angkasa pada Oryza jelas membuat ketiga orang itu gemetar ketakutan. Apalagi saat beberapa orang keamanan memegangi kedua tangan mereka.
"Tuan, maafkan kami. Ini ... ini hanya salah paham. Kami tidak melakukan apa-apa pada Oryza. Tuan, dengarkan kami, maafkan kami!" mohon Alana dengan mata yang sudah basah karena air mata.
"Benar tuan, ini tidak seperti yang tuan lihat. Ini hanya ... ini hanya ... "
"Tutup mulut kalian, breng-sek!" bentak Damar membuat bukan hanya ketiga orang itu, bahkan semua orang yang melihatnya tersentak dengan jantung yang bergemuruh.
Lalu Damar membalik badannya menghadap ketiga orang itu dengan tangan kanan Oryza digenggamannya.
"Ini yang kalian bilang tidak seperti yang aku lihat?" desis Damar dengan ujung jari menunjuk ke sudut bibir Oryza.
"Sebenarnya apa masalah kalian pada Oryza, hah sampai kalian memperlakukannya seperti ini?" bentak Damar dengan kilat penuh amarah. Tapi ketiga orang itu hanya terdiam dengan wajah menunduk takut.
"Jawab!" teriak Damar murka.
"Itu ... itu karena ... "
"Nona Alana menyukai Anda, tuan jadi tidak suka melihat saya ada di dekat Anda. Dia ingin agar saya segera mengundurkan diri," ujar Oryza tenang membuat Alana menelan ludahnya sendiri.
"Begitu, Alana?" desis Damar. "Apa hakmu meminta Oryza mengundurkan diri, hah? Mau saya dekat dengan siapa dan suka dengan siapa, itu urusan saya. Terserah kau mau menyukai saya atau bagaimana, tapi kau harus ingat pada batasanmu. Saya kecewa dengan sikapmu ini, Alana," tukas Damar sambil menggelengkan kepalanya.
"Saturnus," panggil Damar.
"Ya, tuan!"
"Kau tahu kan apa yang harus kau lakukan?"
"Iya, tuan!"
"Pastikan mereka mendapatkan hukuman yang setimpal!" titah Damar tegas. Setelah mengatakan itu, Damar pun mengajak Oryza keluar dari ruangan pengap itu dengan kedua tangan merangkul pundak Oryza membuat Oryza tertunduk malu akibat sikap posesif yang dilakukan Damar.
"Tidak, aku tidak mau, lepaskan kami!" teriak Alana.
"Tuan, tolong lepaskan kami. Oryza, tolong lepaskan kami! Kami janji takkan melakukan hal itu lagi, kami mohon! Maafkan kami, lepaskan kami!" teriak ketiganya tapi tak digubris Damar dan Oryza sama sekali.
Sebenarnya Oryza kasihan, tapi perbuatan ketiganya memang sudah keterlaluan. Kalau hanya beradu mulut saja mungkin Oryza akan memaafkan, tapi mereka bukan hanya menghina, mereka juga bermain fisik. Ia tak yakin, perbuatan serupa takkan terjadi lagi di kemudian hari bila mereka dilepaskan begitu saja.
...***...
"Awww ... ssshht ... " Oryza mendesis saat Damar membersihkan sudut bibir Oryza dengan antiseptik.
"Maaf," Damar meringis sendiri saat mendengar Oryza mendesis kesakitan.
"Tidak apa," jawab Oryza paham kalau Damar tak sengaja.
"Saya oles salepnya dulu, kamu tahan ya!"
"Biar saya sendiri saja, tuan!"
"No, saya bilang biarkan saya yang mengobatinya. Lagipula ini juga salah saya jadi saya harus bertanggung jawab."
"Salah Anda?" tanya Oryza bingung sambil menatap wajah Damar yang begitu dekat dengan wajahnya. Damar tampak sedang sangat fokus mengolesi salep di sudut bibir Oryza juga pipi Oryza. Gerakan Damar sangat lembut dan ringan, seolah begitu takut menyakiti Oryza.
"Ya, salahku," ucap Damar. Lalu Damar mengangkat wajahnya sehingga mata mereka berdua saling bersirobok. "Alana melakukan ini karena menyukaiku. Sekali lagi, maafkan aku!" ucap Damar lembut seraya mengusap pipi Oryza membuat jantung perempuan itu seketika berdebar kencang.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...