![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
Oryza kini tampak terpaku di depan sebuah cermin. Sejak tadi, jantungnya tidak berhenti berdetak kencang. Tangannya berkeringat dingin. Pikirannya tak tenang. Bagaimana ia tak gugup, malam ini ia diundang keluarga besar Damar untuk makan malam di rumah mereka. Padahal ia sudah berjumpa dengan orang tua Damar, tapi ia masih saja gugup sebab malam ini bukan hanya ada orang tua dan adik-adiknya, tapi juga ada paman dan tante-tantenya. Benar-benar keluarga besar. Bagaimana kalau ada dari mereka yang tidak menyukai dirinya? Lagi-lagi status janda anak 2 membuatnya insecure.
Tok tok tok ...
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Oryza. Oryza menghela nafas lalu segera membuka pintu.
"Mbak, tuan Damar udah datang," ujar Siti membuat Oryza kian gugup.
"Bilang tolong tunggu sebentar lagi," ujar Oryza. "Oh ya, anak-anak udah siap semua Ti?" tanya Oryza.
"Udah mbak. Tuh lagi ngobrol sama calon ayahnya," goda Siti yang memang sudah tahu kalau majikannya yang baik hati sudah dilamar tetangga sekaligus atasannya.
Oryza tersipu malu. Pipinya memerah hingga ke telinga. Ia bagai ABG yang tengah jatuh cinta.
"Ih kamu ya! Udah berani godain mbak. Mbak doain kamu juga cepat nyusul. Kasihan tuh Dodi, kayaknya pingin banget punya ayah," ujar Oryza membuat Siti tersenyum pedih.
Ya, Siti pun merasa, setiap kali melihat Damar,via pun sepertinya ingin ikut merasakan kasih sayang seorang ayah. Tapi apa boleh buat, beginilah nasib mereka. Siapa sih yang mau menerima perempuan seperti dia, memiliki anak di luar nikah. Pastilah orang-orang akan berpikir 1000 kali untuk menikah dan menikahkan anaknya dengan perempuan seperti dirinya. Sudahlah miskin, tak memiliki keluarga, berpendidikan rendah, punya anak di luar nikah, sungguh tak ada sesuatu yang dapat ia banggakan dari dirinya.
Beruntung, anaknya laki-laki, kalau perempuan, bukankah lebih menyedihkan lagi karena ia lahir tak bernasab. Nasabnya justru jatuh kepada ibunya. Tentu hal tersebut akan membuat si anak perempuan insecure. Dan bisa saja, ia dipandang hina di kemudian hari. Padahal bukan maksud si anak perempuan terlahir seperti itu. Tak ada anak yang bisa memilih lahir dari rahim siapa dan dengan cara bagaimana sebab semuanya merupakan suratan takdir.
"Doain aja ya mbak! Siti juga tahu, Dodi ingin sekali memiliki seorang ayah. Tapi mau bagaimana lagi, mas Hendrik aja nolak keberadaannya. Syukur-syukur mas Hendrik nggak mencoba menyingkirkannya, kalau itu sampai terjadi, lebih baik Siti mati mbak. Hanya Dodi yang Siti miliki saat ini dan cuma Dodi sumber kekuatan Siti untuk bertahan dalam menjalani rumitnya hidup," ujar Siti lirih. "Tapi ... mungkinkah ada keluarga yang mau menerima perempuan seperti Siti mbak?"
"Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, Ti. Percaya sama Allah. Yakinlah, akan ada pelangi sehabis badai. Mbak menyayangi kamu seperti saudara mbak sendiri, pun Dodi udah mbak anggap seperti anak sendiri. Mbak selalu berdoa agar kamu pun bisa menjemput bahagiamu. Jangan letih berdoa ya, Ti! Badai pasti berlalu," ucap Oryza lalu ia menarik tubuh Siti dan memeluknya seraya mengusap punggung Siti untuk memberikan ketenangan dan kekuatan.
