![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
Di ruang kerjanya, Saturnus sibuk mengetukkan jemarinya di atas meja. Pikirannya tak bisa fokus karena memikirkan permintaan sang ibu yang sedang terbaring di rumah sakit. Apalagi kalau bukan membawa seorang perempuan yang berstatus kekasih ke hadapannya. Bukannya tak mau memberikan ibu dan ayahnya menantu, tapi ... ia memang tak memiliki teman wanita satupun.
Sepanjang usianya, Saturnus hanya sibuk fokus dengan belajar dan bekerja. Terlahir dari keluarga sederhana membuatnya ingin sekali menjadi orang yang sukses sehingga dapat membahagiakan kedua orang tuanya. Saturnus lupa, kebahagiaan orang tua itu bukan hanya dengan pekerjaan yang bagus juga bergaji besar, tapi juga memberikan mereka menantu juga cucu-cucu yang lucu. Apalagi Saturnus merupakan anak tunggal, tentu kebahagiaan tersendiri bagi orang tuanya bila bisa melihat dirinya menikah dan memiliki anak.
Saturnus menghela nafas berat. Negosiasinya dengan Siti semalam berakhir penolakan keras. Siti yang awalnya ia lihat kalem ternyata bisa menjadi garang apalagi saat ia menyebutkan akan membayarnya. Huh, salahnya juga yang menilai perempuan tak jauh dari kata materialistis! Seandainya ia memiliki kandidat yang lain, dia pun sebenarnya ogah meminta Siti sebab Siti telah memiliki seorang anak. Saturnus sendiri belum tahu status Siti yang sebenarnya. Tapi Saturnus akui, Siti itu cantik. Wajahnya masih terlihat muda. Tidak kentara kalau ia sebenarnya sudah memiliki seorang anak. Jadi tak masalah kan meminta dirinya sebagai kekasihnya. Hanya satu hari. Ya, hanya satu hari. Ia tak tahu, kalau satu hari itu akan mengubah hidupnya.
Saat sedang berkutat dengan pikirannya, tiba-tiba pintu ruangannya dibuka lalu dari baliknya muncul atasannya dengan alis naik sebelah.
"Sepertinya pekerjaanmu kurang banyak ya, Sat? Sampai sempat-sempatnya melamun," cibir Damar. Saturnus hanya terdiam kaku. Ya, dia akui dirinya salah karena terlalu banyak melamun.
"Kenapa diam? Ada masalah?" tanya Damar.
Saturnus ragu ingin meminta bercerita atau tidak dengan atasannya itu? Tapi bila dipikirkan seorang diri, ia lun bingung harus apa dan bagaimana.
"Cerita saja, siapa tahu aku bisa membantu!" tukas Damar lagi membuat Saturnus memberanikan diri mengangkat wajahnya.
Setelah menghela nafas panjang, ia pun mulai menceritakan perihal permintaan ibunya yang sekarang sedang terbaring di rumah sakit.
"Jadi kau minta bantuan Siti lalu dia marah karena kau tidak mengucapkan kata tolong? Kau juga mengatakan akan membayarnya?" Ulang Damar seraya menaikkan kedua alisnya. Damar yang kadung penasaran dengan cerita Saturnus lantas menghempaskan bokongnya ke salah satu sofa single.
Damar pun berdecak sambil geleng-geleng kepala saat melihat Saturnus mengangguk.
"Bego' dipelihara. Makanya jadi orang jangan terlalu kaku. Bicara sama perempuan juga harus ekstra hati-hati. Gunakan otak. Perempuan itu salah satu kata saja bisa dibalas jadi seribu kata. Sekali kesal bisa berhari, berminggu, bahkan berbulan marahnya," tukas Damar dengan gerakan bibir mencibir.
Saturnus hanya terdiam seraya menyimak. Ia masih menunggu, kalau-kalau atasannya itu memberinya saran. Dan benar saja, beberapa saat kemudian Damar pun memberikannya saran.
...***...
Dan disinilah kini Saturnus dan Siti berada. Di dalam sebuah mobil yang Saturnus kendarai sendiri dengan Siti yang terus memasang wajah bingung karena tak tahu akan dibawa kemana.
"Tuan, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Siti penasaran. Sebab tadi Saturnus tiba-tiba saja muncul dan mengatakan disuruh Oryza menjemputnya. Saat itu hanya ada dirinya saja di apartemen, sedangkan Dodi ikut Oryza dan Damar yang akan pergi ke taman safari bersama Raja dan Ratu.
"Ke rumah sakit," jawab Saturnus singkat, padat, dan kurang jelas.
"Rumah sakit? Siapa yang sakit? Apa mbak Ryza masuk rumah sakit? Atau ... anak-anak? Astaga, bagaimana ini?" cerocos Siti panik bukan kepalang. Pikirannya sibuk dengan hal-hal buruk membuat Saturnus menggelengkan kepalanya.
