[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.115



Berita tentang pernikahan Oryza dan Damar selaku CEO Angkasa Mall telah tersebar luas. Resepsi pernikahan itu memang masih kalah mewah dengan resepsi pernikahan orang tua Damar dahulu, namun untuk kesakralan dan keindahan tetap memiliki arti tersendiri di benak pasangan pengantin itu.


Sebagian orang ada yang turut bersuka cita, mengucapkan selamat, merasakan kagum pada sosok Damar yang mau menikahi janda biasa seperti Oryza dan menerima anak-anaknya, serta merasa Oryza sangat beruntung bisa mendapatkan laki-laki seperti Damar. Namun ada juga yang mencibir pasangan itu. Ada yang masih tak percaya dengan pernikahan mereka dan menganggap itu seperti gurauan saja. Ada juga yang mengatakan kalau Oryza pasti menggunakan cara-cara kotor untuk menggaet seorang CEO seperti Damar. Rambut boleh sama hitam, tapi isi hati siapa yang tahu. Tak ada yang bisa mengendalikan isi pikiran seseorang. Apalagi seseorang yang terbiasa berpikiran negatif, setiap melihat sesuatu, ia selalu menilai secara negatif, tanpa bisa mengambil sisi positifnya.


Begitu pula Hendrik, ia pun telah menyaksikan melalui layar kaca bagaimana meriah dan indahnya pesta pernikahan mantan istrinya itu. Sambil termangu, ditontonnya cuplikan kemeriahan pesta pernikahan itu dengan tatapan sendu. Mungkin inilah yang disebut penyesalan seorang suami yang sayangnya telah terlambat sebab status mereka kini tak lebih dari mantan. Seandainya ia tidak serakah, mungkin hingga saat ini mereka masih sebagai sebuah keluarga bahagia. Tapi menyesal pun percuma. Semua takkan mungkin kembali ke tempat semula. Biarlah ia simpan memori kebersamaan mereka dalam hati dan pikirannya. Pun rasa cinta yang masih ada itu, biarlah tetap berada di tempatnya. Harapnya, semoga pernikahan kedua Oryza akan selalu bahagia dan semoga pendampingnya kali ini tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti yang pernah dirinya buat. Cukup dirinya saja yang pernah menorehkan luka di hati dan hidup Oryza, jangan ada yang lain lagi. Dan juga semoga laki-laki itu bisa menerima dan membahagiakan anak-anaknya. Hendrik sadar, ia bukanlah seorang suami dan ayah yang baik. Namun ia menginginkan mantan istri dan anak-anaknya mendapatkan yang terbaik meskipun itu bukan bersama dirinya. Ia sudah ikhlas posisinya diisi orang lain.


Hendrik mendesah lalu membaringkan tubuh lelahnya di atas sofa. Matanya terpejam, tapi pikirannya berkelana. Sefatal inikah dosa-dosanya sehingga ia tak pantas kembali berbahagia. Hidupnya kini benar-benar hampa. Tiada seorang pun yang menemani di sisinya. Ia tak memiliki sanak, saudara, kerabat, ataupun keluarga lainnya. Kini, ia hanya ingin menghabiskan sisa waktunya di rumah penuh kenangan itu sebab lusa ia sudah harus pindah. Rumah itu telah ia jual. Terlalu banyak kenangan yang kadang membuatnya sesak sendiri. Jadi, ia memilih menjualnya dan mencari apartemen kecil untuk dirinya sendiri. Lagipula, ia takkan mampu mengurus rumah besar itu seorang diri. Untuk menggaji asisten rumah tangga pun sepertinya ia takkan sanggup. Karena jabatannya yang diturunkan menjadi karyawan biasa saja tentu gajinya pun tak seberapa. Hah, betapa malang nasibnya kini. Hukum tabur tuai kini benar-benar terjadi padanya.


...***...


Senin pagi merupakan waktu sibuk untuk semua orang. Apalagi hari ini merupakan hari pertama ajaran baru dimulai. Sebenarnya Damar dan lainnya masih merasa lelah dan terbawa suasana euforia di Bali, tapi mereka tak mungkin menambah waktu libur mereka. Mereka tetap harus beraktivitas apalagi anak-anak sudah harus kembali ke sekolah.


Seperti saat ini, sebelum berangkat ke kantor, Damar akan mengantarkan kedua putra dan putri sambungnya ke sekolah. Mereka masih tinggal bersama orang tua Damar. Pagi itu pun jadi makin riuh dari hari sebelum-sebelumnya sebab mulai hari itu Raja baru mulai masuk sekolah dasar. Beruntung Karin sedang tidak bekerja jadi ia menawarkan diri untuk mengantarkan Ratu. Apalagi Ratu masih bersekolah di tempat yang sama, tentu ia tidak perlu beradaptasi kembali seperti Raja.


