![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
Mendengar perkataan Githa itu, sontak saja Ayesha dan Tisya yang baru saja turun dari dalam mobil tergelak kencang. Pun Kiandra yang turut mengantar tersenyum sinis membuat Githa terkejut bukan main.
"Eh, nggak salah nih? Jalaang teriak jalaang? Cermin, mana cermin? Sya, loe bawa cermin nggak?" cibir Ayesha seraya tergelak kencang. Sudut matanya sampai basah karena merasa geli dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"By the way, yang merangkak ke atas ranjang suami orang itu siapa sih? Kok malah asal nuduh. Loe bisa kami laporin ke polisi tahu nggak sis karena udah fitnah Ryza. Mau coba, hm?" timpal Tisya dengan sorot mata mendelik tajam.
"Kalian ... " geram Githa sampai ia kebingungan sendiri ingin membalas kata-kata itu. "Pergi sana! Keluar kalian semua!" teriak Githa murka.
Kesal merasa dipermalukan, Githa merangsek keluar lalu mendorong tubuh Oryza yang sedang ingin mengangkat Raja ke dalam gendongannya hingga terhuyung ke belakang. Beruntung ia tidak terjungkal ke belakang karena sudah ada sepasang tangan yang merengkuh tubuh Oryza dari belakang.
"Dasar pelakor gila!" teriak Ayesha murka.
"Sha," tegur Oryza agar Ayesha mengontrol amarahnya karena tak ingin anaknya melihat pertengkaran mereka.
"Kenapa loe? Jadi sugar baby aja bangga padahal aslinya pasti miskin," hina Githa membuat Ayesha dan Tisya melongo tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Tak lama kemudian, mereka tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut karena ucapan Githa yang terkesan bodoh. Dipikirnya dirinya saja yang kaya jadi kalau melihat ada perempuan lain yang terlihat lebih wah dari dirinya, ia menganggap perempuan itu adalah seorang perempuan murahan yang dengan suka rela tubuhnya dijamah hanya demi uang.
"Duh, gila, benar-benar gila! Gue yakin nih Sha, kalau papi loe tau loe dikatain kayak gini, bisa-bisa besok dia tinggal nama," ujar Tisya seraya terkekeh.
"Bukan papi aja, Sya, om Obi juga. Mereka nggak tahu aja siapa kita. Tapi karena kita orang yang baik hati dan pemaaf, jadi ya udahlah yah! Tapi nggak tahu next ... "
"Ada apa ini?" tiba-tiba Hendrik datang dan merangsek masuk ke dan berdiri di samping Oryza. Melihat Oryza tangah berdiri di dekat Kiandra, rahangnya mengetat. Ingin marah, tapi bukan haknya lagi, tapi ia tak menampik, ia tak suka melihat ada lelaki lain yang berdiri di samping mantan istrinya itu. "Mau apa kau kemari?" tanya Hendrik sinis sambil menatap tajam Oryza dan Kiandra.
"Aku hanya ingin menjemput anak-anakku," tegas Oryza membuat Hendrik menghela nafas panjang. "Aku nggak menyangka, kamu yang memaksa Raja dan Ratu untuk tinggal denganmu, tapi kau justru mengabaikan mereka. Bahkan Ratu sampai masuk rumah sakit pun, kau pasti tak tahu, benar bukan?" sinis Oryza membuat Hendrik tercengang mendengarnya.
Lantas ia mencari keberadaan Ratu, tapi ia tak melihatnya. Yang ada hanya Raja dengan wajah pucatnya.
Tak lama kemudian Siti dan Dodi keluar dengan membawa tas besar dan menghampiri Oryza.
"Saya sudah siap nyonya," ujar Siti yang memang telah siap untuk ikut bersama Oryza. Pagi tadi ia datang untuk mengantarkan sarapan Ratu dan Oryza, di saat itulah Oryza menanyakan apakah Siti mau ikut dengannya. Dan jawaban Siti adalah iya sebab ia bertahan tinggal di rumah itu setelah tahu fakta tuan rumahnya adalah Oryza dan anak-anaknya. Sebab dahulu orang tuanya bukan bekerja di rumah itu. Mungkin mereka menjual rumah lama mereka dan membeli rumah itu yang memang tampak lebih bagus dan megah.
"Kak Dodi, Abang Laja, syini," panggil Ratu dari dalam mobil. Melihat keberadaan Ratu, Hendrik pun ikut mendekat dan melihat keadaan anaknya.