"Bukan. Mereka semua sedang pergi ke taman safari dengan tuan dan nona Ryza," ucap Saturnus.
"Lantas untuk apa kita ke rumah sakit? Apa Anda sedang sakit tuan?" Siti sedikit memiringkan kepalanya untuk mengamati wajah datar Saturnus. "Dari wajah Anda kelihatannya Anda baik-baik saja jadi ... "
"Bukankah saya kemarin sudah bilang memintamu jadi kekasihku satu hari?"
Mendengar itu, sontak saja Siti menegakkan punggungnya dengan mata melotot tajam.
"Hei, bukankah saya sudah menolaknya kemarin! Kau itu tuli atau bodoh sih? Kok maksa sih!" Siti menyalak geram.
"Kau bilang kemarin kan kalau meminta bantuan harus mengucapkan kata tolong? Baiklah, saya ucapkan, tolong jadilah kekasihku, satu hari saja! Oke , gimana? Sudah kan!" ucap Saturnus datar tanpa ekspresi. Bahkan menoleh saja tidak. Wajahnya masih saja fokus ke arah jalanan membuat Siti melongo dengan kemarahan telah berada di ubun-ubun.
...***...
"Yayah, gendong! Latu capek. Pegel kaki Latu, yah!" ujar Ratu membuat Damar terkekeh.
"Oke, princess! Ngomong-ngomong, gimana? Kalian senang nggak?"
"Senang banget, Yah!"
"Senang sekali, om!"
Seru mereka bertiga bersamaan. Damar memang sengaja mengajak Dodi agar Saturnus dapat menjalankan rencananya mengajak Siti. Diam-diam Damar berharap keduanya berjodoh. Siapa tahu bukan, kekasih satu hari itu berakhir pasangan seumur hidup.
Ia sangat tahu, kalau Saturnus tidak pernah dekat dengan perempuan manapun. Bahkan dengan sekretarisnya terdahulu, ia begitu menjaga jarak. Karena itu, ia sempat terkejut saat melihat dari CCTV bagaimana Saturnus yang nampaknya terpesona pada Oryza saat di pantry. Ia khawatir, diam-diam Saturnus jatuh hati pada Oryza. Dengan menjodohkan Siti dan Saturnus, ia harap Saturnus segera melupakan perasaannya pada calon istrinya itu. Sebagai seorang lelaki, tentu ia bisa melihat kalau Saturnus memiliki rasa pada Oryza yah walaupun mungkin saja belum ia sadari. Karena itu, sebelum ia menyadari dan sebelum semuanya terlambat, ia harus bergerak cepat. Bukan hanya segera menjadikan Oryza sebagai miliknya, tapi juga menjodohkan Saturnus dengan Siti. Ia harap, Siti bisa membuat si balok kayu jatuh hati.
Selain itu, ia tak tega rasanya meninggalkan bocah kecil itu. Ia yakin, selama ini Dodi belum pernah merasakan diajak jalan-jalan dan bersenang-senang. Lagipula Dodi anak yang baik dan penurut. Jadi, apa salahnya turut mengajaknya, bukan.
"Siapa mau makan es krim?" tawar Damar yang disahuti Raja, Ratu, dan Dodi penuh semangat.
Lantas mereka pun segera mampir ke kedai es krim yang letaknya tak jauh dari sana. Ratu memesan es krim rasa strawberry dan vanilla, Raja memesan rasa coklat dan bubble gum, sedangkan Dodi memesan rasa coklat dan pisang.
"Za, besok siang kita fitting ya!" ujar Damar.
"Jam berapa?"
"Sehabis makan siang aja. Kita ajak juga anak-anak supaya bisa minta pesankan gaun dan tuxedo khusus untuk mereka."
"Ryza sih terserah Abang aja. Bang, emang acaranya entar mau dipestain ya?"
"Ya iya dong, masa' nggak. Abang ingin mengumumkan ke seluruh penjuru dunia kalau kamu itu adalah milik Abang."
"Halah, lebay!" ejek Oryza membuat Damar terkekeh.
"Abang serius," ujarnya sambil mengulum senyum.
"Udah berapa cewek yang Abang gombalin kayak gitu?"
"Mana ada. Hanya my queen Oryza Sativa seorang."
"Bohong."
"Abang serius, sayang."
"Tuan Damar Prayoga, benar kan Anda tuan Damar Prayoga, CEO Angkasa Mall?" tiba-tiba terdengar pertanyaan beruntun dari beberapa orang diikuti kilatan blitz menyilaukan yang ternyata mengambil gambar mereka berkali-kali membuat Oryza dan anak-anak seketika kebingungan.
...Happy reading 🥰🥰🥰...