[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.105 Penyesalan



"Si-Siti, aku ... berangkat kerja dulu ya! Kamu hati-hati di rumah," ucap Saturnus sedikit gugup dengan wajah memerah. Ia bahkan tak berani menatap wajah Siti. Sebab, setiap melihat wajah Siti, ia justru teringat momen percintaannya semalam. Sampai sekarang, ia masih belum menyangka kalau ia bisa melakukan kegiatan intim itu dengan begitu menggebu. Seakan tak ada kata lelah, ia terus menghujam Siti hingga mencapai ******* entah berapa kali. Seandainya Siti tidak protes kelelahan, mungkin ia akan melanjutkannya hingga fajar menjelang. Gila, ia merasa benar-benar gila. Bagaimana bisa ia menjadi seganas itu di malam percintaan pertamanya?


"Em ... i-iya, mas," jawab Siti rikuh. Di saat seperti ini, ia justru merasa canggung sendiri apalagi saat teringat bagaimana ia menggoda Saturnus semalam. Sungguh, sifatnya saat di dalam kamar dan di luar kamar berbeda 180°. Mengingat hal itu, Siti tersipu sendiri.


Saturnus mencoba melirik Siti melalui ekor matanya. Tampak jelas, Siti pun tampak sedang bermalu-malu tapi mau membuatnya seketika teringat kilasan saat Siti mencapai puncaknya. Begitu menggairahkan.


Saturnus mengepalkan tangannya, mengingat itu saja sudah membuat darahnya berdesir hebat dan jantungnya berdebar kencang. Dan lebih parahnya, sesuatu di balik celananya tiba-tiba terasa penuh sesak. Seakan meronta ingin dibebaskan untuk melanjutkan petualangannya.


'Haish, kenapa otakku jadi berpikiran mesyum begini sih? Coba hari ini libur, mungkin aku bisa melanjutkan permainan menyenangkan seperti semalam. Eh ... "


Plakkk ...


Saturnus menggeplak kepalanya sendiri karena sudah berpikiran yang iya-iya padahal hari masih pagi. Seharusnya ia berpikir untuk menjemput rejeki, bukannya menggarap ladang surgawi sang istri.


"Mas kenapa?" tanya Siti heran saat Saturnus memukul kepalanya sendiri.


"Eh, ng-nggak papa!" Sahut Saturnus dengan senyum lima jarinya. "Dodi, ayah berangkat dulu ya! " ujar Saturnus mengalihkan perhatiannya pada Dodi seraya mengulurkan tangannya untuk disalami dan dicium Dodi.


Dodi dengan semangat menyambut uluran tangan itu dan mencium punggung tangan sang ayah sambung kemudian dilanjutkan dengan Siti. Senyum merekah dan wajah berbinar cerah menunjukkan kalau Dodi benar-benar merasa bahagia. Akhirnya, ia pun memiliki seorang ayah sama seperti anak-anak lainnya.


"Assalamu'alaikum," ucap Saturnus sebelum membalik badannya.


"Wa'alaikum salam mas, ayah," jawab Siti dan Dodi serempak membuat mereka seperti keluarga kecil bahagia.


...***...


'Nyonya, anak yang ku kandung ini benar-benar anak tuan Hendrik, saya tidak bohong.'


'Halah, mau dia anak Hendrik atau bukan aku takkan sudi mengakuinya sebagai cucuku apalagi menerima mu jadi menantuku. Perempuan rendahan seperti mu tak pantas jadi bagian dari keluarga kami. Kau pikir kau pantas menjadi pendamping putraku, hah!'


'Nyonya, jangan keterlaluan! Jangan mentang-mentang kami miskin jadi kau bisa seenaknya menghina dan merendahkan putri kami!'


'Kenapa kalian protes? Bukankah memang anak kalian itu hanya wanita rendahan dan murahan? Kalau tidak, mana mungkin ia mau mengandung benih putraku yang berharga. Atau jangan-jangan kalian sengaja menjebak putraku agar bisa menjadi bagian dari keluarga ini? Ingin menjadi orang kaya secara instan, heh? Dasar, manusia rendahan! Gugurkan anak itu atau pergi dari sini dan jangan pernah lagi menampakkan muka kalian di hadapan kami!'


'Pak.'