"Ratu sakit?" tanya Hendrik dan Ratu mengangguk pelan.
"Kenapa nggak kasi tahu ayah?"
"Ayah kemalin malah-malah melulu telus syemalam ndak pulang," ujar Ratu polos membuat Hendrik menyesal telah mengabaikan anak-anaknya. Di saat anak-anaknya hendak ikut ibunya, ia justru merasa tak rela. Bukan hanya anak-anaknya, tapi juga ibunya. Tapi mempertahankan di sisinya ia juga tak bisa. Tiba-tiba saja ia memikirkan suatu ide.
"Maafin ayah. Nanti kalau ayah nggak sibuk, Ratu dan Raja mau kan jalan-jalan sama ayah? Ajak bunda juga, Ratu mau kan?"
Hendrik pun mengangguk cepat, tak apalah pikirnya, berharap dengan ini ia bisa kembali mendekati mantan istrinya itu.
"Latu mau ayah," jawabnya cepat.
"Kalau Raja?" tanya Hendrik pada Raja, tapi Raja hanya diam. Hendrik maklum, Raja memang sifatnya dingin. Lalu Hendrik kembali menghampiri Oryza.
"Aku masih boleh kan menemui anak-anak?" Dengan berat hati, Oryza mengangguk. Bagaimana pun, Hendrik adalah ayah anak-anak, tak mungkin ia bersikap egois dengan memisahkan anak-anak dari ayahnya. Terlepas Hendrik telah menyakitinya dengan menduakannya, Hendrik tetaplah ayah kandung anak-anaknya.
"Terima kasih," ucap Hendrik seraya memasang senyum semanis mungkin, berharap Oryza kembali terpesona dengan dirinya. Berbanding terbalik dengan Hendrik yang memasang senyum semanis mungkin, Githa justru menekuk wajah dengan memasang senyum jengah nan masam.
'Apa-apaan sih Hendrik pake senyum manis segala! Awas aja kalau dia berpikir ingin balikan sama mantan, aku tinggalin baru tau rasa," gumam Githa dalam hati.
Sebenarnya Oryza telah jengah berhadapan dengan Hendrik. Senyum manis itupun tak berefek sama sekali padanya. Hatinya telah membatu jadi ia hanya berdeham sebagai jawaban.
Kemudian, Oryza dan Anak-anaknya pun berpamitan dengan Hendrik dan Oma Neni. Setelah itu, mereka pun pulang ke apartemen yang dipinjamkan Ayesha padanya.
...***...
"Kamu kok biarin Kiandra ikut kalian sih, Sha?" protes Damar. Kini mereka tengah duduk bertiga, Damar, Ayesha, dan Tisya.
"Mau gimana lagi bang, orangnya udah nangkring di lobi pas kami datang. Dia udah datang duluan malah. Ryza aja nggak tahu lho. Masa' tiba-tiba kami usir, nggak enaklah bang," ujar Ayesha seraya mengerucutkan bibirnya. Ia tak terima disalahkan sang kakak sepupu.
"Kan bisa buat alasan Sha, Sya."
"Cie, Abang takut ditikung nih ye! Semangat dong, mana rasa percaya diri Abang yang biasanya? Kok belum-belum udah lemes gitu."
"Bukan lemes Sya, cuma waspada. Aku aja belum benar-benar bergerak di hadapannya, eh udah disalip orang lain."
"Makanya gercep dong." seru Tisya.
"No, jangan cepat-cepat bang, tapi slow but sure. Soalnya kalau sekarang yang aku lihat, Ryza sedang fase menata hati, menutup diri. Dia nggak terlalu respon kok sama Kak Kian. Kan Ryza kerja sama Abang, intensitas pertemuan lebih dominan ke Abang dong, ini kesempatan Abang buat deket. Buat dia nyaman dan punya kesan ke Abang. Yesha yakin kok, Abang yang will be the winner. Nggak usah pedulikan cicak-cicak di dinding yang diam-diam merayap mendekati Ryza, yang penting Abang konsisten untuk membuat Ryza tertarik sama Abang. Gimana saran aku? Hebat kan?" Ujar Ayesha sambil tersenyum lebar.
Damar pun mengangguk antusias, "Thank's ya. Kalian emang adik-adik Abang yang terbaik."
...****...
...Happy reading 🥰🥰🥰...