[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.92 Gadis Kecil Kesayangan



"A-abang, stop ih!" suara Oryza terdengar mendesis saat tangan jahil Damar mulai menyentuh sesuatu yang lembut dan kenyal.


"Kenapa?" tanya Damar pura-pura bodoh.


"Ih, ini masih siang, bang," sungut Oryza.


"Memangnya kalau masih siang kenapa?"


"Bang, keluarga besar Abang aja masih ngumpul di bawah, masa' Abang udah mau itutuitu sih!"


"Santai aja, Humaira. Mereka juga pasti ngerti kok," ujarnya dengan kepala masih bertengger di ceruk leher Oryza. Hangat deru nafas Damar membuat bulu kuduknya merinding.


"Bang, udah 2 kali abang panggil aku Humaira, kok Abang panggil aku Humaira sih? Jangan-jangan Abang punya mantan yang namanya Humaira ya? Terus Abang jadi keinget dia gitu? Abang jahat," sungut Oryza seraya mencebikkan bibirnya.


Damar justru terkekeh gemas melihat raut wajah Oryza yang dia rasa pasti sedang cemburu.


Lalu Damar membalikkan badan Oryza menghadapnya. Kedua tangan Oryza ia kalungkan di lehernya, sedangkan kedua lengannya ia lingkarkan di pinggang Oryza. Mendapatkan perlakuan seintim ini sontak saja membuat jantung Oryza berpacu kencang. Lagi-lagi pipinya bersemu merah, begitu kontras dengan kulitnya yang putih bersih.


"Mantan, heh?" Damar tersenyum mengejek. Indikasi cemburu begitu kentara di wajah wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya itu. "Abang mana ada mantan. Pacaran aja belum pernah."


Sontak saja mendengar penuturan itu membuat mata Oryza membelalak. Ia merasa sangsi mendengarnya. Mana mungkin pria setampan, senapan, dan sesukses Damar tidak pernah memiliki seorang kekasih.


"Cih, nggak percaya. Bohong itu yang kira-kira, bang," cibir Oryza tidak percaya.


"Aku serius, Humaira. Abang itu terlalu setia. Sampai-sampai tidak bisa membuka hati untuk perempuan lain."


Oryza mengerutkan keningnya bingung dengan kata-kata ambigu suaminya itu.


"Sini deh!"


Damar menarik lengan Oryza menuju ke sebuah laci yang ada di samping tempat tidur. Kamar yang akan mereka tempati merupakan kamar Damar sendiri. Lalu Damar membuka laci itu dan mengambil sebuah buku tulis bersampul hello Kitty.


Oryza jelas saja bingung dengan apa yang akan dilakukan Damar. Lalu Damar menyerahkan buku tulis itu pada Oryza membuat alis Oryza bertaut.


Damar yang paham kalau Oryza sedang bingung lantas memintanya membaca nama yang tertera di depan sampul buku itu. Oryza pun membelalakkan matanya saat melihat namanya lah yang tertera di sampul buku itu.


"Itu buku cinta pertama Abang. Buku gadis kecil yang membuat Abang tidak bisa berpaling hati dan selalu setia menanti. Berharap berjumpa lagi," ujarnya sambil menghela pinggul Oryza agar duduk di atas pangkuannya yang sudah terlebih dahulu duduk di tepian ranjang.


"Cinta pertama Abang namanya sama kayak aku? Apa kata Abang tadi? Dia membuat Abang selalu setia menanti dan nggak bisa berpaling hati. Apa Abang deketin aku karena nama kami sama?" tanya Oryza dengan mata berkaca-kaca. Hatinya mencelos membayangkan dirinya dijadikan istri Damar karena mereka memiliki kesamaan nama.


Lalu Damar melingkarkan tangannya di pinggang Oryza sembari menarik wajah Oryza agar bersandar di dadanya.


"Mungkin kamu lupa, waktu kecil kita pernah ketemu, Humaira. Saat itu Abang pulang lebih cepat. Tapi karena belum dijemput, Abang nungguin mama di depan sekolah sambil duduk-duduk. Terus kamu datang ikutan duduk. Kamu ajakin Abang ngobrol terus nawarin Abang roti yang enak banget. Kamu juga memperkenalkan diri dengan nama Oliza Catipa. Tapi pas Abang nyebutin Oliza Catipa kamu marah terus bilang salah. Terus kamu keluarin buku tulis untuk nunjukin siapa nama kamu. Tapi sayang, belum sempat kita ngobrol lama, jemputan kamu datang. Buku kamu pun tertinggal di tangan Abang dan semenjak itu Abang berharap bisa bertemu kamu lagi. Tapi sayang, itu pertemuan pertama dan terakhir kita. Bertahun-tahun Abang menantikan bertemu lagi dengan kamu, tapi kamu nggak pernah muncul lagi. Abang sampai ambil alih toko yang jual roti yang kamu kasih itu, berharap suatu hari kamu datang beli roti lagi, tapi lagi-lagi nggak ada," cerita Damar dengan tatapan mata menerawang.