'Sudahlah Siti, tak usah berharap pertanggungjawaban dari manusia-manusia biadab ini. Biarlah mereka nanti akan tenggelam dalam penyesalan tiada tepi.'


'Halah, kau pikir aku takut! Pergi sana! Pergi kalian semua dari sini! Dasar manusia menjijikkan!'


Tit tit tit ....


Bedside monitor berbunyi nyaring membuat Hendrik yang baru beberapa menit yang lalu terpejam seketika terlonjak. Melihat tubuh sang ibu yang mendadak kejang-kejang kembali sontak saja panik. Ia segera berlari mencari dokter untuk segera menangani keadaan sang ibu. Karena terlampau panik, ia sampai melupakan tombol darurat yang ada di atas ranjang pasien.


Tak lama kemudian, dokter dan perawat pun datang berlarian diikuti Hendrik yang penampilannya tampak begitu kacau. Ia benar-benar kalut memikirkan keadaan ibunya saat ini.


Di dalam ruangan serba putih itu, tampak Oma Neni makin kesulitan bernafas, matanya terbuka lebar. Kilasan memori bagaimana ia menghina dan merendahkan Siti juga orang tuanya berputar layaknya kaset rusak membuatnya makin kesulitan bernafas. Belum lagi memori bagaimana putranya itu tiba-tiba membawa wanita lain ke rumah sehingga menantunya yang baik hati memilih angkat kaki dari rumah mereka. Belum lagi pertengkaran -pertengkaran yang terjadi antara putranya dan istri barunya hingga akhirnya istri baru putranya mengalami keguguran. Kemudian bagaimana hancurnya sang putra yang ternyata masih mencintai mantan menantunya yang kini telah meninggalkannya karena sakit hati.


Kata-kata ayah Siti kembali berputar-putar di gendang telinganya. Seakan kata-kata bak kutukan itu baru saja dilontarkan saat itu juga. Kata-kata itu kini benar-benar terjadi. Di usia senjanya, seharusnya ia berbahagia dengan anak, cucu, dan menantunya. Tapi yang terjadi sebaliknya, putranya kini merasa terpuruk dalam penderitaan yang dibuatnya sendiri. Anak dan menantunya pergi dengan membawa luka di hati.


Kini, penyesalan itu benar-benar menggerogoti dirinya. Bahkan hingga nafasnya kian tersendat-sendat, yang ada di hati dan pikirannya hanyalah penyesalan yang tak bertepi. Semua itu terbukti. Sumpah itu kini benar-benar terjadi. Di saat ajalnya kian mendekat, yang ada hanya penyesalan tanpa bisa berbuat apa-apa.


Bahkan untuk meminta maaf pada Siti dan anaknya yang merupakan cucunya sendiri pun ia tak kuasa. Setitik air mata penyesalan jatuh di pipi. Semua telah terlambat. Inilah buah dari perbuatannya di masa lalu. Penyesalan.


Tiiittttttt ...


Garis lurus menghiasi bedside monitor. Dokter yang sedari tadi berusaha membantu menormalkan detak jantung Oma Neni pun segera menyimpan alatnya.


Waktu kematian telah dicatat. Seperti sumpah seorang ayah yang hancur melihat putrinya dihancurkan oleh kesombongan orang kaya seperti Oma Neni dan Hendrik, Oma Neni pun meregang nyawa dalam penyesalan tanpa bisa berbuat apa-apa sama sekali.


Di luar ruangan, tampak Hendrik tergugu pilu di lantai rumah sakit. Dokter baru saja menyampaikan kalau sang ibu tidak berhasil mereka selamatkan. Hendrik memang breng-sek, tapi ia begitu menyayangi ibunya. Lantai rumah sakit jadi pelampiasan Dipukulnya lantai untuk meluapkan rasa sesak di dadanya. Mengapa satu persatu orang yang ia kasihi pergi dari sisinya. Apakah ia memang tak pantas untuk dicintai sampai sang ibu pun memilih pergi di saat ia sedang terpuruk seorang diri. Ia tak pernah menyadari, apa yang terjadi pada dirinya merupakan buah dari perbuatannya sendiri. Seperti kata pepatah, apa yang kau tabur, itu yang kau tuai. Jadi berhati-hatilah dalam bersikap dan berperilaku, sebab segalanya akan kau pertanggungjawabkan kelak. Entah saat kau masih di dunia, atau bisa juga di akhirat kelak.


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...