![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
Akhirnya nikah dadakan antara Tisya dan Kiandra pun benar-benar dilaksanakan. Orang tua Kiandra tentu menyambutnya dengan suka cita. Siapa juga yang tak senang melihat sang putra kebanggaan akhirnya menemukan pujaan hatinya. Apalagi gadis yang dipersuntingnya itu merupakan anak dari asisten pribadi CEO Angkasa Grup dan ibunya pemilik Amel's Butik yang terkenal khususnya kalangan atas.
Karena kelelahan, tanpa melepaskan kebaya yang dikenakannya, Tisya pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang telah dihiasi dengan taburan bunga mawar.
Tisya berdecih saat melihatnya. Tak peduli dengan keindahan dekorasi kamar yang sangat indah, Tisya menghempaskan tubuhnya di atas ranjang kemudian terlelap dalam hitungan detik. Sangat wajar bila Tisya merasa sangat mengantuk sebab nyaris hampir semalaman ia tidak dapat memejamkan matanya karena terus kepikiran dengan pernikahan dadakannya. Tisya orang tuanya untuk membatalkan pernikahannya tetapi ayah dan ibunya tetap kekeh ingin menikahkannya. Akhirnya, sepanjang jalannya akad nikah dadakan itu, Tisya hanya tersenyum masam dan setelah semua orang satu persatu mulai membubarkan diri, Tisya pun segera beranjak dan kembali ke kamarnya yang entah sejak kapan telah dihiasi.
Kiandra yang baru masuk ke dalam kamar Tisya pun mengulas senyum saat melihat Tisya telah terlelap dengan masih mengenakan kebayanya. Tak mau mengganggu, ia pun segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah memakan waktu hampir 20 menit, ia pun keluar dari dalam kamar dengan hanya mengenakan handuk yang melingkari pinggangnya.
Tisya yang merasakan desakan biologisnya mengerang tertahan. Ia pun beranjak dari tempat tidur dengan mata yang masih setengah terpejam menuju kamar mandi. Namun, tiba-tiba tubuhnya terhuyung ke belakang saat ia merasa menabrak sesuatu yang basah, sedikit, hangat, tapi keras.
Dugh ...
"Awww ... "
Tisya pun mengerjapkan matanya untuk melihat apa yang sebenarnya ia tabrak. Matanya seketika membulat sempurna saat mendapati sosok Kiandra telah berdiri menjulang tinggi di hadapannya.
"Kau ... " pekiknya histeris. "Ngapain kakak di kamar aku? Astaga, pake numpang mandi juga! Mau pamer body six pack gitu? Nggak ngaruh. Nggak tergoda," ketus Tisya dengan tangan bersedekap di depan dada.
Melihat ekspresi judes Tisya, justru membuat Kiandra makin tertantang. Ia pun melangkah maju mendekati Tisya yang masih menatapnya sinis. Bibirnya menyunggingkan seringaian. Melihat ekspresi Kiandra yang menurutnya aneh, Tisya pun beringsut mundur perlahan.
"Kakak mau ngapain? Jangan dekat-dekat!" ketus Tisya mencoba menutupi rasa kegugupannya.
"Kenapa? Takut?" ejek Kiandra dengan sorot mata penuh intimidasi.
"Takut? Siapa? Aku? Hahaha ... mana ada. Ngapain takut," kilah Tisya yang kini kian gugup. Jantungnya bahkan sudah dag-dig-dug tidak karu-karuan.
Lalu dengan gerakan cepat, Kiandra menarik tangan Tisya dan menempelkannya ke dadanya. Tisya hendak menolak dan menarik kembali tangannya, tapi Kiandra justru menahannya.
"Lepasin, kak! Kakak apa-apaan sih?" ketus Tisya seraya berusaha menarik tangannya.
"Apa kamu ... penyuka sesama jenis?" ucap Kiandra tepat di hadapan Tisya mengabaikan pemberontakan Tisya.
Sontak saja pertanyaan Kiandra membuat Tisya membelalakkan matanya. Bagaimana bisa pria di hadapannya itu bertanya seperti itu? Apa dipikirnya dirinya bukanlah gadis normal?
"What the f u c k your question? Apa kakak gila nanya kayak gitu?" pekik Tisya dengan wajah merah padam.
"Bukankah kau tadi bilang nggak akan tergoda dengan tubuhku yang nyaris sempurna ini? Kalau tidak, mana mungkin kamu bilang gitu. Cewek lain aja kalau disuguhkan pemandangan kayak tubuhku ini langsung terpesona. Hanya satu hal yang membuatmu menolak kalau nggak ya itu, kamu itu seorang ... "
Dugh ...