"Hingga bertahun-tahun kemudian atau tepatnya beberapa bulan yang lalu Abang liat kamu di sekolah Raja dan Ratu. Tiba-tiba saja jantung Abang berdetak kencang. Abang seolah terbawa ke masa kita bertemu pertama kali. Entah dapat keyakinan dari mana, Abang sangat yakin kalau kamu itu gadis kecil cinta pertama Abang. Abang pun menyelidiki segala hal tentang kamu termasuk dimana kamu dulu pernah sekolah. Dan dugaan Abang benar, kamu ... adalah gadis kecil kesayangan Abang. Cinta pertama Abang. Pelabuhan pertama dan terakhir hati Abang. My Humaira. Si pipi kemerahan kesayangan Abang. Ich liebe dich, my Humaira," lanjut Damar lalu ia mengecup singkat bibir merah Oryza membuat wanita itu mematung dengan pandangan menerawang. Pikirannya berusaha mencerna segala fakta yang baru saja didengarnya ini.


Damar pernah bertemu dengan saat masih kecil lalu Damar juga jatuh cinta padanya sejak kecil.


"Abang lucu deh, masih kecil udah cinta-cintaan," ujar Oryza seraya tersenyum mengejek. "Tapi, Ryza merasa amat sangat terharu. Ryza memang nggak ingat masa cerita Abang itu, tapi Ryza kagum akan keteguhan hati Abang. Padahal Abang nyaris sempurna tanpa celah dan Abang bisa mendapatkan gadis mana saja yang Abang inginkan, tapi Abang justru tetap setia menanti pertemuan kita kembali. Abang juga mempersembahkan kesempurnaan cinta untuk Ryza yang sangat jauh dari kata sempurna ini. Terima kasih Abang sudah jadiin Ryza sebagai pelabuhan hati Abang. Terima kasih atas segala cinta yang Abang beri. Ryza ... Ryza sampai nggak tahu harus ngomong apalagi untuk mengungkapkan betapa Ryza merasa begitu beruntung menjadi pendamping hidup abang. Makasih bang, Ryza juga cinta abang," ujar Oryza dengan mata berkaca-kaca. Rasa haru dan bahagia menyeruak.


Damar pun lantas menarik tubuh Oryza dan mendekapnya erat. Menyalurkan rasa yang selama ini tersimpan rapi hanya untuk Oryza seorang.


Sementara itu, di rumah sakit, Saturnus menyeret langkah kakinya dengan tergesa diikuti Dodi dan Siti. Sadar ia tidaklah sendiri, lantas Saturnus membalikkan badannya tanpa aba-aba sehingga Siti yang berjalan tergesa di belakangnya menabrak dada bidangnya.


"Aaakh ... " jerit Siti spontan saat wajahnya membentur dada Saturnus yang liat dan keras.


"Ah, ma-maaf! Kamu tidak apa-apa?" tanya Saturnus panik seraya menarik dagunya sehingga ia bisa menatap jelas wajah Siti. Hidung Siti tampak memerah membuat Saturnus merasa bersalah. Lalu tanpa sadar ia menggerakkan jemarinya mengusap hidung Siti. Wajah Siti kontan saja memerah. Melihat pipi Siti yang ikut memerah membuat Saturnus makin merasa bersalah. Lantas ia pun mengusap pipi merah Siti membuat jantung keduanya berdebar tidak karuan hingga suara Dodi membuat keduanya terkesiap dan mundur satu langkah memberi jarak.


"Ibu nggak papa?"


"I-ibu nggak papa kok, nak," ujar Siti seraya tersenyum canggung. Jantungnya masih saja berpacu kencang seolah dia baru saja berlarian jauh.


"A-ayo, ibu, ibu saya masuk rumah sakit lagi. Dan dia ... dia ingin bertemu ka-kamu lagi. Maaf, tadi ... saya nggak bilang," tukas Saturnus tak enak hati telah melibatkan Siti dalam permasalahannya.


"Oh ... i-iya, saya tidak apa-apa tuan," sahut Siti gelagapan.


...***...