"Wah, anak ayah sudah ganteng aja!" puji Damar saat melihat Raja mengenakan seragam putih merahnya.


"Harus dong kan anak ayah jadi harus ganteng," sahutnya bangga.


"Ayah culang kok cuma kak Laja aja yang dipuji, Latu nggak," protes Ratu yang sudah mencebikkan bibirnya.


"Aduh, princess ayah kok ngambek? Nanti cantiknya hilang lho digondol kucing, mau?" goda Damar seraya menoel pipi tembam Ratu.


"Digondol itu apa ayah?" tanya Ratu bingung membuat Oryza yang mendengarnya terkekeh.


"Gondol itu yang dijadiin lagu itu bukan yah? Yang gondol gondol pacul cul gembelengan," celetuk Raja seraya menyanyikan lirik lagu anak yang sering ia dengar.


"Itu gundul, Rajaaa ... " teriak Damar dan Oryza bersamaan membuat Raja terkekeh karena berhasil mengerjai orang tuanya.


"Nih anak udah mulai iseng ya! Kalo nggak mau pergi sekolah aja, udah ayah kelitikin kamu," sungut Damar pura-pura kesal.


"Kelitikin aja palingan entar bunda marah karena baju Raja kusut lagi, ya nggak Bun?"


"Bunda angkat tangan. Bunda netral. Siapa yang usil biarin dapat hukuman," sahut Oryza seraya mengangkat kedua tangannya ke atas.


...***...


Siang harinya, tepat memasuki jam makan siang, Hendrik sengaja membeli makanan kesukaan putra dan putrinya. Ia ingin sekali makan siang bersama dengan Raja dan Ratu jadi ia pun segera mengemudikan mobilnya menuju apartemen yang diketahui Hendrik sebagai tempat tinggal mantan istri dan anak-anaknya. Ia harap mereka bertiga masih tinggal di sana. Namun, kenyataan tak sesuai ekspektasi. Saat pintu apartemen dibuka, yang keluar bukanlah Oryza dan anak-anaknya, melainkan Siti. Terus terang, semenjak mulai menyadari kesalahan-kesalahannya, ia jadi merasa gugup sendiri berdiri di hadapan salah seorang perempuan hebat yang pernah ia sakiti. Bahkan Siti tak pernah menuntut balas atau apapun atas perbuatannya di masa lalu.


"Ti, eee Ryza ... dan anak-anak ada?" tanya Hendrik gugup. Sorot matanya ia palingkan agar tak bersirobok dengan mata Siti. Tapi pandangannya justru menangkap keberadaan sosok laki-laki kecil yang cukup tampan yang sedang bersembunyi di balik punggung Siti.


"Maaf tuan, nyonya dan anak-anak beberapa Minggu ini tinggal di rumah mertuanya," sahut Siti berusaha biasa saja padahal dalam hati sebenarnya ia was-was.


Hendrik mendesah lirih lalu ia melirik Dodi dan hendak menyerahkan makanan yang ia bawa untuk Dodi.


"Hai," sapa Hendrik membuat Siti mengerutkan kening, merasa heran dengan sikap Hendrik. Tak biasa-biasanya ia menyapa putranya.


"Ba-baik, Om," sahut Dodi yang juga sedikit merasa takut pada Hendrik.


"Ini ... bu ... "


"Ngapain kamu di sini?" suara bariton tiba-tiba menggelegar di koridor apartemen. Sontak saja , ketiga orang yang berdiri di ambang pintu itu menoleh ke arah sumber suara.


"Kalau kau hanya ingin mengusik kehidupan nyonya Oryza dan Siti serta Dodi, sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum aku menghajar wajahmu itu," hardik Saturnus merasa geram melihat keberadaan Hendrik yang sedang mencoba mendekati Dodi. Tangan Saturnus sudah mengepal kuat. Seandainya Dodi tidak berada di sana, sudah ia hancurkan wajah sok polos Hendrik.


"Jangan ikut campur urusanku, tuan! Kau tak berhak ikut campur!" sahut Hendrik sinis yang belum tahu siapa itu Saturnus.


"Tentu aku berhak ikut campur sebab Siti sudah menjadi istriku dan Dodi kini telah menjadi anakku," tukas Saturnus penuh percaya diri.


Deg ...


...***...


...HAPPY READING yy🥰🥰🥰...