"Awwww ... kamu ... "
"Kenapa? Makanya jangan asal nuduh aja. Aku masih normal tahu. Jangan mentang-mentang ganteng terus punya body bagus jadi ngira semua cewek bakal suka dengan kakak terus yang nggak suka dianggap nggak normal. Enak aja," sungut Tisya seraya berlari masuk ke kamar mandi ingin menuntaskan hajatnya. Baru saja ia keluar dari dalam kamar mandi, tiba-tiba ada sebuah tangan menariknya kemudian mendekapnya dari belakang.
"Syukurlah kalau kamu normal. Artinya, kakak nggak perlu sungkan-sungkan lagi, iya kan!" bisiknya seduktif di telinga Tisya.
"Ap-apa maksud kakak?" tanya Tisya gugup.
"Masih mau bertanya?" bisiknya lagi lalu tanpa permisi ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Tisya. Tisya yang baru kali ini merasakan kulit lehernya di sentuh apalagi oleh seorang pria, tiba-tiba saja meremang. Tubuhnya menggeliat hendak melepaskan tapi dekapan Kiandra cukup erat membuatnya tak mampu melepaskan diri.
"Kak ... ahhh ... ka-kak ngapain? Le-pas ahhh ... "
Perbuatan Kiandra yang mengecup, mengigit, dan juga menjilati leher Tisya sontak saja membuat darahnya berdesir hebat. Ia sampai terpejam tak dapat mengontrol sensasi aneh yang yang kian membuatnya mabuk kepayang.
Melihat tubuh Tisya yang mulai menerima tanpa penolakan, Kiandra pun membalikkan badannya sehingga mereka berhadapan. Tatapan keduanya tampak sayu. Pandangan Kiandra kini telah terfokus pada bibir Tisya yang tampak terbuka tertutup karena nafasnya yang memburu. Tak tahan dengan godaan si kuncup merah itu, Kiandra pun memangkas jaraknya dan menyatukan bibir mereka. Dipagutnya bibir Tisya dengan lembut dan perlahan. Ingin rasanya Tisya menolak, tapi entah mengapa ia justru turut membalas pagutan itu. Ini merupakan kali pertama ia merasakan berciuman. Sudah lama ia ingin merasakannya namun ia tak mungkin berciuman dengan sembarang orang bukan? Jadi, untuk kali ini, biarlah ia merasakannya. Toh yang melakukannya suaminya sendiri bukan. Jadi tak masalah.
Kiandra tersenyum puas di sela ciumannya. Ia tak menyangka, si jutek ini mau membalas pagutannya. Terlepas dari ciumannya yang masih teramat kaku, Kiandra justru senang. Artinya dirinya lah yang pertama menjamah tubuh si jutek bin judes ini. Kiandra menyadari satu hal, mungkin sikap ketus dan judes Tisya ini sebagai perlindungan dirinya dari godaan maut para laki-laki buaya. Dengan begitu, laki-laki akan berpikir 1.000 kali untuk menjadikannya kekasih dengan tujuan main-main.
Setelah saling berpagutan cukup lama, Kiandra pun melepaskan tautan bibir mereka. Bibir Kiandra tersenyum saat melihat Tisya yang membuang muka karena malu.
"Bagaimana? Enak? Mau lagi?" cecar Kiandra sambil mengulum senyum.
"Enak apanya! Sakit, iya!" keris Tisya seraya memegangi bibirnya yang membengkak karena ulah Kiandra membuat laki-laki itu tergelak kencang.
"Makasih ya!" ucap Kiandra tiba-tiba membuat Tisya mengerutkan keningnya.
"Untuk?"
"Udah menjaga dirimu dengan sangat baik dan terima kasih sudah menjadikan aku yang pertama," ucap Kiandra lirih seraya mengusap pipi Tisya membuat Tisya jadi salah tingkah dan bergegas berlalu dari hadapan Kiandra.
Khawatir Kiandra menuntut hal yang lebih lagi, Tisya pun segera beranjak mengambil pakaian gantinya di dalam koper. Tapi baru saja ia membuka kopernya, Tisya langsung membelalakkan matanya dan berteriak. Bagaimana ia tidak shock sebab seluruh baju tidur yang ia bawa sudah berganti lingerie semua.
"Siapa yang ngelakuin ini sih? Kurang kerjaan banget!" omel Tisya sambil mengacak rambutnya frustasi.
Kiandra yang diam-diam mengintip dari belakang tubuh Tisya, terkekeh geli sambil menutup mulutnya. Entah kerjaan siapa itu. Dalam hati, ia berterima kasih sebab melihat ekspresi kesal dan bingung Tisya sungguh sangat menghibur dirinya.
...***...