...***...
Dengan langkah malu-malu, Oryza keluar dari kamarnya menuju ruang tamu. Saat kakinya telah menginjak ruang tamu, suara riuh yang tadi terdengar seketika senyap. Damar sampai mematung di tempatnya dengan tatapan tak lepas dari seorang wanita cantik yang tengah berdiri tak jauh dari tempatnya.
Oryza yang saat itu mengenakan sebuah dress simple namun elegan selutut berwarna soft blue dan rambut terurai berjalan pelan ke arah Damar. Makin mendekat, makin cepat pula degup jantung keduanya. Damar benar-benar terpesona dengan penampilan simple namun elegan Oryza. Make up simple minimalis membuat Oryza tampak lebih muda. Bagi yang tidak mengenalnya, pasti takkan percaya kalau Oryza telah memiliki dua orang anak yang berusia hampir 6 tahun dan 4 tahun. Mereka justru terlihat seperti kakak adik bila berjalan bersama.
"Yah, kapan mau pelginya sih kok malah bengong liatin bunda! Mentang-mentang bunda cantik jadi pada bengong," protes Ratu membuyarkan lamunan Damar. Ia sampai menggaruk tengkuknya karena salah tingkah.
Oryza pun mengangguk lalu Damar mengangkat Ratu ke dalam gendongannya, sedangkan Raja ia gandeng dengan tangan kanannya. Posisi Raja kini berada di tengah dengan Oryza yang menggandeng tangan kanannya.
Setibanya di mobil, Damar segera mempersilahkan Oryza dan kedua anaknya masuk. Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil yang disopiri pak Sukri telah tiba di halaman sebuah rumah yang sangat besar, megah, dan mewah. Pilar-pilarnya begitu besar dan kokoh membuat mulut Oryza sampai menganga. Halamannya begitu luas dengan air mancur di tengah-tengah halaman dan lampu-lampu kecil berwarna-warni membuat suasana halaman itu terlihat begitu Indan dan menenangkan.
"Wah, lumah ayah bagus banget yah!" seru Ratu penuh takjub.
"Ayah, di kolam itu ada ikannya nggak?" tanya Raja.
"Ada, nanti kita lihat. Tapi sebelumnya kita masuk dulu ya! Kakek dan nenek pasti udah pada nungguin kalian. Mereka pingin banget ketemu kalian, yuk masuk!" ujar Damar seraya mengehela Raja dan Oryza agar mengikuti langkahnya dengan Ratu tetap berada di gendongannya.
Mereka pun menaiki tangga menuju teras rumah l. Tak lama kemudian, pintu besar yang berukiran mewah terbuka lebar. Ternyata yang membukakan pintu adalah asisten rumah tangga keluarga itu.
"Selamat datang nyonya muda. Selamat datang nona kecil, den," ucap asisten rumah tangga itu yang disambut Oryza dengan senyuman dan sapaan ramah.
"Makasih bik. Perkenalkan, saya Oryza, dan ini anak-anak saya, Raja dan Ratu," ujar Oryza seraya menyalami bibi itu.
"Saya Mak e, Nya. Panggil aja saya Mak e kayak yang lain. Ayo masuk nya, non, den! Tuan dan nyonya serta yang lainnya udah nungguin di dalam," tukas Mak e seraya mempersilahkan mereka masuk.
Setibanya di ruang tamu, Oryza sontak saja membelalakkan matanya. Ternyata di dalam sana begitu ramai. Oryza sampai berkeringat dingin apalagi saat semua pasang mata menatap kedatangannya.
'Banyak banget. Udah kayak mau hajatan aja!'
...***...
**Ayo, siapa yang bisa absen siapa aja yang datang! Keluarga besar ini lho! Minus Oma dan Opa nya aja karena udah othor anggap telah tiada. 😁
...HAPPY READING 🥰🥰🥰**...